
Hari-hari Doni terasa membosankan,setiap hari dia cuma duduk diam di rumah tanpa melakukan apapun. Bahkan untuk makan saja Doni harus menunggu istrinya dan disuapi.
Sedangkan Ririn tentu saja kalang kabut mengurus semua sendirian. Biasanya Doni selalu membantu pekerjaan rumah sebisanya,tapi karena Doni sakit jadi Ririn melakukan semua sendiri. Untung saja ada Riko yang membantunya untuk antar jemput Randi,karena sekolah Randi memang searah dengan kantor.
"Mas,mau sarapan sekarang?" tanya Ririn yang baru saja pulang mengantar Rinda.
"Nanti saja yang, kamu duduk saja dulu!"
"Aku masih harus nyuci baju mas,kalau begitu aku tinggal dulu ya. Nanti kalau mau apa-apa panggil saja!" ucap Ririn
"Iya!" Doni selalu merasa bersalah karena dia hanya bisa menambah beban pada istrinya.
Untung saja selalu ada kiriman sembako misterius,sehingga walaupun tidak bekerja,mereka tidak terlalu banyak pengeluaran.
Karena tidak ingin selalu bergantung pada istrinya, akhirnya Doni berjalan tertatih menuju meja makan. Doni berusaha mengambil makanan sendiri dengan tangan kiri. Walaupun sedikit sulit,tapi Doni tidak menyerah,dan akhirnya Doni berhasil mengambil makanan walaupun agak berantakan.
Mendengar ada suara dari dapur,Ririn yang sedang mencuci di kamar mandi bergeges melihat apa yang terjadi.
"Mas...Kenapa nggak manggil aku sih?"
"Nggak apa-apa sayang,aku mau belajar mandiri,tapi maaf jadi berantakan begini!"
"Kan ada aku mas,tadi kan aku sudah bilang kalau mas butuh sesuatu panggil aku!"
"Nggak apa-apa,sudah kamu lanjut aja kalau belum selesai!"
"Biarin aja aku lanjut nanti, sini aku suapin!"
"Nggak usah aku bisa sendiri kok!"
"Tapi tangan mas kan masih sakit!"
"Aku bisa pakai tangan kiri kok. Kan nggak apa-apa kalau memang terdesak! Sudah kamu lanjutin aja pekerjaan kamu sayang!"
"Beneran mas bisa?"
"Iya sayang!"
"Ya sudah aku tinggal ya,kalau ada apa-apa panggil aku!"
"Iya!"
Setelah Ririn pergi,Doni berusaha menyuapkan makanan dengan tangan kiri. Susah memang,karena belum terbiasa! Tapi Doni berusaha untuk tidak selalu merepotkan istrinya.
Setelah makan Doni membersihkan makanan yang tumpah di meja makan, lalu membawa piring kotor ke wastafel. Setelah selesai Doni berjalan ke teras untuk menikmati cahaya matahari pagi.
Tak lama Ririn pun ke depan setelah menjemur pakaian.
"Mas...Aku kira kemana tadi?Aku cariin di dalam nggak ada!"
"Kenapa? Kangen ya?"
"Ih...mas Doni apaan sih? mas mau kopi atau teh?"
"Teh saja sayang,memang pekerjaan kamu sudah selesai?"
"Sudah kok, sebentar ya mas!"
Lalu Ririn pergi ke dapur,dan tak lama dia kembali ke depan dengan membawa secangkir teh untuk suaminya.
"Ini mas!"
__ADS_1
"Terimakasih ya istriku sayang!"
"Mas Doni jangan godain aku terus dong!" protes Ririn yang wajahnya sudah memerah karena malu.
"Kenapa? Apa salahnya godain istri sendiri? Daripada godain istri orang!"
"Eh,mas Doni sama mbak Ririn. Pagi-pagi udah mesra-mesraan saja!" goda Bu Ima
"Apa sih Bu,kita cuma ngobrol kok!" ucap Ririn
"Eh mbak Ririn, nggak apa-apa kali kalau mau mesra-mesraan sama suami sendiri!" ucap Bu Ima
"Tuh kan,kata Bu Ima aja nggak apa-apa! Iya kan Bu?" tanya Doni
"Iya nggak apa-apa mas!"
"Sayur...Sayur...!" teriak mang Asep
"Udah ah,aku mau beli sayur dulu!" ucap Ririn untuk menghindari suami dan tetangganya yang kompak untuk menggodanya
"Lah...dia kabur Bu!" ucap Doni
"Malu itu mas, biasanya malu tapi mau hehehe!" ucap Bu Ima yang tambah semangat untuk menggoda Ririn
Lalu Bu Ima pun menyusul Ririn untuk membeli sayur di mang Asep yang berhenti didepan rumahnya.
"Bu ibu,sudah dengar gosip terbaru apa belum?" tanya Bu Imas
"Gosip apa Bu?" tanya Bu Ima dengan semangat
"Kabarnya, tetangga depan ini si perempuan juga ikutan selingkuh untuk membalas suaminya!" ucap Bu Imas dengan pelan
"Mas sih Bu?" tanya Bu Ita
"Ibu ibu,kalau mau gosip nanti saja ya. Sekarang buruan milih sayur nya karena saya harus keliling!" tegur mang Asep
"Ih...mang Asep nggak asik deh!" gerutu Bu Imas.
"Ini mang,berapa totalnya?"
"Nah kayak mbak Ririn dong,sat set sat set nggak gosip saja!"
"Mang Asep ini,sekarang jadi cerewet ya nggak kayak dulu!" gerutu Bu Ita
"Bukan begitu Bu,tapi saya ini juga di tunggu sama ibu-ibu lainnya. Kalau nunggu ibu gosip disini,kasian yang lain dong nggak jadi masak! Ini mbak Ririn,semuanya jadi 37ribu"
Lalu Ririn segera membayar belanjaannya. Dan setelahnya segera kembali ke rumah. Tapi samar samar masih terdengar perdebatan mang Asep dan ibu-ibu.
"Ya sudah,ini berapa totalnya!"
"Kenapa sayang?" tanya Doni
"Itu loh mas, ibu-ibu yang lagi gosip ditegur mang Asep tapi malah marah-marah!"
"Kenapa memangnya?"
"Kalau mereka gosip kan otomatis belanjaannya lama,padahal mang Asep sudah di tunggu di tempat lain!"
"Makanya kamu kalau belanja jangan gosip dulu!"
"Ih...kalau aku sih nggak mas. Jangan sembarangan deh kalau ngomong!" lalu Ririn berlalu meninggalkan Doni
__ADS_1
"Lah...Gitu aja marah." lalu Doni pun masuk ke dalam rumah. Doni rebahan di depan tv.
"Sayang...kesini sebentar dong!"
"Ada apa mas?" lalu Ririn duduk di sebelah suaminya
"Apa kamu masih ada uang untuk kebutuhan sehari-hari?"
"Masih mas,mas Doni nggak usah khawatir. Kan aku cuma beli sayuran saja. Untuk jajan anak-anak kan uang makan mas dari kantor. Dan untuk kebutuhan lainnya sudah ada kiriman misterius itu!"
"Kira-kira siapa ya yang ngirim barang sebanyak itu setiap Minggu?"
"Mas, sebenarnya Minggu kemarin aku sengaja nunggu di ruang tamu,tapi aku ketiduran. Tapi sekitar jam 4 subuh aku lihat seseorang dan orang itu menuju rumah depan setelah meletakkan barang-barang itu!"
"Rumah depan? Bukannya di situ hanya ada Roni dan istrinya?"
"Itu yang membuat aku bingung! Gimana kalau hari Minggu nanti kita selidiki mas?"
"Baiklah,aku juga sangat penasaran dan ingin bertanya kenapa dia memberikan barang-barang itu."
Hari yang di tunggu pun tiba. Ririn sengaja memasang alarm pukul 3 pagi. Saat alarm berbunyi,Ririn segera membangunkan suaminya.
"Mas...ayo bangun!"
"Jam berapa sayang?"
"Jam 3 mas! Aku ke kamar mandi sebentar ya!"
"Iya!"
Lalu mereka berdua menuju ruang tamu. Lampu sengaja di matikan,dan mereka berdua duduk di dekat jendela. Ririn dan Doni bisa leluasa melihat ke arah luar. Sebelumnya Ririn sudah membuat kopi agar mereka tidak ngantuk.
Tepat pukul 4 pagi mereka melihat ada pergerakan.
"Mas,lihat itu!" ucap Ririn yang melihat ada orang yang berjalan mengendap-endap dari rumah depan.
"Buka kunci pintunya,nanti kalau dia sudah ada di depan pintu kita langsung bisa memergokinya"
Dengan perlahan Ririn memutar kunci pintu. Lalu dia mendekat lagi ke arah jendela. Sementara Doni sudah siap di dekat pintu dengan membawa pentungan untuk berjaga-jaga.
Saat orang itu mendekat,wajahnya sudah terlihat jelas,dan membuat Ririn terkejut. Lalu dengan cepat Ririn membuka pintu.
"Roni...Apa yang kamu lakukan?" ucap Ririn mengagetkan Roni
"Eh..mm..mbak Ririn!" ucap Roni gelagapan
"Jadi kamu yang selama ini mengirim barang-barang itu untuk kami?" tanya Doni
"Maaf mas,saya tidak berniat jahat. Saya hanya mau membantu!"
"Kalau mau membantu kenapa nggak langsung saja?Kenapa harus sembunyi-sembunyi?" tanya Ririn
"Saya nggak berani mbak,takut mbak sama mas tersinggung. Lagian ini istri saja juga tidak tau!"
"Apa? Jangan-jangan barang-barang itu?"
"Mbak tenang saja. Itu barang halal kok mbak! Lalu begitu saya permisi dulu!" ucap Roni langsung berlari.
"Eh...saya belum selesai bicara!" teriak Ririn
"Sudahlah sayang,jangan teriak,ini masih gelap loh. Yang penting kita sudah tau siap orang itu!"
__ADS_1
Lalu Ririn membawa masuk kantong kresek pemberian Roni dan segera menutup pintu,karena hari masih gelap dan sepi!