
Tidak terima Reyhan berkata demikian kepada Naya. Nessa langsung ikutan menghentikan adiknya itu dengan cara memukul punggungnya dengan sangat kuat.
"Kurang ajar kamu Rey berkata seperti itu di depan orang koma. Suami macam apa kamu ini haahhh? Tidak seharusnya kamu malah membuat dia sedih. Harusnya kamu menghibur dia Rey, bukan malah membuat ia semakin tidak ingin membuka mata".
"Aku tidak perduli, aku tidak perduli lagi mau dia membuka mata atau tidak. Jika dia tidak ingin masalah ini segera selesai, aku benar-benar tidak akan pernah membantunya".
"Apa? Reyhan! Jangan berkata seperti itu Reyhan" ucap Lidia.
Kemudian Reyhan pergi meninggalkan mereka. Sedangkan anak dan ibu itu menarik nafas panjang tidak menyangka kalau Reyhan akan berkata demikian di depan orang sakit yang bisa mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir Reyhan.
Lidia menggenggam jemari tangan Naya, ia berkata kalau Naya tidak usah mendengarkan apa yang baru saja Reyhan ucapkan. Karna meskipun Reyhan berkata demikian, mereka tau kalau Reyhan melakukan itu semua atas dasar karna ia perduli kepadanya.
ceklek!
Mereka mendengar pintu terbuka, Lidia dan Nessa langsung melihat kalau dokter lah yang baru saja membuka pintu tersebut.
"Dokter" Lidia tersenyum.
"Selamat sore Bu. Kita periksa dulu yah keadaan pasien".
"Iya dok silahkan".
Tidak lama kemudian begitu sang dokter memeriksa keadaan Naya. Ia tersenyum sembari melihat kepada mereka, "Syukurlah, sepertinya Pasien sudah mulai membaik".
"Apa? Benarkah dokter?" kedua mata Lidia berbinar-binar tak karuan bersama dengan Nessa. "Lalu kapan kira-kira menantu ku akan membuka mata dok?".
"Bersabarlah, tidak akan lama lagi pasien akan segera membuka mata asalkan pasien selalu di berikan penghiburan".
"Iya dok, kami akan selalu memberikan penghiburan kepadanya. Terima kasih banyak ya dok".
"Iya Bu, sama-sama. Kalau begitu saya permisi dulu. Tolong suster, alat-alatnya sebagian di lepaskan".
"Baik dok".
Sang dokter pun segera keluar dari dalam ruangan Naya. Lalu Nessa memeluk Lidia merasa begitu sangat bahagia akhirnya Naya ada juga perubahan.
__ADS_1
"Nessa, cepat beritahu adik kamu kalau Naya sekarang sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kepulihan".
"Ck, adik kurang ajar itu tidak usah diberi tahu ma setelah apa yang dilakukan terhadap Naya".
"Sudah Nessa, jangan berkata seperti itu sama adik kamu sendiri. Reyhan berkata demikian karna dia perduli. Kamu hubungi sekarang juga Reyhan mama juga akan menghubungi besan mama" Lidia mengeluarkan ponselnya, ia lalu menekan nomor ponsel bibinya Naya tidak lama diangkat olehnya.
"Iya Jeng Lidia! Ada apa?" suara bibi Naya begitu terdengar lembut.
"Ini jeng, aku mau memberitahu kalau Naya sekarang sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kepulihan jeng" Lidia tertawa bahagia. "Terima kasih jeng, ini semua berkat doa jeng juga sehingga Naya akan segera pulih dan kembali bersama dengan kita".
Sedangkan bibi Naya begitu Lidia berkata demikian, ia mengeram dalam hati melihat sang suami yang sedang melihatnya dengan kening mengerut.
"Ada apa mah? Kenapa mama melihat papa seperti itu?".
Ia lalu mematikan ponselnya tanpa berkata kepada Lidia kalau dia menyudahi percakapan tersebut. Setelah itu ia melihat lagi sang suami, ia pun langsung memberitahu Bagus kalau keadaan Naya sekarang ini sudah mulai membaik dan sebentar lagi Naya akan membuka mata.
"Apa?" kaget Bagus.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan pah? Dari kemarin mama sudah mengatakan kepada papa sebaiknya saat itu juga pria kurang ajar itu langsung saja membunuh Naya sampai mati. Dan akhirnya sekarang jadi seperti ini".
"Iya pah?".
"Apa yang terjadi Loiner? Bukankah kamu sudah memerintahkan mereka untuk membuat Naya koma sampai selama-lamanya?".
"Apa yang terjadi pah? Aku sudah memerintahkan mereka. Bahkan membunuhnya juga".
"Dan sekarang keadaan Naya malah semakin membaik. Istrinya Lukman baru saja menghubungi mama kamu dan berkata kalau sebentar lagi Naya ajak segera membuka mata. Sebenarnya apa yang kamu kerjakan Loiner? Kenapa hanya untuk mengurus itu saja kamu tidak becus".
Seketika Loiner terdiam, ia mengepal kedua tangannya dengan sangat marah.
"Maafkan aku pah.. Secepatnya aku akan mengurus masalah ini".
"Papa tunggu sampai besok, kalau sampai mereka belum juga menjalankan tugas mereka dengan benar. Papa akan turun tangan sendiri".
"Jangan khawatir pah. Secepatnya aku akan menyelesaikan ini semua".
__ADS_1
"Mmmmm" Bagus mematikan ponselnya. Lalu istrinya bertanya ada apa di jawab hanya helaan nafas panjang oleh sang suami.
"Kurang ajar! Apa yang sebenarnya mereka kerjakan hanya untuk mengurus itu saja mereka tidak becus" umpat Loiner memukul meja kebesarannya sampai berulang kali. Setelan itu ia keluar, sekretarisnya yang melihat ia hanya bisa diam saja tanpa berani bertanya kemana tuanya itu hendak mau pergi.
Dan sekarang Loiner tiba disana, ia melihat anak buah si pembunuh tersebut berjaga di depan pintu memberikan sebuah penghormatan kepadanya namun mereka malah mendapatkan balasan sebuah pukulan kuat dari Loiner.
"Bang*sat! Dimana bos kalian sekarang berada?" tanya Loiner menatapnya tajam.
"Le-Pas-kan aku dulu tuan" jawabnya merasa sesak di cekik seperti itu oleh Loiner. Kemudian Loiner melepaskan tangannya, ia melihat pria itu begitu sangat marah sampai wajahnya memerah. "Ada apa tuan? Kenapa tuan terlihat marah seperti ini?".
"Apa kamu tidak mendengar ku?".
"Baiklah, bos ada di lantai atas. Kami sedang kedatangan tamu. Saya harap tuan mohon bersabar menunggu... Hhhmmss, dia malah pergi begitu saja tanpa mau mendengar ku" gumam pria itu melihat Loiner langsung masuk ke dalam menemui si bos pembunuh bayaran.
Lalu Loiner tiba di lantai atas, dan saat itu juga bos dari si pembunuh kedatangan tamu dan Loiner melihat kelau si bos pembunuh tertawa bahagia seperti mendapatkan harta karun.
Dengan sangat marah, Loiner menendang meja yang berada di hadapannya tepat di hadapan si bos pembunuh dan juga client yang masih membelakangi Loiner.
"Oh, jadi ini yang kamu lakukan sekarang?".
Si bos pembunuh melihat kepadanya, ia lalu tersenyum bangkit berdiri ada apa ia datang di jam seperti ini tidak seperti biasanya.
BBBUUUNNGGGHHHH...
Loiner memberikan pukulan di wajahnya, lalu si bos pembunuh menyentuh wajahnya yang baru saja di pukul oleh Loiner membuat ia tertawa.
"Seberapa banyak uang yang kamu inginkan agar pekerjaan mu becus bang*sat?".
"Apa?" si bos pembunuh menatapnya tajam. Setelah itu ia tersenyum menyeringai, "Kamu ingin tau seberapa banyak uang yang aku inginkan agar pekerjaan ku becus? Baiklah, aku akan memberitahu mu. Berikan aku uang sebanyak yang dia berikan kepadaku. Kamu mau tau berapa jumlah uang yang diberikan?".
"Kamu lihat tas itu, dia memberikan uang sebanyak 1 milyar kepada ku".
"Apa?" kaget Loiner.
"Hahahaha... Kenapa? Kamu kaget mendengarnya? Ais, bukannya kamu kaya juga yah?".
__ADS_1