
"Reyhan!" Rian memanggil namanya membuat kedua langkah kakinya berhenti. "Apa yang terjadi Rey? Apa yang terjadi kepada Naya? Aku melihat berita pagi hari tadi terjadi pembunuhan di jalan xx dan seperti yang aku lihat, wajah wanita tersebut tidak beda sekali dengan Naya. Dan saat itu juga aku langsung menghubungi ponselnya tetapi ponsel Naya tidak aktif" raut wajah Rian menunjukkan kekhawatiran.
"Mmmmm, wanita itu adalah dia".
"Apa? Lalu apa yang terjadi kepadanya? Dimana dia sekarang Rey?".
"Dia koma sesaat dan sekarang dia berada di rumah sakit xx".
Mendapatkan jawaban tersebut dari Reyhan, Rian segera pergi meninggalkan perusahaan menuju rumah sakit tempat Naya di rawat sekarang ini. Dan setibanya ia dirumah sakit, ia langsung mendatangi meja si perawat bertanya atas nama Naya Tarian. Tidak lama setelah ia mengetahui ruangan inap Naya, ia langsung masuk ke dalam melihat Lidia dan Nessa berada di sana.
"Rian?" kaget Lidia bersamaan dengan Nessa ketika Rian membuka pintu. "Apa yang sedang kamu lakukan disini?".
Rian berjalan mendekati Naya, ia melihat alat-alat medis begitu banyak di semua bagian anggota tubuhnya.
"Bagaimana bisa seperti ini? Apa yang terjadi kepada mu?" kedua bola mata Rian berkaca-kaca membuat Lidia dan Nessa heran kepadanya. "Apa yang membuat mu bisa seperti ini nona".
Ledia dan Nessa semakin heran kepadanya. Lalu Nessa bertanya, "Rian, kenapa kamu memanggilnya nona kepadanya? Kamu terlihat seperti begitu sangat dekat dengan Naya".
Rian tidak menjawab, ia malah meneteskan air mata sembari menggenggam jemari tangan Naya.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan? Apakah kamu sudah melupakan rencana kita? Jangan seperti ini! Aku mohon jangan seperti!".
Kemudian Lidia berjalan mendekati Rian, ia bertanya kenapa Rian berkata demikian. Dan bertanya Rencana apa yang sedang mereka hendak ingin lakukan. "Ayo jawab saya Rian? Apa maksud dari semua perkataan mu? Jangan bilang kalau kamu ingin merebut Naya dari Reyhan. Saya sebagai mertuanya tidak akan sudih kalau sampai kamu membawanya".
Rian melihatnya, lalu menghapus air mata yang tadi ia teteskan.
__ADS_1
"Rian, sampai kapan pun kamu tidak bisa membawa Naya dari kami. Kamu jangan pernah berani macam-macam Rian".
"Kalau begitu, tolong bantu Naya Tante" jawab Rian membuat Lidia mengernyitkan dahi. "Kalau Tante benar-benar tidak ingin kehilangan dia. Aku mohon bantu dia".
"Maksud kamu Rian?" keduanya sangat penasaran.
"Maksud kamu apa Rian? Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan mama?".
"Baiklah kalau itu mau Tante, maka aku akan memberitahu yang sebenarnya. Tolong dukung Naya merebut Pelita group kembali Tante".
"Apa?" kedua orang itu terbelanga mendengar apa yang baru saja Rian ucapkan. "Ma-maksud kamu apa Rian? Pelita group?".
"Benar, pelita group. Tante tau sendiri kalau pemilik pelita group yang sebenarnya adalah Naya. Perusahaan tersebut milik kedua orang tua Naya yang sudah di bunuh oleh saudaranya send....
"Reyhan?" mereka kaget melihatnya tiba-tiba masuk ke dalam.
"Apa yang sedang kamu lakukan disini Rian?" Reyhan menatap tajam Rian. "Kamu keluar sekarang juga dari sini. Cepat!" suara Reyhan mulai meninggi. "Apa kamu tidak mendengar ku?".
Namun Rian bukannya pergi, ia malah menatap kedua bola mata Reyhan yang sedang berkata sesuatu kepadanya kalau sebaiknya ia keluar sekarang juga sebelum mereka datang. Setelah itu baru Rian pergi meninggalkan ruangan tersebut dan saat itu juga ia melihat paman, bibi dan juga Loiner datang secara bersamaan di ujung sana.
"Haaahh!" Rian tersenyum menyeringai. "Tidak akan lama lagi. Lihat saja, aku akan mengungkapkan kebusukan kalian di hadapan publik secepatnya" Rian lalu bersembunyi di kamar kosong yang berada di sebelah kamar Naya. Kemudian ia melihat mereka masuk ke dalam dan mendengar suara tangisan sang bibi Naya yang menjerit histeris bagaimana bisa ini terjadi kepada Naya yang sudah ia anggap sebagai putri kandungnya selama ini.
"Aaarrrkkkhh... Kenapa bisa seperti ini Naya hiks.. hiks.. Apa kamu juga ingin menyusul Yolanda? Bibi mohon jangan seperti ini sayang. Jangan seperti ini. Tidakkah kamu kasihan kepada Reyhan dan juga semua anggota keluarga suami kamu sendiri yang sudah menganggap kamu sebagai menantu mereka? Karna itu bibi berkata tolong jangan seperti ini hiks.. hiks..".
"Sudah ma, jangan membuat Naya tambah sedih. Kita doakan saja yang terbaik semoga Naya lekas sembuh. Kasihan besan kita yang melihatnya".
__ADS_1
Lalu Lidia tersenyum ikutan meneteskan air mata. "Kita berdoa saja semoga Naya lekas sembuh kembali seperti semula".
"Iya jeng. Aku juga sebagai bibinya Naya yang sudah menganggap dia sebagai putri kandung kami sendiri tidak bisa makan pagi hari tadi hanya memikirkan dia. Entah kenapa ini semua bisa terjadi? Padahal Naya anak yang baik. Tega sekali orang yang menyakiti dia?" bibi Naya pura-pura meneteskan air mata itu lagi.
Sedangkan dalam hatinya, "Hahahaha... Rasain kamu anak sialan. Kenapa kamu tidak mati saja menyusul kedua orang tua mu? Aku rasa itu jauh lebih baik untuk mu. Untuk apa juga kamu hidup jika nantinya kamu menyusahkan kami seperti yang aku dengar kalau kamu sedang berani melawan paman mu sendiri. Lihat saja apa yang terjadi kepada mu, kamu akan membusuk dirumah sakit ini sampai kamu mati hahahaha".
"Benar kata papa ma! Jangan menangis seperti ini. Mama bisa saja membuatnya semakin tambah sedih. Kita cukup berdoa saja semoga dia lekas sembuh mmmm" Loiner mencoba menenangkan sang ibunya yang ketiga orang itu sedang berpura-pura sedih padahal dalam hati mereka kenapa Naya tidak mati saja seperti yang mereka inginkan.
"Iya sayang" ibunya menghapus air mata sembari melihat kepada Reyhan. "Mama mohon yang sayang. Tolong kamu lakukan yang terbaik untuk kepulihan Naya. Mama tidak mau terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan terhadap Naya".
"Iya ma, aku akan melakukan yang terbaik untuk kebaikan dia".
"Terima kasih menantu ku. Ini kami membawa sesuatu untuk dimakan. Aku rasa jeng Lidia tidak punya waktu keluar mencari makanan".
Lidia merimanya, "Astaga! Tidak usah repot-repot membawa bekal seperti ini kemari jeng. Tapi aku sangat berterima kasih sekali. Kalau begitu kenapa kita tidak makan bersama saja?".
"Maaf Tante. Seperti saya dan papa harus pergi karena di kantor pekerjaan masih banyak. Tidak tau kalau mama".
"Mama disini saja Loiner menemani jeng Lidia menjaga Naya. Kalian pergilah".
"Iya ma. Kalau begitu kami pergi dulu Tante kak Nessa. kakak ipar" ucapnya tersenyum kepada Reyhan.
"Mmmm, kamu sama papa hati-hati di jalan".
Sekeluarnya mereka dari sana, Reyhan melihat ketiga orang itu terlihat begitu sangat menikmati kue yang ibu mertuanya itu bawa. Lalu ia berkata sebaiknya ia pergi saja, dan nanti sore ia akan kesana menggantikan posisi Lidia.
__ADS_1