
"Ada apa Rey?" tanya Naya kembali.
"Aku sudah mendapatkan siapa pemilik dari nomor yang pernah menghubungi mu. Sekarang kamu jawab aku dengan jujur sebelum aku sendiri yang bertanya kepada mereka. Alasan apa mereka mencari mu?".
"Apa?" sejenak Naya terdiam. "Maksud kamu Rey? Tolong kamu jelaskan kepada ku karna aku kurang mengerti".
"Mereka adalah pembunuh bayaran. Paris sudah mencari keberadaan mereka sekarang ini. Karna itu jawab pertanyaan ku sekarang juga Nay, apa alasan mereka macari mu? Dan bagaimana bisa kamu berhubungan dengan mereka. Apa mereka suruhan kamu membunuh Yolanda?".
"Tidak Rey" jawab Naya langsung. "Tidak Rey, aku sama sekali tidak tau mereka siapa-siapa, dan ini sudah yang kedua kalinya aku memberitahu kamu. Ayolah percaya kepada ku Rey, aku mohon. Aku tidak membunuh Yolanda".
Reyhan menatapnya tanpa ekspresi.
"Sebenernya ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan mu Rey. Tapi aku takut, takut kalau kamu tidak akan mempercayai ini semua".
"Apa itu?" tanya Reyhan.
"Jawab aku Rey, apa sebenarnya kamu tidak mengingat ku sama sekali?".
Reyhan mengernyitkan dahi.
"Apa kamu benar-benar sudah melupakan aku Rey?" Naya menarik nafas. "Tapi sebaiknya aku tidak usah memberitahu mu, karna aku tau hati mu hanya untuk Yolanda bukan untuk aku. Dan aku mohon, tolong beri aku waktu untuk menjawab pertanyaan ini semua".
Naya mencoba untuk pergi kalau saja Reyhan tidak langsung menahan pergelangan tangannya.
"Katakan, aku ingin mendengar jawaban mu sekarang juga" ucap Reyhan.
Dan lagi-lagi Naya menghela nafas, "Aku katakan pun yang sebenarnya kepada mu kamu tidak akan mempercayai ku Rey. Jadi apa gunanya nanti kalau pada akhirnya kamu marah kepada ku dan...
Ceklek!
Rian masuk ke dalam, ia melihat Reyhan menahan pergelangan tangan Naya membuat ia penasaran ada apa dengan keduanya.
__ADS_1
"Ada apa ini Rey?" tanyanya kepada pria itu. "Kenapa kalian berdua ada disini?".
"Tidak ada apa-apa pak. Tadi tuan Reyhan kemari menca... Aakkhhh" Reyhan membawa Naya keluar. "Rey, kenapa kamu menarik ku seperti ini? Tolong lepaskan aku Rey, kamu menyakiti ku, pergelangan tangan ku sakit Rey".
Hingga sekarang mereka berada di dalam tangga exit. Reyhan menatapnya dengan tajam.
"Sekarang lanjutkan perkataan mu tadi".
Naya melihatnya, ia menatap kedua manik mata pria itu dengan wajah letih.
"Baiklah kalau memang kamu penasaran kenapa orang itu mencari ku, aku akan memberitahu kepada mu semuanya. Karna sekarang sudah saatnya kamu tau siapa aku yang sebenarnya. Aku adalah pemilik asli dari Pelita group, perusahaan itu milik kedua orang tua ku yang sudah di bunuh oleh paman ku sendiri".
DUUAAARRR...
Reyhan melangkah mundur, ia tidak mengerti maksud dari perkataan Naya mengatakan kalau ia pemilik asli dari perusahaan Pelita grup yang selama ini ia tau kalau perusahaan itu adalah milik kepunyaan orang tua Yolanda, tapi kenapa sekarang Naya mengatakan kalau perusahaan itu miliknya, bahkan kedua orang tuanya di bunuh oleh mereka.
"Aku sudah mengatakan kepada mu Rey kalau kamu tidak akan percaya kepada ku. Tapi ini semua fakta, dan itu adalah yang sebenarnya kalau mereka telah merebut Pelita group dari tangan ku. Dan karna itu paman ku sendiri menyuruh pembunuh bayaran itu untuk membunuh ku agar mereka menguasai perusahaan itu sampai selamanya".
"Dan ini, kamu lihat kerang ini Rey? Sampai sekarang aku masih menyimpannya".
Reyhan menatap kerang tersebut.
"Dulu waktu aku berusia 7 tahun, seorang pria muda dan tampan memberikan ini kepada ku. Dia berkata, jika aku menyimpan kerang ini maka aku akan bertemu dengan jodohku secepat mungkin. Lalu aku berkata kepada pria itu kenapa dia memberikan kerang itu kepada bukan untuknya saja. Kamu tau apa jawaban pria itu Rey? Dia berkata kepada ku kalau pria itu berharap aku lah jodohnya".
Naya tersenyum, "Lucu tidak Rey? Apa hanya aku saja yang merasa lucu? Benar, mungkin hanya aku saja yang merasakannya. Kamu mau tau siapa pria itu Rey? Pria itu adalah kamu, pria yang sekarang sudah menjadi suami ku".
Tidak dapat mempercayai ini semua, Reyhan pun pergi meninggalkannya. Dan sekarang tinggallah Naya seorang diri, namun ia malah menangis, ia menangis telah memberitahu yang sebenarnya kepada orang yang selama ini tidak pernah menginginkannya semenjak mereka menikah.
Kemudian Rian menghampirinya, ia melihat pria itu tersenyum memberikan pelukan kepadanya.
"Aarrkkhhh, Rian hiks.. hiks".
__ADS_1
"Semua akan baik-baik saja. Kamu sudah melakukan yang terbaik. Tidak usah menangis seperti ini. Reyhan akan segera mengerti kamu".
.
Malam harinya sepulang dari kantor Naya diantar oleh Rian, ia masuk ke dalam rumah, ia melihat rumah begitu sangat gelap dan tau kalau Reyhan belum pulang. Kemudian ia mendudukkan diri diatas sofa, ia mengeluarkan ponselnya hendak bertanya kepada Reyhan dimana ia sekarang dan kenapa ia belum pulang juga. Tetapi ia takut kalau sampai Reyhan marah setelah apa yang ia lakukan kepada pria itu.
"Hhhmmss... Aku sangat lelah sekali. Meskipun aku sudah mengatakan semuanya kepada Reyhan. Kenapa aku tiba-tiba merasa menyesal telah mengatakan itu semua kepadanya? Aku takut kalau aku menyakiti perasaannya? Lalu dimana dia sekarang?".
Dengan rasa penasaran Naya menaiki anak tangga mencari keberadaan Reyhan di dalam kamarnya berharap pria itu ada disana, namun nyatanya Reyhan tidak disana.
"Ini sudah hampir jam 9 malam. Kenapa dia belum pulang juga? Apa sebaiknya aku menghubungi dia? Aku khawatir kalau Reyhan.. Tidak, biarkan saja. Mungkin Reyhan sekarang sedang menenangkan pikiran".
Naya turun, ia langsung menuju kamarnya membersihkan tubuhnya yang terasa lengket dan bau keringat setelah satu harian bekerja.
.
Suara musik DJ berdengung sangat kencang. Reyhan sekarang berada di dalam sebuah club, ia sedang menikmati segelas alkohol di depan meja si bartender. Kemudian dua wanita mudah menghampirinya, wanita itu duduk manis tepat di samping kiri kanan Reyhan.
"Apa yang sedang kalian lakukan disini? Tolong tinggalkan aku, aku sedang tidak ingin di ganggu oleh kalian?".
Kedua wanita itu malah tersenyum manja. Namun saat itu juga mereka mendengar sebuah suara dari belakang, "Jangan menyentuhnya" wanita itu adalah Naila.
Kedua wanita itu bangkit berdiri, mereka berjalan mendekati Naila dengan tatapan mata tak suka.
"Sebaiknya kamu cari yang lainnya saja? Dia milik kami".
"Haahh? Hahahaha" Naila tertawa. "Dia milik ku, aku sudah lama mengenalnya. Sebaiknya kalian yang pergi karna dia tidak membutuhkan kalian melainkan aku".
"Hahahhaha... Kamu pikir kami akan percaya? Pria itu saja tidak sedang menunggu siapa-siapa. Kenapa kamu percaya diri sekali seperti ini kalau pria itu sedang menunggu mu hahahahaha... ? Dasar wanita murahan tidak tau diri".
"Apa? Kamu barusan bilang apa? Kamu pikir kamu juga tidak wanita murahan haaahh?" dengan kesal Naila pun melakukan penyerangan kepada keduanya. Sedangkan Reyhan, ia sama sekali tidak peduli dan tetap asik menikmati alkohol miliknya.
__ADS_1