
"Rian, kenapa kamu melakukan itu?" begitu mereka keluar, Naya melepaskan genggaman tangan Rian. "Jangan lakukan itu lagi Rian".
"Maafkan aku" Rian menyesal. Lalu keduanya pergi dari sana.
Sedangkan Reyhan yang berada di dalam, ia terlihat sangat kesal setelah keduanya pergi. Kemudian Paris yang melihatnya hanya diam saja sebelumn tuannya itu sendiri yang memulai. Tidak lama setelah itu, Reyhan mengusap pangkal batang hidungnya sebanyak tiga kali sembari melihat kepada Paris.
"Kamu sudah membawanya?".
"Iya tuan, ini dia" jawab Paris memberikan dokumen tersebut diatas tangan Reyhan. "Apa tuan baik-baik saja?".
Reyhan melihatnya, "Menurut mu aku kenapa Paris? Kenapa kamu melihat ku seperti itu?".
"Maafkan aku tuan. Hanya saja aku mendengar suara helaan nafas tuan seperti sedang menggebu-gebu. Karna itu aku bertanya".
"Aku baik-baik saja" jawabnya. Kemudian Reyhan membuka dokumen yang di tangannya, ia melihat dokumen tersebut dengan sangat teliti hingga dokumen itu Reyhan tutup kembali sambil melihat samping kiri kanannya. "Ada apa dengan pengeluaran ini Paris? Kenapa di tanggal segini perusahaan mengeluarkan puluhan milyar?".
Paris segera melihatnya, ia tidak menyangka kalau di tanggal sekian mereka mengeluarkan dana sebanyak puluhan milyar membuat ia terbelanga tidak percaya menatap Reyhan.
"Maafkan aku tuan, aku tidak tau kalau perusahaan mengeluarkan dana sebanyak ini".
Reyhan tertawa, "Apa menurut mu ini kelalaian Paris?".
Deng!
Paris terdiam, selama ini ia selalu memeriksa pemasukan dan pengeluaran dana, tapi kenapa sekarang ini jadi seperti ini? Paris bingung, ia lalu melihat Reyhan yang melihatnya menunggu jawaban apa yang akan ia beri.
"Maafkan aku tuan, secepat mungkin aku akan mencari tau kenapa dana di tanggal segini perusahaan bisa mengeluarkan uang sebanyak ini tuan".
Melihat ke khawatir di wajah Paris, Reyhan tertawa kembali. "Kamu tidak tau Paris kalau selama ini kamu telah di bodohi oleh mereka. Ini semua pekerjaan direktur keuangan, ia telah membohongi ku" Reyhan mengeram dalam hati mengepal tangan.
"Apa? Jadi data yang selama ini dia berikan...
"Mmmm, dia telah memanipulasi itu semua. Dan dia tidak sendiri, dia bersama dengan yang lainnya".
"Tapi, bagaimana bisa tuan tau selama ini kalau mereka membohongi tuan?".
"Hahahaha... Kamu pikir aku tidak tau Paris?".
"Maafkan aku tuan, aku tidak tau kalau ini akan terjadi".
__ADS_1
"Mmmm, sekarang pekerjaan mu bagaimana caranya kamu bisa membongkar semua korupsi yang selama ini mereka lakukan. Aku akan menunggu, bisakah kamu membuktikan kepada ku selama 1 minggu lamanya?".
"Baik tuan, secepat mungkin aku akan menyelesaikan masalah ini semua dan tolong maafkan aku sekali lagi tuan".
.
Sing harinya Reyhan berada di dalam ruangannya, ia duduk termenung seorang diri diatas sofa dengan tatapan kosong.
Tok... Tok....
"Masuk" jawabnya.
Ceklek!
Pintu ruangannya terbuka melihat Naya berdiri di ambang pintu sana bersama dengan sekretaris wanita ya. Naya kemudian berjalan kepadanya, ia melihat wanita itu tersenyum tipis mendudukkan diri di hadapannya.
"Apa?" tanya Reyhan datar.
Naya tersenyum kembali, "Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin memberikan ini kepada mu. Semoga kamu menyukainya".
"Kamu menyukai bunga ini Rey?".
"Kenapa? Kenapa kamu memberikan itu kepada ku? Apa yang sedang kamu rencanakan?".
"Tidak, aku tidak sedang mengambil hati mu atau yang lain. Aku hanya ingin memberikan bunga ini kepada mu dengan tulus. Tadi pagi sebelum masuk ke kantor, aku melihat seorang ibu-ibu tua membawa bunga hidup untuk ia jual di sekitar pinggir jalan. Lalu aku berhenti membeli pot bunga ini, hanya untuk mu".
Reyhan mengernyitkan dahi merasa tidak percaya dengan apa yang ia dengar keluar dari mulut Naya, ia langsung berkata kalau ia tidak menyukai bunga tersebut dan menyuruh Naya membawa itu kembali karna ia alergi dengan bunga.
Mendengar itu, Naya sedih. Tetapi ia masih berusaha mencoba untuk merayu Reyhan agar ia mau menerima pemberiannya itu. Namun hasilnya tetap saja, Reyhan tidak mau.
"Kenapa kamu tidak mau Rey?".
"Apa kamu tuli? Aku sudah katakan kepada mu kalau aku tidak menyukai bunga itu. Kenapa kamu tidak berikan saja kepada Rian?".
"Ye? Ke-kenapa kamu berkata seperti itu Rey? Aku membeli ini memang untuk kamu bukan untuk Rian. Tapi ya sudah kalau kamu tidak mau, aku akan membawanya pergi. Maaf sudah menganggu waktu mu yang berharga".
Tanpa menahan langkah kaki Naya, Reyhan kembali duduk di kursi kebesarannya.
__ADS_1
Dan sekarang Naya berada di meja kerjanya, ia melihat pot bunga tersebut dengan tatapan sedih berharap kalau Reyhan akan mau menerimanya.
"Jika seperti ini, aku tidak bakalan bisa merebut hati Reyhan. Lalu bagaimana lagi caranya? Pria itu benar-benar sangat keras kepala" lama memikirkan ini semua, ponselnya berdering mendapatkan panggilan dari nomor yang tidak ia kenal. "Siapa?".
Hingga akhirnya Naya menggeser tombol hijau, "Hallo! Ini siapa?".
"Nona, ini saya pengacara Okta. Maafkan saya baru bisa menghubungi nona kembali. Apa nona baik-baik saja?".
"Pengacara Okta? Ooo, aku baik-baik saja. Lalu kapan kita bertemu?".
"Malam ini nona, kita akan bertemu di tempat yang sudah Rian tau".
"Baiklah kalau begitu, aku harap kamu sehat selalu. Nanti malam kami akan kesana".
"Baik nona".
Naya mematikan ponselnya, ia kemudian manarik nafas panjang memikirkan semoga anak buah Loiner tidak mengikuti mereka. Karna kalau sampai itu terjadi, pengacara Okta pasti akan tertangkap dan membunuhnya.
Naya lalu memasuki ruangan Rian, ia melihat pria itu sedang sibuk dengan pekerjaannya sehingga Rian tidak tau kalau dia berada disana.
"Rian!" panggilannya. "Kamu sedang sibuk?".
Mendengar suara Naya, Rian langsung melihat kepadanya, "Kamu? Kenapa?" tanyanya.
"Itu, pengacara Okta baru saja menghubungi ku kalau malam ini dia meminta ku bertemu dengannya. Apa dia sudah membicarakan ini dengan mu?".
"Mmmm, malam ini aku akan membawa mu bertemu dengan papa. Apa kamu sudah siap?".
"Iya, aku sudah siap bertemu dengan pengacara Okta. Jam berapa kita akan kesana Rian?".
"Tapi sebelum kita pergi, ada baiknya kamu izin dulu kepada Reyhan agar dia tidak mencari mu".
"Tidak, aku tidak perlu izin kepadanya Rian. Sepulang dari kantor kita langsung kesana saja. Aku tidak mau menunda-nunda waktu lagi".
Tersenyum, "Mau bagaimana pun kamu harus tetap izin kepadanya Naya. Dia itu suami kamu, kalau sesuatu terjadi kepada mu....
"Dia tidak akan perduli Rian. Kenapa kamu memaksa ku?".
"Wah, kamu terlihat serius sekali hingga kamu tidak perduli lagi kalau Reyhan akan khawatir kepada mu. Baiklah kalau itu mau kamu, sepulang dari kantor kita langsung kesana".
__ADS_1
"Mmmm, terima kasih Rian. Aku tidak sabar lagi bertemu dengan pengacara Okta" setelah mengatakan itu, Naya tersenyum senang akhirnya ia bisa juga bertemu dengannya setelah 20 tahun lamanya ia menunggu.