Aku Istri Pengganti Yang Tidak Dianggap

Aku Istri Pengganti Yang Tidak Dianggap
Bab 58


__ADS_3

Setibanya di kantor polisi, ia langsung melihat sang suami juga berada disana membuat ia langsung bertanya. "Papa? Apa yang papa lakukan disini?" kedua matanya kembali berkaca-kaca. "Apa yang terjadi pah? Kenapa papa juga berada disini?".


"Mama tenang dulu" ucap Bagus membawa istrinya itu duduk di kursi. Lalu bertanya, "Mama baik-baik saja?".


"Tidak! Bagaimana bisa mama baik-baik saja jika keadaannya seperti ini pah? Mama tidak baik-baik saja pah mama tidak baik-baik saja".


Kemudian kepala polisi membawa mereka kedalam sebuah ruangan untuk melakukan interogasi. Tetapi mereka harus dipisahkan, sedangkan istri Bagus sama sekali tidak mau berpisah dari sang suami, ia ingin tetap bersama dengannya. Namun polisi tidak memberikan izin, keduanya tetap akan di pisahkan hingga istri Bagus berada di dalam sebuah ruangan yang bersebelahan dengan sang suami.


"Selamat pagi Bu" ucap polisi yang akan menginterogasinya. "Sudah bisa kita mulai?".


Tidak ada jawaban, ia hanya diam saja menatap si polisi dengan tajam.


"Baiklah kalau ibu tidak mau menjawabnya. Maka saya akan memulai pertanyaan dan ibu silahkan menjawab pertanyaan saya".


"Saudara Bagus, apa benar kalau anda ini saudara dari mendiang saudara Rizal? Tolong di jawab".


Tidak ada jawaban, Bagus juga melakukan hal yang sama dengan istrinya.


"Silahkan di jawab saudara Bagus. Kami butuh keterangan dari saudara untuk mengusut tuntas kasus ini".


Dan lagi-lagi tidak ada jawaban dari keduanya, Bagus tetap membisu dan ia sama sekali tidak mau menjawab pertanyaan sang polisi.


"Anda yakin tidak mau menjawab pertanyaan saya? Baiklah kalau begitu, sampai disini saja dulu. Saya akan kembali setelah 15 menit kemudian" si polisi tersebut keluar dari dalam ruangan itu, ia melihat rekannya juga yang baru keluar dimana ia mengintrogasi istrinya Bagus.


"Bagaimana?" Apa kamu berhasil mendapatkan jawaban darinya?".


"Tidak! Wanita itu sama sekali tidak mau membuka mulutnya".


"Sama halnya dengan dia. Ayo".


Keduanya pergi meninggalkan ruang interogasi. Dan sekarang tinggallah Bagus seorang diri di dalam ruangan sana, ia lalu mengeluarkan ponselnya menghubungi Loiner yang langsung di jawab olehnya.


"Aku sudah memerintahkan mereka pah. Secepatnya mereka akan menyelesaikan tugasnya".


"Baiklah. Papa bisa mempercayai mu, cepat habisi pengacara Okta tanpa rasa kasihan".


"Siap pah".


Bagus mematikan ponselnya, ia lalu meremas ponsel tersebut dengan sangat marah sambil berkata. "Pengacara Okta. Tunggu saja giliran mu, aku akan membuat hidup mu menderita sampai selama-lamanya. Kamu tunggu saja".

__ADS_1


.


Di kantor pengadilan, pengacara Okta bersama dengan putranya yaitu Rian. Keduanya baru saja selesai mengurus apa yang seharusnya mereka urus.


Kemudian pengacara Okta melihat kepada Rian, ia berkata. "Terima kasih sudah membantu ayah sejauh ini".


"Tidak apa-apa ayah. Aku juga harus ikut berperan untuk ini semua. Ayah tau sendiri siapa orang yang sudah membuat aku berhasil seperti ini? Tentu saja aku harus berjuang membantu ayah. Terus, selanjutnya apa yang harus kita lakukan ayah?".


"Kita hanya menunggu apa keputusan dari pengadilan".


"Benar".


Keduanya pun pergi meninggalkan kantor pengadilan, dan saat mereka sedang dalam perjalanan pulang. Tiba-tiba segerombolan sepeda motor berhenti dihadapan mereka membuat mobil itu tidak bisa lewat.


"Mereka siapa?" ujar Pengacara Okta.


Sedangkan Rian yang langsung mengetahui mereka semua pasti orang suruhan Loiner, ia segera menghubungi Reyhan sebelum ia keluar dari dalam mobil.


"Rey, kami sedang dalam masalah".


"Apa?".


"Ais, akhirnya kalian berdua keluar juga. Aku kira kalian ini pengecut" mereka tertawa bersama.


"Kalian ini siapa? Kami tidak mengenal kalian, sebaiknya kalian pergi dari sini sekarang juga dan jangan halangi jalan kami".


"Hahahaha" mereka kembali tertawa bersama. "Jangan khawatir, begitu kami menghabisi nyawa kalian berdua, kami akan pergi dari sini. Bukankah begitu?".


"Hahahaha... Benar bos".


"Sekarang tunggu apa lagi? Ayo habisi nyawa mereka".


"Hiiiaaaeerkkk".


BBBUUUNNGGGHHHH... BBBUUNNGGHH...


BBBUUUNNGGGHHHH..


Perlawanan diantara mereka pun begitu sangat mengenaskan hingga akhirnya Rian dan pengacara Okta kalah. Kemudian salah satunya berjalan mendekati mereka, "Sekarang saatnya kami melenyapkan kalian berdua hiiiaaaeerkkk.....

__ADS_1


"Hey, kenapa kalian sangat tidak bersabar sekali" mereka melihat sebuah mobil tiba-tiba berhenti disana, lalu melihat Reyhan keluar hanya seorang diri membuat mereka seketika tersenyum kembali.


"Hahahaha... Sepertinya dia adalah rekan mereka. Tapi sayangnya, dia hanya datang sendiri hahahaha".


"Ck, kalian ini benar-benar sangat menyebalkan sekali. Kenapa kalau aku hanya datang sendiri? Kalian pikir dengan kalian sebanyak ini aku tidak bisa mematahkan satu persatu anggota tubuh kalian?".


"Yah...!!" salah satunya berteriak histeris merasa panas hanya mendengarkan apa yang baru saja Reyhan ucapkan. "Bukan kami, tapi kamu yang akan...


"Apa?" Reyhan menarik kerah bajunya membuat mereka bersiap melawan Reyhan dengan sangat marah. "Ais, aku sudah katakan bersabarlah. Ini" Reyhan tersenyum lebar. Tidak lama setelah itu polisi tiba disana, dan mereka pun segera melarikan diri, namun usaha mereka malah sia-sia. Dengan cepat polisi berhasil mengamankan mereka.


"Pak, tolong bawa mereka dimana tempat yang harusnya buat mereka".


Reyhan lalu membantu keduanya bangkit berdiri, "Kalian baik-baik saja?".


"Kami baik-baik saja Reyhan. Terima kasih sudah datang menyelamatkan kami".


"Mmmm, ayo kita pergi".


.


Di Kantor polisi mereka berlima sedang ditanyai siapa mereka dan siapa orang yang sudah membayar mereka melakukan kejahatan ini terhadap saudara Okta, saudara Rian dan juga saudara Reyhan.


"Jawab!" ucap si polisi tegas.


Namun tak satupun yang berani menjawab pertanyaan sang polisi.


"Apa kalian tidak mendengarkan saya?".


Lagi-lagi tidak ada jawaban hingga si polisi marah besar memukul meja yang berada di hadapan itu membuat mereka kaget.


"Baiklah, saya akan mengulangi pertanyaannya ini lagi. Siapa orang yang sudah menyuruh kalian melakukan kejahatan ini?".


"Ck, sudahlah. Mereka tidak akan menjawabnya sebelum mereka diberi pelajara....


"Aaarrrkkkhh... Tidak. Jangan lakukan itu pak, saya mohon jangan lakukan itu?" ucap salah satunya memotong perkataan si polisi. "Baiklah, saya akan memberitahu siapa orang yang sudah menyuruh kami melakukan hal ini" namun seketika ia tidak berani melanjutkan perkataannya ketika rekan-rekannya melihat kepadanya dengan mata tajam.


"Kenapa?" si polisi bertanya.


"Maafkan saya pak. Tapi, apa bila sayang menjawab pertanyaan bapak. Apakah saya akan di bebaskan? Saya sangat takut sekali, saya hanya ikutan saja. Saya tidak tau apa-apa dan saya... Dan saya... Aarrkkhhh hiks.. hiks... Maafkan saya pak, saya benar-benar tidak tau apa-apa. Tolong selamat saya pak hiks.. hiks.. saya benar-benar tidak tau apa".

__ADS_1


Si polisi terdiam, lalu membawa mereka ke dalam ruang interogasi dan meninggalkan si pria tersebut disana seorang diri untuk ditanyai selanjutnya.


__ADS_2