
Tak terasa satu bulan sudah Windi bekerja di kota. Doni juga sudah membaik, tapi ada satu masalah yang difikirkan oleh Doni.
Kalau dia sudah mulai bekerja nanti bagaimana dengan Windi, karena motor yang selama ini di pakai Windi adalah motornya. Sedangkan tempat kerja mereka berlawanan arah.
"Sayang, gimana masalah motor?" tanya Doni pada istrinya.
"Gimana ya Mas, kalau pakai motorku aku juga perlu untuk antar jemput Rinda," ucap Ririn yang ikut bingung.
Tak lama Windi datang dengan membawa martabak di tangannya.
"Mas, Mbak, ini aku beli martabak untuk kalian," ucap Windi memberikan sekotak martabak kepada Ririn.
"Kok tumben bawa martabak segala?" tanya Doni.
"Kan hari ini aku gajian, Mas."
"Oh, makasih ya adik ku yang cantik," ucap Doni.
"Kalau di kasih sesuatu aja manisnya mengalahkan madu," cibir Windi.
"Masa sih, itu perasaan kamu saja yang sensitif."
"Usah ah, aku mau mandi dulu."
Lalu Windi meninggalkan kakaknya yang sedang asik menikmati martabak yang dia belikan.
Ada rasa bahagia saat bisa membelikan sesuatu untuk kakaknya, dan kakaknya menerima dengan senang walaupun hanya makanan sederhana.
Keesokan paginya Doni mencoba bicara pada adiknya saat sarapan.
"Win, Mas kan sudah mulai sehat. Kalau Mas mulai kerja lagi gimana ya?" tanya Doni pelan-pelan agar tidak menyinggung adiknya.
"Gimana apanya Mas?"
"Motornya gimana?"
"Kan berangkatnya aku bisa naik angkot atau ojek Mas, nanti pulangnya Mas Doni jemput. Bisa kan Mas?"
"Bisa, tapi kamu nggak apa-apa kan?"
"Ya nggak apa-apa lah Mas, memangnya aku kenapa?"
"Ya sudah kalau begitu Mas jadi tenang sekarang."
"Memangnya kapan Mas Doni akan mulai bekerja lagi?" tanya Ririn.
"Mungkin minggu depan, nanti tolong antar aku ke dokter dulu ya, Yang. Aku mau pastikan dulu apa aku sudah bisa bekerja atau belum," ucap Doni pada istrinya.
"Iya Mas."
Setelah selesai sarapan, Ririn segera mengantar Rinda ke sekolah. Sedangkan Randi sudah berangkat terlebih dahulu bersama Riko.
Lalu Windi membereskan meja makan, dan setelah selesai dia segera bersiap untuk berangkat bekerja.
***
__ADS_1
Satu minggu berlalu, hari ini Doni sudah bersiap untuk berangkat kerja.
"Win, ayo Mbak antar," ucap Ririn.
"Aku naik ojek aja Mbak," tolak Windi.
"Sudah, Mbak antar saja, ayo."
Lalu Windi menurut saja dengan Ririn. Saat akan berangkat, tiba-tiba Roni menghampiri mereka.
"Windi, ayo bareng sama aku saja. Bolehkan Mbak Ririn?" ucap Roni
"Terserah Windi saja," jawab Ririn yang bingung. Ririn takut kalau suaminya marah, tapi dia juga merasa tidak enak pada Roni karena selalu baik padanya selama ini.
"Gimana, Win? Aku juga mau ke swalayan kok, Hadi sekalian biar Mbak Ririn nggak bolak balik."
"Iya deh. Mbak, nggak apa-apa kan kalau aku bareng sama mas Roni?" tanya Windi.
"Iya tidak apa, tapi jaga batasan ya," bisik Ririn.
"Iya Mbak, aku berangkat dulu ya."
"Iya, hati-hati."
Lalu Roni dan Windi berangkat bersama. Lalu Ririn dikejutkan dengan kehadiran Bu Ima.
"Mbak Ririn, kok bengong."
"Eh, Bu Ima. Nggak kok Bu, ini lagi nunggu mang Asep," ucap Ririn.
"Tanya apa, Bu?"
"Tapi jangan marah ya, Mbak."
"Nggak Bu, memang mau tanya apa sih?"
"Itu, sekarang Windi kok kelihatannya dekat ya sama Roni?" tanya Bu Ima.
"Oh, itu karena Windi dan Roni bekerja di tempat yang sama Bu."
"Tapi hati-hati loh Mbak, Roni kan suka banget merayu cewek. Jangan sampai Windi dirayu sama Roni, dia kan belum cerai dari istrinya."
"Memangnya Meli kemana ya Bu, kok sudah lama nggak kelihatan?" tanya Ririn yang sudah lama penasaran dimana keberadaan istrinya Roni.
"Kabarnya sih sekarang dia tinggal bersama selingkuhannya, karena pria itu kaya raya. Sangat berbeda dengan Roni yang sering nggak kerja".
"Tapi mereka kan belum cerai ya, Bu?"
"Iya, tapi meli sudah tidak tahan hidup dengan Roni yang pemalas itu."
Lalu mang Asep datang dan menghentikan obrolan mereka.
Sedangkan Windi di tempat kerjanya sangat bahagia bisa bercanda dengar teman kerjanya disaat waktu luang.
Windi benar-benar merasa beruntung bisa bekerja di tempat yang menyenangkan dan tidak ada tekanan dari siapapun. Hanya terkadang dia menemui pembeli yang cerewet dan judes.
__ADS_1
Tapi semua itu tidak masalah, karena orang-orang seperti itu tidak setiap hari dia temui.
Setiap jam istirahat, Windi selalu istirahat di kamar belakang bersama anak-anak. sekarang mereka sudah seperti saudara saking akrabnya.
Mini, Dwi, dan Desi merasa sangat bahagia bisa bertemu dengan Windi. Karena sebelumnya hanya ada Roni yang baik pada mereka. Tapi Roni tidak bisa selalu menemui mereka.
Sekarang anak-anak itu sudah bisa memasak sendiri, jadi mereka tidak lagi membeli nasi bungkus. Mereka terlihat lebih sehat dan berisi, mungkin karena sebelumnya mereka jarang sekali makan sayuran dan makanan yang bergizi.
Windi selalu mengingatkan mereka untuk makan makanan yang bergizi, dan selau menjaga kebersihan badan dan lingkungan.
Ketiga anak itu sekarang terlihat lebih bersih dan terawat.
Saat mereka akan makan siang, tiba-tiba Roni datang. Roni terlihat kusut dan tak bersemangat.
"Mas Roni kenapa? Apa ada masalah?" tanya Windi.
"Nggak kok, aku cuma mau makan siang sama kalian, Apa boleh?" tanya Roni.
"Tentu saja boleh. Sebentar ya Mas aku ambilkan nasi," ucap Desi.
Lalu Desi datang membawa sepiring nasi untuk Roni. Lalu mereka mulai makan.
"Siapa yang memasak makanan ini?" tanya Roni sambil mengunyah makanan.
"Kami bertiga Mas," jawab Mini.
"Benarkah? Jadi kalian bisa masak?"
"Bisa dong Mas, kan diajari Mbak Windi," ucap Dwi.
"Kalau begitu boleh nggak kalau setiap hari Mas Roni makan siang di sini?" tanya Roni lagi.
"Boleh dong Mas, kan bahan masakan ini kami ambil dari swalayan, kecuali sayurannya."
"Baiklah, mulai hari ini dan seterusnya Mas akan makan siang di sini."
Sebenarnya Roni sangat kesepian, dan di tempat ini dia merasakan kehangatan bersama keluarga.
Sebelumnya dia tidak pernah makan masakan rumahan, karena tidak ada yang memasak untuknya setelah istrinya pergi meninggalkannya.
Sudah lebih dari tiga bulan Roni hidup sendirian. Untuk bertemu dengan Wulan pun sangat jarang, karena Wulan selalu di awasi oleh suaminya.
Setelah selesai makan siang, ketiga anak itu langsung membereskan piring dan gelas kotor bekas mereka makan. Lalu mereka langsung mencucinya.
"Terimakasih ya ,Win kamu sudah banyak mengajari mereka dalam segala hal," ucap Roni.
"Sama-sama Mas, aku juga sudah menganggap mereka sebagai adik ku sendiri. Aku hanya punya adik laki-laki, dan dia sangat bandel.
Saat bertemu mereka aku sangat senang. Apalagi mereka sangat penurut dan rajin, jadi tidak sulit untuk membimbing mereka," ucap Windi sambil tersenyum melihat ketiga anak itu yang sedang mencuci piring.
Roni tertegun melihat senyum manis Windi. Sedangkan yang di pandang tidak menyadari hal itu, karena Windi sedang fokus melihat arah lain.
Roni semakin kagum pada Windi yang sangat baik dan penyayang. Wanita seperti itulah yang diinginkan oleh Roni.
Tapi bagaimana bisa, sedangkan Roni sudah mempunyai anak dengan Wulan. Tapi hubungannya dengan Wulan semakin tidak jelas, begitu juga hubungannya dengan Meli.
__ADS_1
Apa yang akan dilakukan oleh Roni selanjutnya???