
Roni terlihat frustasi karena Yuni menangis dari tadi. Swalayan pun tidak dibuka kembali karena keadaan Yuni yang sangat kacau.
"Yuni, sudahlah jangan menangis terus. Kepalaku pusing mendengar tangisanmu," ucap Roni.
"Iya kamu tidak masalah dengan semua ini. Tapi aku yang dirugikan disini! Mudah sekali kamu berucap tanpa memikirkan perasaanku."
"Iya aku tau aku salah, aku minta maaf. Tapi jangan menangis terus, ayo kita cari solusinya sama-sama," ucap Roni dengan lembut.
"Solusi apalagi? Seharusnya kamu berfikir dulu sebelum berbuat, aku sudah berusaha mengingatkanmu tapi kamu tidak mau dengar!" ucap Yuni.
"Maafkan aku, aku tidak sadar dengan apa yang aku lakukan,"
"Kenapa kamu lampiaskan kekesalan mu padaku? Apa salahku? Kalau sudah begini aku harus bagaimana?" ucap Yuni kembali terisak mengingat nasibnya yang tidak beruntung. Yuni takut hamil karena perbuatan Roni. Bagaimana nasibnya kalau sampai itu terjadi.
"Aku akan bertanggungjawab, aku akan menikahimu," ucap Roni dengan terpaksa.
"Menikah? Tanpa cinta? Lalu apa yang akan terjadi padaku nanti, sedangkan menikah karena cinta saja aku bisa ditinggalkan," ucap Yuni tersenyum kecut sambil menghapus air matanya.
Yuni tau kalau Roni mencintai Windi, lalu bagaimana bisa dia menikah dengan seseorang uang mencintai orang lain?
"Tapi kita tidak punya cara lain lagi, bagaimana kalau kamu hamil?" tanya Roni.
"Kami tenang saja, kalaupun aku hamil aku bisa gugurkan kandungan ku," ucap Yuni.
"Jangan gila kamu. Jangan menambah kesalahan lagi!"
"Apalagi yang harus aku lakukan, aku tidak ingin terluka lagi karena pernikahan. Sudahlah aku mau pulang."
"Yuni! Yuni! Tunggu dulu, aku belum selesai bicara!" teriak Roni.
Tapi Yuni tidak menghiraukan panggilan Roni. Hatinya masih sakit karena ditinggal oleh Riko, tapi sekarang dia harus mengalami masalah yang sangat rumit.
Dalam perjalanan pulang, saat Yuni melewati rumah Ririn, dia melihat Windi dan ririn yang ada di teras rumah. Windi tersenyum ke arah Yuni, tapi Yuni langsung membuang muka dan mengacuhkan panggilan Ririn.
"Yuni kenapa ya? Bukannya ini belum waktunya pulang kerja?" tanya Ririn.
"Iya, ini kan masih jam 3 sore. Dan kenapa mbak Yuni seperti marah pada kita?" ucap Windi heran.
__ADS_1
"Iya, tidak biasanya dia seperti ini. Biar aku coba telpon dia," ucap Ririn.
Lalu Ririn mencoba menghubungi Yuni, tapi tidak diangkat. Ririn mencobanya lagi, tapi malah ditolak oleh Yuni. Ririn khawatir terhadap sahabatnya itu, karena tidak biasanya Yuni seperti ini.
"Sepertinya ada yang tidak beres. Mbak mau ke rumah Yuni sebentar ya, mbak khawatir pada Yuni," pamit Ririn.
"Iya Mbak, apa mau aku temani?" tanya Windi.
"Tidak usah, kamu temani Rinda saja ya," ucap Ririn.
"Iya Mbak."
Lalu Ririn segera pergi ke rumah Yuni. Saat sampai di sana rumah Yuni terlihat sepi. Ririn mengetuk pintu berkali-kali tapi tidak ada respon dari Yuni. Padahal tadi Yuni sudah pulang.
Lalu Ririn pergi ke rumah sebelah tempat Yuni menitipkan anaknya. Terlihat anak Yuni sedang bermain di teras bersama pengasuhnya.
"Permisi, Bu, apa Yuni sudah pulang ya?" tanya Ririn.
"Sepertinya belum Mbak, ini anaknya masih disini. Biasanya kalau sudah pulang anaknya langsung di jemput."
"Oh ya sudah, kalau begitu saya permisi ya Bu."
"Kok cepat banget Mbak?" tanya Windi saat Ririn baru sampai.
"Yuni tidak ada, padahal jelas-jelas tadi dia sudah pulang kan?" ucap Ririn.
"Iya, tadi kita kan sama-sama lihat mbak Yuni. Nggak mungkin salah lihat kan?" ucap Windi heran.
"Sudahlah, mungkin Yuni sengaja tidak ingin bertemu denganku. Aku sudah hafal dengan sifat Yuni."
Sedangkan Roni yang ada di swalayan masih terlihat kacau. Roni bingung apa yang harus dia lakukan sekarang. Apa keputusannya untuk menikahi Yuni sudah benar?
Tapi menikah tanpa cinta lagi, itu juga membuat Roni ragu. Roni juga sedikit tau tentang pernikahan Yuni yang hancur karena orang ketiga, pasti saat ini Yuni masih trauma dengan pernikahan.
Tapi Roni harus bertanggung jawab dengan apa yang dia lakukan. Tapi dia bingung bagaimana cara meyakinkan Yuni.
Tak lama Mini, Dwi, dan Desi pulang. Mereka heran kenapa swalayan tutup tapi di parkiran ada motor Roni.
__ADS_1
Lalu ketiganya masuk kedalam, dan mendapati Roni yang terlihat kacau.
"Mas Roni! Kenapa swalayan nggak di buka? Mbak Windi dan mbak Yuni dimana?" tanya Mini.
"Windi sudah tidak bekerja disini lagi, sedangkan Yuni sedang sakit jadi dia izin pulang," ucap Roni berbohong.
"Apa? Kenapa mbak Windi tidak pamit sama kita kalau mau berhenti?" ucap Desi sedih.
"Mungkin dia tidak ingin melihat kalian sedih," ucap Roni.
"Ya sudah, kalau begitu kita buka saja swalayan nya," ucap Dwi.
"Apa kalian bisa menjaga kasir?" tanya Roni.
"Bisa, mbak Windi sudah mengajari kami," jawab Dwi.
"Pantas saja mbak Windi maksa kita untuk belajar menjaga kasir, ternyata dia mau keluar dari sini," ucap Mini.
"Ya sudah, Mas mau pulang dulu ya. Nanti kalau sudah sepi tutup saja, nggak usah sampai malam," ucap Roni.
"Iya Mas," jawab mereka bertiga.
Ditempat lain, Yuni masih saja meratapi nasibnya yang kurang beruntung. Bagaimana caranya untuk melanjutkan hidupnya setelah ini. Apalagi kalau sampai dia hamil karena perbuatan Roni?
Lalu Yuni juga bingung apa dia akan melanjutkan pekerjaannya, dan kemungkinan besar akan sering bertemu dengan Roni
Atau harus berhenti saja? Tapi untuk mencari pekerjaan saat ini sangat sulit, apalagi hanya dengan ijazah SMA yang dia miliki.
Dan sayang kalau Yuni harus berhenti, karena satu Minggu lagi waktunya gajian.
Mau tidak mau Yuni akan tetap bekerja di sana sampai dia mendapatkan pekerjaan lain. Dan Yuni baru tersadar kalau Windi juga melakukan itu sebelumnya. Mencari pekerjaan lain dulu baru keluar.
"Apa mungkin Windi keluar karena sikap Roni yang kurang ajar ya? Atau karena ada alasan lain?" gumam Yuni penasaran
"Apa aku harus menanyakan masalah ini pada Windi? Tapi aku malu karena kalau mereka sampai tau apa yang terjadi padaku."
Yuni jadi menyesal karena sempat marah pada Windi, dan menyalahkan Windi atas apa yang terjadi padanya hingga Yuni pun menghindari Ririn.
__ADS_1
Yuni tau kalau sebenarnya Ririn mencarinya karena khawatir padanya. Tapi Yuni belum siap menceritakan masalahnya pada Ririn. Yuni sangat malu karena tadi dia juga menikmati perlakuan lembur dari Roni walau awalnya dengan paksaan.
Lalu setelah memikirkan semuanya, Yuni memutuskan untuk pergi ke rumah Ririn. Dia sadar kalau dia tidak akan bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Apa lagi mendiamkan masalah ini berlarut-larut.