
1 bulan berlalu sampai sekarang Paris belum bisa menemukan keberadaan kedua orang yang sudah membuat Naya seperti ini dan itu membuat Reyhan dan Rian mengeram mengepal tangan.
"Jika seperti ini! Apa salahnya aku menyewa orang lain membunuh semua anggota keluarga mereka?" Rian tertawa menyeringai.
"Jangan gegabah Rian" ucap Reyhan.
"Gegabah gimana maksud kamu Rey? Kita sudah satu bulan lamanya mencari keberadaan orang itu. Tapi lihatlah hasilnya seperti apa? Kedua orang itu seperti sudah ditelan bumi. Sedangkan Naya sampai sekarang masih enggan membuka mata. Jika tidak seperti itu, menurut mu apa yang harus kita lakukan lagi?".
"Bersabarlah, cepat atau lambat kita akan segera menemukan mereka".
"Karna aku tidak bisa sabar lagi Reyhan makanya aku ingin membunuh semua anggota keluarga itu. Bagaimana menurut mu Paris? Aku rasa kamu juga setuju dengan pendapat ku. Bukankah begitu?".
"Benar apa kata tuan Reyhan. Sebaiknya kamu jangan gegabah mengambil keputusan jika pada akhirnya...
"Ais, kamu saja dengan Reyhan. Sama-sama tidak bisa memikirkan apa yang Naya rasakan sekarang ini. Kalian lihat sendiri, betapa menderitanya dia".
Kemudian ponsel Reyhan berdering, ia mendapatkan panggilan dari rumah sakit dimana Naya sekarang ini di rawat.
"Siapa?" tanya Rian.
"Dari rumah sakit" Reyhan menggeser tombol hijau langsung di angkat olehnya. "Hallo!".
"Selamat pagi tuan, ini dari rumah sakit xx atas nama Naya Tarian. Keluarga di persilahkan mengunjungi pasien karna ada hal penting yang ingin dokter sampaikan kepada tuan".
"Baiklah, saya kesana sekarang juga".
"Baik tuan, kami akan menunggu".
Reyhan mematikan ponselnya ditanya langsung oleh Rian apa yang rumah sakit katakan kepadanya.
"Aku tidak tau apa yang ingin mereka bicarakan kepada ku. Dia hanya memberitahu kalau dokter memanggil ku".
Reyhan lalu pergi meninggalkan ruangannya, sedangkan Rian dan Paris kembali bekerja hingga mobil sport milik Reyhan tiba dirumah sakit dan Ia pun segera memasuki ruangan sang dokter.
Ceklek!
"Silahkan duduk tuan!" sang dokter tersenyum menyuruh Reyhan duduk di hadapannya. "Begini tuan, terima kasih sudah mau datang kemari".
"Iya dok, apa yang ingin dokter katakan kepada saya".
__ADS_1
"Saya anjurkan, sebaiknya pasien di bawa pulang saja agar pasien lebih dekat dengan anggota keluarga".
Reyhan terdiam memikirkan apa yang baru saja sang dokter ucapakan.
"Tidak apa-apa tuan, 3 kali seminggu kami akan datang memeriksa keadaan pasien dan salah satu suster akan merawatnya disana jadi tidak akan merepotkan keluarga".
"Benar! Saya rasa itu jauh lebih baik. Kapan kalian akan memindahkan dia?".
"Hari ini juga boleh tuan".
"Baiklah" angguk Reyhan pergi meninggalkan rumah sakit menuju kediaman Dirgantoro yang berada di kompleks xx. Dan sesampainya ia disana, ia melihat Lidia sang ibu sedang kedatangan tamu dari teman-teman arisannya.
"Reyhan?" Lidia tersenyum melihat teman-teman arisannya. "Akh iya, kalian semua pasti belum mengenal putra bungsu ku. Ini dia, Reyhan".
Mereka yang melihat kedatangan Reyhan, salah satunya langsung berkata.
"Wah jeng Lidia. Ternyata putra bungsu mu begitu sangat tampan sekali" mereka tertawa bersama di balas hanya senyuman tipis oleh Reyhan.
"Mah, bisa kita bicara sebentar? Ada hal penting yang ingin aku katakan".
Lidia mengangguk, dan tidak lupa mengatakan kepada teman-teman arisannya untuk izin sebentar meninggalkan mereka dan tidak lupa menyuruh mereka menikmati cemilan yang berada di atas meja.
Dan sekarang keduanya berada di lantai atas, Reyhan lalu berkata. "Mah, kata dokter Naya akan di rawat dirumah ini".
"Agar Naya lebih dekat dengan anggota keluarga dan agar kondisinya semakin membaik".
"Benarkah? Tidak apa-apa sih Rey. Mama rasa juga itu jauh lebih baik. Jadi kapan mereka akan membawanya kemari?".
"Hari ini juga mah".
"Ya sudah, mama akan menyuruh mereka mempersiapkan semuanya" Lidia lalu menemui pelayan dirumahnya dan langsung menyuruh mereka mempersiapkan ruangan yang begitu sangat bagus, higenis, tanpa sebutir dubu pun tersisa disana.
Kemudian Reyhan memasuki kamarnya. Dan dengan wajah letih, ia pun membiarkan tubuhnya tergeletak diatas tempat tidur sambil memikirkan apa yang harus ia lakukan membantu Naya untuk menyelesaikan semua masalah ini.
DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT...
Reyhan mendapatkan panggilan dari Rian, ia lalu menjawab dan berkata tolong Rian jangan menganggunya dulu karna ia sangat lelah sekali. Tetapi Rian tetap memaksakan bertanya apa yang terjadi dan apa kata dokter.
"Yah..! Apa kamu tidak mendengar ku?" Rian kesal.
__ADS_1
"Mulai hari ini Naya akan dipindahkan kerumah ku. Dia akan di rawat disini".
"Benarkah?".
"Mmmmm".
Setelah itu Reyhan mematikan ponselnya dan kembali menutup mata sampai tidak ia sadar kalau ia malah terlelap dalam tidurnya dan juga tidak menyadari kalau sekarang jam telah menunjukkan pukul 5 sore.
Tok... Tok....
"Rey, kamu sedang apa sayang? Kamarnya sudah siap" ucap Lidia dari luar pintu kamar Reyhan yang tidak di dengar olehnya. "Loh, kenapa Reyhan tidak menjawabnya?".
Tok... Tok...
"Rey!" panggilnya lagi.
Tetapi lagi-lagi tidak ada jawaban dari dalam kamar tersebut hingga pada akhirnya Lidia membuka pintu kamarnya Reyhan dan langsung melihat putra bungsunya itu sedang terlelap dalam tidurnya begitu sangat pulas.
Lidia tersenyum, "Ternyata dia sedang tidur" ucapnya. Lalu ia memandangi wajah damai Reyhan yang letih, "Kasian sekali kamu sayang. Begitu banyak penderitaan menimpah mu sampai kamu terus-menerus berusaha untuk kuat. Terima kasih sayang, semoga kamu sehat selalu".
Lidia mencoba menyentuh keningnya, namun saat itu juga Reyhan membuka mata membuat Lidia menggantung tangannya diatas udara. "Kamu sudah bangun sayang?" tersenyum.
"Ada apa mah?" Reyhan mendudukkan diri melihat Lidia masih tersenyum kepadanya.
"Itu sayang, mama tadinya mau memberitahu kamu kalau kamar Naya sudah selesai di bersihkan. Tapi melihat kamu tertidur begitu sangat pulas sekali membuat mama tidak tega membangunkan kamu".
"Oh ya sudah. Aku akan menyuruh mereka membawa kemari".
"Mmmm" Lidia keluar dari dalam kamarnya. Sedangkan tamu yang tadi datang kerumahnya kini mereka sudah kembali pulang akibat ada sesuatu hal penting yang mendesak membuat Lidia tidak bisa menamu mereka berlama-lama dirumahnya.
Kemudian Reyhan juga ikutan keluar dari dalam kamar dan memasuki kamar yang akan Naya gunakan.
"Tuan, kami sudah selesai membersihkan kamar ini" ucap salah satu pelayan tersebut.
Reyhan lalu mengangguk sambil masuk ke dalam kamar untuk memastikan apakah kamar tersebut benar-benar sudah bersih apa tidak. Hingga ponselnya berdering kembali, ia melihat panggilan itu berasal dari rumah sakit yang memberitahu kalau sekarang mereka sedang dalam perjalanan menuju rumahnya.
"Mereka sudah dalam perjalan, saya mau kalian membersihkan kamar ini lagi".
"Baik tuan".
__ADS_1
Reyhan keluar, ia melihat Lidia berjalan kepadanya. "Mereka sudah menuju kemari mah".
"Oh iya? Baguslah" angguk Lidia tersenyum.