
"Kamu tidak perlu tau siapa aku" ia kembali menyerang Reyhan. Tetapi lagi-lagi perlawanannya selalu melesat dan itu membuat ia semakin mengeram saat Reyhan menendang punggungnya.
"Ais, ck. Aku sudah katakan kepada mu... BBBUUUNNGGGHHHH..." Reyhan melayangkan pukulan di wajahnya. "Harusnya disaat aku mengajukan pertanyaan kepada mu kamu harus menjawabnya bukan malah ingin menyerang ku seperti ini Baji*Ngan".
Si pria itu menatap Reyhan tajam, ia tidak akan berhenti menyerang Reyhan sebelum dia berhasil. Namun sayangnya, Reyhan malah semakin menghajarnya sampai ia babak belur tak bisa bangkit berdiri lagi.
"Ais, sebenarnya aku sudah tau kamu siapa. Tapi aku malah membuang-buang waktu ku yang berharga seperti ini. Yah, katakan kepada Loiner kalau kamu kalah menyerang ku dan katakan juga kepadanya kalau dia ingin menyarangkan ku jangan mengirim orang seperti kamu. Kamu mengerti?".
Kemudian Reyhan masuk ke dalam mobil dan langsung pergi meninggalkan si pria tersebut yang masih terkapar cukup menggenaskan diatas jalanan.
"Sial! Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Jika tuan Loiner tau kalau aku kalah dia pasti akan membunuh ku ditambah pria itu tau kalau orang yang sudah menyuruh ku adalah Loiner itu sendiri. Sial! Sial!".
Dan sekarang Reyhan tiba di kediaman keluarga Dirgantoro, ia lalu melihat Lidia, Lukman, Nessa bersama dengan sang suami duduk diruang keluarga sambil menikmati beberapa cemilan manis.
"Itu Reyhan sudah datang mah" ucap Nessa melihat sang adik terlihat sangat kelelahan sekali. "Rey! Kamu kenapa?".
Mereka yang berada disana langsung melihat kepadanya dan Lidia bertanya, "Kamu habis dari mana saja Rey? Dari tadi mama mencari kamu loh dan ponsel kamu malah tidak aktif-aktif. Kamu baik-baik saja? Kamu seperti sedang terlu..
"Aku baik-baik saja mah. Tidak usah khawatir dan hari ini aku sangat lelah sekali. Tolong biarkan aku istirahat sebentar".
"Tapi Rey....
"Sudah mah biarkan saja" ujar Lukman menahan Lidia.
"Hhhmmss... Anak itu".
"Iya mah, biarkan saja dulu. Sepertinya Reyhan sedang banyak masalah. Dan kami juga harus pulang, ini sudah hampir jam 9 malam".
"Loh, kalian kenapa harus pulang? Kita disini saja. Lagian besok kan hari Minggu" ucap Lidia menahan sepasang suami istri itu. "Lagian kalian berdua sudah sangat jarang sekali menginap dirumah ini. Mama merasa sangat kesepian sekali".
Nessa melihat sang suami, "Ya sudah kalau kita mau menginap disini juga tidak apa-apa. Aku rasa Fani putri kita akan lebih senang" jawab suami membuat Lidia tersenyum senang.
"Nah, kamu dengar sendiri apa kata suami kamu Nessa. Dia juga tidak keberatan kalau kalian berdua menginap dulu".
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu mah".
"Mmmm, makasih sayang".
.
Sedangkan di dalam kamar, Reyhan sekarang ini sedang menikmati segelas anggur di atas balkon dengan sebatang rokok di tangan kanannya. Ia lalu beberapa kali menghirup udara segar dan tak lupa membayangkan wajah mendiang istrinya yang begitu sangat ia cintai, tetapi ia tidak tau kalau sampai sekarang ini. Karna yang ia rasakan, hari demi hari setelah kejadian itu perasaan yang begitu amat besar kepadanya sudah mulai berkurang.
"Ada apa ini? Kenapa jadi seperti ini?" batin Reyhan. "Bukan Yolanda yang bersalah, tapi kenapa perasaan ini semakin menghilang? Sekarang perasaan apa ini? Kenapa tiba-tiba bisa seperti ini?".
Reyhan semakin merasakan kelelahan, ia lalu melihat layar ponselnya dimana foto Yolanda selalu terpajang di layar ponselnya.
"Katakan, apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini sayang?".
Lama setelah mengatakan hal tersebut, Reyhan merasa ngantuk. Ia melihat jam sekarang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Kemudian ia meninggalkan balkon dan langsung menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang.
"Akh, hari yang begitu sangat melelahkan".
Tok... Tok...
Tok... Tok....
Lagi-lagi Reyhan mendengar seseorang menggedor pintu kamarnya. Dengan rasa penasaran, akhirnya Reyhan sendiri yang membuka pintu tersebut, namun ia tidak melihat siapa-siapa berada disana dan itu membuat ia semakin heran.
"Kurang ajar! Siapa orang yang sudah berani....
"Duuaaarrr... Hahahaha.. Paman terkejut yah? hahahaha".
Orang tersebut adalah Fani putri dari Nessa bersama dengan suaminya yang sengaja ingin mengerjai sang paman melihat kekesalan di wajah Reyhan.
"Astaga Fani" Reyhan menarik nafas panjang membawa Fani keatas gendongannya. "Jadi Kamu orang yang sudah mengerjai paman sampai paman mu ini hampir saja mengalami serangan jantung?".
__ADS_1
"Hehehehe... Maafkan Fani Paman. Habisnya paman Rey tidak mau lagi bermain dengan ku. Padahal Fani sangat ingin sekali bermain dengan paman. Tapi paman".
Reyhan mencium keningnya, "Maafkan paman Fani. Akhir-akhir paman sangat sibuk sekali sampai paman tidak punya waktu lagi bermain dengan mu".
"Hhhmm.. Paman menyebalkan sekali".
Reyhan tertawa gemas melihat gadis mungil yang berada diatas gendongannya itu. "Iya paman menyebalkan sekali. Tapi Fani juga harus bisa mengerti paman mmmmm. Paman juga sekarang tidak seperti dulu lagi, ada bibi kamu yang harus paman jaga".
"Benarkah paman? Itu artinya paman tidak sayang lagi sama Fani" dengan raut wajah sedih Fani menundukkan wajahnya ke bawah membuat Reyhan malah semakin merasa bersalah.
"Hey, kenapa keponakan paman jadi sedih seperti ini?" jelas tau kalau Fani menangis.
"Biarin, Fani tidak akan peduli paman" anak kecil itu tetap merajuk.
"Maafkan paman mu ini. Sekarang katakan apa tujuan mu datang kemari?".
"Paman jahat!".
"Paman tau. Tapi apakah kamu tidak akan menjawab pertanyaan paman?".
Fani lalu menghapus air matanya, ia melihat tatapan Reyhan begitu sangat sedih membuat ia bertanya. "Fani yang sedih, kenapa paman ikutan sedih?".
"Mmmm, paman sedih karna hari ini paman sangat lelah sekali. Jadi Fani harus berhenti menangis dan jawab pertanyaan paman ada apa tengah malam seperti ini kamu kemari?".
"Kalau begitu, kenapa paman tidak membawa ku masuk dulu? Diluar sangat dingin".
Reyhan mengangguk dan membawanya masuk ke dalam kamar. Kemudian bocah kecil itu bertanya lagi, "Paman, siapa bibi yang ada di dalam kamar itu?".
"Dimana?".
"Yang ada... Oo, mama" kaget Fani melihat Nessa berada di ambang pintu. "Mama kenapa kemari?".
Nessa menghela nafas setelah ia lelah mencari kesana kemari keberadaan bocah kecil itu. Dan ternyata sekarang ia malah berada di dalam kamar Reyhan dan kedua orang itu terlihat sedang asik mengobrol satu sama lain.
__ADS_1
"Ya Tuhan Fani! Kamu ngapain kemari sampai membuat mama cape hanya untuk mencari mu saja?".
"Maafkan aku mah. Fani tadi ingin bertemu dengan paman. Fani rindu sama paman" jawab bocah kecil itu dengan manjanya membuat Reyhan tersenyum gemas memeluknya.