
Rain yang kini berdiri tepat di depan gerbang rumah Sean yang bak istana, dia berencana akan memberi tahu Sean tentang kehamilannya.
-Rumah Sean Visual-
"Cari siapa ya nona?" tanya pak satpam sopan
"Apakah Sean ada pak?" tanya Rain pada pak satpam
"Maaf nona, tuan sedang ada perjalan bisnis ke Jerman" ucap Pak satpam
"Ohhh begitu ya pak, makasi ya pak" ucap Rain kecewa.
"Iya nona sama- sama" ucap pak satpam
Rain pun pulang dengan rasa kecewa karena tidak bertenu dengan Sean.
"Sean kenapa akhir-akhir ini kamu selalu menghindar?" ucap Rain sedih.
Rain berjalan di sepanjang tepi jalan, dia memegangi perutnya. "sayang ayah gak ada, jadinya bunda tidak bisa memberitahu ayah tentang kamu" ucap Rain sedih sambil mengusap-usap perutnya lembut.
__ADS_1
Saat Rain sedang berjalan tiba-tiba hujan turun membasahi bumi, “ahh hujan... aku tidak bawa payung lagi" ucap Rain sambil menutup kepalanya dengan tangan.
Rain kehujanan hingga sampai di kostnya, "hachuuu" hidung Rain memerah sepertinya dia terserang flu.
"Hachuu, astaga aku tidak boleh sakit. Kalau aku sakit itu akan berpengaruh pada anakku" ucap Rain.
......................
Sementara di dalam pesawat pribadi milik Sean yang terbang menuju ke Berlin ibu kota jerman untuk menyelesaikan masalah perusahaan Zaskhara di Berlin.
"Dasar penghianat" umpat Dion
Sekretaris Mathe melakukan korupsi dengan jumlah yang tidak sedikit, uang 8 miliaran yang digelapkan olehnya membuat Sean ditemani Leo dan Dion langsung terbang ke Berlin.
"Iya bener tu Sean" timpal Dion
"Gua gak papa" ucap Sean datar
Mereka tau sikap Sean yang paling tidak suka dihianati, sekali berani berhianat kepada Sean maka dia akan mati secara tragis entah itu wanita maupun pria semua sama di mata Sean jika sudah berhianat maka akan berakhir tragis.
"Yaa udah lo istirahat aja, kalo dah sampek nanti gua bangunin lo" ucap Leo
__ADS_1
Sean pun memilih untuk tertidur, karena kepalanya benar-benar pusing. Dan saat dia mendengar bahwa sekretaris yang dia percaya untuk mengelola perusahaannya di Berlin korup membuatnya emosi sehingga berpengaruh pada kepalanya yang sakit secara tiba-tiba.
Setelah beberapa waktu pesawat pun telah lepas landas di Berlin.
Mereka bertiga pun langsung menuju markas mereka di Berlin dimana tempat Mathe si penghianat di sekap.
"Selamat datang King" ucap semua bodigat menunduk hormat kepada Sean dan kedua sahabatnya.
Sean bersama Leo dan Dion masuk ke ruangan bawah tanah, disana sudah terlihat Mathe yang telah diikat di kursi.
"Tuan maafkan saya" ucap Mathe setelah melihat kehadiran Sean.
Sean pun menatap tajam ke arah Mathe. "maaf?" ucap Sean.
"Sekali sampah akan tetap menjadi sampah, kalo dibiarkan berlama-lama baunya akan menebarkan bau busuk. Maka dari itu harus dibersihkan tanpa sisa kan?" ucap Sean sambil menepuk-nepuk pipi Mathe sedikit keras.
"Tuan tolong maafkan saya. Saya berjanji tidak akan mengulanginya" ucap Mathe mengiba
"Hemm,, apa kamu pernah mendengar aku memaafkan orang yang telah menghianatiku?" tanya Sean kini berbisik di telinga Mathe.
Mendengar itu membuat Mathe menelan ludahnya kasar, dia tau sebentar lagi namanya akan menjadi sejarah yang tak dikenang.
__ADS_1
"Penghianat seperti kamu pantasnya cuma MATI!!!" ucap Sean menggelegar di ruangan itu.
NEXT