Aku Gak Mau Gendut

Aku Gak Mau Gendut
35 Flash Back


__ADS_3

Saat hari beranjak malam, Riko pulang ke rumah dengan langkah gontai. Dia bingung harus bagaimana nasibnya dengan Yuni setelah dia menceritakan semuanya nanti.


Riko juga berat untuk menjalani semua ini. Apa lagi bila mengingat Putri, anak semata wayangnya bersama Yuni.


Tapi nasi sudah menjadi bubur, dia tidak bisa untuk mengubah keadaan seperti sebelumnya.


Dengan tekat yang kuat Riko harus terus berjalan dan menghadapi semua kenyataan. Setelah menguatkan hati, Riko memberanikan diri untuk mengetuk pintu.


Tak lama Yuni muncul dengan tatapan nanar, matanya sembab, hiding merah. Sudah pasti dia menangis sejak pertemuannya tadi.


"Yuni, maafkan aku. Aku-" Ucap Riko terputus karena bingung apa yang harus dia katakan.


"Sejak kapan Mas? Sejak kapan kamu menghianati aku?" teriak Yuni.


"Kita masuk dulu, akan aku jelaskan di dalam."


Lalu Riko segera masuk dan diikuti oleh Yuni.


"Putri di mana Yun?"


"Ada di rumah tetangga sejak sore tadi, dia tidak mau pulang," ketus Yuni.


"Kenapa nggak kamu ajak pulang? Aku ingin bertemu dengannya."


"Untuk apa?"


"Kok untuk apa? Tentu saja aku merindukannya."


"Bukankah kamu sudah punya anak lain dari wanita itu?"


"Yuni, jangan bicara seperti itu. Putri juga anakku."


"Benarkah? Kalau begitu maukah kamu meninggalkan wanita itu demi Putri?"


Riko hanya diam, dia bingung harus bicara apa. Posisinya sangat sulit saat ini.


"Kenapa diam Mas? Apa artinya kamu lebih memilih mereka?"


"Tidak, bukan begitu. Tapi aku tidak bisa meninggalkan mereka saat ini."


"Apa maksudmu Mas? Apa karena aku tidak bisa memberimu anak laki-laki sehingga kamu memilih bersama wanita lain? Sejak kapan Mas? Sejak kapan kamu menghianati aku?" teriak Yuni tak terkendali.


"Yuni, tenang dulu. Aku bisa jelaskan semuanya."


"Apa lagi yang mau kamu jelaskan? Semua sudah jelas bagiku."


"Tidak sayang, ada sesuatu yang kamu tidak mengerti."


"Apa aku harus mengerti kalau kamu mempunyai anak lain dan sekarang kamu lebih memilihnya?"


"Tidak, sebenarnya-"


"Berapa usia anak itu?"


"Dia, dia baru 10 bulan."


"Jadi sudah selama itu kamu membohongi aku Mas. Tega kamu! Sekarang kamu harus pilih putri atau anak haram itu?"


"Yuni, dia bukan anak haram!" teriak Riko.


"Jadi kalian sudah menikah?"

__ADS_1


"Tidak Yuni, aku mohon dengarkan aku dulu!"


"Pilih putri atau anak itu."


"Maaf Yun, aku tidak bisa meninggalkan mereka."


Tubuh Yuni luruh ke lantai, hancur sudah harapannya untuk memiliki keluarga kecil yang bahagia.


"Kenapa? Kenapa kamu tega Mas?"


"Yuni, maafkan aku. Aku sangat mencintaimu, tapi aku tidak bisa meninggalkan mereka. Mereka sangat membutuhkan aku."


"Lalu apa aku dan putri tidak membutuhkanmu?"


"Tidak bukan begitu, aku akan tetap memberi kalian nafkah dan kasih sayang. Aku akan tetap pulang ke sini tapi aku meminta sedikit waktu untuk mengunjungi mereka."


Riko berusaha membelai rambut istrinya itu, tapi Yuni langsung menepis tangan Riko.


"Jangan sentuh aku. Aku tidak ingin disentuh olehmu karena kamu sudah menjamah wanita lain selain aku."


"Yuni, aku melakukan ini karena terpaksa."


"Aku tanya sekali lagi. Kamu pilih aku atau wanita itu?"


"Maaf Yun, aku tidak akan meninggalkannya. Aku harus tanggung jawab atas hidupnya. Kalau kamu mau menerimanya sebagai-"


Plak....


"Tutup mulut Riko, sekarang pergilah kepadanya. Aku tidak ingin melihatmu lagi. Aku tidak mau hidup bersama orang yang tidak bisa setia."


"Maafkan aku Yun, aku harus pergi. Kalau saja kamu mau menerima mereka, aku akan tetap bersamamu."


Yuni sangat kecewa dengan jawaban Riko, awalnya dia berharap masih bisa meneruskan hubungan rumah tangga mereka, asalkan Riko mau meninggalkan wanita lain yang kini masuk dalam kehidupan mereka.


Tapi melihat Riko tetap kekeuh mempertahankan wanita itu. Yuni tidak punya alasan lagi untuk mempertahankan Riko, dia tidak mau bila dimadu.


Yuni segera menyadarkan dirinya dan berusaha kuat demi anaknya.


Lalu dia segera menjemput Yuni yang sedang bermain di rumah tetangganya, dia sengaja menitipkan anaknya agar anaknya tidak melihat pertengkaran yang terjadi antara orangtuanya.


Flash back off


"Yuni, kamu yang sabar ya. Lalu apa rencana kamu selanjutnya?" tanya Ririn.


"Aku belum tau Rin, yang jelas prioritas utama ku sekarang adalah Putri. Aku harus berjuang untuknya."


"Kalau kamu butuh sesuatu kamu hubungi aku ya. Aku akan bantu kamu sebisaku."


"Makasih ya Rin, hanya kamu yang aku punya saat ini. Aku tidak mungkin pulang kampung dalam kondisi seperti ini. Aku malu Rin, sebenarnya dulu orangtuaku kurang setuju bila aku menikah dengan mas Riko. Tapi karena cinta aku berusaha meyakinkan mereka."


"Kamu yang sabar. Pasti akan ada bahagia untuk kamu. kalau begitu aku pulang dulu ya, ingatlah aku akan selalu ada untuk kamu."


"Iya, sekali lagi terimakasih ya Rin."


Lalu Ririn pulang karena hari sudah sore. Sebenarnya dia masih saja ingin menemani sahabatnya itu, tapi ada anak-anak yang harus dia urus.


Ririn ikut sedih atas apa yang terjadi dengan Yuni. Dia tidak habis pikir bagaimana bisa Riko menghianati sahabatnya.


Saat sampai di rumah Ririn segera rebahan di depan tv.


"Kok baru pulang Yang?" tanya Doni.

__ADS_1


"Iya Mas," jawab Ririn lesu.


"Kenapa? Apa yang terjadi dengan Yuni? Sepertinya sangat serius."


"Riko selingkuh Mas."


"Benarkah?"


"Iya, dan Riko lebih memilih selingkuhannya itu."


"Kenapa Riko jadi seperti itu? Pantas saja dia sering izin akhir-akhir ini."


"Bahkan mereka sudah punya anak Mas."


"Apa? Sulit dipercaya, Riko yang aku kenal selama ini baik bisa melakukan hal itu."


"Aku juga kaget Mas, ya sudah aku mau mandi dulu."


"Mau aku temani?"


"Apa sih Mas."


Lalu Ririn segera berlari ke kamarnya.


Doni yang merasa penasaran segera menghubungi Riko. Setelah 3 kali panggilan akhirnya Riko mengangkat telepon Ndari Riko


"Iya Don, ada apa?" tanya Riko.


"Kamu di mana Rik, kenapa tadi kamu nggak datang ke rumahku?"


Doni pura-pura tidak tahu apa yang terjadi dengan Riko.


"Memangnya ada apa?"


"Tadi ada acara ulang tahun Rinda, Edo dan istrinya saja datang. Hanya kamu yang tidak datang."


"Maaf Don, aku ada sedikit pekerjaan."


"Pekerjaan apa? Kamu ada pekerjaan lain?"


"Tidak, aku-"


"Kenapa ada suara bayi menangis? Sebenarnya kamu dimana Rik?"


"Sebenarnya aku sudah pisah dari Yuni."


"Kenapa? Dan itu anak siapa yang menangis?"


"Ceritanya panjang Don, kapan-kapan saja aku akan cerita. Sudah dulu ya."


Lalu Riko mematikan ponselnya. Doni merasa ada yang di sembunyikan oleh Riko.


Doni sangat mengenal sahabatnya itu. Bahkan dari jaman sekolah mereka selalu bersama. Rasanya tidak mungkin kalau Riko selingkuh dan meninggalkan istrinya.


Doni tau betul perjuangan Riko untuk mendapatkan Yuni. Bahkan orang tua Yuni sempat menentang hubungan mereka.


Tapi dengan tekat yang kuat Riko berusaha meyakinkan orang tua Yuni, hingga restu akhirnya didapat.


Rasanya tidak mungkin kalau Riko meninggalkan Yuni begitu saja.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" batin Doni.

__ADS_1


__ADS_2