Aku Hanya Ingin Bahagia

Aku Hanya Ingin Bahagia
Episode 3


__ADS_3

" Setelah menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda,Bu Nisa pun segera membersihkan diri.


"Assalamu alaikum...Ibu..." teriak Dela dan fahmi bersamaan saat memasuki rumahnya.


"Wa'alaikum salam..." jawab ibunya yang baru saja selesai menyiapkan makanan di dapur.


" kalian ganti baju dulu, lalu makan...mumpung masih panas makanannya" kata Bu Nisa.


Merekapun makan bersama,ditemani angin sepoi-sepoi yang bertiup dari arah pintu dapur.


"Dela...Fahmi...ibu mau bicara nak sama kalian setelah ini " kata Bu Nisa.


"Oh...iya Bu...." jawab mereka bersamaan.


Kini Bu Nisa dan kedua anaknya telah duduk di ruang keluarga,tepatnya di di depan televisi yang ruangannya sejajar dengan ruang dapur.


"Ibu mau bicara apa? " tanya Dela yang lebih dulu memulai pembicaraan.


"Begini nak,sebenarnya ibu mau menyampaikan kepada kalian bahwa tadi selepas kalian berangkat ke sekolah,ada ibu yang bernama ibu Tuti datang kemari" Bu Nisa menjelaskan dengan penuh rasa khawatir.


"Beliau datang kemari untuk menyampaikan itikad baik dari anaknya yang meminta ibu menjadi i...istrinya" lanjutnya ragu-ragu.


"Lalu ibu jawab apa !!? suara Fahmi sedikit teriak.


"Tenang dulu nak,...ibu belum memberi jawaban,karena ibu belum berani memiliki pendamping,apalagi kita belum mengenal orang itu dengan baik,meskipun tujuannya sangat mulia tapi ibu khawatir jika kalian tidak siap untuk menerima orang asing di rumah kita."kata bu Nisa.


"Tidak ada yang lebih baik dari ayah..." kata Fahmi yang menyelah pembicaraan ibunya.


"Hanya itu yang ingin ibu sampaikan kepada kalian,ibu harap kalian tidak menanggapi lain persoalan ini" kata Bu Nisa khawatir.


\~\~\~\~\~\~\~\~


"keesokan paginya, setelah sarapan Dela dan adiknya kembali ke kamar masing-masing,karena hari ini adalah hari libur.tidak ada pembicaraan diantara mereka, kini,hanya Dela yang sibuk menimbang-nimbang ucapan ibunya.Dia berbaring didalam kamarnya yang sederhana,ditemani oleh tumpukan boneka.


Apakah ibu bahagia,jika menikah lagi ?"fikirnya.


Lelah dengan pergumulan bathinnya,akhirnya Dela terlelap"


"Ibu...." panggil Dela.


Saat mereka bertiga selesai makan malam.


Dela menggandeng lengan ibunya dan mengajaknya duduk di ruang keluarga.


Begitu pula Fahmi yang merasa ada hal penting yang akan dibicarakan oleh kakaknya pun ikut duduk bersama mereka.


"ibu..."panggil Dela lembut sambil memegang kedua tangan ibunya.Dela menahan nafas sejenak lalu menghembuskannya pelan sebelum melanjutkan ucapannya.


"Dela setuju bu...,jika ibu mau membuka hati untuk orang lain,asalkan orang itu mampu membahagiakan ibu dan mau menerima keadaan ibu,yang sudah memiliki dua orang anak.

__ADS_1


"Asalkan ibu bahagia, tentu kamipun akan bahagia "kata Dela.


"Tapi kak..." Fahmi menyelah pembicaraan kakaknya,seolah ada penolakan darinya.


" Dek....sekarang izinkan ibu untuk memilih jalan hidupnya,sudah cukup ibu menghabiskan waktunya sendiri hanya untuk mengurus kita tanpa memikirkan apa yang saat ini ibu butuhkan."


"Biarkan kali ini ibu menentukan pilihannya Dek..." kata Dela pada adiknya.


Fahmi terdiam sejenak merenung dan mencerna ucapan kakaknya yang memang benar.


Dia pun bangkit dan memeluk ibunya,menangis karena selama dia besar,dia tidak pernah memikirkan apa yang dibutuhkan ibunya.


"Jika ibu ingin menerimanya,maka ibu harus bahagia"kata Fahmi.


Tapi, jangan sampai dia menyakiti ibu,karena kalau sampai hal itu terjadi maka sayalah orang pertama yang memberinya pelajaran" ucapnya lagi.


"Terima kasih nak,...karena kalian memahami ibu" kata Bu Nisa.


 


Beberapa bulan kemudian


Setelah pernikahan antara Bu Nisa dan Pak Andre,kehidupan mereka pun berubah drastis.


Awalnya pak Andre memang menerima kehadiran kami sebagai anak-anaknya,tapi seiring berjalannya waktu sekalipun dia menunjukkan kasih sayang dan perhatian kepada kami,tetap saja bagi kami tidak ada rasa keikhlasan yang kami rasa dari pak Andre,semua kebaikannya hanya dihadapan ibu saja.


"Assalamu alaikum Ibu..." Dela memberi salam sepulang dari sekolah.


Tinggal beberapa bulan lagi Dela tamat dari sekolahnya,entah dia masih mau melanjutkan pendidikannya nanti atau tidak,sebab setelah ibunya menikah segala urusan mengenai usaha yang ditinggalkan oleh bapak untuk kami dan juga ibu,telah di atur oleh ayah sambung kami.


"Ayah mana bu...?" tanya Dela,yang memanggil Pak Andre dengan sebutan ayah karena itu permintaan dari Pak Andre sendiri,karena menurutnya anak dari Bu Nisa adalah anaknya juga.


"Ayah ada keluar nak,,,,katanya ada urusan" jawab Bu Nisa.


"Oh..kalau gitu Dela kekamar ya bu..." seru Dela sambil tersenyum,seolah ada rasa lega saat mengetahui bahwa Pak Andre sedang tidak berada di rumah.


"Aku dan Fahmi harus segera mencari cara agar bisa memberitahu ke ibu mengenai sifat asli Pak Andre yang sebenarnya,sebelum ibu terjebak dalam situasi ini " bathin Dela.


Lelah berfikir,akhirnya Dela terlelap dengan pakaian seragam sekolah yang belum sempat ia ganti.


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2