
"Sekarang kami sudah bertemu, bahkan kami sudah menikah. Tapi Reyhan tidak mengingat ku. Bagaimana bisa dia melupakan aku sedangkan aku terus mengingatnya dan memikirkannya" Naya lalu mengeluarkan cangkang kerang yang 20 tahun lalu Reyhan berikan kepadanya. "Lihatlah, sampai sekarang aku masih menyimpannya dan benar juga seperti yang kemarin kamu katakan kalau kita berdua berjodoh".
Naya menarik nafas, ia mengusap wajahnya berulang kali sampai ia tidak tau kalau Rian sekarang berdiri di depan meja kerjanya melihat dirinya dengan kening mengerut.
"Astaga! Sejak kapan kamu berdiri disitu?" Naya kaget begitu ia usai mengusap wajahnya.
Kemudian Rian tersenyum mengusap rambutnya dengan lembut.
"Ada apa? Kenapa kamu terlihat begitu sangat gusar? Apa yang membuat mu seperti ini? Ayo katakan kepada ku. Apa ini karna Reyhan lagi?".
Naya menggeleng kepala, "Tidak Rian, hanya saja aku merasa bosan karna kamu selalu memberikan pekerjaan seperti ini kepada ku" jawab Naya.
"Benarkah? Jadi pekerjaan yang seperti apa kamu mau? Katakan, agar aku tau memberikan pekerjaan untuk mu".
"Mmmmm, setidaknya kamu menambahi pekerjaan untuk ku biar jangan hanya ini saja Rian. Aku bosan tau".
"Baiklah, kalau begitu ayo kamu ikut aku. Ada pekerjaan yang ingin aku berikan kepada mu. Ayo".
"Kemana Rian?" Naya bertanya, tetapi ia tetap mengikuti Rian dari belakang membuat ia penasaran pekerjaan apa yang Rian maksud. Dan sekarang mereka berada di lantai paling atas yaitu rooftop membuat Naya semakin heran.
"Duduk Nay" ucap Rian.
Naya pun mendudukkan diri, "Sedang apa kita kemari Rian? Ini belum jam istirahat".
"Jangan khawatir" Rian pun ikutan mendudukkan diri disebelahnya sambil memberikan kopi hangat di tangan Naya. "Minumlah, itu kopi berkualitas tinggi".
Naya menerima, tetapi ia tetap bertanya kenapa mereka ada disana.
"Nay!" panggil Rian.
"Mmmmm, kenapa?".
"Sebenernya papa selama ini ada di Amerika serikat. Tapi satu bulan yang lalu beliau kembali ke Indonesia demi kamu. Dan selama 20 tahun lamanya, papa hanya mempersiapkan bagaimana caranya Pelita group kembali ke tangan mu".
__ADS_1
"Benarkah?" Naya melihatnya dengan serius.
"Benar, dan aku juga baru bergabung di perusahaan ini demi kamu".
"Maksudnya? Apa selama ini kamu juga tinggal di Amerika serikat? Dan kamu kemari hanya karna aku?".
"Mmmmm, aku sudah lama memantau kamu tanpa sepengetahuan mu. Dan satu lagi, apa kamu sudah siap? Apa kamu benar-benar sudah siapa jika nantinya kita gagal mengembalikan Pelita group kepada mu?".
Naya terdiam. Dan Rian pun membiarkan Naya berpikir sejenak sebelum ia menjawab pertanyaannya.
"Mmmmm, aku sudah siap Rian. Tapi apapun yang terjadi, pelita group harus kembali ke tangan ku apapun yang terjadi. Aku tidak mau hasil kerja keras kedua orang tua ku diambil alih oleh mereka, aku tidak mau Rian".
"Benar, aku juga setuju dengan mu. Tapi untuk saat ini kamu butuh dukungan Nay dari orang terdekat mu".
Naya bingung kembali, "Maksud mu Reyhan?".
"Mmmm, kamu harus mendapatkan dukungan dari orang terdekat mu sekarang. Yaitu Reyhan dan kedua orang tuanya. Karna saat ini kita sangat membutuhkan dukungan mereka. Tapi kamu tau sendiri, tidak semudah itu menaklukkan hati mereka karna kedua besan keluarga ini sudah sangat dekat sekali".
"Terus apa yang harus aku lakukan Rian?".
Sejenak keduanya terdiam. Naya lalu meminum kopi hangat yang berada di dalam genggaman tangannya.
"Rian!".
"Mmmmm?".
"Terima kasih" Naya melihatnya dengan senyuman tulus. "Terima kasih banyak sudah mau berjuang untuk perusahaan yang kedua orang tua ku bangun selama hidup mereka. Rasanya membuat aku tidak bisa berhenti berterima kasih kepada mu".
Rian mengangguk, ia juga sangat berterima kasih banyak kepada almarhum kedua orang tuanya karna membuat ia seperti ini dan juga keluarganya. Kalau bukan karena kedua orang tua Naya, ia dan keluarganya tidak tau mau hidup seperti apa jika ayah Naya tidak menerima ayahnya bekerja di perusahaan Pelita group yang di kenal sampai keluar negeri sana.
.
Lama berbincang disana, mereka berdua segera turun. Naya kemudian memasuki kantin, sedangkan Rian tiba-tiba menerima telpon dari orang terpenting membuat ia tidak bisa di temani olehnya.
__ADS_1
Naya lalu mengambil piring, ia meminta porsi makanannya kepada si petugas ketering.
Begitu Naya berhasil, ia mengambil meja paling ujung. Namun saat ia duduk disana, tiba-tiba dua orang wanita cantik menghampiri dirinya membawa makanan mereka masing-masing. Naya lalu melemparkan senyuman tipis, dan ia kembali melanjutkan melahap makanannya.
"Kamu orang baru disini yah?" Tanya Mela yang tepat duduk di hadapannya.
"Iya" jawab Naya singkat.
"Terus, kamu mengenal pak Rian?".
Naya melihatnya, "Kenapa kamu bertanya seperti itu?".
Mela kesal, "Kenapa kamu harus balik bertanya? Apa salahnya kamu langsung jawab kalau kamu mengenal pak Rian atau tidak?".
"Lalu apa urusan urusannya denga..
BBBYYYUUURRRRR....
Dengan beraninya, Mela menyiram wajah Naya dengan jus miliknya sambil tersenyum menyeringai. Namun Naya yang tidak terima di perlakukan seperti ini, ia hendak membalas seperti yang baru saja Mela lakukan kepadanya, tetapi Reyhan tiba-tiba muncul disana membuat ia menghentikan niatnya.
"Kenapa haahhh? Kenapa kamu tidak membalasnya?".
"Hahahaha... Sepertinya dia takut Mela" jawab teman yang berada di sebelahnya.
"Mungkin, ayo. Aku tidak ingin makan bersama dengan orang yang bau seperti dia" mereka pergi meninggalkan Naya. Lalu Naya mengeram dalam hati, kalau bukan karna Reyhan, ia pasti membalas kedua orang itu.
Kemudian ia melihat Reyhan kembali, tetapi pria dingin itu tidak ia lihat lagi berada disana.
"Ck, kedua wanita itu benar-benar sangat menyebalkan sekali. Lihatlah, pakaian ku basah semua" Naya bangkit berdiri, ia pergi meninggalkan kantin menuju toilet wanita melihat Paris berdiri di hadapannya dengan paper-bag di tangan kanannya. "Ada apa Paris?".
Tanpa menjawab pertanyaan Naya, Paris langsung memberikan paperbag tersebut dihadapannya. Dengan kening mengerut, Naya bertanya apa yang ia berikan ini. Namun Paris tetap tidak menjawab pertanyaan Naya dan memilih pergi meninggalkannya.
Naya lalu membuka paper-bag itu. Dan begitu ia melihat isi di dalamnya, ia pun langsung tersenyum senang bagaimana bisa Paris tau kalau ia sedang membutuhkan pakaian itu.
__ADS_1
"Astaga! Aku baru sadar kalau Reyhan tadi melihat ku. Terus, itu artinya pakaian ini dari Reyhan? Tapi, apa mungkin ini dari Reyhan? Hanya saja Paris tidak mungkin tau kalau aku membutuhkan ini sedangkan ia tidak melihat kejadian tadi kecuali Reyhan".