
Kemudian si petugas keamanan menghentikan ketiganya, Naila lalu mencoba untuk melepaskan genggaman tangan si petugas keamanan tersebut dari pergelangan tangannya.
"Lepaskan aku, mereka yang duluan menyerang ku" ucap Naila tidak terima di perlakukan seperti ini oleh keduanya. "Mereka berdua harus aku beri pelajaran".
"Sudah-sudah, jangan ribut seperti ini. Kamu harusnya malu di lihat pelanggan kita seperti ini, sekarang juga kamu melapor, jangan membuat keributan lagi" si petugas keamanan menatapnya dengan tajam.
Kemudian Naila melirik kepada Reyhan, pria itu sama sekali tidak berkutik dari tempat ia duduk, bahkan sama sekali tidak perduli kepadanya yang sudah babak belur oleh kelakuan brutal kedua orang tersebut.
Naila menghapus air mata, ia memperbaiki pakaiannya yang berantakan, lalu pergi meninggalkan mereka semua, namun sebelum ia benar-benar pergi, ia masih menyempatkan diri melihat kepada Reyhan yang ketepatan melihat kepadanya saat itu juga tanpa ekspresi.
Berharap Reyhan akan perduli, ia meneteskan air mata itu kembali dengan tatapan mata sendu, tetapi itu semua sama sekali tidak berpengaruh kepada seorang Reyhan yang notabenenya orang yang benar-benar sama sekali tidak peduli.
"Kurang ajar! Bagaimana bisa pria dingin itu hanya melihat ku begitu saja tanpa merasa bersalah kepada ku?" gumam Naila mengepal tangan. "Aku membencinya, aku membencinya.. Aku benar-benar membencinya".
Kemudian seorang pria mendudukkan diri disebelah Reyhan, "Hay bro, kamu mengenal wanita itu?" tanyanya sembari melirik kepada Naila yang masih melihat kepada Reyhan. "Melihat dari tatapannya saja, sepertinya kalian berdua saling mengenal satu sama lain".
"Berikan kepada ku satu gelas lagi" Reyhan meminta kepada si bartender. "Aku tidak mengenal mu siapa. Kamu ada urusan apa?".
Pria itu tertawa, "Hey bro, tidak usah melihat ku seperti itu. Aku hanya bertanya apakah kamu mengenal wanita tadi?".
Reyhan melihat sekelilingnya, "Aku tidak melihat siapa-siapa kecuali kamu" jawabnya membuat pria tersebut lagi-lagi tertawa menepuk bahu Reyhan tidak tau diri.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" Reyhan marah. Ia menatap pria yang berada di hadapannya itu dengan tajam.
"Hahahaha.. Santai bro, aku hanya ingin bersikap baik dengan mu... BBBUUUNNGGGHHHH".
Satu pukulan ia buat mendarat di wajah tampan Reyhan.
"Kamu pikir kamu siapa haaahhh... Memperlakukan wanita ku seperti itu hhhmm? Kamu pikir kamu siapa?" pria itu meninggikan suaranya dengan cara berteriak.
Lalu Reyhan tersenyum menyeringai, "Bagaimana dengan mu? Kamu pikir kamu siapa berani memukul ku bajingan".
BBBUUUNNGGGHHHH... BBBUUUNNGGGHHHH...
__ADS_1
BBBUUUNNGGGHHHH...
Reyhan melihat pria itu terkapar dia atas tubuhnya, "Jangan coba-coba berani mengusik ku kalau kamu tidak tau aku siapa" Reyhan kembali melayangkan pukulan di wajahnya sampai pria tersebut kesakitan menyentuh sudut bibirnya yang berdarah.
Namun sayangnya pria itu bukannya merasa kalah atau merasa bersalah telah menyerang Reyhan duluan, ia malah hendak membalas Reyhan dengan cara melemparkan botol bir yang ada di atas meja saat Reyhan membelakangi.
PPAARRR....
"Aakkhhh" Reyhan langsung menyentuh kepalanya, ia lalu melihat darah itu menempel di telapak tangannya membuat tatapan mata Reyhan ingin segera membunuh pria yang berada di hadapannya itu. Kemudian Reyhan mengambil sebuah pisau tajam dari meja si bartender, ia lalu mengejar pria tersebut yang malah berlari mencoba menjauh dari Reyhan yang sedang dalam kemarahan.
Namun saat pria itu berlari, tiba-tiba Paris berada disana menghalangi jalannya.
"Kamu siapa? Minggir sekarang juga" teriaknya. Tetapi Paris malah mendekatinya, ia menarik kerah baju si pria tersebut sembari membisikkan sesuatu yang membuat tubuh si pria itu bergetar tak karuan. "Lepaskan aku, aku tidak mengenal mu siapa da... Aaarrrkkkhh".
Tanpa peduli mereka sekarang berada dimana, dengan kesabaran Reyhan yang setipis tissue, ia menancapkan pisau tersebut tepat di bagian punggung belakang sebelah kanan milik si pria yang sudah membuat ia marah.
Tidak lama setelah itu, petugas keamanan disana memohon agar Reyhan berhenti dan meninggalkan tempat itu. Lalu Paris membawa Reyhan kerumah sakit, pria itu sedang menahan darah yang mengalir dari kepalanya.
Tidak ada jawaban, "Ada apa? Kenapa kamu mendatangi ku?" Reyhan malah balik bertanya.
Paris melihat ke jalanan, ia tau kalau tuannya itu sedang banyak pikiran.
"Aku ingin membicarakan mengenai kapan kita akan melakukan meeting yang kemarin tuan bicarakan. Sekalian juga tadi aku ingin minum bersama dengan tuan" jawabnya.
"Hhhmmss... Bajingan itu menganggu ketenangan ku. Cari tahu dimana keberadaanya dan tempat ia bekerja. Aku ingin memberikan pelajaran kepadanya".
"Baik tuan".
.
Setibanya mereka dirumah sakit, sang dokter langsung memberikan pertolongan kepada Reyhan. Mereka segera menjahit bekas luka tersebut dengan sangat baik hingga Reyhan tidak merasakan sakit lagi.
"Apa tuan sudah merasa baikan?" tanya Paris.
__ADS_1
"Mmmmm".
Paris kemudian melihat jam tangannya, ia melihat jam telah menunjukkan pukul 12 malam lewat 16 menit. Ia pun bertanya kembali kepada tuannya itu apakah ia mau pulang atau mau menginap dirumah sakit saja. Dengan cepat Reyhan langsung menjawab kalau ia tidak mau tinggal dirumah sakit dan memilih sebaiknya ia pulang saja.
Tanpa menolak permintaan Reyhan, Paris mengiyakan perkataannya segera membawa Reyhan meninggalkan rumah sakit.
Hingga kini mereka telah dikediaman Reyhan.
Naya yang mendengar sebuah suara mobil berhenti depan rumah, ia segera keluar melihat keduanya berdiri disana membuat ia merasa legah.
"Reyhan" Naya memanggil namannya. Ia lalu berjalan mendekati mereka melihat kepala belakang Reyhan di baluti dengan perban. "Kamu kenapa Rey? Kenapa kepala mu menggunakan itu? Apa kamu baik-baik saja?".
"Sebaiknya kamu pulang Paris. Kita bicarakan besok saja, aku ingin istirahat".
"Baik tuan, kalau begitu aku pamit dulu, nona. Selamat malam".
"Mmmmm" angguk Naya. Setelah itu ia melihat Reyhan berjalan duluan masuk ke dalam rumah, ia lalu menyusul dari belakang melihat Reyhan begitu sangat lelah. "Rey!" panggilnya. "Reyhan tunggu dulu, aku ingin bicara dengan mu sebentar saja".
Reyhan menghentikan langkahnya, ia melihat Naya dengan wajah letih tidak ingin berlama-lama melihat wanita yang berada di hadapannya itu.
"Kamu baik-baik saja Rey?".
Reyhan mendengus, "Kamu memanggil ku hanya untuk menanyakan itu saja?".
"Hhhmm? Apa? Akh, mmmm.. Aku ingin memastikan kalau kamu baik-baik saja. Kamu baik-baik saja Rey? Aku sangat mengkhawatirkan mu. Ini sudah jam 1 malam, tapi kamu baru pulang dengan keadaan seperti ini. Kamu habis berantam Rey?".
"Apa urusan mu?".
Naya pun langsung terdiam.
"Aku perduli kepada mu Rey, karna itu aku belum tidur dan menunggu mu sampai jam segini. Kenapa Rey? Apa aku salah? Apa aku salah perduli kepada mu?".
"Iya, kamu salah besar perduli kepada ku" jawab Reyhan kembali melanjutkan kedua langkah kakinya menaiki anak tangga menuju kamarnya tanpa peduli lagi dengan Naya yang masih berdiri disana.
__ADS_1