Aku Istri Pengganti Yang Tidak Dianggap

Aku Istri Pengganti Yang Tidak Dianggap
Bab 44


__ADS_3

Orang suruhan yang kemarin Loiner sewa telah berada dirumah sakit. Ia lalu memasuki ruangan ganti dokter dan berhasil mendapatkan pakaian tersebut. Kemudian ia keluar dari dalam dengan senyuman mematikan sambil menuju lantai ruangan Naya sekarang ini berada.


Namun saat ia hendak masuk, ia melihat Reyhan keluar dari dalam sana seorang diri membuat ia menghentikan langkah kakinya.


Setelah itu ia melangkah kembali begitu Reyhan sudah pergi jauh.


Ceklek!


Pria itu melihat Lidia disana seorang diri, ia tersenyum dalam hati merasa kalau Lidia tidak tau ia siapa dirinya kecuali perawat yang akan memeriksa perkembangan Naya setiap saat.


"Tunggu" panggil Lidia berjalan mendekat kearah sang dokter. "Maaf! Tadi bukannya suster sudah dari sini yah?".


Ia mengangkat wajah, lalu tersenyum kepada Lidia yang melihatnya dengan wajah penasaran. "Dan juga, saya tidak mengenal dokter siapa".


Pria itu tersenyum, tidak lama setelah itu Reyhan masuk kembali ke dalam ruangan Naya melihat kepada si pria itu dengan senyum menyeringai di wajahnya.


"Akhirnya kamu datang juga".


Reyhan berjalan mendekat kepadanya, dan si pria tersebut langsung berlari kearah Lidia menodong sebuah pisau di lehernya.


"Jangan mendekat, kalau tidak aku akan membunuh wanita ini" ucapnya tertawa mematikan semakin mendekatkan pisau miliknya di leher Lidia. "Minggir sekarang juga, biarkan aku lewat".


"Kamu siapa?" Lidia ketakutan. "Lepaskan saya! Saya bisa melaporkan kamu ke polisi telah menodong pisau di leher saya".


"Silahkan hahahaha.. Silahkan melapor ke polisi sana. Tapi sebelum kamu melaporkan aku ke polisi. Kamu sudah dalam keadaan tidak bernyawa lagi hahahaha".


"Rey! Tolong mama Rey. Mama....


"Mama tenang" ucap Reyhan memotong. Dan ia semakin berjalan mendekat kearah keduanya membuat si pria tersebut semakin ketakutan. "Lepaskan wanita itu. Kalau tidak aku akan membunuhmu".


Pria itu tertawa mengejek Reyhan, "Aku sudah katakan kepada mu minggir sekarang juga. Kalau tidak aku benar-benar akan membunuh wanita ini dengan pisau tajam ku. Apa kamu tidak mendengar ku?".


Ceklek!

__ADS_1


Paris masuk ke dalam, ia melihat Lidia sedang di kecam oleh pria yang berpakaian dokter tersebut dengan pisau melingkar di leher ibunya Reyhan.


"Tuan!".


"Sudah aku tebak, pria ini akan datang membunuh Naya. Dan sekarang dia berdiri di hadapan kita. Menurut mu apa yang harus aku lakukan Paris?".


"Tuan! Bagaimana dengan nyonya?" Paris ketakutan kalau sampai Lidia terluka.


Lagi-lagi pria itu tertawa melihat ketakutan di wajah Paris. "Lihatlah, dia saja ketakutan kalau wanita ini aku bunuh. Lalu bagaimana dengan mu? Apa kamu sama sekali tidak takut kalau sampai aku membunuhnya? Hahahaha... Kalau sampai itu terjadi, kamu akan kehilangan wanita ini sampai selama-lamanya hahahaha".


"Silahkan! Kamu bisa membunuhnya seperti yang baru saja kamu katakan".


Deng!


Lidia, Paris dan pria itu dibuat kaget mendengar jawaban Reyhan yang sama sekali terlihat tidak peduli kalau sampai pria itu membunuh Lidia.


"Wah, ternyata kamu anak durhaka".


"Aku tidak peduli dengan wanita itu. Aku hanya peduli dengan mu bagaimana caranya aku bisa membunuh mu sekarang juga dirumah sakit ini".


Kemudian Reyham semakin mempercepat langkah kakinya, lalu pria itu membuang tubuh Lidia kesamping mencoba melakukan perlawanan terhadap Reyhan hingga ia sendiri yang terkapar mengenaskan.


"Sial, aku tidak bisa tertangkap olehnya" tidak ada cara lain lagi. Ia pun melompat dari atas jendela kaca membuat Reyhan segera menyuruh Paris sekarang juga harus mendapatkannya.


Lalu ia melihat leher Lidia yang terluka, "Maafkan aku! Aku akan memanggil dokter" ucap Reyhan keluar mencari keberadaan sang dokter.


Setelah ia mendapatkannya, keduanya masuk ke dalam melihat Lidia di sofa menahan darah yang keluar dari lehernya.


Sang dokter pun langsung melakukan operasi kecil dan tidak lupa menyuntikkan obat bius di tubuh Lidia. Sedangkan Reyhan, ia menggenggam jemari tangannya dan tak henti-hentinya berkata maafkan aku mah.


Tidak menunggu lama, sang dokter pun selesai melakukan operasi kecil. Reyhan lalu berkata terima kasih sambil mengantarnya keluar.


"Apa yang terjadi Rey? Kenapa pria itu masuk ke dalam sini dengan cara menyamar sebagai dokter?" Tanya Lidia penasaran.

__ADS_1


"Maafkan aku. Aku juga tidak tau siapa mereka. Sekarang yang penting mama baik-baik saja. Apa rasanya masih sakit?".


"Tidak, dokter itu memberikan obat bius cukup banyak sehingga mama tidak merasakan sakit. Tapi apa benar kamu tidak tau siapa pria itu? Dan bagaimana bisa dia datang kemari?".


"Sekarang belum saatnya mama tau. Setelah semuanya selesai, nanti aku sendiri yang memberitahu mama. Sekarang aku mohon tolong jaga Naya dengan baik" Reyhan pergi, namun saat itu juga Lidia menghentikan langkah kakinya.


"Kamu mau kemana Rey?".


"Aku harus mengejar pria itu mah. Sepertinya dia belum jauh".


"Ya sudah, kamu hati-hati yah".


"Iya mah".


Reyhan segera keluar pergi meninggalkan Lidia di kamar ruangan inap Naya. Kemudian Lidia melihat Naya, ia lalu berkata.


"Bangunlah sayang. Rumah sakit ini bukan tempat yang terbaik untuk mu. Kamu pasti tau kejadian tadi kan? Pria ia pasti sedang ingin melakukan kejahatan terhadap mu. Dan mama tidak tau alasan dia ingin melukai mu, yang pastinya pria itu sangat berbahaya sekali bahkan mama saja hampir kehilangan nyawa mama sendiri. Jadi mama mohon sayang, bangunlah. Ini sudah cukup waktu yang lama untuk mu tinggal dirumah sakit ini".


Lidia menari nafas panjang, ia melihat lehernya di balik kaca dengan balutan perban putih membuat ia merasa ngilu ingin sekali memberi pelajaran kepada pria tersebut telah membuat seorang istri keluarga Dirgantoro terluka.


****DDDDRRRTTT****.... DDDDRRRTTT....


"Hallo Nessa. Kamu lagi dimana?".


"Kenapa ma? Aku lagi di kantor nih".


"Apa pekerjaan mu banyak? Mama ingin kamu kemari sekarang juga. Fani di jemput sama siapa ke sekolah?".


"Di jemput sama bibi ma. Tapi pekerjaan ku sekarang tidak terlalu banyak, aku akan kesana sekarang juga".


"Iya sayang, mama akan tunggu kamu".


Lidia mematikan ponselnya, lalu Nessa mencoba menebak ada apa dengan Lidia yang tiba-tiba menyuruhnya kerumah sakit sekarang juga. Tetapi saat ia mendengar suara Lidia yang terdengar gelisah, ia merasa ada sesuatu yang terjadi dan saat itu juga Nessa berpikir kalau Naya sedang tidak baik-baik saja.

__ADS_1


"Astaga! Sebaiknya aku kerumah sakit sekarang juga" Nessa pun buru-buru berangkat sampai ia lupa memberitahu sekretarisnya kalau ia harus pergi. Dan kini ia telah tiba dirumah sakit, dengan langkah panjang sambil berlari ia segera memasuki lift.


__ADS_2