
Karena hari ini hari libur, seperti biasa Windi selalu menginap di swalayan, di tempat adik angkatnya.
Hari ini Ririn agak sibuk karena menyiapkan acara ulang tahun Rinda, acaranya dadakan karena Ririn baru mengingatnya semalam.
Jadi pagi-pagi sekali Ririn sudah pergi ke pasar untuk belanja, Rencananya Ririn akan mengadakan acara makan-makan saja dan potong kue.
Setelah dari pasar Ririn menyiapkan apa saja yang akan dimasak. Doni juga membantu untuk bersih-bersih rumah. Sedangkan anak-anak belum bangun, karena hari masih pagi.
Setelah agak siang Ririn segera menghubungi Windi.
"Halo Win, kamu sudah bangun kan?" tanya Ririn setelah telpon tersambung.
"Sudah, Mbak, ada apa?"
"Kamu bisa pulang sekarang nggak? Hari ini Rinda ulang tahun, Mbak butuh bantuan mu sekarang."
"Kenapa nggak ngomong dari kemarin Mbak? Kalau tau kan aku nggak nginap di sini."
"Aku baru ingat semalam Win, jadi semua serba dadakan."
"Ya sudah aku pulang, Mbak."
"Kamu bisa pulang sendiri nggak?"
"Bisa Mbak, nggak usah khawatir."
"Jangan lupa ajak adik-adik mu ya, biar sekalian Mbak bisa kenal sama mereka."
"Iya Mbak, kalau gitu aku siap-siap dulu ya."
Lalu sambungan terputus. Setelah itu Ririn menghubungi Yuni dan Rita untuk datang ke rumahnya.
Windi segera bersiap dan juga mengajak Mini, Dwi, dan Desi untuk ikut dengannya. Windi memesan taksi online dan menunggunya di depan swalayan.
Tak lama Roni datang menghampiri mereka.
"Kalian mau kemana?" tanya Roni.
"Aku mau ajak mereka ke rumah Mas, karena di rumah ada acara."
"Acara apa?"
"Ulang tahun Rinda, Mas."
"Kamu sudah beli kado?" tanya Roni.
Lalu Windi menepuk jidatnya. "Aku lupa Mas."
"Kalau gitu kita beli kado dulu yuk."
"Apa ada toko mainan yang buka Mas? ini kan masih pagi, dan hari libur juga."
"Kita ke pasar saja, di sana pasti ada," ucap Roni.
"Ya sudah, tapi kita masih nunggu taksi Mas."
"Sudah pesan?"
"Sudah."
Tak lama taksi pun datang, lalu mereka berangkat dan Roni mengikuti dari belakang.
Setelah sampai di pasar mereka jalan bersama. Roni bingung karena tidak pernah ke pasar, apalagi dengan Windi.
"Kita ke arah mana, Mas?" tanya Windi.
__ADS_1
"Aku juga tidak tau," jawab Roni sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Saat mereka masih kebingungan tiba-tiba ada yang menarik tangan Windi.
"Dasar pelakor, bisa-bisa nya kamu merebut kekasihku. Kamu tau dia adalah ayah dari anakku!" teriak Wulan.
"Hentikan semua ini Wulan, aku sudah tau semuanya," ucap Roni sambil menghempaskan tangan Wulan dan segera menarik tangan Windi untuk mendekat dengannya.
"Apa maksudmu Mas? Kamu lebih membela dia?" ucap Wulan sambil menunjuk Windi.
"Sudahi sandiwara mu ini. Aku sudah muak padamu."
"Kenapa Mas? Apa karena dia kamu seperti ini? Ingatlah putri kita, Mas."
"Aku tau dia bukan putriku, dan bukankah kamu sudah memutuskan hubungan kita? Jadi untuk apalagi kamu masih marah saat aku bersama perempuan lain?"
"Apa maksudmu, Mas. Dia putri kita, kenapa kamu bicara sepeti itu?"
"Sudahlah, Bram sudah mengatakan semuanya. Dan dia sudah memberikan hasil tes DNA yang menyatakan kalau Bram adalah ayah dari anak itu."
"Tidak Mas, dia berbohong. Aku tidak pernah mempunyai hubungan apapun dengan dia."
"Sudahlah, ayo kita pergi." lalu Roni menarik tangan Windi dan ketiga adik angkatnya.
"Mas! Mas Roni, tunggu!" teriak Wulan tapi bodyguard Bram langsung membawa Wulan untuk pulang.
Setelah sampai di rumah, Wulan sudah di tunggu oleh Bram dengan wajah yang memerah karena menahan amarah.
"Mas-
Plak...
"Dasar wanita m**ahan, aku sudah melarang mu untuk menemui Roni, tapi kamu tetap saja berulah. Apa yang membuatmu terus saja mengejarnya? Aku sudah banyak berkorban untukmu dan keluargamu tapi kamu tidak pernah menghargai ku," ucap Bram penuh amarah.
"Selalu saja minta maaf, tapi setelah ini pasti kamu ulangi lagi."
"Tidak, Mas, maafkan aku."
"Kamu harus di beri pelajaran!" lalu Bram segera menyeret Wulan menuju kamarnya.
"Jangan, Mas, maafkan aku. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi."
Seolah tuli, Bram tidak mendengar teriakaan dan tangisan Wulan. Dia terus saja menarik Wulan dan menghempaskan Wulan ke atas ranjang.
Lalu dengan amarah dan na*su, Bram mengga**li Wulan dengan kasar. Wulan hanya bisa menangis meronta mendapat perlakuan kasar dari Bram.
Setelah p*as Bram segera keluar dan mengunci pintu kamar. Sedangkan Wulan hanya menangis tak berdaya karena tubuhnya terasa remuk akibat perbuatan Bram.
Di sisi lain, Roni hanya diam saja saat Windi sibuk memilih kado untuk keponakannya.
"Mbak, keponakan Mbak suka nya sama apa?"
"Kenapa? Apa kalian juga mau beli kado untuknya?" tanya Desi.
"Iya dong, Mbak. Masa kami nggak bawa apa-apa," ucap Dwi.
"Baiklah, pilih apa saja yang menurut kalian bagus."
"Tapi kan kami tidak mengerti kado apa yang bagus, karena kami tidak pernah datang ke acara ulang tahun," ucap Mini tertunduk sedih.
"Baiklah, ayo Mbak pilihkan."
Setelah selesai mereka menuju kasir dan minta di bungkus kado sekalian.
"Jadi berapa, Mbak?" tanya Windi.
__ADS_1
"Semua jadi 380, Mbak," jawab penjaga toko.
"Biar aku yang bayar," ucap Roni.
"Tidak usah Mas," tolak Windi, tapi Roni sudah melakukan pembayaran lebih dulu.
"Tidak apa-apa, ayo kita pulang."
Setelah sampai di rumah, Windi segera mengajak adik-adik angkatnya untuk masuk ke dalam rumah.
Terlihat Doni duduk di teras bersama Edo. Windi menyapa kakaknya begitupun adik-adiknya.
"Mas, kenalin ini anak-anak yang sering aku ceritakan."
"Wah, cantik-cantik sekali. Siapa namanya?"
"Aku Dwi, Om."
"Aku Mini, Om."
"Desi, Om."
Setelah mereka berkenalan, Windi mengajak mereka untuk masuk ke dalam rumah untuk menemui Ririn.
Di dalam rumah sudah ada Yuni, dan Rita. Mereka sedang sibuk membantu Ririn memasak. Setelah saling menyapa dan berkenalan dengan anak-anak, mereka kembali sibuk memasak. Tentu saja anak-anak juga membantu.
"Mbak, itu mbak Yuni kenapa ya? Kok diem aja dari tadi?" bisik Windi pada Ririn.
"Nggak tau, dari tadi dia begitu. Tapi tiap ditanya katanya nggak apa-apa."
Setelah semua masakan sudah siap, mereka segera menyusun ke meja makan. Lalu Rinda dan Randi mengundang teman-temannya untuk datang, karena mereka hanya akan potong kue dan makan bersama.
Setelah semua teman Randi dan Rinda berkumpul, mereka menyayikan lagu ulang tahun dan potong kue.
Setelah itu mereka makan-makanan, dan ada juga tetangga kiri kanan yang juga datang.
"Apa aku terlambat?" tanya Roni saat mereka baru mulai mengambil makanan.
"Belum, masuklah dan segera ambil piring kalau tidak mau kehabisan," ucap Doni bercanda.
"Baiklah, aku tidak mungkin melewatkan acara seperti ini."
"Tapi kami tidak mengundang Om Roni," ucap Rinda dengan polosnya.
"Benarkah? Tapi kalau Om membawa kado bolehkah Om mengikuti acara ulang tahunmu?" tanya Roni sambil memberikan boneka yang besarnya hampir sama dengan Rinda.
"Tentu saja boleh, dan aku juga akan memberikan kue ulang tahun untuk Om Roni," ucap Rinda dam menerima boneka besar itu.
"Dasar, anak-anak. Coba kalau kamu tidak bawa apa-apa, kamu pasti langsung di usir oleh Rinda," ucap Edo dan membuat semua yang ada di situ tertawa.
Kecuali Yuni, dia terlihat murung sejak kedatangannya tadi pagi.
Dan yang membuat Ririn heran, Riko tidak terlihat dari tadi. Saat Yuni berjalan ke dapur, dan Ririn mengikutinya.
"Yuni, sebenarnya ada apa? Kemana Riko? Kenapa dia tidak datang?" tanya Ririn.
Tanpa menjawab apapun Yuni langsung memeluk Ririn dan menangis tersedu-sedu.
Lalu Doni juga ke dapur untuk mencari istrinya. Doni terhenti saat melihat Yuni menangis di pelukan istrinya.
"Ada apa?" tanya Doni tanpa suara.
Dan Ririn hanya menggelengkan kepalanya, lalu menyuruh suaminya untuk pergi.
Apa yang terjadi dengan Yuni dan Riko?
__ADS_1