
Ririn sudah mendapatkan referensi dari You*ube untuk program dietnya. Hari ini dia akan memulai kembali setelah beberapa kali gagal untuk diet, yang berakibat berat badannya terus meningkat.
Kali ini dia mendapatkan cara yang sangat sederhana untuk menurunkan berat badan, yaitu dengan cara perbanyak minum air putih, perbanyak sayur dan buah, juga mengurangi gula, garam dan minyak.
Makanan apapun yang mengandung banyak gula, garam, dam minyak mulai di kurangi oleh Ririn. Diantara nasi yang mengandung gula, Ririn tetap makan nasi tapi hanya setengah porsi dari sebelumnya.
Ririn juga menghindari makanan ringan, minuman kemasan, dan gorengan yang sebenarnya adalah makanan favoritnya.
Pai ini Ririn menumis bayam dengan sedikit kaldu ayam untuk dirinya sendiri. Sedangkan untuk yang lain Ririn tetap memasak makanan seperti biasa.
"Mbak Ririn, kok mbak makan sedikit banget?" tanya Windi.
"Aku mau diet Win, nggak enak banget kalau punya badan yang gemuk."
"Tapi kan yang penting sehat, Mbak."
"Tapi gampang capek kalau terlalu gemuk Win. Lagian Mbak juga harus tetap seksi biar Mas mu nggak jelalatan kalau lihat cewek seksi."
"Kok jadi aku sih?" protes Doni.
"Kan memang begitu kenyataannya, biarpun ada aku tapi kalau ada cewek cantik dan seksi Mas mu ini pasti jelalatan Win,"
"Sudahlah, nanti anak-anak dengar," tegur Doni saat anak-anaknya baru saja bergabung di meja makan.
"Kan memang begitu kenyataannya."
Lalu Ririn mengambil makanan untuk Rinda, sedangkan Randi mengambil makannya sendiri.
Setelah sarapan Randi berangkat ke sekolah dengan ayahnya, sedangkan Rinda di antar oleh Windi.
Ririn segera berkemas membersihkan rumah dan mengarahkan pekerjaan lainnya. Karena setelah selesai Ririn akan langsung senam.
"Mbak, aku langsung berangkat ya, karena anak-anak minta diajarin masak gulai," pamit Windi setelah mengantar Rinda.
"Iya, hati-hati di jalan."
"Oke."
Setelah Windi pergi, Ririn menunggu tukang sayur di teras rumahnya. Saat itu dia melihat Roni yang buru-buru pergi dari rumah.
Tak lama Bu Ima juga keluar dan menghampiri Ririn.
"Mbak Ririn, lagi nunggu mang Asep ya?"
"Iya Bu."
"Mbak Ririn sudang dengar kabar belum?"
"Kabar apa Bu?"
"Itu, si Roni katanya sudah cerai dari Meli, dan katanya lagi Roni sudah punya anak dari wanita lain, dan dia di bohongi oleh wanita itu ternyata anak itu bukan anaknya Roni."
"Masa sih Bu?"
"Iya, Mbak Ririn ingat nggak suami istri yang datang pagi-pagi dan si suami menghajar Roni? Itu dia wanitanya Mbak."
__ADS_1
Belum sempat menanggapi, ternyata mang Asep sudah datang.
"Sayur....Sayur....!"
"Itu mang Asep nya datang Bu," ucap Ririn lalu beranjak dari duduknya.
Lalu Ririn segera membeli apa yang dia perlukan. Ririn belanja sedikit cepat karena takut kalau diajak ngobrol ibu-ibu komplek pasti nggak ada habisnya.
Setelah selesai Ririn segera memasak untuk makan siang. Setelah selesai Ririn sudah bersiap akan melakukan senam mulai hari ini.
Tok....Tok...Tok.
"Baru akan mulai senam Ririn mendengar bunyi ketukan pintu.
"Astaga, siapa sih yang datang?" gerutu Ririn.
Dengan gontai dia membuka pintu, dan ternyata yang datang adalah Yuni bersama anaknya.
"Hai Rin, kamu lagi sibuk nggak?"
"Nggak kok, ayo masuk."
"Nih aku bawa gorengan, tadi aku buat sendiri loh."
"Astaga, kenapa ada saja godaannya?" gumam Ririn dalam hati.
Lalu mereka ngobrol di ruang tv. Mau tidak mau Ririn makan gorengan yang dibawa oleh Yuni. Selain tidak enak sama Yuni, aroma gorengan itu sungguh menggoda.
Jadi untuk hari ini diet Ririn gagal total.
***
Mereka pergi ke mall terbesar di kota ini. Setelah mereka membeli semua keperluan mereka makan siang terlebih dahulu.
Saat akan pulang tanpa di sangka mereka bertemu dengan Wulan.
"Wah, ada yang lagi jalan ya. Dasar pelakor, puas kamu bisa rebut mas Roni dari aku?"
Wulan berkata dengan lantang sehingga mereka jadi pusat perhatian.
"Wulan, jaga bicaramu. Windi tidak pernah merebut ku dari siapapun!"
"Kamu lebih membela dia, Mas? Kamu lupa dengan kebersamaan kita selama ini?"
"Cukup! Hentikan sandiwara mu!"
"Kama jahat Mas, kamu tega sama aku. Bagaimana dengan putri kita Mas?"
Semua orang yang melihat itu banyak yang berbisik-bisik. Kebanyakan mereka kasihan pada Wulan dan menatap sinis pada Windi.
Saat Roni melihat Windi yang menunduk sedih langsung emosi.
"Asal kalian semua tau, wanita yang kalian kasihani ini adalah ular yang berbisa, dia menipuku, dia bilang anaknya bersama pria lain adalah anakku. Tapi pria yang tak lain adalah suaminya itu sudah memberikan hasil tes DNA yang menyatakan kalau aku bukan ayah dari anaknya itu."
Lalu tanpa melihat reaksi dari orang-orang itu Roni langsung membawa Windi pergi. Sementara Wulan tertunduk malu dan segera meninggalkan kerumunan orang yang menatapnya geram.
__ADS_1
Wulan mengumpat sepanjang jalan karena dipermalukan oleh Roni, orang yang dia cintai.
Sementara Windi sangat malu setelah kejadian tersebut.
"Windi, maaf ya lagi-lagi Wulan mempermalukan kamu."
"Iya, tidak apa-apa."
Lalu keduanya hanya diam sampai di swalayan. Tanpa bicara apapun Windi langsung keluar dari mobil. Windi langsung kembali bekerja karena waktu istirahat sudah terlewat satu jam.
Roni merasa tidak enak pada Windi, karena setiap dia bersama Windi pasti Windi mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan.
Satu Minggu berlalu, hari ini Yuni mulai bekerja bersama Windi, sedangkan Mini, Desi, dan Dwi mulai lanjut sekolah.
Setelah kejadian di mall waktu itu, Windi berusaha menghindari Roni. Windi tidak ingin mendapat fitnah dari mantan Roni lagi, apalagi kalau sampai Doni tau. Pasti Doni akan marah besar.
"Win, ini aku harus ngapain dulu?" tanya Yuni.
"Mbak Yuni rapiin barang-barang ya, dan lihat stoknya masih ada apa nggak, kalau ada barang yang habis tolong dicatat ya."
"Oke, siap!"
"Maaf ya Mbak, aku nggak bermaksud memerintah Mbak Yuni."
"Iya nggak apa-apa."
Lalu Yuni dengan cekatan memulai pekerjaannya. Hari ini Yuni sangat bersemangat untuk memulai pekerjaan barunya.
"Win, mbak Yuni jadi kerja kan hari ini?" tanya Roni yang baru saja datang.
"Iya, itu orangnya sudah mulai bekerja," jawab Windi acuh.
Lalu Roni menghampiri Yuni yang sibuk menata barang setelah tadi membersihkan swalayan dengan Windi.
"Pagi Mbak Yuni," sapa Roni
"Pagi juga Mas Roni. Terimakasih ya sudah diterima kerja disini."
"Iya sama-sama Mbak. Swalayan ini memang membantu orang-orang yang membutuhkan pekerjaan tanpa syarat yang rumit."
"Iya Mas, saya benar-benar terbantu walau tidak berpendidikan tinggi."
"Ya sudah selamat bekerja ya, semoga betah disini."
"Iya Mas, terimakasih."
Setelah berbasa-basi dengan Yuni ,Roni kembali mendekati Windi di meja kasir.
"Win, akhir pekan ini ada waktu nggak? Aku mau ajak kamu ke acara teman aku."
"Maaf Mas aku nggak bisa. Aku nggak mau dipermalukan lagi kalau seandainya bertemu dengan kekasihmu itu."
"Mantan Win, MANTAN. Aku minta maaf kalau karena aku kamu selalu dihina oleh Wulan."
Lalu Roni meninggalkan Windi dengan rasa kecewa. Bukan kerena di tolak ajakannya tapi secara tidak langsung Windi tidak ingin dekat dengannya lagi.
__ADS_1
Sedangkan Windi yang melihat kekecewaan di mata Roni jadi menyesal karena ucapannya. Tapi Windi harus tegas, Windi tidak ingin dicap pelakor setiap jalan bersama Roni.
Sebenarnya seperti apa perasaan antara Roni dan Windi?