
Tidak menunggu lama setelah Reyhan memberitahu Lidia. Mobil ambulance rumah sakit pun tiba disana. Lalu si petugas bertanya kepada Reyhan dan Lidia apakah kamar yang akan Naya tempati sudah di sediakan sedemikian langsung di jawab oleh Lidia sudah.
"Baiklah, kami akan membawa pasien masuk ke dalam" mereka pun segera membawa Naya masuk ke dalam. Dan saat itu juga sang dokter tiba disana, Lidia menemani mereka masuk ke dalam kamar sedangkan Reyhan menunggu sang dokter keluar dari dalam mobil.
"Silahkan masuk dok!" ucap Reyhan membawanya. Hingga sekarang mereka berada di dalam ruangan yang Naya tempati, dokter pun segera memasang semua alat-alat tersebut kembali di tubuh Naya.
Begitu selesai, sang dokter lalu berkata kepada Lidia dan Reyhan. "Keluarga bisa bebas mengunjunginya dengan syarat tetap bersih. Dan kalau sesuatu terjadi kepada pasien, segera hubungi kami".
"Iya dok, terima kasih banyak".
"Sama-sama. Dan ini suster yang akan memantau keadaannya selama 24 jam lamanya. Suster, tolong jaga pasien ini dengan baik".
"Iya dok".
"Kalau begitu saya permisi dulu".
"Mari dok, saya akan mengantar sampai luar".
"Iya tuan".
.
Dan sekarang sang dokter telah pergi meninggalkan istana kediaman keluarga Dirgantoro. Reyhan lalu mendengar ponselnya bergetar mendapatkan panggilan dari nomor yang tidak di kenal. dan itu membuat Reyhan mengernyitkan dahi tidak mengenali nomor tersebut. Namun pada akhirnya Reyhan tetap menjawabnya dan bertanya siapa orang tersebut.
"Maaf sudah mengganggu waktu anda. Saya ini pengacara Okta ayah dari Rian. Bisakah kita bertemu sebentar saja? Ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan anda?".
"Baiklah" jawab Reyhan langsung tanpa berpikir panjang menerima tawaran Okta. Hingga sekarang ia berada di dalam sebuah restoran. Lalu ia melihat pengacara Okta bersama dengan Rian disalah satu meja yang paling sudut melambaikan tangan kepadanya.
"Silahkan duduk Reyhan" ucap Rian.
Reyhan kemudian mendudukkan diri, dan tak henti-hentinya melihat kepada pengacara Okta yang sudah terlihat tua.
"Dia ayah ku. Orang yang selama ini menjadi kepercayaan orang tua Naya".
Reyhan tersenyum, ia lalu mengulurkan tangan kanannya di hadapan pengacara Okta. "Reyhan, nama ku Reyhan" ucapnya membuat pengacara Okta langsung membalas Reyhan. "Terus, apa yang membuat kalian memanggil ku kemari?".
"Begini tuan Reyhan...
"Tidak usah memanggil seperti itu. Panggil saja Reyhan".
__ADS_1
"Baiklah, begini Reyhan. Sampai sekarang ini aku masih menjadi buronan mereka dan sampai kapan pun mereka akan terus-menerus mencari ku sebelum aku mati ditangan mereka. Jadi untuk memberhentikan mereka hanya ada satu cara".
"Apa itu?".
"Tolong bantu kami. Tolong bantu kami menyatakan ini semua dihadapan publik".
Reyhan langsung terdiam, ia melihat keduanya secara bergantian.
"Aku akan membantu kalian berdua. Sekarang katakan apa yang perlu aku bantu?".
Mendengar jawaban Reyhan, pengacara Okta tersenyum senang. "Terima kasih banyak. Mulai sekarang kamu bisa memiliki rekaman ini".
Reyhan melihatnya, lalu mengambil flashdisk tersebut dari tangan pengacara Okta sambil bertanya apa di dalamnya.
"Semua bukti kejahatan Bagus ada di dalamnya".
"Tapi kenapa kamu memberikan ini kepada ku?".
"Karna aku sangat yakin kalau kamu akan menyimpannya dengan baik. Ini semua akan menjadi bukti belakangan, jika suatu saat nanti pengadilan tidak dapat menerima semua bukti yang kami berikan. Satu-satunya jalan keluar yaitu rekaman ini".
"Hhhmmss... Baiklah kalau begitu, aku akan menyimpannya".
"Iya".
"Kalau begitu aku akan pergi meninggalkan kalian berdua" pengacara Okta segera pergi meninggalkan mereka dan sekarang tinggallah keduanya masih berada disana.
"Kamu penasaran dengan isinya?" tanya Rian melihat rasa penasaran di wajah Reyhan. "Di dalamnya ada rekaman video saat paman Naya merusak rem mobil kedua orang tuanya".
"Apa?" kaget Reyhan.
"Bukan hanya itu saja. Di dalamnya juga ada rekaman video saat kecelakaan itu terjadi kalau paman dan bibi Naya juga berada disana dan mereka sedang tertawa bersama melihat kejadian tersebut bahkan sepasang suami istri itu mendatangi kedua orang tua Naya sambil berkata. Kini saatnya semua jatuh di tangan kami dan semua harta yang kalian miliki benar-benar akan menjadi milik kami sampai selama-lamanya hahahhaha".
Reyhan terbelanga, ia benar-benar tidak habis pikir dengan pola pikir mereka melakukan semuanya itu kepada saudaranya sendiri.
"Jadi kapan kalian akan menyelesaikan ini semua?".
"Minggu ini, semuanya akan tersebar di seluruh media sosial".
"Baiklah kalau begitu. Aku rasa sampai disini saja, aku pulang dulu".
"Mmmm, kamu hati-hati dijalan".
__ADS_1
"Seharusnya bukan kamu yang berkata seperti itu kepada ku. Tapi aku yang mengatakan itu kepada mu. Kamu hati-hati di jalan agar semuanya berjalan seperti yang kalian harapkan".
Rian tersenyum sembari mengangguk kepala melihat punggung Reyhan menjauh, "Anak itu, terkadang dia..." Rian menggantung perkataannya mendengar ponselnya berdering. "Iya Ayah. Ada apa?".
"Kamu sudah dimana?".
"Aku masih ditempat tadi ayah. Tapi Reyhan baru saja pergi".
"Kamu tahan sekarang juga Reyhan" ucap pengacara Okta membuat Rian terbelanga langsung mengejar Reyhan yang baru saja membuka pintu mobil seketika melihat sebuah motor melaju dengan kecepatan tinggi menuju kearah mereka. "Reyhan Awas!".
BBBRRRAAKKK....
"Reyhan!" menjerit histeris Rian langsung berlari kepadanya melihat Reyhan tergeletak diatas tanah dengan tubuh kesakitan. "Reyhan! Reyhan! Kamu baik-baik saja?".
Reyhan menjawab iya, lalu bangkit berdiri dibantu oleh Rian merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
"Siapa orang itu? Kenapa dia tidak melihat jalan mau lewat".
"Orang itu bukan orang biasa Rey. Dia orang suruhan Loiner".
"Apa? Bagaimana bisa kamu tau?".
"Orang itu sengaja ingin melukai mu dan ayah ku sendiri yang baru saja memberitahu ku. Hhhmmss... Maafkan kami Rey, kamu menjadi ikut jadi sasaran mereka karna rekaman itu".
"Tidak apa-apa" ucap Reyhan mengepal tangan. "Aku pulang dulu, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan".
"Kamu yakin bisa pulang sendiri? Mereka pasti akan mengejar mu".
"Kamu jangan khawatir, mereka tidak jauh lebih hebat dari ku. Aku duluan".
"Iya, berhati-hatilah".
Saat dalam perjalanan pulang, pengendara motor yang tadi sudah menabrak dirinya kini mengikutinya dari belakang dan itu membuat Reyhan tersenyum menyeringai menepikan mobil sport miliknya di jalan yang sepi.
Lalu ia keluar dari dalam mobil dan si pengendara motor tersebut juga ikutan menepikan sepeda motornya sembari mengeluarkan sebuah benda tajam dari dalam saku celana.
"Haaahh" Reyhan tersenyum mengejek "Kamu siapa?".
Si pria itu tidak menjawab, ia malah berlari kepadanya dan membuat Reyhan langsung menghindarinya.
"Kamu pikir semudah itu?" Reyhan semakin mengejeknya dan membuat si pria itu terlihat kesal. "Kamu siapa? Siapa orang yang sudah menyuruh mu?".
__ADS_1