Aku Istri Pengganti Yang Tidak Dianggap

Aku Istri Pengganti Yang Tidak Dianggap
Bab 60


__ADS_3

Selesai Reyhan membayarnya, Joko lalu datang menghampiri Reyhan yang hendak pergi meninggalkan rumah sakit.


"Tunggu sebentar tuan! Boleh kita bicara sebentar?".


Reyhan melihatnya, "Ada apa?".


"Sebaiknya kita bicara disana saja tuan".


Joko membawa Reyhan di balik sudut ruangan, kemudian ia melihat samping kiri kanannya tidak ada satu orang pun yang sedang memperhatikan mereka.


"Tuan, terima kasih banyak sudah berbuat baik mau membantu biaya operasi istri saya. Besar harapan saya, tuan selalu sehat dan panjang umur sampai selamanya. Dan tujuan saya membawa tuan kemari, saya ingin memberitahu kalau orang dalam yang sudah menyuruh kami membunuh tuan dan mereka adalah... Kalau saya tidak salah dengar adalah Lo-loiner. Iya tuan, kalau tidak salah namanya Loiner".


Mendengarnya berkata demikian, Reyhan langsung tersenyum membuat Joko merasa heran.


"Maafkan saya tuan, saya hanya menyampaikan apa yang saya dengar saat itu. Tapi saya benar-benar tidak berbohong tuan ataupun sedang bercanda. Saya mengatakan yang sebenarnya".


"Saya tau! Kalau begitu saya pergi dulu".


"Ya, terima kasih tuan! Terima kasih banyak".


Kemudian Reyhan menghampiri Rian kembali ke kantor polisi, dan ia melihat anak itu sedang berada di dalam sel penjara menanyai siapa orang yang sudah menyuruh mereka untuk membunuhnya. Tetapi tak satu orang pun diantara mereka yang mau menjawab pertanyaan Rian dan itu membuat Reyhan tertawa di belakangnya.


"Yah.. Percuma kamu menanya mereka seperti itu. Sudah, biarkan saja. Kamu hanya menguras tenaga mu saja".


Rian melihat kepadanya, "Ais, mereka membuat ku ingin sekali membunuh. Lalu kamu dari mana saja? Jangan bilang kamu benar-benar tertipu olehnya".


Reyhan menarik nafas, ia berjongkok dihadapan mereka sambil tersenyum mematikan sembari menatap mereka satu persatu.


"Istrinya sedang kritis dan istrinya harus segera di operasi. Karna itu aku kesana untuk membantunya".

__ADS_1


"Benarkah?".


"Mmmm... Terus bagaimana dengan orang-orang ini. Hukuman apa yang pantas untuk mereka?" Reyhan memanggil mereka. "Dimana Loiner sekarang berada?".


Mereka terdiam.


"Kenapa kalian hanya diam saja? Apa kalian tidak mendengar pertanyaan ku?".


Mereka tetap diam.


"Ais ck".


"Sepertinya mereka tidak tau siapa Loiner" ujar Rian menghentikan Reyhan. "Sebaiknya kita pergi saja, aku akan mencari Loiner sampai ketemu. Dan begitu aku bertemu dengannya, bisa saja aku langsung membunuhnya".


"Kamu mau dipenjara juga sama seperti mereka?" Reyhan bertanya sambil bercanda membuat keduanya segera pergi meninggalkan kantor polisi mencari keberadaan Loiner sekarang ini.


.


"Aarrkkhhh.. Aaarrrkkkhh.. Sial! Sial!" Loiner meremas rambutnya dengan sangat marah. "Sialan, kenapa harus seperti ini? Apa yang harus aku lakukan? Jika seperti ini, aku tidak tau lagi bagaimana caranya aku menyelamatkan Papa dan mama? Aarrkkhhh".


Lama memikirkan itu semua dengan kepala panas, tiba-tiba Loiner berpikir apa sebaiknya ia pergi saja meninggalkan negara ini. Ditambah dengan kasus kedua orang tuanya yang semakin melebar dimana-mana membuat ia semakin takut kalau sampai ia ikut-ikutan terbawa.


"Tidak! Ini tidak bisa terjadi. Aku harus pergi meninggalkan negara ini. Kalau tidak, aku juga akan sama halnya seperti kedua orang tua ku. Benar! Aku harus pergi".


Loiner kemudian naik kelantai atas, ia lalu mengemas semua barang-barang miliknya dan juga ia tidak lupa membawa uang yang ia miliki. Namun saat ia hendak pergi meninggalkan rumah tersebut. Ia tiba-tiba teringat kalau Bagus memiliki berangkas yang berada di dalam ruangan kerjanya membuat ia seketika berhenti.


"Aku penasaran, apa yang berada di dalamnya?" dengan rasa penasaran, Loiner pun segera memasuki ruangan ayahnya dan melihat brankas tersebut berada di bawah meja kerja Bagus. "Pah, maafkan aku. Aku harus pergi meninggalkan kalian, aku tidak ingin hidup seperti kalian. Aku tidak mau di penjara karena sudah menuruti perintah papa selama ini".


Loiner beberapa kali menekan pin brangkas Bagus, tetapi tak satupun yang berhasil sampai ia kebingungan bagaimana caranya ia berhasil membuka brangkas tersebut. Hingga suatu ketika ia tersadar dengan ulang tahun Yolanda, ia pun segera menekannya, namun tetap saja usahanya gagal dan ia belum bisa membukanya.

__ADS_1


"Aarrkkhhh... Jika seperti ini aku bisa kehilangan banyak waktu. Tidak mungkin aku bertanya kepada papa, dia pasti curiga kenapa aku membutuhkan pin brangkas miliknya. Lalu sekarang apa yang harus aku lakukan? Aku harus segera pergi".


Hingga seketika Loiner tersadar angka tanggal kematian Yolanda. "Tapi apa mungkin? Soalnya aku sudah mencoba semua tanggal yang aku ketahui, dan sekarang tersisa angkat kematiannya".


Loiner pun langsung menekannya dan saat itu juga brangkas tersebut terbuka membuat Loiner tertawa senang melihat isi di dalam brankas ayahnya berisikan uang, emas dan beberapa dokumen di bawahnya.


"OMG! Jika seperti ini aku terlihat kaya raya hahahaha" Loiner pun langsung memasukkan semua yang berada di dalam brankas ke dalam tas yang akan ia bawa bersama dengan emas. Lalu ia pergi meninggalkan rumahnya dan langsung menuju bandara internasional.


.


Sedangkan Reyhan dan Rian baru tiba disana, keduanya melihat rumah tersebut begitu sangat sepi seperti tidak ada penghuninya. Lalu mereka masuk ke dalam, rumah itu terlihat begitu sangat berantakan dan tak satu orang pun mereka temukan disana.


"Rey tunggu! Sepertinya kita sudah sia-sia datang kemari mencari keberadaan Loiner. Aku yakin kalau dia sudah pergi".


"Pergi?".


"Mmmm, dia tidak ada dirumah ini".


Reyhan kemudian menaiki lantai atas, namun saat ia tiba disana, seketika kedua langkah kakinya tidak bisa ia gerakkan saat ia melihat bingkai foto yang terpajang begitu sangat besar tepat di samping kamar Yolanda.



"Ada apa?" tanya Rian yang juga ikutan naik kelantai atas. Lalu melihat bingkai foto mereka berdua membuat Rian tau kalau Reyhan masih mengingat mendiang istrinya yang begitu sangat ia cintai. "Jangan melihatnya lagi. Itu akan membuat kamu sedih".


Reyhan langsung memalingkan wajahnya, ia kembali melanjutkan langkah kakinya memasuki kamar Loiner yang berada di ujung sana. Dan begitu mereka masuk ke dalam, mereka melihat kamar Loiner sedikit berantakan dan itu membuat Rian semakin yakin kalau Loiner sudah pergi meninggalkan negara mereka.


"Kenapa kamu begitu sangat yakin?" tanya Reyhan.


"Tentu saja! Orang pengecut seperti Loiner selalu begitu ketika ia dalam masalah dan tidak dapat lagi memecahkan masalah yang ia miliki. Seperti yang kamu lihat, ia telah melarikan diri dan pergi meninggalkan negaranya dan juga orang yang ia sayang untuk menyelematkan diri sendiri. Akh tunggu sebentar, aku mendapat panggilan dari polisi. Hallo!".

__ADS_1


__ADS_2