Aku Istri Pengganti Yang Tidak Dianggap

Aku Istri Pengganti Yang Tidak Dianggap
Bab 25


__ADS_3

Sesampainya dirumah, Lidia langsung melihat mereka dengan senyum mengembang di wajah kedua suami istri itu.


"Mah! Pah!" Naya memeluk mereka secara bergantian. "Maaf yah kalau kami berdua tidak menepati janji yang kemarin aku janjikan".


Lidia mengangguk, "Iya sayang tidak apa-apa. Mama juga maklum kok kalau kalian tidak bisa datang kemari sekali seminggu. Reyhan pasti sangat sibuk begitu juga dengan kamu. Mama dengar kamu bekerja di perusahaan Reyhan?".


"Hehehehe... Iya ma, aku bekerja sebagai sekretaris ya pak Rian".


"Loh, kenapa harus sekretaris Rian sayang?" Lidia tidak terima kalau menantunya itu dekat-dekat dengan pria lain. Itu sesuatu hal yang sangat tidak ia suka. "Mama tidak setuju sayang kalau kamu jadi sekretaris Rian".


Naya bingung, "Kenapa ma? Aku rasa tidak ada yang salah. Pak Rian baik kok ma, beliau tidak pernah macam-macam apalagi mencoba mendekati aku seperti yang mama pikirkan sekarang ini. Mama tidak usah khawatir, aku bisa kok menjadi diri dengan baik. Lagian Reyhan kan ada disana ma, dia pasti akan menjaga dan melindungi aku".


"Iya sayang. Tapi jaman sekarang ini kita tidak tau kriteria seseorang itu seperti apa. Mama bukannya tidak percaya sama kamu, tapi sama Rian. Bagaimana jika nantinya dia tertarik kepada mu?".


"Hahahaha... Tidak mungkin ma. Seperti yang aku dengar-dengar, selera pak Rian itu sangat tinggi. Bahkan di kantor kemarin dua orang wanita membuat aku kesal. Mereka marah kepada ku karena berhasil menjadi sekretaris ya pak Rian. Kan mereka aneh ma? Kenapa mereka harus marah kepada ku? Kenapa mereka tidak langsung saja dengan pak Rian".


"Apa?" Lidia menggeram. "Berani sekali mereka memarahi istri dari tempat mereka mencari makan?" Lidia lalu melihat kepada Reyhan yang kesal mendengar ocehan keduanya. "Rey, mama tidak terima kalau salah satu karyawan di perusahaan kamu menghina menantu ku. Sekarang juga cari wanita itu dan langsung pecat mereka".


"Hhhmmss... Sudah ma, tidak usah lebay seperti itu".


"Apa? Kamu bilang tidak usah lebay seperti ini setelah apa yang mereka lakukan kepada istri mu sendiri? Suami macam apa kamu ini Rey tidak bisa membela istri kamu saja? Mama tidak mau tau, pokoknya mama tidak mau tau besok mama harus sudah dengar kamu memecat kedua wanita itu".


Namun melihat kemarahan di wajah Lidia, Naya jadi merasa tidak enak kenapa harus memberitahu itu kepada sang ibu mertua yang sangat peduli kepadanya. Ia sangat bersyukur sekali, tetapi ia tidak enak kalau sampai Lidia turun tangan memecat kedua wanita itu dan memberitahu kalau ia adalah istri Reyhan yang tidak di inginkan.


"Mah, aku mohon mama tenang dulu. Biarkan ini menjadi urusan aku mmmm. Nanti kalau mereka masih berani macam-macam kepada ku. Maka aku sendiri yang akan melawan mereka sampai mereka tidak mau lagi mengusik ku hanya karna aku menjadi sekretaris pak Rian".


Lidia menatapnya, "Kamu yakin sayang? Orang seperti mereka itu harus segera di musnahkan sebelum mereka semakin bertingkah tidak tau diri".


"Iya ma. Mama percaya deh sama aku mmmmm" Naya tersenyum memberikan kepercayaan kepada Lidia.


Kemudian Lidia melihat Reyhan, "Rey, mama tidak mau mendengar sesuatu yang tidak enak mama dengar terjadi kepada Naya. Mama mohon, tolong kamu jaga dengan baik istri kamu".


"Iya ma" jawab Reyhan.

__ADS_1


Tidak lama setelah itu, Nessa datang bersama dengan sang suami dan putri kecilnya Fani.


"Wah... Wah... Ada apa ini? Kenapa aku melihat pembicaraan kalian terdengar serius sekali?" Nessa tertawa mendengar mereka.


"Ini Nessa. Adik ipar kamu bekerja di perusahaan adik kamu. Tapi dia malah menjadi sekretaris ya Rian. Jadi mama tidak terima kalau adik ipar kamu dekat-dekat dengan pria lain. Ditambah, ada dua wanita yang menyukai Rian, mereka malah marah-marah sama Naya. Ya jelas mama tidak terima, karna itu mama marah dan menyuruh Reyhan memecat mereka sekarang ini juga".


Nessa tertawa kembali, "Oh, jadi inti dari pembicaraan ini mama sangat mengkhawatirkan menantu mama gitu? Benar juga, sebenarnya sih aku juga setuju dengan pendapat mama mengenai Naya sebagai sekretaris Rian. Tapi kembali kepada adik ipar, yang namanya bekerja ya harus bisa profesional. Bukankah begitu Pah?" tanyanya tertawa kecil kepada Lukman.


"Ck, kamu juga Nessa" Lidia kesal.


"Hahahaha... Mama sih terlalu serius sekali. Tidak apa-apa ma kalau adik ipar jadi sekretaris Rian. Setau aku Rian itu orangnya baik kok, mana mungkin dia mau menganggu istri dari bosnya sendiri".


"Emang Rian tau kalau Naya istri Reyhan?" tanya Lidia.


"Mmmmm, dia tau ma" jawab Naya.


"Nah, itu mama dengar sendiri kan kalau Rian juga tau kalau adik ipar istri dari rekan kerjanya. Jadi mama tidak usah khawatir lagi".


"Iya ma, aku ngerti kok".


"Iya sayang. Terima kasih sudah mengerti mama".


Lalu anggota keluarga itu berjalan ke meja makan. Mereka melihat hidangan telah tersedia diatas meja dengan mewah.



Kemudian mereka mendudukkan diri diatas kursi mereka masing-masing.


"Ini untuk kamu Rey" dengan manis Naya menyendokkan lauk paut tersebut diatas piringnya. Sedangkan mereka yang melihatnya tersenyum senang jika benar ke harmonisan itu benar-benar terjadi.


"Terima kasih" ucap Reyhan.


"Mmmmm" lalu melihat mereka semua. "Selamat makan".

__ADS_1


.


Selesai sarapan pagi, Reyhan dan Naya berada di kamar. Keduanya tengah asik dengan aktivitas mereka masing-masing.


Kemudian Naya melihat Reyhan berjalan kearah balkon sambil mengeluarkan sebatang rokok dari dalam bungkusnya. Ia tau kalau Reyhan hendak merokok, dan juga ia seperti mendengar suara Reyhan menerima sebuah telepon.


"Hhhmmss... Bosan juga seperti ini" ia mengeluarkan ponselnya. "Kenapa Rian sampai sekarang belum menghubungi aku?" ia berpikir keras. "Ayo Rian, hubungi aku sekarang jug...


DDDRREETTTT.... DDDRREETTTT....


Naya langsung melihat nomor yang tidak di kenal. Merasa takut, ia langsung mematikan panggilan tersebut dan kembali berdering lagi. Dengan rasa penasaran, Naya mencoba menggeser tombol hijau dengan cara menjauhkan ponselnya. Tetapi saat itu juga ia seperti mengenali suaranya, ia menebak kalau itu adalah Rian. Merasa yakin, akhirnya Naya pun menempelkan di pipi kanan.


"Hallo?".


"Nay, ini aku Rian. Kamu sedang dimana?" suara Rian terdengar khawatir.


"Rian?".


"Mmmm, ini aku".


"Astaga! Kamu dari mana saja Rian? Aku sangat mengkhawatirkan kamu".


"Maafkan aku. Sekarang kamu dimana?".


"Aku berada di rumah mertua ku Rian. Kamu baik-baik saja? Kemana saja kamu Rian, kamu benar-benar membuat ku sangat khawatir".


"Jangan khawatir Nay. Aku baik-baik saja. Sekarang kamu yang perlu aku khawatirkan. Untuk saat ini berhati-hatilah, sepertinya Loiner menyuruh anak buahnya mengikuti jejak kamu untuk mencari tahu keberadaan Papa dimana sekarang ini".


"Ooo, itu yang mau hendak aku bicarakan dengan mu Rian. Dimana kamu sekarang? Aku ingin bertemu dengan mu".


"Maaf Nay, sekarang belum saatnya. Nanti aku hubungan kamu lagi".


Secepat kilat Rian mematikan ponselnya membuat Naya bingung sebenarnya apa yang terjadi.

__ADS_1


__ADS_2