Aku Hanya Gadis Taruhan Sean

Aku Hanya Gadis Taruhan Sean
Bab 14


__ADS_3

Sean nampak duduk bersantai melihat ke arah kolam, entah apa yang dipikirkan oleh pria tampan itu.


*Apa aku harus melanjutkan pertaruhan koyol ini?* batin Sean bimbang.


"Tidak!, tidak!. Kalau sampai aku mundur pasti dua cecurut itu akan menertawaiku" guman Sean.


"Sean" panggil Rain mendekat ke arah Sean.


"Hemm" dehaman Sean.


"Kamu ingin berbicara apa?" tanya Rain kini duduk di sebelah Sean.


Sean pun membuat tubuhnya berhadapan dengan Rain, Sean menatap lekat ke manik mata Rain.


"Apa kamu bener-bener suka sama aku?" tanya Sean yang membuat Rain bingung pasalnya Rain selalu mengatakan pada Sean bahwa dia sangat mencintai Sean.


"Iya Sean,, aku sangat mencintaimu" ucap Rain tanpa ragu.


"Kalo gitu buktiin" ucap Sean menatap lekat Rain.

__ADS_1


"Buktiin ucapan kamu!, kalo kamu emang bener-bener cinta sama aku" lanjut Sean.


"Apa yang harus aku lakuin Sean?" tanya balik Rain yang masih merasa bingung dengan perkataan Sean.


"Apa yang bisa kamu beriin sama aku?" ucap Sean.


"Apapun" jawab Rain karena sekarang dia benar-benar dibutakan oleh cintanya pada Sean.


"Apapun?" Sean menaikan salah satu alisnya.


"Iya apapun" jawab Rain tegas walau sebenarnya dia tidak mengerti maksud dari Sean.


Rain yang mendengar itu shock, apa yang baru saja dikatakan Sean membuatnya tak percaya.


"Kenapa? tadi kamu bilang apapun" ucap Sean langsung mebuang muka ke arah berbeda.


"Apa yang kamu katakan Sean, itu tidak mungkin kita belum menikah" ujar Rain.


"Aku kira kamu bener-bener suka sama aku, ternyata cuma omong kosong!" ucap Sean langsung bangkit dari duduknya namun tangannya dicegat oleh Rain sehingga Sean kembali duduk.

__ADS_1


"Aku bener-bener cinta sama kamu Sean, aku berani sumpah" ucap Rain dengan air matanya tumpah membasahi pipi cabinya.


"Aku gak perlu omong kosong. Yang aku butuh pembuktian!" ucap Sean dingin.


"Aku kasi kamu waktu sampek malem buat berpikir. Kalo kamu masih kekeh gak mau ngasi, kita putus aja" ucap Sean enteng.


Sean berlalu pergi meninggalkan Rain yang menangis sesenggukan. "kenapa kamu kayak gini Sean?" guman Rain dalam tangisannya.


Rain bimbang, dia tidak tau harus melakukan apa. Dia takut hubungannya dengan Sean berakhir, padahal hubungan mereka belum genap sebulan. Haruskah Rain mengabulkan keinginan Sean? tapi apakah setelah memberikan hal yang paling berharga dalam dirinya Sean tidak akan meninggalkannya.


Rain merasa otaknya akan pecah karena memikirkan semua itu, menurutnya ini lebih sulit dari rumus matematika yang pernah dia kerjakan.


"Apa yang harus aku lakukan? hiks" ucap Rain.


Setelah beberapa waktu memikirkan permintain Sean, Rain pun mengambil keputusan yaitu dia akan menuruti permintaan Sean. Di benaknya tidak apa toh juga dia memberikan mahkotanya pada pria yang dia cintai, asalkan Sean tidak meninggalkannya.


Rain yang buta karena cinta tak bisa berpikir jernih. Dia memang siswa yang berprestasi namun dalam hal cinta dia menjadi bodoh dan terlalu naif. Sean yang merupakan cinta pertama Rain dan Rain ingin Sean akan menjadi yang terakhir untuknya, namun apakah Sean juga berpikir demikian. Sungguh malang nasib Rain karena pertaruhan koyol itu, hidupnya akan mengalami nasib yang begitu menyakitkan.


*Sean aku akan buktiin kalau aku bener-bener cinta sama kamu* batin Rain.

__ADS_1


__ADS_2