
"Nessa, kamu sudah datang sayang?" Lidia berlari memeluk sang putrinya. Kemudian Nessa melepaskan pelukan Lidia, ia melihat sebuah bungkusan perban melekat di leher jenjang sang ibu.
"Mah, mama kenapa? Kenapa dengan leher mama?" Nessa khawatir.
Lidia lalu membawa Nessa duduk di sofa, ia melihat putrinya itu dengan air mata menetes semakin membuat Nessa di landa kekhawatiran. "Jawab Nessa ma. Kenapa mama mala diam menangis seperti ini?".
"Nessa" Lidia menatap putrinya. "Mama hampir saja kehilangan nyawa mama sayang hiks.. hiks..".
"Apa? Maksud mama?" Nessa memegang kedua bahu Lidia. "Maksud mama apa? Ayo beritahu aku mah kenapa bisa mama hampir kehilangan nyawa mama sendiri. Dan bagaimana bisa ini terjadi?".
"Mama tidak tau siapa pria itu. Tapi pria itu menyamar jadi dokter mendekati adik ipar kamu. Lalu mama merasa heran, kenapa dokter tiba-tiba masuk lagi dan dokter itu tidaklah dokter yang biasa memeriksa keadaan adik ipar kamu. Jadi mama bertanya, apa yang ingin ia lakukan. Dan saat itu juga Reyhan adik kamu langsung masuk ke dalam berkata akhirnya kamu datang juga".
Lidia menarik nafas merasa sesak.
"Terus ma?" Nessa menggenggam jemari tangan Lidia. "Jangan bilang pria itu malah menyakiti mama?" Nessa menggeram.
"Iya sayang, karna pria itulah mama hampir saja kehilangan nyawa mama. Dia mengancam adik kamu, kalau adik kamu berani menghalangi jalannya, dia akan membunuh mama".
"Hhhmmss... Astaga! Terus Reyhan sekarang dimana ma?".
"Dia mengejar pria itu bersama dengan Paris".
"Paris juga kemari mah?".
"Mmmm, Paris juga disini".
"Terus bagaimana dengan luka mama? Apa rasanya sangat sakit? Bagaimana kalau sampai papa melihat luka mama ini? Aku yakin papa akan marah besar. Kurang ajar sekali pria itu. Lihat saja, kalau sampai Reyhan dan Paris menemukan dia, aku sendiri yang akan membunuhnya" kata Nessa mengepal kedua tangannya.
__ADS_1
"Semoga saja sayang, semoga adik kamu berhasil menemukan pria itu. Mama juga heran, ada masalah apa pria itu dengan adik ipar kamu? Kenapa dia....
"Mama mengingat wajah pria itu?".
"Tidak Nessa, mama tidak mengingat wajah pria itu karna di memakai masker sehingga mama tidak bisa mengenali wajahnya".
Nessa melihat kepada Naya, "Seperti kata mama. Ada hubungan apa Naya dengan pria itu? Kenapa pria itu ingin sekali membunuh Naya?" Nessa berpikir.
Tidak lama setelah itu Reyhan kembali ke dalam ruangan tersebut, lalu keduanya bertanya apakah ia berhasil menangkap pria itu atau tidak. Tetapi Reyhan tidak berhasil mendapatkan pria itu. Pria itu ternyata datang bersama dengan rekan-rekannya dan mereka sudah membawanya pergi jauh.
"Terus bagaimana dengan Naya Rey? Mama khawatir kalau mereka datang lagi dan akan menyakiti istri kamu. Apa perlu kita membawa Naya pergi? Kita memindahkan dia ajah kerumah sakit lain. Mama rasa itu jauh lebih baik dari pada harus disini".
"Iya Rey, kakak setuju kalau kita memindahkan adik ipar pergi dari sini" sambung Nessa. "Itu cara satu-satunya supaya mereka tida...
"Itu semua akan percuma" ucap Reyhan memotong. "Percuma kita memindahkan dia. Karna sebelum Naya membuka mata mereka akan terus mencarinya sampai mereka berhasil menemukan Naya".
Mendengar itu, Nessa mengernyitkan dahi melihat adiknya itu.
Reyhan terdiam, ia menarik nafas panjang sembari mengusap wajahnya dengan kasar berkata untuk saat ini mereka tidak usah tau, ada saatnya ia akan memberitahu yang sebenarnya kepada mereka.
Lalu Reyhan mendekati Naya, ia melihat istrinya yang malah itu masih enggan membuka mata dan masih asik dalam tidurnya.
Di kehidupan lain...
"Pah.. Mah... Naya disini saja yah sama papa dan mama. Naya enggak mau pulang, Naya enggak suka tinggal bersama dengan orang-orang jahat itu. Naya membenci mereka pah Naya sangat membenci mereka. Jadi tolong jangan paksa Naya pulang, Naya enggak mau pulang. Naya masih ingin disini sama papa dan mama".
"Sayang, anak mama. Jangan berkata seperti itu sayang. Itu enggak boleh. Siapa bilang mereka semua jahat? Buktinya keluarga suami kamu begitu sangat baik kepada mu. Mereka sudah menganggap mu sebagai anak mereka sendiri. Jadi anak mama tidak boleh berkata kalau mereka jahat".
__ADS_1
"Iya Naya. Benar apa kata mama kamu. Mereka begitu sangat menyayangi mu dan juga mencintai mu seperti anak mereka sendiri. Jadi kamu harus pulang ya nak, kasihan mereka sedih seperti itu hanya karna kamu enggak mau pulang".
"Akh, pokoknya Naya enggak mau pulang Mah Pah. Naya lebih suka tinggal disini bersama dengan kalian. Naya enggak mau pulang".
"Sayang... Kamu enggak boleh egois gitu akh. Mama sama papa sudah memberikan waktu 1 minggu lamanya Naya disini. Sekarang waktunya putri mama pulang mmmmm".
"Enggak mau Mah.. Naya masih mau disini sama papa dan mama" Naya merajuk, ia membelakangi kedua orangtuanya.
"Terus kalau kamu mau disini. Kamu enggak kasihan kepada Reyhan? Setiap malam dia memanggil nama mu, dan setiap malam dia selalu bersama mu. Kamu yakin mau tinggal disini? Kamu enggak merindukan pria yang kamu cintai itu? Entar wanita lain merebut dia lagi dari kamu".
"Biarin mah.. Reyhan sendiri enggak sayang sama Naya mah. Dia lebih sayang dan cinta sama Yolanda. Aku juga membencinya".
"Kamu yakin membenci Reyhan sayang?".
"Mmmmm, sangat membencinya Mah. Dia sangat jahat kepada ku. Dia pria ba*jingan".
"Ya sudah kalau kamu tidak mau kembali. Teruslah membuat mereka sedih, mama sama papa tidak bisa bilang apa-apa lagi kepada mu. Mama sama papa lebih baik menyerah saja meskipun kami sangat kasihan kepada mereka. Iya kan pah?".
Naya terdiam, ia melihat kedua orangtuanya itu tidak perduli lagi mau dia pulang atau tidak. Mereka sudah beberapa kali memperingati dia, tetapi Naya sendiri yang tidak mau mendengarkan mereka.
Naya lalu melihat Reyhan menggenggam jemari tangannya.
"Mau sampai kapan lagi kamu akan seperti ini? Bangunlah, jangan merasa paling tersakiti sehingga kamu enggan membuka mata. Kamu tadi tidak melihat mama hampir saja kehilangan nyawa demi menjaga mu dirumah sakit yang sangat menyebalkan ini?".
"Rey, jangan berkata seperti itu kepadanya. Kamu bisa membuat Naya sedih" ucap Lidia menghentikan putranya itu.
"Aku tidak perduli lagi mah. Ini sudah lebih dari satu minggu. Kemarin dokter mengatakan dia hanya koma sesaat dan paling lama hanya 5 hari ma. Tapi lihatlah, ini sudah lebih dari satu minggu. Sepertinya dia sengaja melakukan ini mah".
__ADS_1
"Rey!".
"Akh, sudahlah".