Aku Gak Mau Gendut

Aku Gak Mau Gendut
30 Teguran


__ADS_3

"Mbak, apa di rumah ada stok sayuran?" tanya Windi.


"Ada, memangnya kenapa, Win? tanya Ririn.


"Boleh nggak kalau besok aku bawa sayur lebih untuk teman kerja aku, Mbak?


"Boleh saja, memang teman kamu nggak bawa sayur?"


"Mereka nggak bisa masak Mbak, dan setiap hari mereka hanya makan nasi bungkus," jelas Windi.


"Emang nggak ada keluarganya?" tanya Ririn heran.


"Mereka nggak punya keluarga Mbak," lalu Windi menceritakan tentang kisah teman kerjanya itu.


Ririn sangat sedih mendengar cerita adik iparnya itu.


"Ya sudah, besok Mbak masak agak banyak untuk mereka juga," ucap Ririn sambil menyeka air matanya.


"Oh iya, Mbak tau tempat sekolah kejar paket nggak? Mereka tadi tanya di mana tempatnya, dan mereka ingin ikut program itu."


"Ada, di dekat sekolah Randi kayaknya. Coba kamu tanya mas Doni."


"Ya sudah, aku mau langsung tidur ya Mbak. Capek banget aku hari ini," pamit Windi.


"Iya, Mbak juga mau tidur."


***


Keesokan harinya Windi sudah siap berangkat di antar oleh Ririn. Sebenarnya ada motor Doni yang tidak terpakai yang bisa dipakai oleh Windi, tapi Windi belum berani bawa motor sendiri karena belum terlalu hafal jajanan di kota ini.


Setelah sampai Windi melihat sudah ada Roni di sana.


"Pagi Mas Roni," sapa Windi.


"Pagi, terimakasih ya kamu sudah perhatian sama anak-anak. Aku harap kamu mau menjaga mereka, karena aku tidak bisa sering-sering datang kesini,"


"Mas Roni tenang saja, aku akan menjaga mereka. Oh iya Mas, kemarin mereka bilang mau sekolah kejar paket, tapi tidak berani bilang sama Mas Roni," ucap Windi.


"Benarkah? Baiklah nanti akan saya urus. Kalau begitu saya pergi dulu ya, apapun kebutuhan mereka langsung ambil saja dari sini."


"Iya Mas, hati-hati."


Roni terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Windi, perhatian kecil saja bisa membuat Roni tersenyum senang. Kerena Roni tidak pernah mendapatkan perhatian itu selain dari Wulan, kekasihnya.


Lalu Windi bekerja seperti sebelumnya, sekarang bila ada kesempatan Windi akan bercanda dengan tiga anak yang kurang beruntung yang ada di swalayan itu.


Dan Windi seperti mendapatkan keluarga baru. Sebelumnya Windi berpikir akan ada teman kerjanya jahat atau saling iri seperti sinetron atau novel kebanyakan.


Tapi ternyata pemikirannya salah, Windi malah seperti dapat tiga adik sekaligus.


Begitupun dengan Mini, Dwi, dan Desi, mereka juga sangat bahagia bertemu dengan Windi. Mereka seperti mendapatkan seorang kakak yang sangat baik pada mereka.


Saat malam harinya Roni datang dan memberi tahu Mini, Dwi, dan Desi kalau sekolah yang mereka inginkan belum membuka pendaftaran baru. Mungkin sekitar lima bulan lagi sekolah itu akan dibuka.

__ADS_1


Karena hari sudah malam, mereka segera menutup swalayan. Saat akan menghubungi Kakak iparnya, Windi terkejut karena ponselnya mati.


"Waduh, gimana nih? Aku takut kalau harus pulang dengan angkutan umum," ucap Windi.


Tak lama Roni datang dari samping swalayan dengan mengendarai motornya. Mungkin dia dari kamar belakang untuk menemui Mini, Dwi, dan Desi yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri.


"Kamu belum pulang ,Win?" tanya Roni.


"Belum Mas, ponselku mati jadi nggak bisa menghubungi mbak Ririn. Mas, bisa minta tolong hubungi mbak Ririn?" tanya Windi.


"Kamu bareng saya saja, kasihan mbak Ririn jemput kamu malam-malam begini."


"Apa nggak merepotkan Mas Roni?"


"Ya nggak lah, kan rumah kita depanan sekalian aku juga mau pulang."


"Iya deh, dari pada naik angkutan umum aku masih takut."


Lalu Windi segera naik ke motor Roni,dan Roni segera melajukan motor besarnya.


"Mas, apa nggak ada yang cemburu kalau aku bareng Mas Roni?" tanya Windi agak keras ssat di tengah perjalanan.


"Nggak kok, kamu tenang saja," jawab Roni santai.


Setelah itu tidak ada obrolan lagi diantara mereka hingga sampai rumah.


Windi turun dari motor dan mengucapkan terimakasih pada Roni.


Saat baru masuk ke dalam rumah, Windi langsung mendapat tatapan tajam dari Doni.


"Tadi ponselku mati Mas, lalu ada mas Roni yang ngajak bareng. Ya sudah aku bareng aja, daripada naik angkutan umum, aku kan masih takut."


"Besok bawa motor Mas saja, biar nggak ada alasan lagi untuk bareng sama Roni."


"Mas kenapa sih? Mas Roni kan baik, dia juga yang ngasih aku pekerjaan," ucap Windi.


"Dia memang baik, tapi tidak untuk dekat. Kisahnya sangat rumit. Mas nggak mau kamu terseret dalam masalahnya."


Lalu Doni pergi ke kamarnya dengan emosi yang masih menyelimuti, karena mendapati adiknya pulang bersama Roni.


"Kamu dengar apa kata mas mu ya, jangan terlalu dekat sama Roni. Ini demi kebaikanmu," nasehat Ririn pada adik iparnya.


"Tapi kan aku cuma pulang bareng Mbak, dan aku sama mas Roni nggak ada hubungan apa-apa."


"Iya, Mbak ngerti. Tapi mas mu khawatir kalau lama-lama kamu dekat dengan Roni. Ya sudah kamu mandi gih, lalu makan sebelum istirahat."


"Iya Mbak."


"Mbak tinggal dulu ya, Mbak harus jinakin singa yang lagi marah."


Lalu keduanya tertawa. Windi mengerti apa yang dimaksud kakak iparnya itu.


***

__ADS_1


Hari ini Windi pergi bekerja membawa motor milik Doni. Windi berangkat lebih pagi, dia mampir untuk membeli sayuran.


Rencananya Windi akan mengajari anak-anak memasak sebelum jam kerja di mulai. Windi membeli kangkung dan bayam, serta bumbu dapur. Windi akan mengajari mereka memasak yang lebih mudah dulu.


Setelah sampai, Windi langsung menuju ke belakang swalayan. Dan Windi melihat Dwi yang akan pergi keluar.


"Mau kemana, Dwi?" tanya Windi.


"Eh, Mbak Windi. Aku mau beli sarapan Mbak."


"Sudah masak nasi apa belum?"


"Nasi kemarin masih Mbak."


"Ya sudah, ayo Mbak ajari memasak sayur, ini Mbak sudah membawa sayurannya."


"Apa nanti kita nggak terlambat Mbak?"


"Nggak, cuma sebentar kok."


"Lalu mereka berdua masuk beriringan."


Lalu dengan cekatan Windi mengajarkan mereka cara memasak tumis kangkung, tadi Windi juga membeli tempe.


Lalu Windi menyuruh Desi untuk menggoreng tempe yang sudah dibumbui dengan bumbu instan, untuk memudahkan mereka nantinya bila ingin memasak sendiri.


setelah makanan sudah siap, mereka terlihat sangat bahagia. Karena ternyata memasak tidaklah sesulit yang mereka bayangkan.


Saat mereka sudah bersiap untuk sarapan, terdengar suara motor berhenti di depan kamar.


"Siapa itu?" tanya Windi.


"Itu pasti mas Roni, kami sudah hafal suara motornya," ucap Dwi.


Dan benar saja, saat Mini membuka pintu ternyata ada Roni yang membawa sesuatu di tangannya.


"Mas Roni bawa apa?" tanya Desi.


"Mas bawa ayam goreng, kalian mau sarapan?" tanya Roni.


"Iya Mas, tadi kami diajari masak sama Mbak Windi," jawab Dwi.


"Ayo Mas kita sarapan sama-sama," ajak Desi.


Lalu mereka sarapan bersama, dan di selingi dengan canda tawa.


Windi terpesona dengan senyuman Roni, begitupun sebaliknya.


Tapi Windi segera sadar dan mengingat apa kata kakaknya semalam.


"Mikir apa sih aku ini?" gumam Windi dalam hati.


"Kenapa dia manis sekali ya, dia juga baik dan sayang sama anak-anak, sangat berbeda sama Wulan dan Meli," gumam Roni.

__ADS_1


Apa yang akan terjadi selanjutnya???


__ADS_2