
Pagi ini Windi mulai bekerja, sebelum berangkat Windi membantu Ririn terlebih dahulu. Dari menyiapkan keperluan sekolah Randi dan Rinda, juga membersihkan rumah.
Sebenarnya Ririn tidak pernah menyuruh adik iparnya untuk melakukan itu semua. Tapi Windi yang mau membantu pekerjaan kakak iparnya itu.
Setelah selesai, Ririn mengantarkan Windi menuju tempat kerjanya saat jam menunjukan pukul 8.30.
"Terimakasih ya, Mbak," ucap Windi setelah turun dari motor.
"Iya, kalau sudah waktunya pulang telpon Mbak ya. Nanti Mbak jemput."
"Iya, Mbak."
"Ya sudah ,Mbak pulang ya," pamit Ririn.
"Hati-hati ya, Mbak."
Setelah Ririn pulang, Windi segera masuk ke dalam swalayan. Ternyata Roni sudah ada di dalam menunggunya.
"Maaf Mas, saya terlambat ya?" tanya Windi sungkan.
"Nggak kok, masih ada waktu 10 menit lagi sebelum swalayan dibuka," ucap Roni.
"Kalau begitu apa yang harus saya kerjakan lebih dulu?" tanya Windi.
"Sebentar, Ana! Kenalkan ini Windi, yang akan menggantikan kamu. Sekarang kamu ajari dia," titah Roni pada perempuan yang sedang hamil besar.
"Iya Mas, Ayo ikut aku," ajak Ana pada Windi.
Lalu Windi mengikuti Ana ke meja kasir. Ana segera menunjukkan cara kerja sebagai kasir. Dengan telaten Ana mengajari Windi sampai bisa, agar dia bisa segera keluar dari pekerjaannya.
Karena 1 bulan lagi Ana akan melahirkan, dan dia memutuskan berhenti bekerja untuk mengurus anaknya nanti.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Swalayan akan tutup selama 1 jam, Windi dan Ana makan siang terlebih dahulu sebelum melanjutkan pekerjaan.
Selain Ana, ada 3 orang lagi yang bekerja menyusun barang dan pekerjaan lainnya. Ketiga orang itu tidak bisa menggantikan Ana karena mereka hanya lulusan SD, dan mereka tidak berani mengoperasikan komputer.
Roni sengaja memberi pekerjaan pada mereka yang berpendidikan rendah, tujuannya untuk membantu mengurangi pengangguran yang alasannya latar belakang pendidikan.
Roni memang merintis usaha dari nol, yang tidak diketahui oleh orang tua dan istrinya untuk tujuan tertentu.
Kembali ke Ana dan Windi. Mereka sudah terlihat akrab dan tidak canggung lagi. Windi banyak bertanya pada Ana bila tidak mengerti.
***
Hari ini Windi mulai bekerja sendiri, setelah kemarin diajari oleh Ana. Dan Ana langsung berhenti setelah di rasa Windi sudah paham tentang semua pekerjaannya. Windi adalah gadis yang cerdas, jadi dengan belajar sebentar saja dia langsung mengerti.
"Mbak Windi, aku boleh tanya sesuatu nggak?" ucap Mini, teman kerja Windi.
__ADS_1
"Boleh, mau tanya apa Mini?" tanya Windi.
Karena swalayan agak sepi, jadi mereka bisa ngobrol.
"Kata Dwi, di kota ini ada belajar kejar paket. Apa Mbak Windi tau tempatnya?"
"Maaf Mini, aku juga baru di kota ini. Kenapa kamu nggak tanya sama mas Roni?"
"Aku nggak berani Mbak, mas Roni sudah baik banget sama kami, jadi kami nggak mau merepotkan lagi," ucap Mini.
"Memangnya kalian tinggal dimana?" tanya Windi.
"Di belakang swalayan ini Mbak, di sana ada beberapa kamar yang bisa kami tempati," ucap Mini.
"Lalu keluarga kalian dimana?"
"Kami nggak punya keluarga Mbak, dari kecil kami hidup di jalanan. Dulu kami tinggal di panti asuhan, sehingga kami bisa sekolah SD.
Tapi setelah ibu panti meninggal dan tidak ada yang meneruskan mengurus panti, anak ibu panti malah menjual rumah yang kami tempati. Jadi kami terlunta-lunta hidup di jalan, sampai kami bertemu dengan mas Roni dan di beri pekerjaan," cerita Dwi sambil mengusap air matanya.
"Ya sudah, nanti aku tanya sama kakakku dulu ya. Besok aku kasih tau kalian. Lalu,teman kalian yang satu lagi kemana?" tanya Windi yang sedih mendengar cerita mereka.
"Dia lagi sakit Mbak, dari semalam badannya panas," ucap Mini.
"Apa dia sudah sarapan dan minim obat?" tanya Windi.
Apa mas Roni tidak setiap hari kesini?"
"Nggak mbak."
"Ya sudah, nanti jam istirahat kita lihat keadaannya, siapa nama teman kalian satunya?" tanya Windi.
"Desi Mbak," jawab Mini.
"Terimakasih ya mbak, kemarin kami kira Mbak Windi itu orangnya sombong, tapi ternyata tidak, hehehe," ucap Dwi cengengesan.
"Apa yang harus di sombongin sih, kita semua kan sama-sama manusia," ucap Windi.
"Memang kalian mau kejar paket apa?" tanya Windi lagi.
"Mau kejar paket B Mbak, setelah itu paket C. Paling tidak kami mau punya ijazah SMA," ucap Dwi.
"Baguslah kalau kalau kalian punya semangat untuk belajar. Mbak akan dukung kalian," ucap Windi.
Saat jam istirahat, mereka bergegas menutup pintu swalayan saat sudah tidak ada pembeli.
Lalu mereka berjalan menuju belakang swalayan, tempat dimana Mini dan teman-temannya tinggal.
__ADS_1
Mini membuka pintu kamar, mereka bertiga tinggal di kamar yang sama karena mereka terbiasa tinggal bersama, walaupun sebenarnya ada 4 kamar di sana. Ada juga dapur dan kamar mandi di ruangan terpisah.
"Desi, ada Mbak Windi yang mau jenguk kamu," ucap Mini.
Desi yang terlihat pucat akan bangkit dari tidurnya.
"Tidak usah bangun, tiduran saja. Apa yang kamu rasakan?" tanya Windi.
"Kepalaku pusing Mbak, badanku juga lemas," ucap Desi.
"Desi, kamu makan dulu. Ini aku belikan nasi bungkus," ucap Dwi yang baru saja datang.
"Apa kalian tidak masak?" tanya Windi.
"Nggak Mbak, tadi kami tidak sempat masak," jawab Mini malu-malu.
Lalu mereka makan bersama. Windi membuka bekalnya dan ketiga anak itu melihat ke arah bekal Windi. Hari ini Windi membawa ayam goreng dan tumis kangkung.
"Apa kalian mau?" tanya Windi.
"Apa boleh mbak?" tanya Desi pelan.
"Iya ambil saja, mbak sengaja bawa banyak kok."
Lalu mereka bertiga berebut tumis kangkung dan ayam goreng milik Windi. Lalu mereka makan dengan lahapnya.
Windi yang melihat itu meneteskan air matanya, dia yakin anak-anak itu jarang makan makanan rumahan. Pasti mereka selalu beli nasi bungkus dengan lauk tahu, tempe dan sayur seadanya. Dan rasanya juga belum tentu enak.
Melihat Windi menangis, Desi langsung menghentikan suapannya.
"Maaf ya Mbak, bekal Mbak Windi kami habiskan dan tinggal nasinya saja," ucap Desi merasa bersalah, begitupun Dwi dan Mini.
"Bukan begitu, kalian makan saja. Mbak bisa makan dengan sisanya kok," ucap Windi.
"Tapi kenapa Mbak Windi menangis?" tanya Mini.
"Nggak apa-apa, apa kalian selalu makan nasi bungkus?" tanya Windi. Dan mereka mengangguk serentak.
"Bagaimana kalau mulai besok Mbak bawakan kalian sayur. Bukankah di sini ada penanak nasi?"
"Ada Mbak, tapi kami tidak pernah memasak nasi karena tidak bisa," ucap Dwi.
"Baiklah, nanti Mbak ajari ya. Nanti Mbak juga ajari cara memasak sayur, apa kalian mau?"
"Mau!" jawab mereka kompak.
Lalu Windi menghubungi Roni untuk meminta izin mengambil beras dari swalayan untuk anak-anak, dan Roni pun tidak keberatan.
__ADS_1
Dengan cepat Windi mengambil beras dan mengajari anak-anak untuk menanak nasi. Setelah itu mereka kembali bekerja, karena jam istirahat sudah habis.