Aku Gak Mau Gendut

Aku Gak Mau Gendut
44 Tak akan Meninggalkan mu


__ADS_3

Saat ini Ririn, Windi, dan Yuni sedang duduk di ruang tamu rumah Ririn. Tadi Yuni datang saat Ririn sedang santai dengan Windi.


"Rin, maaf ya tadi aku nggak buka pintu untuk kamu saat kamu ke rumah," ucap Yuni.


"Iya, nggak apa-apa, aku ngerti kok. Sebenarnya kamu ada masalah apa sih Yun?" tanya Ririn.


"Sebelumnya aku juga minta maaf pada kamu Windi, aku sempat menyalahkan kamu atas masalah yang menimpaku," ucap Yuni menunduk.


"Memangnya apa hubungannya hubungannya sama aku Mbak?" tanya Windi.


"Sebenarnya aku malu mau cerita masalah ini," ucap Yuni.


"Ceritakan bila itu bisa membuatmu tenang, siapa tau kami bisa membatu mencari solusi," ucap Ririn menggenggam tangan Yuni.


"Aku, aku, dipak-sa mas Roni," ucap Yuni terbata-bata karena menahan tangis.


"Maksud kamu apa Yun?" tanya Ririn mulai khawatir.


"Dia memaksaku melakukan hubungan terlarang," ucap Yuni lalu tangisnya pecah.


Ririn segera memeluk Yuni dan menenangkan nya. Sedangkan Windi juga tampak shock dan tidak menyangka kalau Roni seperti itu.


"Coba ceritakan dari awal bagaimana itu semua terjadi," tanya Ririn.


"Tadi saat jam istirahat tiba-tiba dia datang dengan keadaan kacau karena mabuk, dia terus menyebut nama Windi dan memaksaku melakukan itu," ucap Yuni sambil terus menangis.


"Mbak Yuni, maafkan aku. Karena aku Mbak Yuni jadi mengalami hal seperti ini," ucap Windi yang juga ikut menangis.


"Tunggu dulu, sebenarnya apa hubungannya semua ini dengan kamu Win?" tanya Ririn yang belum mengerti sepenuhnya dengan masalah yang dialami oleh Yuni.


"Sebenarnya aku keluar dari pekerjaan karena ingin menghindari mas Roni. Dia bilang dia mencintaiku, tapi aku selalu mendapat hinaan dari mantannya bila aku sedang bersama mas Roni," ucap Windi.


Brakkkk. pintu dibuka dengan kasar dari luar, membuat ketiga wanita itu terlonjak kaget.


"Apa maksud semua ini?" tanya Doni terlihat murka setelah mendengar semua yang dibicarakan oleh ketiga wanita itu.


"Mm Mas Doni sudah pulang?" tanya Ririn gugup, karena belum pernah melihat suaminya semarah ini.


"Sekarang jelaskan semuanya kepadaku, aku tidak ingin ada yang ditutup-tutupi dariku," ucap Doni menatap tajam pada Windi.


"Mas Doni, maafkan aku karena aku tidak mendengarkan mu. Aku membuat kesalahan sehingga mbak Yuni jadi korban disini," ucap Windi


"Lalu sejauh apa hubunganmu dengan Roni?"


"Aku, aku hanya dekat dengannya. Tapi aku memilih mundur karena setiap bertemu dengan mantannya aku selalu dihina dan di cap sebagai pelakor," ucap Windi yang menyesali apa yang sudah terjadi.


"Bukankah aku sudang memperingatkan mu dari awal? Kenapa kamu tidak mendengarkan aku? Sekarang kalau sudah seperti ini mau bagaimana?" ucap Doni frustasi.

__ADS_1


Doni bersyukur adiknya tidak melakukan kesalahan fatal yang dia takutkan, tapi ada orang lain yang harus di korbankan dalam masalah ini.


"Lalu kita harus bagaimana Mas? Bagaimana dengan Yuni?" tanya Ririn pada suaminya.


"Bagaimana lagi? Roni harus menikahi Yuni sekarang," ucap Doni.


"Aku tidak mau menikah, aku belum siap menjalani pernikahan lagi," ucap Yuni menangis tersedu-sedu.


"Tapi harga diri kamu dipertaruhkan Yuni, bagaimana bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan," ucap Ririn.


"Tapi aku takut Rin, Riko saja yang dulunya mencintaiku sekarang tega meninggalkanku, bagaiman dengan Roni yang sama sekali tidak mencintaiku?" ucap Yuni terisak.


"Tapi bagaimana kalau kamu hamil?" tanya Doni.


"Mas!" tegur Ririn.


"Itu bisa saja terjadi, Yang. Kita harus memikirkan kemungkinan terburuknya," ucap Doni.


"Yuni, keputusan ada ditangan mu. Kamu harus memikirkan nya dengan baik, ini menyangkut harga diri dan masa depanmu," ucap Ririn.


"Permisi!"


Lalu semua orang yang ada didalam rumah melihat siapa yang datang.


"Roni! Masuklah!" ucap Doni dingin.


"Katakan!"


"Aku mau minta maaf pada mbak Yuni atas kesalahan yang aku lakukan," ucap Roni.


"Cuma minta maaf?" tanya Doni karena Yuni yang hanya diam.


"Aku mau bertanggungjawab atas kesalahanku," ucap Roni.


"Dengan cara apa?" tanya Doni.


Hening.


Roni bingung harus menjawab apa, tadi dia sudah menawarkan pernikahan pada Yuni, tapi dia menolak karena posisi keduanya juga sangat sulit.


"Dengan cara apa kamu akan bertanggungjawab!" teriak Doni.


"Mas, tenang dulu," ucap Ririn menenangkan suaminya.


"Mana mungkin aku bisa tenang. Bagaimana kalau semua ini terjadi pada Windi!"


"Aku sudah menawarkan pernikahan, tapi Yuni menolak. Jadi aku harus berbuat apa?" tanya Roni.

__ADS_1


Windi yang tidak tahan melihat semua itu pergi meninggalkan ruangan itu. Roni melihat kepergian Windi dengan tatapan terluka.


"Bagaimana aku bisa menikah dengan seorang yang mencintai orang lain?" tanya Yuni yang melihat tatapan Roni pada Windi.


Roni jadi bingung harus bagaimana, dia tidak bisa mengelak ataupun membohongi dirinya sendiri bahwa dia masih mencintai Windi.


"Sudahlah, aku tidak apa-apa. Aku akan pulang saja," ucap Yuni yang putus asa karena tidak mendapatkan solusi.


"Yuni, tunggu dulu. Masalah ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Enak sekali Roni bisa dengan mudah lepas dari tanggungjawab," cegah Doni.


"Lalu aku harus bagaimana? Tidak ada solusi untuk masalah ini. Aku tidak mau menikah dengan orang yang tidak menganggap keberadaan ku," ucap Yuni.


"Aku akan tetap bertanggung jawab, menikahlah denganku meskipun aku belum mencintaimu bukan berarti itu tidak mungkin. Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu seperti seorang pecundang," ucap Roni mantap.


"Kamu sadar apa yang kamu katakan?" tanya Yuni tersenyum kecut.


"Aku yakin, aku akan menikahi mu dalam waktu dekat. Setidaknya biarkan aku bertanggungjawab atas hidupmu."


"Terima saja Yuni, inilah jalan yang terbaik untukmu," ucap Ririn.


"Tapi bagaimana dengan anakku?" tanya Yuni.


"Aku akan menerimanya juga, aku akan menganggapnya seperti anakku sendiri," ucap Roni.


"Baiklah kalau itu yang terbaik menurut kalian," ucap Yuni lesu.


"Yakinkan hatimu Yun, selalu berdoa semoga ini yang terbaik untuk mu," nasehat Ririn.


Windi yang mendengar semua itu bingung harus sedih atau bahagia. Disisi lain dia lega bisa menjauh dari Roni, tapi disisi lain dia merasa sakit saat tau Roni harus menikah dengan Yuni.


Satu Minggu setelah kejadian itu, Roni resmi menikahi Yuni. Mereka menikah secara sederhana dan hanya dihadiri oleh Ririn, Doni, Edo dan Rita. Roni dan Yuni menikah di kantor KUA, setelahnya Roni mengadakan acara syukuran dirumahnya agar tetangga tau kalau Roni dan Yuni sudah menikah.


Setelah pernikahan, Yuni dan anaknya langsung diboyong ke rumah Roni. Sedangkan rumah Yuni rencananya akan di kontrakan.


Yuni bahagia melihat kedekatan Roni dan anaknya. Yuni berdoa semoga ini semua bukan cuma diawal saja, Yuni berharap Roni benar-benar menyayangi Putri, anaknya dengan Riko.


Saat malam tiba, Yuni bingung harus tidur dimana. Apakah dia harus tidur sekamar dengan Roni? Atau tidur bersama Putri?


Roni yang mengerti akan kegelisahan Yuni segera mendekati Yuni.


"Kamu boleh tidur bersama Putri bila tidak ingin sekamar denganku," ucap Roni.


"Apa kamu tidak marah?" tanya Yuni ragu.


"Kenapa harus marah? Kita masih sama-sama belajar untuk menerima satu sama lain, jadi aku tidak akan memaksakan apapun terhadapmu, meskipun kita sudah sah menjadi suami istri."


"Tidak memaksa tapi menyindir," gerutu Yuni dalam hati.

__ADS_1


Lalu Yuni memutuskan untuk tidur di kamar Roni. Roni yang melihat itu hanya tersenyum simpul.


__ADS_2