Aku Istri Pengganti Yang Tidak Dianggap

Aku Istri Pengganti Yang Tidak Dianggap
Bab 50


__ADS_3

"Tuan istirahat saja. Biar aku yang menjaga nona Naya. Aku melihat tuan sangat kelelahan sekali hingga wajah tuan terlihat begitu sangat letih".


"Tidak Paris, aku harus menjaganya. Bagaimana jika nantinya kamu tiba-tiba membiarkan orang lain masuk? Mereka bisa saja menyamar mau jadi apa. Karna itu aku tidak boleh tidur, aku harus menjaganya dengan ketat. Atau kamu saja yang istirahat?".


"Tidak tuan, aku akan disini saja berjaga bersama dengan tuan Reyhan".


"Ya sudah kalau begitu".


Detik, menit dan jam telah berlalu. Reyhan mulai terlihat begitu sangat mengantuk. Ditambah jam sekarang sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Sedangkan Paris, pria itu sedang asik bermain ponsel tepat di ambang pintu.


Reyhan lalu berjalan mendekati Naya, ia melihat wajah wanita itu begitu sangat damai sehingga Naya enggan membuka mata.


"Apa rasanya begitu sangat menyenangkan sehingga kamu membuat aku seperti ini? Bahkan hanya untuk menjaga mu saja aku rela manahan ngantuk dan hanya karna kamu saja aku rela memberikan pekerjaan ku kepada Paris. Dan lihatlah, anak itu bahkan untuk mengantuk saja dia tidak bisa".


Reyhan menarik nafas panjang lagi, ia lalu mengusap wajahnya dengan kasar.


"Jika kamu masih seperti ini. Aku akan membiarkan mu sendiri dirumah sakit. Aku tidak punya waktu menjaga-jaga mu dan itu semua karena egois kamu. Itu semua karna egois kamu".


"Tuan!" ucap Paris melihat kekesalan di wajah Reyhan. "Ada apa tuan? Apa yang terjadi sehingga tuan terlihat kesal seperti ini kepada nona Naya?".


Reyhan mengusap wajahnya, ia benar-benar tiba-tiba di landa kekesalan. Lalu kembali duduk di sofa dan tidak menjawab pertanyaan Paris membuat Paris heran ada apa dengannya.


"Sebaiknya tuan istirahat saja. Biar aku saja yang menjaga nona Naya".


"Kamu yakin?".


"Iya tuan".


Setelah Paris menjawab yakin, Reyhan langsung membaringkan tubuhnya menutup mata hingga sampai pada akhirnya Reyhan benar-benar terlelap dalam tidurnya. Kemudian Paris kembali duduk diambang pintu sembari melihat jam sekarang hampir saja menunjukkan pukul 3 pagi. Ia pun juga jadi ikutan merasa ngantuk, tetapi ia tidak bisa tidur, ia sudah berjanji kepada Reyhan kalau ia akan menjaga Naya sampai tuannya itu kembali membuka mata.


"Hhooaammm... Kenapa aku tiba-tiba merasa sangat mengantuk sekali akh?" gumam Paris beberapa kali menguap tak karuan. "Tidak seperti biasanya".


Tok... Tok...

__ADS_1


Paris mendengar suara ketukan pintu, ia lalu membukanya melihat dokter dan juga suster datang secara bersamaan dengan senyuman.


"Dokter?".


"Iya, kami mau memeriksa perkembangan pasien".


"Apa? Jam sekarang dokter?".


"Iya, ini sudah hal biasa kita lakukan?".


Paris mengernyitkan dahi merasa curiga kepada mereka tidak percaya kalau dokter jam segini datang memeriksa keadaan pasien.


"Tunggu sebentar! Saya membangu... Aaakkhh" tiba-tiba Paris jatuh pingsan tergeletak diatas lantai dengan senyum mengembang di wajah mereka.


Lalu mereka berjalan mendekati Naya, dan tidak membutuhkan waktu yang lama mereka pun langsung menyuntikkan obat tersebut ke dalam selang infus Naya. Setelah itu mereka pergi.


Sedangkan Naya yang melihat di alam sana, ia tak henti-hentinya tertawa bahagia kepada ayah dan ibunya.


Ibunya yang melihat kebahagiaan di wajah Naya menggeleng kepala, "Sayang, kalau seperti ini kamu akan kehilangan semuanya. Group Pelita akan berada di tangan paman kamu sampai selama-lamanya".


"Aku tidak perduli ma, yang penting aku bersama papa dan mama sampai selama-lamanya. Bodoh amat sama semua harta itu, aku tidak perduli lagi mah. Lagian kalau aku juga hidup kembali, mereka semua pada akhirnya akan membunuh ku juga sama seperti yang mereka lakukan kepada mama dan papa. Iya kan pah? Pada akhirnya Paman, bibi dan juga Loiner akan membunuh ku juga. Jadi lebih aku seperti ini, dan yang membuat aku seperti ini mereka juga".


"Hhhmmss.. Yakin Naya enggak mau pulang?" tanya sang ayah untuk yang beberapa kalinya. "Kamu yakin tidak mau lagi hidup bersama dengan Reyhan? Kamu sudah siap kehilangan dia?".


"Iya pah. Aku sudah siap kehilangan Reyhan. Lagian cinta Reyhan hanya untuk Yolanda dan sudah berapa kali aku katakan kalau cinta Reyhan hanya untuk Yolanda bukan untuk ku".


.


Hingga matahari kembali terbit, Reyhan segera membuka mata merasa pegal di seluruh bagian tubuhnya. Kemudian mencari keberadaan Paris, dan saat itu juga Reyhan melihat Paris tergeletak diatas lantai dengan tubuh telungkup membuat ia langsung melihat kepada Naya dengan mata membulat.


"Tidak!" Reyhan menggeleng kepala. Ia lalu berlari kepada Naya melihat semua tubuh Naya membiru dan pastinya Reyhan tidak merasakan apa-apa ketika ia meletakkan tangannya di ujung hidung Naya.


"Dokter! Dokter!" Reyhan berteriak histeris. Ia memanggil sang dokter agar mereka segera masuk sekarang juga ke dalam ruangan tersebut.

__ADS_1


Ceklek!


"Ada apa tuan?".


"Lihat! Kalian lihat sekarang juga apa yang terjadi kepadanya?".


Sang dokter kaget begitu juga dengan para suster. Lalu mereka memeriksa semua alat yang melekat di tubuh Naya.


"Bagaimana dok? Apa yang terjadi dokter?" Reyhan bertanya dengan wajah gusar.


"Maafkan kami tuan. Tapi tolong tuan tenang dulu, kami mau memeriksa keadaan pasien seteliti mungkin".


Sang dokter lalu mengatakan kepada suster untuk segera membawa ke dalam ruangan Naya alat pacu jantung.


"Baik dok, saya akan membawanya".


Sebelum alat tersebut datang, sang dokter melakukan RJP manual dan tidak lupa menghitung durasi yang ia berikan. Sedangkan Reyhan melihat tidak ada perubahan, ia pun mendudukkan diri menunggu mereka melakukan tugasnya.


Lalu Reyhan tertawa, ia tertawa melihat betapa bodohnya sekarang ini dirinya. Bagaimana bisa ia tidur dan membiarkan Paris menjaga seorang diri. Sekarang apa yang terjadi? Keadaan Naya semakin buruk bahkan ia tidak bisa jamin Naya akan bisa selamat.


Tidak lama setelah itu sang dokter melihat kepada Reyhan dengan wajah letih. Dan Reyhan langsung bisa menebak apa yang hendak ia katakan.


"Hhhmmss.." Reyhan menarik nafas dan tidak lupa menunjukkan senyuman di wajahnya. "Katakan saja dok. Apa yang ingin dokter katakan. Saya siap mendengarnya".


Sang dokter berjalan mendekat kepada Reyhan, ia melihatnya dengan kepala mengangguk. "Apa seseorang masuk ke dalam ruangan ini? Pasien... Pasien mengalami otak lumpuh".


"Apa?" mendengar sang dokter berkata demikian tubuhnya langsung lemas. "Maksud dokter?".


"Sepertinya ada seseorang yang memang sengaja membahayakan nyawa pasien sehingga pasien mengalami otak lumpuh".


"Terus, apa yang akan terjadi dokter? Apa yang akan terjadi? Apakah sekarang keadaannya baik-baik saja? Dan apakah pasien akan bisa...


"Tidak ada harapan lagi tuan. Pasien benar-benar akan mengalami otak lumpuh sampai selama-lamanya. Tapi nyawa pasien masih bisa terselamatkan. Hanya saja, pasien kembali mengalami kritis hingga kami memasang alat itu kembali".

__ADS_1


__ADS_2