
Mereka lalu melihat Loiner berdiri di sebelahnya mobilnya sambil melihat kearah danau dengan wajah sangar. Kemudian mereka memanggilnya dan bertanya ada hal penting apa lagi Loiner sampai memanggil mereka kesana.
Loiner lalu mengeluarkan selembar foto di hadapan mereka membuat mereka seketika terdiam melihat siapa orang yang berada di dalam foto tersebut.
"Ada apa? Kenapa kalian terlihat seperti itu?".
"Tidak ada apa-apa. Kami hanya terkejut saja melihat orang di dalam foto ini".
"Apa? Kalian mengenal ya?" Loiner terlihat penasaran.
"Mmmmm, bisa dibilang seperti itu. Kalau tidak salah pria ini adalah pengacara Okta. Apa aku benar?".
Deng!
Loiner kaget, ia langsung bertanya lagi bagaimana bisa ia mengenal orang yang berada di dalam foto tersebut. Namun pria itu bukannya menjawab, ia malah menggeleng kepala sambil tersenyum kepadanya.
"Jangan khawatir, secepatnya kami akan menyelesaikan tugas yang baru saja kamu berikan. Tapi sebelum kami melakukan tugas ini, berapa bayaran yang akan kamu berikan kepad....
"Aku akan membayar mu 1 milyar" jawab Loiner memotong. "Dan jika pekerjaan mu bersih tanpa ada jejak maka aku akan membayar mu sebanyak 2 milyar. Bagaimana? Aku rasa kamu setuju".
"Mmmm, jika di pikir-pikir lumayan juga. Baiklah kalau begitu, asalkan kamu menepati janji mu. Malam ini juga kami akan menyelesaikannya".
"Bagus, sekarang kali pergi".
Setelah menyuruh mereka pergi, Loiner melihat mereka segera mengendarai sepeda motor mereka masing-masing pergi meninggalkannya. "Hhhmmss... Sial-sial. Kenapa harus seperti ini? Aaarrrkkkhh... Pengacara Okta!!! Tunggu pembalasan ku, aku sendiri yang akan membunuhmu. Lihat saja nanti".
Loiner pun segera pergi meninggalkan tempat tersebut, namun sebelum ia benar-benar meninggalkan tempat itu, ia mendengar ponselnya berdering mendapatkan panggilan dari sang ibu yang langsung di jawab olehnya.
"Iya Mah".
__ADS_1
"Loiner hiks.. hiks.. hiks.. Tolong mama Loiner. Rumah kita sedang di geledah polisi Loiner hiks.. hiks..".
"Aku akan kesana sekarang juga".
"Iya, cepatlah kemari. Mama sangat ketakutan sekali".
Dengan sangat marah, Loiner segera menancap pedal gas mobilnya melebihi kapasitas yang seharusnya sampai ia tiba dirumahnya. Kemudian ia melihat beberapa mobil polisi terparkir di halaman rumah langsung didatangi salah satu si petugas keamanan disana.
"Tuan, tolong nyonya tuan. Dari tadi nyonya selalu menjerit histeris. Kami sangat ketakutan sekali tuan" ucap salah satunya dengan wajah takut.
Loiner lalu masuk ke dalam rumah, ia melihat polisi tersebut berdiri berjaga disana bersama dengan istri Bagus yang tak henti-hentinya menangis histeris menyuruh mereka berhenti menggeledah rumahnya.
"Mah!" panggil Loiner. "Mah, aku disini" ucap Loiner memanggilnya kembali dilihat salah satu polisi tersebut membuat si polisi memberitahu istri Bagus kalau putra ya ada di belakang.
Mengetahui kalau Loiner sudah berada disana, dengan tubuh bergetar ibunya langsung memutar tubuh melihat Loiner berdiri tepat sekali di belakangnya dengan kedua bola mata yang terus-menerus mengeluarkan air mata.
Loiner membawa istri Bagus ke dalam pelukannya sambil berkata, "Mama tenang dulu, mama tidak usah memikirkan mereka mengeledah rumah kita. Sekarang aku mohon mama tenang. Biar aku dan papa yang mengurus ini semua".
"Terus, papa kamu dimana sekarang Loiner? Kenapa sedari tadi mama tidak bisa menghubungi ponsel papa kamu? Apa papa kamu baik-baik saja? Mama sangat khawatir Loiner. Mama sangat khawatir sekali".
"Karna itu aku katakan mama tenang dulu. Papa baik-baik saja, mama tidak usah khawatir".
"Tidak Loiner. Sebelum Mama melihat papa kamu baik-baik saja. Mama tidak yakin kalau papa kamu baik-baik saja Loiner hiks.. hiks... Lihatlah apa yang Polisi lakukan terhadap keluarga kita? Mereka semua benar-benar kurang Aj*Ar. Bagaimana bisa mereka melakukan ini semua kepada keluarga kita yang terpandang Loiner? Hiks.. hiks...".
"Sudah mah, biar aku saja yang mengurus merek....
"Selamat siang! Apakah benar saudari ini istri dari tersangka Bagus? Kami mendapatkan laporan dari atasan kalau kami harus membawa saudari dari istri Bagus untuk di lakukan pemeriksaan sebagai saksi atas kasus pembunuhan terhadap keluarga besar Tarian" ucap polisi itu melihat ibunya Loiner semakin menjerit memeluk Loiner dengan sangat erat.
"Tidak! Aku tidak mau dibawa ke kantor polisi, aku tidak mau di bawa ke kantor polisi. Loiner, tolong mama Loiner. Mama tidak mau dibawa mereka ke kantor polisi. Mama tidak tau Loiner. Mama tidak mau hiks.. hiks..".
__ADS_1
"Kami mohon kerja samanya buk. Mari ikut kami ke kantor polisi".
"Tidak! Saya sudah bilang saya tidak mau. Kenapa kalian ini malah memaksa saya? Apa kalian ini sudah tuli sehingga kalian tidak mendengar apa yang baru saja saya ucapkan?" istri Bagus terlihat sangat marah, tetapi itu semua sama sekali tidak berpengaruh pada pendirian polisi untuk membawanya ke kantor untuk dimintai keterangan atas pembunuh terhadap keluarga Tarian 20 tahun yang lalu.
"Mari buk ikut kami".
"Enggak mau. Saya tidak mau ikut kalian, saya tidak mau" namun para polisi itu tetap memaksakan istri Bagus untuk dibawa ke kantor polisi. Hingga seketika Loiner menahan mereka.
"Loiner! Tolong mama Loiner hiks.. hiks..".
Dengan lembut Loiner menggenggam kedua tangan sang ibu sembari berkata, "Ini tidak akan lama. Bertahan lah mah, aku akan kesana membebaskan mama dari tuduhan ini semua. Mama jangan khawatir, serahkan kepada ku semuanya. Jadi sekarang aku mohon mama ikutlah dulu dengan mereka, tolong mama jangan khawatir".
Seketika istri Bagus terdiam dalam tangisnya.
"Jangan menangis lagi mah. Jika musuh kita melihat mama seperti ini mereka akan tertawa bahagia. Mereka akan tertawa diatas penderitaan kita".
"Iya Loiner. Tapi ini semua tidak benar kan? Ini semua adalah fitnah. Kamu sepemikiran dengan mama kan? Ini semua fitnah kan?".
"Iya mah, ini semua adalah Fitnah. Makanya aku berkata kepada mama untuk ikut mereka ke kantor polisi. Dan saat mereka mengajukan pertanyaan, mama jangan pernah menjawabnya mmmmm... Aku mohon kerja samanya mah".
"Iya sayang. Mama akan pegang kata-kata mu ini".
"Terima kasih, begitu nanti mama tiba disana. Aku juga akan segera tiba disana".
"Benarkah?".
"Iya mah" jawab Loiner melihat mereka mengatakan kalau mereka sudah bisa membawa ibunya pergi dari sana. Kemudian dengan sangat marah Loiner mengepal kedua tangannya dan melampiaskan semuanya di balik tembok sampai jemari tangannya berdarah mengeluarkan darah segar.
"Aarrkkhhh... Siapa pun yang sudah membuat hidup keluarga kami seperti ini. Aku berjanji sepanjang umur hidup ku kalau aku akan membalas mereka dan menghancurkan hidup mereka jauh beberapa kali lipat dari ini".
__ADS_1