
Satu bulan berlalu tapi Ririn belum juga berhasil menurunkan berat badannya. Karena dia Ririn selalu gagal melakukan diet kerena suami dan anak-anak selalu menggodanya dan membawa gorengan dan jajanan kesukaan Ririn.
Begitu juga dengan Windi, dia sering membawa makanan sepulang bekerja. Ririn sangat dilema saat dibawakan makanan. Kalau dia makan dia akan gagal diet, tapi kalau tidak dimakan maka akan mubadzir.
Tapi Ririn sudah bersyukur karena berat badannya tidak naik lagi. Mungkin karena diimbangi dengan pola makan sehat dan juga senam.
Maka hari ini dia menegaskan pada suami dan Windi untuk tidak membawakannya makanan lagi sepulang bekerja.
Mulai hari ini Ririn benar-benar akan menghindari makanan yang berkalori tinggi yaitu gorengan, makanan ringan, minuman kemasan, juga segala makanan yang terbuat dari tepung.
Ririn hanya makan sedikit nasi dan banyak sayuran, juga perbanyak minum air putih. Selain itu Ririn juga giat melakukan senam. Diantaranya senam BL, yoga, dan Belly dance.
Ririn juga sering menimbang berat badan dan mengukur lingkar perut dan pinggang.
Dan hasilnya cukup memuaskan, dalam satu Minggu Ririn berhasil mengurangi satu kilogram berat badannya, lingkar perutnya juga berkurang 2cm.
"Ah....cukup melelahkan. Tapi tidak apa-apa, yang penting berat badanku berkurang," ucap Ririn dengan keringat bercucuran setelah senam.
Lalu Ririn melanjutkan perjuangannya untuk mencapai tujuannya.
***
Saat jam istirahat Roni datang ke swalayan. Roni berniat untuk memperjelas hubungannya dengan Windi, setelah sekian lama Windi menghindarinya dengan alasan ada Yuni dan takut kalau Yuni mengadu pada kakak iparnya..
"Mbak Yuni, bisa minta tolong nggak?" tanya Roni.
"Minta tolong apa Mas Roni?"
"Tolong belikan es yang lagi viral itu loh, aku malu kalau harus ikut antri dengan banyak orang," ucap Roni cengengesan.
"Oalah, iya baiklah akan aku belikan. Tapi mungkin akan lama karena antriannya pasti panjang."
"Iya nggak apa-apa, nanti ada tip nya kok jangan khawatir. Ini uangnya."
"Baiklah aku akan berangkat sekarang."
"Apa nggak makan dulu Mbak?"
"Nanti saja, aku belum lapar kok," ucap Yuni.
Yuni sangat bersemangat karena dia akan mendapatkan tip, lumayan untuk jajan anaknya, begitu pikirnya.
Setelah Yuni pergi, Roni segera menutup pintu swalayan dan menarik tangan Windi untuk mengikutinya.
"Mas, apa yang kamu lakukan? Bagaimana kalau mbak Yuni melihat kita?" ucap Windi gugup.
"Yuni sudah aku suruh keluar."
__ADS_1
"Tapi bagaimana kalau dia kembali?" ucap Windi berusaha mencari alasan.
"Windi, sekarang aku tanya bagaimana perasaanmu padaku?" tanya Roni dengan menatap mata Windi.
"Apa maksudmu Mas Roni?" tanya Windi gelagapan.
"Aku tau kamu juga merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan. Aku mencintaimu Windi, maukah kamu menikah denganku?"
"Maaf Mas, aku tidak bisa."
"Kenapa? Bukankah selama ini kita cukup dekat dan kamu juga mencintaiku?"
"Tidak Mas, maafkan aku?" ucap Windi berusaha menghindari Roni.
Tapi dengan sigap Roni menarik tangan Windi lalu membawanya duduk di depannya.
"Kenapa Windi? Apa karena masa lalu ku yang buruk, atau karena aku seorang duda?" cerca Roni.
"Buka begitu Mas, tapi aku benar-benar tidak bisa."
"Jelaskan padaku apa alasanmu menolak diriku? Aku janji akan membahagiakan dirimu."
"Kamu tidak akan mengerti Mas," ucap Windi menunduk.
"Kalau begitu jelaskan biar aku mengerti," desak Roni.
"Aku tidak akan melarang kamu untuk bekerja setelah menikah denganku. Aku juga akan memenuhi kebutuhan adikmu untuk kuliah." ucap Roni terus meyakinkan Windi.
"Mas, tolong mengertilah diriku. Aku belum ingin terikat apapun dengan siapapun. Aku masih ingin sendiri. Jadi tolong jangan paksa aku, atau aku akan keluar dari pekerjaan ini," ancam Windi.
Meskipun Windi sudah tau kalau swalayan ini adalah milik Roni, tapi Windi tidak tergoda dengan materi yang dimiliki oleh Roni.
"Tapi bukankah kamu juga mencintaiku?"
"Tidak Mas, selama ini kamu salah faham. Aku menganggap mu seperti mas Doni. Aku memang mengagumi kebaikanmu, tapi itu bukan cinta," ucap Windi menghianati perasaannya sendiri.
Karena sebenarnya Windi juga mencintai Roni, tapi Windi tidak bisa bersama Roni karena selalu dibayangi oleh masa lalu Roni yang cukup rumit. Windi tidak mau selalu di tuduh sebagai pelakor.
Windi juga tidak ingin mengecewakan Doni, yang sedari awal tidak mengizinkan Windi dekat dengan Roni. Dan ternyata kakaknya benar, bersama Roni akan membuatnya dalam masalah.
"Windi, benarkah yang kamu katakan?" Apa ada yang mempengaruhi mu?"
"Tidak ada Mas Roni, aku mengatakan yang sebenarnya," ucap Windi terus meyakinkan Roni.
"Baiklah, maafkan aku kalau aku sudah memaksamu," ucap Roni berusaha menahan kecewanya.
Lalu dengan gontai Roni meninggalkan Windi yang terdiam dan merasa bersalah pada Roni.
__ADS_1
"Katakan pada mbak Yuni kalau aku ada pekerjaan mendadak, minum saja esnya," ucap Roni tanpa melihat Windi, lalu pergi meninggalkan swalayan itu.
"Maaf kan aku mas Roni, aku juga mencintaimu, tapi aku tidak sanggup bila selalu menerima hinaan dari mantan kekasihmu," gumam Windi sambil menyeka air matanya.
Tak lama Yuni kembali dengan menenteng kantong plastik berisi es viral pesanan Roni. Setelah cukup lama mengantri akhirnya Yuni bisa mendapatkan es tersebut.
"Win, mas Roni mana?" tanya Yuni celingukan.
"Dia ada pekerjaan mendadak, katanya minum saja es nya."
"Win, kamu kenapa? Kenapa matamu merah? Kamu habis menangis?"
"Nggak kok, aku cuma kepedasan karena makan siomay tadi," elak Windi.
"Ya sudah nih es bagian kamu."
"Terimakasih ya Mbak Yuni," ucap Windi.
"Iya sama-sama, itu tadi pakai uangnya mas Roni kok."
Lalu mereka makan bersama sebelum melanjutkan pekerjaan. Saat itu Windi memiliki sebuah ide.
"Mbak Yuni, gimana kalau aku ajarin Mbak untuk jadi kasir," celetuk Windi.
"Kenapa aku harus belajar jadi kasir Win, bukannya kamu saja sudah cukup?" ucap Yuni heran.
"Biar ada yang gantiin aku Mbak, kadang aku capek berdiri terus bila ramai pembeli," alasan Windi.
Sebenarnya Windi berencana akan keluar dari swalayan dan mencari pekerjaan lain.
"Apa boleh sama mas Roni?" tanya Yuni ragu.
"Pasti boleh lah Mbak, nanti kalau seandainya aku mau libur ada Mbak Yuni yang gantiin aku."
"Baiklah, kapan kita mulai belajar?"
"Besok saja ya Mbak, karena sekarang waktu istirahat sudah habis."
"Oke, kalau begitu aku mau menikmati es viral dulu. Karena jam istirahat ku masih ada hehehe."
"Ya sudah, nanti kalau Mbak Yuni nggak ada kerjaan datang ke meja kasir ya. Mbak bisa lihat cara kerja mesin kasirnya."
"Iya, nanti aku datang."
Lalu Windi segera membuka pintu swalayan lagi dan memulai pekerjaannya lagi. Kini Windi sudah bersiap akan mencari pekerjaan lain dan segera mengundurkan diri bila Yuni sudah bisa menggantikannya.
Windi benar-benar ingin menjauhi Roni, dia tidak akan sanggup bila terus bekerja di swalayan dan akan sering bertemu dengan Roni.
__ADS_1
"Mas Roni, maafkan aku. Aku juga sangat mencintaimu," gumam Windi.