
"Ya Tuhan, sebenernya hati pria itu terbuat dari apa? Kenapa dia tidak pernah sedikitpun bersikap baik kepada ku kecuali saat itu" ucap Naya mengingat kejadian yang kemarin melanda ia.
Sedangkan Reyhan yang baru saja selesai membersihkan tubuhnya, ia membaringkan tubuhnya diatas ranjang dengan ponsel di tangan kanannya menunggu sebelum ia tidur.
Tidak lama setelah itu ia mulai merasa ngantuk, namun sebelumnya ia tidak lupa melakukan rutinitasnya yaitu melihat cincin pernikahannya dengan Yolanda dan membanjiri ciuman di foto ia bersama dengan Yolanda.
"Aku mencintai mu istri ku. Selamat malam".
Setelah mengatakan hal tersebut, ia pun segera memejamkan kedua matanya tanpa ia sadari kalau Naya sedang berada di depan pintu kamarnya.
10 menit berlalu, Naya masuk ke dalam. Ia sebenarnya tidak ada maksud tujuan lain, ia hanya ingin memastikan kalau Reyhan benar-benar sudah tidur. Namun di balik itu Naya penasaran mengingat perkataan Lidia yang pernah mengatakan kepadanya kalau setiap Reyhan mengalami kecelakaan kecil, ia akan seperti anak kecil memanggil nama seseorang yang tidak pernah Lidia jelas dengar sambil menangis.
Merasa khawatir kalau sampai Reyhan seperti itu, Naya pun memberanikan diri masuk ke dalam atas izin perintah Lidia.
Ceklek!
"Rey! Rey! Reyhan! Kamu sudah tidur?".
Tidak ada jawaban lagi.
"Sepertinya dia benar-benar sudah tidur" Naya berjalan mendekati ranjang Reyhan. Kemudian Naya memandangi wajah tampannya, tetapi wajah tampan milik Reyhan terlihat begitu letih membuat ia merasa kasihan. "Kamu baik-baik saja Rey? Aku sangat mengkhawatirkan kamu meskipun kamu tidak pernah percaya kalau setiap aku mengatakan itu kepada mu".
Naya lalu memperbaiki cara tidur Reyhan begitu juga selimut yang berada diatas pinggang, ia pun menyelimuti sampai atas dada.
"Aku mencium bau alkohol dari nafasnya, sepertinya Reyhan minum" Naya melihat jam sekarang telah menunjukkan pukul 2 pagi, tetapi sesuatu yang ia tunggu-tunggu dari kedua bibir Reyhan tidak ia dengar keluar.
"Hhooaammm... Aku sudah mengantuk".
Naya mencoba menunggu 10 menit lagi hingga akhirnya ia malah tertidur di samping Reyhan membuat pria itu membuka mata melihat Naya berada disana. Kemudian Reyhan tersenyum menyeringai kepada Naya tau kalau ini semua pasti ulah kedua orang tuanya untuk mereka segera memiliki anak dengan cara Naya mendekati dirinya disaat seperti ini. Lalu Reyhan menuruni tempat tidur, ia memilih tidur diatas sofa sembari melihat kepada Naya yang benar-benar tertidur pulas.
.
Dan sekarang matahari kembali terbit, Naya segera membuka kedua mata merentangkan kedua tangannya samping kiri kanan melihat kamar itu seperti bukan kamarnya.
"Astaga! Aku dimana?" Naya semakin membuka kedua matanya melihat Reyhan berdiri di hadapannya. "OMG! Reyhan?".
__ADS_1
"Kenapa? Puas kamu sekarang?".
Naya menurunkan kedua kakinya, ia berjalan mendekati Reyhan yang benar-benar tengah berdiri di hadapannya sembari mengusap wajahnya beberapa kali.
"Rey! Ke-kenapa aku bisa ada di dalam kamar mu?".
Reyhan tertawa sinis, "Kamu pikir aku yang membawa mu kemari? Jangan pernah berharap kalau bukan kamu sendiri secara diam-diam datang kemari seperti pencuri".
"Astaga Rey, maafkan aku. Aku benar-benar tidak ta.. Akh, Astaga!" Naya teringat kalau ia sendiri yang datang ke dalam kamar Reyhan untuk memastikan kalau ia tidak mengigau seperti yang pernah Lidia bicarakan kepadanya. "Maafkan aku Rey, aku benar-benar minta maaf Rey. Aku tidak bermaksud macam-macam, aku mohon tolong kamu jangan salah paham dulu Rey. Ini semua tidak seperti yang kamu pikirkan".
Naya sangat menyesal malah tertidur disana.
"Apa ini semua rencana mu?".
"Hhhmmm?".
"Katakan, siapa yang menyuruh mu? Mama?".
"Tidak Rey, aku tidak disuruh oleh siapa-siapa apalagi itu mama. Percaya kepada ku Rey, aku mengatakan yang sebenarnya".
"Kali ini aku akan memaafkan kesalahan yang baru saja kamu lakukan. Tapi tidak untuk yang kedua kalinya, kalau kamu masih berani mengulangi kesalahan ini, maka aku akan memberitahu pelajaran yang seharusnya kamu tau".
Reyhan memasuki kamar mandi, Naya segera pergi meninggalkan kamar Reyhan dengan nafas legah setelah melakukan kesalahan yang tidak seharusnya ia lakukan.
"Hhhmmss... Ck, kenapa aku malah tertidur disana sih?".
.
Berada di lingkungan kantor, seperti biasa Reyhan tidak lupa singgah di kedai kopi tempat ia biasa membeli sarapan paginya. Namun pagi ini Reyhan tidak membawa ke dalam ruangannya, ia sekarang duduk di salah satu kursi paling ujung dekat jendela menunggu seseorang yang tak lain adalah Paris.
"Nak Rey, menunggu siapa?" tanya si pemilik kedai.
"Paris Bu" jawab Reyhan tersenyum tipis.
"Oh, soalnya itu Rian datang bersama dengan Naya" ucapnya membuat Reyhan seketika melihat kepada mereka dengan wajah datar seperti biasa. Setelah itu ia melanjutkan memakan sarapan paginya sembari melihat jam sekarang hampir menunjukkan pukul 8 pagi, tetapi orang yang ia tunggu-tunggu sedari tadi belum datang juga.
__ADS_1
"Bu, seperti biasa yah" ucap Rian. Lalu ia menghampiri Reyhan, sedangkan Naya ia memesan yang ia mau. "Kamu menunggu siapa bro?" tanyanya.
"Paris" jawab Reyhan.
"Mmmmm, tumben anak itu yang membuat mu menunggu. Ada apa? Akhir-akhir ini aku melihat mu begitu sangat sibuk?".
"Tidak ada apa-apa" jawab Reyhan lagi.
"Benarkah?" Rian melirik kepada Naya yang sedang menunggu kopi milik mereka berdua. "Kamu lihat wanita itu Rey?" seorang wanita cantik juga masuk ke dalam sana memesan sebuah kopi untuknya. "Dia cantik bukan Rey?".
"Kenapa kamu bertanya kepada ku?" suara Reyhan terdengar malas.
Rian tertawa kecil, "Makanya kamu lihat dulu wanita itu, apa dia cantik?".
Reyhan pun langsung melihat kepadanya yang tinggal hanya Naya saja berdiri sana melihat kepada mereka.
"Cantik bukan?" ucap Rian kembali memanggil Naya mendatangi mereka sambil membawa kopi miliknya. Namun Reyhan tidak menjawabnya, ia malah mengeluarkan ponselnya menghubungi Paris sekarang ini sudah dimana. "Duduk Nay, ini masih jam 7 kurang sekian".
Tanpa menolak, Naya duduk disebelahnya.
"Apa yang sedang kalian lakukan disini?" tanya Reyhan.
Rian melihat Naya, "Menurut mu kita sedang apa disini Nay? Hahahaha... Ayolah bro, kami juga ingin minum kopi bersama dengan mu. Bukankah begitu Paris?".
Reyhan melihatnya, "Kamu sudah datang?".
"Iya tuan, maafkan aku membuat tuan lama menunggu".
"Tidak apa-apa. Duduklah".
Naya melihat mereka, ia merasa segan berada diantara ketiganya, lalu ia meminta izin untuk pergi duluan kepada Rian yang langsung ditahan olehnya.
"Santai saja, kamu mau kemana di jam seperti ini? Ini masih terlalu dini".
"Ini sudah jam 8 pagi Rian" ucap Reyhan menjawab Rian membuat anak itu langsung tertawa. "Baiklah, sepertinya pembicaraan kalian terlihat sangat serius sehingga kami harus pergi. Ayo Nay" dengan beraninya Rian menarik jemari tangan Naya untuk ia genggam tepat di hadapan Reyhan membuat kedua mata Reyhan fokus dengan tangan tersebut.
__ADS_1