
Dan saat Reyhan hendak memasuki lift, Rian memanggilnya dari belakang.
"Kamu masih disini?".
"Mmmm, aku masih disini. Bisa kita bicara sebentar? Ini mengenai....
"Ayo!" Reyhan berjalan duluan mencari tempat yang pas untuk mereka bicara empat mata. Lalu ia melihat Rian dan berkata apa yang ingin ia katakan kepadanya.
Dan sebelum Rian memberitahunya, ia terlebih dahulu manarik nafas panjang-panjang sembari melihat samping kira kanan mereka berharap tidak akan ada orang yang akan mendengar percakapan tersebut.
"Ini mengenai apa yang dulunya pernah Naya bicarakan dengan mu. Pelita group! Perusahaan ini milik kedua orang tua Naya yang sudah meninggal dunia akibat kecelakaan yang sangat tragis sampai merenggut nyawa mereka. Dan kamu tau siapa pembunuhnya Rey? Paman Naya sendiri orang yang sudah melakukannya".
"Apa? Lalu bagaimana bisa kamu tau semua ini Rian? Siapa kamu sebenarnya?".
"Aku putra dari pengacara Okta yang selama ini menjadi orang kepercayaan beliau. Dan sudah 20 tahun lamanya ayah ku buronan mereka hingga sekarang ini kami ingin mengungkapkan semuanya di hadapan publik siapa mereka sebenarnya dan siapa pemilik Pelita group yang sebenarnya".
"Aku tidak dapat mempercayai ini semua Rian. Apa kamu sedang berkerja sama dengannya untuk menghancurkan hubungan ku dengan keluarga itu? Jawab aku Rian".
"Tidak, sama sekali tidak Rey! Ini semua aku katakan berdasarkan fakta yang sebenarnya. Jadi aku mohon, tolong bantu Naya. Tolong bantu dia untuk mengembalikan semuanya kepada tempat yang seharusnya".
Reyhan terdiam, meskipun sedikit masuk diakal tetapi ia tidak bisa menerima kenyataan ini. Bagaimana bisa orang yang selama ini ia percayai tega melakukan hal yang sangat hina kepada saudaranya sendiri untuk kesenangannya.
"Mereka sangat jahat Rey! Kamu pikir kecelakaan Naya ini terjadi secara kebetulan? Tidak Rey! Ini semua atas perintah Loiner dan orang yang baru saja ia suruh membunuh Naya adalah buronan yang melarikan diri dari penjara dan sekarang ini aku sangat yakin kalau di sudah tidak berada disini lagi. Itu artinya polisi tidak akan pernah mendapatkan jejaknya lagi".
.
Sekarang mereka berada di kantor, dan Reyhan sedang duduk diatas kursi kebesarannya dengan wajah gusar memikirkan apa yang tadi ia dengar keluar dari bibir Rian.
"Ada apa tuan? Sedari tadi aku melihat tuan begitu sangat gelisah. Apa sesuatu terjadi dengan nona Naya?" Paris bertanya.
"Tidak, ini bukan mengenai dia. Tapi ini... Paris" panggil Reyhan menatapnya.
"Iya tuan! Ada apa?".
"Apakah kamu pernah mendengar isu mengenai perusahaan Pelita grup?".
Paris mengernyitkan dahi, ia memikirkan apa yang baru saja Reyhan ucapkan.
"Apa kamu pernah mendengarnya Paris?".
"Tidak tuan, aku tidak pernah mendengar isu mengenai perusahaan Pelita grup. Emang ada apa tuan? Kenapa tuan bertanya seperti itu kepada ku?".
__ADS_1
"Benar, aku juga berpikir seperti itu. Tapi kenapa Rian dan Naya berkata kalau Pelita group milik kedua orang tua Naya?".
"Hhhmm? Ada apa tuan?" Paris seketika terlihat penasaran.
"Paris, ini mengenai Pelita group yang akhir-akhir ini aku dengar kalau perusahaan ini bukanlah milik asli mertuaku".
"Apa?".
"Iya, karna itu kamu aku perintahkan mencari tahu siapa sebenarnya pemilik perusahaan ini. Aku tunggu dalam minggu ini Paris, kamu harus segera mencari tahunya".
"Tunggu sebentar tuan. Dari siapa tuan tau ini semua?".
"Ada apa?" Reyhan melihat Paris seperti sedang mengetahui sesuatu.
"Aku tidak tau jika ini benar, tapi ini ingatan masa kecil ku. Dulu kakek ku pernah berkata kalau Pelita group perusahaan yang sangat besar dan waktu itu Kakek ku berkata aku harus bekerja disana jika sudah dewasa nanti".
Flashback.
*Hari Minggu cuaca tampak begitu sangat sejuk, saat itu Paris berusia 6 tahun dan dia baru saja duduk diatas kursi kelas 1 SD.
"Kakek, hari ini aku ingin memancing bersama dengan kakek".
"Mmmmm... Aku ingin mendapatkan ikan yang banyak dan juga ikan yang besar-besar hehehehe... Tapi kenapa kakek hanya melihat televisi itu sedari tadi. Tidakkah kakek mendengar ku?" raut wajah Paris sedih dan itu membuat sang kakek tertawa menunjuk televisi.
"Kamu lihat orang itu?".
"Iya, Ada apa dengannya kakek?".
"Sekarang ini dia salah satu orang terbesar di negara kita. Kakek mau saat kamu tumbuh besar nanti kamu harus bisa bekerja di perusahaan yang ia dirikan".
"Apa? Aku tidak mau. Tidakkah kakek lihat sendiri kalau aku ini bodoh dan...
"Dia orang yang sangat baik. Kamu lihat saja dari tatapan matanya. Kakek sangat yakin kalau suatu saat nanti kamu bisa bekerja di perusahaan Pelita grup. Wah, namanya saja begitu sangat indah untuk di dengar*".
***************.
"Kenapa kamu jadi diam seperti itu Paris?" Reyhan kembali bertanya. "Apa yang sedang kamu pikirkan?".
"Baiklah tuan, aku akan segera menyelidiki Pelita group".
"Mmmmm, secepatnya kamu harus mencari tahunya".
__ADS_1
.
Sekarang hari sudah sore, Reyhan melihat jam menunjukkan pukul 5: 28 menit. Ia lalu bangkit berdiri menyambar jas miliknya dan segera meninggalkan ruangannya.
Namun saat ia hendak pergi berjalan menuju lift, ia melihat Rian datang menghampirinya dengan menyebut namanya.
"Aku ikut dengan mu. Aku rasa kamu mau kerumah sakit".
"Jangan mengikuti ku. Jika benar semua apa yang kamu katakan, jangan pernah menunjukkan siapa dirimu apalagi mengikuti ku kerumah sakit".
Rian seketika terdiam melihatnya.
"Tidak Rey, sekarang ini Naya harus dijaga ketat oleh ku. Kalau tidak, anak buah Loiner bisa saja menyamar sebagai perawat hanya untuk menyakiti Naya. Aku tidak mau itu semua terjadi Rey".
"Serahkan semua kepada ku dan jangan buat aku mengulangi perkataan ku. Pulanglah kerumah mu dan cari tahu dimana keberadaan orang yang sudah membuat Naya seperti ini".
"Kamu yakin Rey bisa mengurus ini semua? Mereka sangat licik dan jahat Rey".
"Aku pergi dulu" Reyhan langsung pergi meninggalkan Rian yang masih berdiri disana. Sedangkan Rian, ia tak henti-hentinya memikirkan jika Reyhan lalai membiarkan orang sembarangan masuk ke dalam ruangan Naya yang bakalan membuat Naya nantinya koma sampai selama-lamanya.
"Hhhmmss... Tidak ada satupun yang berjalan dengan mulus. Sekarang, kemana aku harus mencari keberadaan pembunuhan itu?".
.
Sesampainya Reyhan dirumah sakit, ia masuk ke dalam melihat Lidia masih disana bersama dengan ibu mertuanya.
Lidia tersenyum, "Kamu sudah datang Rey?".
"Iya ma. Sepertinya mama sangat lelah sekali. Mama pulang saja dan juga ibu mertua. Biar aku saja yang menjaganya disini".
"Iya Rey. Nanti mama akan suruh seseorang mengambil pakaian mu dari rumah".
"Tidak usah ma. Paris akan membawanya kemari".
"Oh ya sudah kalau begitu. Ayo jeng, kita pulang saja biar Reyhan yang menjaga Naya".
"Iya jeng, ayo" angguk ibu mertuanya Reyhan menepuk bahunya. "Tolong jaga anak mama dengan baik ya sayang".
"Iya ma".
"Mmmm, terima kasih nak Reyhan".
__ADS_1