Aku Gak Mau Gendut

Aku Gak Mau Gendut
32 Kecewa


__ADS_3

POV Roni


Hari ini sebenarnya aku sangat sibuk dengan usaha baruku, tapi Wulan mengajakku untuk bertemu. Dia bilang ada suatu hal yang sangat serius yang ingin dia bicarakan.


Aku sangat senang, karena aku berfikir dia akan memilih aku dan kami akan hidup bahagia bersama anak kami.


Aku berusaha luangkan waktu untuknya, karena kami sangat sulit untuk bertemu. Bahkan dalam dua bulan ini kami hanya bertemu tiga kali.


Oh, aku sangat merindukannya. Apalagi sudah tiga bulan aku ditinggalkan istriku, Meli.


Sebenarnya Meli juga baik, tapi aku merasa terkekang hidup bersamanya. Meli sangatlah cerewet, dia juga egois. Apapun yang aku lakukan harus dengan persetujuan darinya.


Sedangkan Wulan, kekasihku juga ibu dari anakku adalah wanita yang tegas tapi juga manja. Yang tidak aku suka darinya adalah dia emosional dan cengeng.


Tapi karena terlanjur cinta, aku mengabaikan sifat buruknya itu, karena aku sadar aku pun juga banyak mempunyai sifat buruk.


Sudah setengah jam aku menunggunya di kafe tempat kami janjian. Tapi Wulan belum juga kelihatan.


Saat hampir satu jam aku menunggu akhirnya Wulan datang juga, tapi kenapa dia terlihat murung atau seperti menahan amarah?


"Hai Sayang, kenapa lama sekali? Aku sudah menunggumu dari tadi loh," ucapku menyapanya.


"Aku mau tanya sesuatu sama Mas Roni," ucapnya tak bersahabat.


"Ada apa?"


"Apa benar Mas Roni punya selingkuhan?"


"Maksud kamu apa?"


"Kamu jawab saja Mas, iya apa tidak?"


"Tidak ada Sayang, hanya ada kamu di hatiku."


"Kamu bohong, lihat ini!" Wulan melemparkan beberapa foto saat aku pulang bersama Windi.


"Kamu mau bilang apa lagi, Mas? Semua sudah jelas, dan foto itu buktinya."


"Tapi itu tidak seperti yang kamu pikirkan. Dia hanya, hanya-" aku bingung harus mengatakan dia siapa, karena Wulan juga tidak tau tentang swalayan milikku. Bahkan tidak ada yang tau.


Windi, dan anak-anak pun hanya tau kalau aku sebagai penanggung jawab swalayan tersebut. Bukan pemiliknya.


"Hanya apa Mas? Kamu bingung kan mau mengakui dia sebagai apa?"


"Dia teman kerjaku Sayang, karena rumahnya di depan rumahku jadi aku mengajaknya pulang bersamaku."


"Alasan yang masuk akal Mas, dan kamu mengajaknya pulang bersamamu dan kerumah mu kan? Karena aku tau kamu Mas, kamu sudah ditinggal oleh istrimu, dan kita sangat jarang bertemu. Sudah pasti kamu mencari pelampiasan hasrat mu."

__ADS_1


"CUKUP WULAN! Windi bukan perempuan seperti itu," aku sangat emosi saat Wulan berkata yang tidak pantas tentang Windi.


"Oh, jadi namanya Windi? Dan karena dia kamu membentak ku?" tanya Wulan dengan air matanya yang sudah berjatuhan.


Aku tak tega melihatnya menangis, aku menyesal telah berkata kasar padanya. Tapi dia sudah keterlaluan menuduh Windi yang bukan-bukan.


Windi, kenapa aku seperti tidak rela saat ada yang berkata buruk tentangnya? Sekalipun Wulan yang melakukannya.


"Maafkan aku Sayang, aku tidak bermaksud seperti itu."


"Mulai sekarang kita putus, aku nggak mau lagi bertemu denganmu."


"Wulan, bagaimana dengan putri kita?"


"Aku bisa merawatnya sendiri."


Lalu Wulan pergi meninggalkanku. Tapi aku merasa- ah, entahlah. Biasanya aku selalu mengejarnya saat dia marah lalu merayunya, tapi sekarang bahkan rasanya biasa saja.


Apa mungkin karena aku dan dia sangat jarang bertemu, tapi seharusnya kan ada rindu yang menggebu.


Saat aku akan beranjak, tiba-tiba suami Wulan datang menghampiri. Kenapa dia ada disini?"


"Pertunjukan yang sangat menarik. Aku sangat menikmati setiap adegan yang kalian kalian sajikan," cibir suami Wulan.


"Apa mau mu?"


"Apa maksud mu? Jangan bertele-tele, aku tidak punya banyak waktu untuk mendengarkan ocehan mu."


"Oh, baiklah aku hanya ingin memberikan ini untukmu. Sebagai salam persahabatan dari ku," ucapnya sambil memberikan sebuah amplop pada ku.


"Apa ini?"


"Buka saja, sebenarnya sudah lama aku ingin memberikannya padamu. Tapi aku belum ada waktu kerena terlalu sibuk. Aku harap kamu menyukainya," lalu dia pergi begitu saja.


Karena penasaran aku membuka amplop itu dan membacanya. Betapa terkejutnya saat aku membaca di sana tertera bahwa tidak ada kecocokan antara DNA ku dan DNA putriku.


Sedangkan di kertas satu lagi terlihat hasil DNA yang menunjukkan 99,99% kecocokan antara Bram, suami Wulan dan Adinda, putri yang aku anggap sebagai putriku.


"Apa maksudnya ini? Siapa yang membohongi ku sebenarnya?"


Aku baru teringat saat Wulan dan suaminya datang ke rumah dan menghajar ku, aku merasa dia menarik rambutku.


Apa saat itu dia sengaja mengambil rambutku untuk tes DNA ini?


Jadi, beberapa tahun ini aku sudah dibohongi oleh Wulan? Betapa bodohnya aku karena bisa di bodohi oleh perempuan. Aku mencoba mengingat kejadian waktu itu.


* Flash back on

__ADS_1


Saat itu Wulan menyusul ku ke Inggris. Saat itu dia mengajakku untuk melakukan hubungan badan, awalnya aku menolak karena ingin melakukan nya saat kami sudah resmi menikah.


Tapi dia terus saja merayuku, sehingga aku tidak bisa menahan godaan itu.


Awalnya aku terkejut saat mendapati dia sudah tidak suci lagi. Tapi dia beralasan kalau itu terjadi karena kenakalan remaja, dan dia di rayu oleh pacarnya saat usia SMA.


Karena aku sangat mencintainya aku tidak mempermasalahkan hal itu. Hampir setiap hari kami melakukannya, karena aku juga ketagihan.


Seminggu kemudian dia menunjukan hasil testpack yang menyatakan bahwa dia hamil.


Awalnya aku panik karena takut keluarga kami murka saat mengetahui hal ini.


Tapi Wulan selalu meyakinkan ku kalau kita mempunyai anak orang tua kami akan merestui hubungan kami.


Tapi tetap saja Wulan harus menikah dengan Bram saat kembali ke Indonesia. Karena Bram menerima apapun keadaan Wulan, apapun keadaannya begitu juga dengan anaknya.


*Flash back off


Pantas saja Bram dan keluarganya menerima anak Wulan dengan baik, ternyata memang itu anaknya sendiri.


Aku sangat bodoh untuk menyadari semua ini. Tapi kenapa Wulan melakukannya padaku?


Lalu aku melihat ada kartu nama Bram di dalam amplop itu. Dan aku segera menghubunginya untuk mengetahui alasan Wulan melakukan semua ini.


Ternyata Bram masih di parkiran, mungkin dia tau kalau aku akan menghubunginya.


Tak lama dia mendatangiku.


"Aku tau kalau kau akan menghubungiku, apa yang ingin kau ketahui?" tanya Bram.


"Kenapa Wulan melakukan ini padaku?"


"Karena cinta, apalagi?"


"Tapi kenapa bisa dia hamil anakmu?"


"Karena aku juga kekasihnya waktu itu. Tapi setelah bertemu denganmu dia mengabaikan ku. Dan dia minta berpisah dariku demi dirimu, tapi aku mengajukan syarat padanya. Aku meminta berhubungan badan selama satu Minggu. Dan dia menyetujuinya.


Tapi dia juga mengajukan syarat padaku, saat berhubungan dia ingin aku memakai pengaman. Tapi aku tidak bod*h, karena tujuanku untuk membuatnya hamil aku sengaja memberi lubang pada setiap pengaman.


Dan rencana ku berhasil. Saat dia pergi aku sudah berbicara pada orangtuanya dan menjelaskan semuanya, sehingga kalian aman hidup di luar negeri tanpa gangguan.


Ada lagi yang ingin kau tanyakan? Kalau tidak aku akan pergi mengajak putriku jalan-jalan, kau dengar? PUTRIKU," dan dia pergi dengan senyum mengejek.


Aku hancur sehancur-hancurnya, apa yang harus aku lakukan, dan kemana aku harus pergi?


Kerena saat ini jam makan siang, aku memutuskan pergi ketempat adik-adik ku, adik asuhku, penyemangat ku. Hanya mereka yang aku miliki saat ini. Karena orang tuaku sudah tidak menganggap ku lagi, karena aku lebih memilih Wulan. Aku menyesal.

__ADS_1


POV end.


__ADS_2