
"Dimana kamu sekarang?".
"Hhhmmss!" Rian mendengar suara helaan nafas panjang Reyhan membuat ia tau kalau Reyhan sedang berjaga di dalam ruangan Naya.
"Maafkan aku. Aku hanya ingin memastikan kalau Naya baik-baik saja. Terima kasih sudah menjaganya dengan baik atau perlu kah aku kesana sekarang juga? Aku rasa kamu juga perlu istirahat".
"Baiklah, kamu kemari sekarang juga".
Tanpa berlama-lama lagi, Rian bergegas keluar dari dalam apartemennya. Dan ia tidak lupa mengenai jaket dan juga kunci mobil sport yang ia punya menuju rumah sakit.
Hingga kini ia tiba disana, ia melihat Reyhan sedang bermain ponsel membuat ia tersenyum tipis berjalan mendekati Reyhan duduk di sofa.
"Kamu sudah datang?".
"Ya! Sedang apa kamu?".
"Tidak sedang ngapa-ngapain" Reyhan meletakkan ponselnya di atas meja. "Apa yang kamu bawa dari luar? Aku sangat lapar sekali".
"Aku tidak membawa apa-apa. Kenapa kamu tadi tidak memberitahu ku tadi? Aku akan membawanya dari luar".
"Ck, kenapa aku harus memberitahu mu? Carikan aku makanan sekarang juga. Aku sangat lapar sekali atau kamu sendiri yang akan menjaganya?".
"Tidak! Ais, baiklah aku akan mencarinya untuk mu".
"Mmmm, jangan lupa beli yang banyak. Aku benar-benar sangat lapar sekali".
Dengan wajah murung Rian segera pergi mencari makanan yang ingin Reyhan makan. Sedangkan Reyhan begitu Rian pergi, ia malah tersenyum tipis melanjutkan memainkan ponselnya kembali.
Kemudian Rian melihat cafetaria dilantai bawah masih buka. Ia lalu masuk ke dalam memesan makanan untuk Reyhan dan untuknya juga karna ia jadi ikutan merasa lapar. Namun saat ia sedang menunggu, ia tiba-tiba melihat seorang pedangan kecil membawa sebuah gerobak seperti menjual sate padang.
Rian tertawa, "Sudah sangat lama sekali aku tidak pernah memakannya lagi" ia keluar mendatangi si penjual dan langsung memesannya sebanyak dua bungkus dengan porsi banyak.
"Mas, saya harap rasanya enak. Sudah sangat lama sekali saya tidak pernah memakan sate Padang" ucap Rian membuat si penjual tersenyum berkata.
"Tidak usah khawatir mas. Sate saya sudah terkenal sejak dari dulu soal rasa sangat enak. Kalau mas tidak percaya, mas boleh tanya kepada mereka".
"Iya, sate mas ini sangat enak sekali" ucap pelanggan setianya yang sedang menikmati sate tersebut.
__ADS_1
"Nah, mas dengan sendiri kan apa kata mereka? Sate saya sangat enak sekali. Ini mas, semuanya total 50 rb".
"Terima kasih mas. Ini saya kasih bonus karna mas ya tadi bilang sate ini enak".
"Iya mas. Di jamin tidak akan mengecewakan mas ya deh. Terima kasih ya mas".
"Ya".
Rian kembali masuk ke dalam rumah sakit dan ia tidak lupa megambil pesanan yang ia tadi pesan dari dalam cafetaria membawa masuk ke dalam ruangan Naya.
Ceklek!
"Kamu sudah datang?" Reyhan membenarkan posisi duduknya melihat Rian membawa begitu sangat banyak jenis makanan yang entah dari mana Rian dapatkan itu semua.
"Kamu suka sate Rey?" tanya Rian meletakkan diatas meja.
"Suka! Kamu beli dari mana?".
"Dari pedagang jalanan".
Mendengar itu, Reyhan langsung mengurung niatnya memakan sate yang baru saja Rian beli. "Ada apa? Tadi kamu bilang suka kenapa sekarang kamu menutupnya kembali".
"Kenapa?".
"Aku tidak suka sate yang kamu beli dari pedagang jalanan. Aku tidak tau itu bersih atau tidak. Jadi itu untuk mu saja dan aku makan yang ini".
Rian tertawa mengejek, "Ais, kamu tidak tau soal rasa mana yang paling enak. Baiklah, terserah kamu saja mau atau tidak. Tapi asal kamu tau Rey! Penjual sate ini aku lihat sangat bersih dan katanya satenya sangat enak. Dari aromanya saja sudah tercium sangat enak".
Rian hendak ingin memakannya, namun Reyhan yang melihatnya membuat ia bertanya lagi. "Kamu benar-benar tidak mau? Kamu coba dulu satu. Setelah rasanya tidak enak, kamu bisa membuangnya".
"Tidak, kamu makan saja".
Tersenyum, "Bilang saja kamu selera melihat sate ini Rey. Mmmm, rasanya sangat enak. Mereka tidak salah mengatakan kalau sate ini enak".
Melihat Rian yang sangat lahap, Reyhan penasaran seenak apa sekarang sate tersebut karna sate juga salah satu makanan yang paling ia suka dan juga aroma sate yang Rian makan membuat ia ingin sekali memakannya.
"Yah! Kenapa sedari tadi kamu melihat ku Rey?".
__ADS_1
"Apa rasanya sangat enak?".
"Mmmm, ini sangat enak. Makanlah selagi milik ku belum habis. Kalau ini sudah habis aku akan memakan mili...
"Baiklah, aku akan mencobanya" Reyhan membuka lagi sate yang sudah tadi ia bungkus mencium aroma sate tersebut begitu sangat menggiurkan. Dan segera mencoba satu persatu tusuk sate seketika membuat Reyhan terbelanga kalau sate itu benar-benar sangat enak. "Aku menyukainya Rian".
"Aku juga, rasanya sangat enak sekali. Jarang-jarang aku menemukan sate pinggir jalan dengan rasa seenak ini".
"Aku juga".
Hingga mereka selesai makan, Reyhan melihat kepada Naya secara bersamaan dengan Rian.
"Bagaimana Rey? Apa kamu sudah memikirkan yang tadi pagi aku bicarakan?".
Reyhan melihatnya, ia penasaran sejak kapan Rian mengenal Naya sedangkan mereka seperti yang ia lihat baru saja bertemu dan itu juga karna Naya sebagai sekretarisnya.
"Rey! Aku sudah lama mengenal Naya tapi dia baru saja mengenal ku setelah dia bergabung di perusahaan CTJ".
"Dimana kamu mengenalnya? Apa ketika kedua orang tuanya masih hidup?".
"Mmmm, ketika kedua orang tua Naya masih hidup. Mereka sangat baik kepada semua orang dan mereka juga sering sekali memberikan bantuan kepada orang-orang susah diluar sana. Bahkan yang membuat aku seperti ini adalah beliau".
"Maksud kamu?" Reyhan penasaran.
"Yang menyekolahkan aku sampai keluar negeri sana adalah kedua orang tua Naya".
"Bukankah kamu katakan kalau kedua orang tuanya sudah meninggal 20 tahun yang lalu?".
"Iya, tapi mereka sudah membayar lunas biaya sekolah ku sejak dari SD sampai aku Sarjana Hahhahaha... Aku jadi merindukan sepasang suami istri itu. Bahkan mereka dulu pernah berkata kepada ku Rey kalau mereka sangat ingin sekali putrinya akan dinikahi pria seperti aku yang baik, pintar dan cerdas".
Reyhan langsung menatapnya sinis, "Kalau begitu kenapa kamu tidak menikahinya?".
"Ck, itu semua karna kamu".
"Apa?".
"Dia malah mencintai pria salah seperti kamu. Dan pria itu malah mencintai wanita lain. Naya sangat bodoh sekali".
__ADS_1
Mendengar itu Reyhan mendengus kesal kepadanya. "Tau apa kamu?".
"Wanita sebaik, setulus dan secantik Naya kamu sia-siakan? Suatu saat nanti kamu akan menyesal Rey. Diluar sana banyak yang ingin bersama dengannya terutama aku" Rian tertawa bangkit berdiri berjalan mendekati Naya.