
Setelah Rena melahirkan Riko berniat untuk pulang. Tapi Rena selalu menahan dirinya.
"Mas, kamu harus tepati janjimu untuk bertanggungjawab. Mulai sekarang dia adalah anakmu, dan kamu harus selalu ada untuk kami."
"Tapi aku juga punya keluarga yang harus aku prioritaskan."
"Tidak! Mulai sekarang aku dan putraku juga prioritasmu. Kamu sudah membuat aku kehilangan suami dan anakku kehilangan ayahnya. Jadi kamu harus menggantikan posisi suamiku."
"Baiklah aku akan menganggap anakmu sebagai anakku juga. Aku akan memberikan nafkah untuk anakmu."
"Bukan cuma untuk anakku, tapi kamu juga harus menjadi suamiku."
"Jangan gila kamu! Aku sudah punya istri."
"Aku tidak peduli, kamu harus menikahi ku. Kamu juga harus bertanggungjawab atas diriku."
"Kamu sudah gila!"
Lalu Riko segera keluar dari ruangan itu. Dia memutuskan untuk pulang walaupun belum waktunya untuk pulang.
Saat sampai di rumah Yuni tentu saja kaget melihat suaminya sudah pulang.
"Kok sudah pulang, Mas?"
"Aku sedang tidak enak badan, aku mau istirahat."
"Apa perlu ke dokter dulu Mas?"
"Tidak usah, aku mau tidur saja."
Lalu Riko segera masuk ke dalam kamar. Pikirannya sangat kacau, dia masih teringat dengan permintaan Rena.
Sedangkan Yuni merasa heran dengan tingkah suaminya sore ini.
Sedangkan di rumah sakit Rena sedang melakukan rencananya dengan perawat. Rena akan melakukan apapun untuk mendapatkan Riko, Rena adalah orang yang ambisius. Jadi apapun keinginan harus terwujud, walau dengan cara kotor sekalipun.
Satu jam berlalu, Riko tergesa-gesa berjalan keluar setelah menerima telpon.
"Ada apa Mas?" tanya Yuni.
"Aku harus pergi ke kantor, ada sesuatu yang terlupa."
"Katanya Mas lagi nggak enak badan?"
"Sudah mendingan kok, mungkin nanti aku akan pulang terlambat."
Lalu dengan segera Riko menuju rumah sakit tempat Rena di rawat.
Saat memasuki ruang perawatan ternyata Rena sedang tertidur, dan bayinya diletakkan di dalam box.
__ADS_1
"Sebenarnya ada apa Suster?" tanya Riko.
"Tadi Bu Rena teriak histeris dan hampir saja mencelakai bayinya. Untung saja saya sedang menuju kemari."
"Kenapa bisa begitu?"
"Mungkin karena Bu Rena terlalu stres. Orang yang baru melahirkan tidak boleh banyak pikiran. Nanti bisa berakibat buruk pada bayinya bahkan dirinya sendiri."
"Apa kemungkinan terburuk yang bisa terjadi Sus?"
"Dia bisa saja membu*uh anaknya atau dirinya sendiri. Tentu bapak tau dengan berita yang ramai akhir-akhir ini, yang ibu bu*uh anak lalu bu*uh d*ri. Itu terjadi karena stres pasca melahirkan, dan tidak mendapat dukungan dari keluarga."
"Jadi apa yang harus saya lakukan?"
"Jangan membuatnya stres, dan turuti semua keinginannya selagi tidak berbahaya, juga dampingi dan berikan dia semangat."
"Iya Sus, terimakasih."
"Kalau begitu saya permisi."
Setelah perawat itu keluar, Riko mendekati bayi yang sedang terlelap di dalam box. Riko merasa bersalah saat melihat wajah bayi tak berdosa itu. Apakah dia harus menikahi ibunya?
Pikiran Riko jadi kacau. Kalau dia menikah lagi, bagaimana dengan anak dan istrinya. Tapi kalau dia tidak menikah bagaimana nasib bayi tak berdosa itu. Riko takut kalau ibunya sampai stres dan menyakiti bayi itu.
"Mas, kamu sudah kembali?" tanya Rena yang baru saja membuka mata.
Lalu Riko beralih mendekati Rena. Lalu dilihat dengan seksama, Rena perempuan yang cantik dan terawat. Berbeda dengan istrinya yang tidak pernah melakukan perawatan.
"Aku merindukanmu Mas, aku rela di madu asal bisa selalu bersamamu Mas. Jadi jangan tinggalkan aku."
"Aku tidak akan meninggalkanmu, kamu jangan khawatir."
Dua bulan berlalu, Riko jadi lebih sibuk karena harus membagi waktu antara anak dan istrinya dan juga Rena dan Tomi anaknya.
Tak jarang Riko tidak bekerja demi menemani Rena dan anaknya. Riko tidak perlu khawatir tentang uang, karena Rena tidak meminta nafkah karena dia mempunyai usaha butik yang pendapatannya lumayan besar.
Siang ini Rena bertekad bahwa dia harus bisa mendapatkan Riko. Rena sudah meminta Riko untuk datang hari ini dengan alasan Tomi rewel dari semalam.
Jadi hari ini Riko libur tanpa sepengetahuan Yuni, istrinya. Riko berangkat dari rumah seperti biasa.
Begitu sampai di rumah Rena, Riko langsung di minta untuk ke kamar oleh art sesuai perintah Rena.
Saat sampai di kamar Riko heran karena kamar begitu sepi, tidak terlihat Tomi ataupun Rena. jadi Reno memutuskan untuk keluar.
Belum sempat Riko keluar, dia mendengar teriakan dari dalam kamar mandi, lalu Riko segera melihat apa yang terjadi.
Saat masuk ke dalam ternyata Rena terduduk di lantai hanya dengan memakai handuk. Riko terpana melihat tu*uh mu*US Rena. Tapi dia segera menyadarkan pikirannya.
"Kamu kenapa?"
__ADS_1
"Aku kepleset Mas, tolong aku kakiku sakit."
Lalu Riko menggendong Rena menuju ke ranjangnya. Saat akan menjauh Rena malah menarik Riko dalam pelukannya. Entah siapa yang memulai tiba-tiba ciuman panas terjadi, dan pertahanan Riko selama ini runtuh karena dia tidak dapat menahan godaan yang begitu dahsyat.
Dan hubungan terlarang itu pun terjadi, bukan cuma sekali, tapi Riko mengulanginya sampai jam makan siang. Entah berapa jam mereka tidak keluar kamar.
Rena sudah menyiapkan segalanya, begitu juga asi untuk anaknya. Jadi hubungan terlarang yang sudah dia nantikan selama ini tidak mendapat gangguan.
Rena yang sudah lama tidak tersentuh merasa ingin memiliki Riko seutuhnya. Tapi dia juga sadar kalau Riko sudah memiliki anak dan istri.
"Mas, bagaimana kalau kita menikah?"
"Tapi aku sudah punya istri."
"Nikah siri saja aku mau Mas, asalkan aku bisa terus bersamamu dan tidak jadi omongan orang."
"Tapi aku takut kalau istriku tau."
"Tapi kamu sudah melakukannya padaku Mas, bahkan kamu minta lagi dan lagi. Apa kamu mau lihat aku menikah dengan orang lain?"
"Tidak, jangan, baiklah aku akan menikahi mu. Tapi sekali lagi ya."
Riko yang sudah ketagihan dengan Rena tidak bisa menolak permintaan Rena. Selain itu Rena selalu memberikan perhatian dan memanjakannya,memberinya makanan mewah, bahkan memberinya uang saat dia harus libur bekerja.
Apalagi sekarang Rena memberikan sesuatu yang tidak dia dapatkan dari sang istri, yaitu Rena yang agresif dan memberikannya pelayanan lebih.
Sekarang Riko sudah berubah, dia menikmati kehidupannya yang sekarang bersama Rena.
Flashback off
"Maaf Don, aku tidak bisa meninggalkan Rena dan Tomi. Kalau saja Yuni mau menerima mereka kami pasti tidak akan berpisah."
"Jadi demi seorang janda kamu rela membuat istrimu menjadi janda."
"Rena menjadi janda juga kerena kesalahan ku. Aku yang menyebabkan suaminya meninggal."
"Tapi bukan seperti ini seharusnya."
"Lalu aku harus bagaimana? Apa kamu mau melihatku di penjara seumur hidup? Lalu siapa yang akan memberikan nafkah untuk anak istriku? Aku melakukan semua ini juga untuk mereka."
"Tapi kenapa harus menikahi wanita itu?"
"Karena sekarang aku juga mencintainya!"
"Kamu sudah berubah Rik, kamu tidak seperti dulu lagi."
"Iya, orang bisa saja berubah. Begitupun aku. Aku harap kamu mengerti dengan keputusanku."
"Baiklah, terserah kamu. Aku tidak akan ikut campur."
__ADS_1
Lalu Doni pergi meninggalkan Riko yang termenung sendirian. Ada penyesalan karena meninggalkan Yuni dan putrinya, tapi dia juga tidak bisa meninggalkan Rena dan Tomi.