
"Sial!" umpat Loiner dalam hati. Lalu ia mengeluarkan ponselnya dari dalam jas dan langsung menghubungi seseorang, setelah itu Loiner pergi.
.
DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT....
Reyhan mendengar ponselnya berdering, ia lalu melihat orang yang baru saja menghubunginya itu adalah Rian. Lalu ia melihat mereka, setelah itu ia keluar dari dalam sana melihat Rian berada di ujung lorong.
"Apa yang terjadi?".
Rian tersenyum dan menceritakan bagaimana marahnya Loiner saat mereka tidak berhasil melakukan aksinya.
"Bagus kalau begitu" senang Reyhan menepuk bahu Rian. "Ayo, aku akan mentraktir mu makan di cafetaria. Aku rasa kamu sudah lapar".
Mendengar itu, Rian langsung tertawa. Bagaimana bisa Reyhan malah mengajaknya makan disaat seperti ini. Tapi jika dia pikir-pikir, benar juga apa kata Reyhan, dia sudah sangat lapar sekali. Lumayan kan? Apalagi dapat traktiran gratis. Jarang-jarang Reyhan mau mentraktir orang lain.
Hingga sekarang mereka sudah berada di dalam cafetaria. Reyhan lalu memesan semua hidangan yang ada disana dan menyuruh Rian memakannya sampai tak satupun yang tersisa.
"Apa kamu sudah gila?" Rian kaget begitu Reyhan menyuruhnya memakan itu semua. "Ais, bagaimana kamu saja yang memakan ini semua Rey? Kamu tenang saja! Biar aku yang mentraktir mu".
Reyhan tertawa kecil, "Tidak! Aku hanya bercanda saja. Kamu terlalu serius sekali. Cepat makan ini semua, aku akan membantu mu dan juga dia".
"Siapa?" Rian melihat ke belakang. "Paris?".
"Mmmm, kamu akan menghabiskan semua makanan ini sama dia. Duduklah" ucapnya kepada Paris langsung mendudukkan diri. "Ayo makan ini semua. Rian tidak sanggup memakannya sampai habis".
Paris tersenyum, setelah itu ia menganggukkan kepala melihat kepada Rian yang masih melotot kepadanya membuat ia bertanya ada apa ia melihatnya seperti itu.
"Kalian berdua sangat aneh. Tapi ya sudahlah, karna aku sedang lapar jadi aku akan memakan ini semua sesuai dengan perintah Reyhan".
"Bukan seperti itu" ucap Paris. "Maksud tuan Reyhan kamu boleh memakan ini semua, tapi tidak dengan menghabiskannya. Kamu bisa menikmati setiap Hidangan yang ada diatas meja ini".
"Benarkah? Kenapa aku tidak tau?".
"Sudah, kamu terlalu banyak bertanya Rian. Cepat makan sekarang juga, nanti rasanya keburu dingin".
Ketiga orang itu lalu segera menikmati hidangan tersebut dan mereka terlihat sangat asik sekali. Kemudian Loiner di ujung sana melihat kepada mereka, ia menggeram dalam hati setiap kali Reyhan menerbitkan senyuman di wajahnya.
"Sepertinya kamu sudah melupakan Yolanda. Dan sekarang kamu dengan asiknya tertawa bersama dengan mereka. Lihat saja Reyhan, kalau kamu berani mengkhianati Yolanda dan membantu Naya. Aku akan membunuhmu tanpa peduli kamu siapa" gumam Loiner.
__ADS_1
Lalu ia pergi meninggalkan mereka, ia masuk ke dalam ruangan Naya yang berada di lantai atas. Dan melihat Lidia, Nessa disana bersama dengan ibunya.
"Loiner? Sedang apa kamu disini? Bukannya tadi papa kamu ke kantor yah?" tanya ibunya.
"Iya mah. Papa menyuruh ku menjemput mama kerumah sakit karna ini sudah jam 6 sore".
"Akh begitu" istri Bagus tersenyum melihat kepada Lidia dan Nessa. "Jeng, sepertinya aku harus pulang dulu yah. Tolong jaga Naya dengan baik, aku tidak mau terjadi apa-apa dengannya".
"Iya Jeng. Malam ini Reyhan sendiri yang akan menjaganya".
"Oh begitu. Kalau gitu kami pamit dulu ya Jeng.. Nessa".
"Iya Tante hati-hati di jalan".
"Iya sayang".
Seperginya mereka keluar meninggalkan kamar Naya. Nessa juga ikutan pamit pulang pergi karna Fani pasti sudah mencari dirinya dirumah. Dan tanpa menahan Nessa lagi, Lidia langsung menganggukkan kepala membiarkan putrinya itu pergi.
.
Di dalam mobil, "Loiner, bagaimana? Mama rasa papa kamu pasti sangat marah besar kepada mu?".
Loiner terdiam.
Loiner lalu menepikan mobilnya, ia melihat ibunya mengernyitkan dahi kepadanya membuat ia langsung menunjukkan bekas luka yang tadi Bagus lakukan kepadanya.
"OMG! Kenapa bisa seperti ini sayang?" ia mencoba untuk menyentuhnya, tetapi Loiner malah menahan tangan ibunya. "Kalau sudah seperti ini, kenapa kamu tidak kerumah sakit? Kamu mau luka kamu nantinya jadi infeksi?".
"Tidak usah khawatir ma, nanti juga akan sembuh sendirinya".
"Ya Tuhan! Mama mohon Loiner, jangan keras kepala seperti ini. Kita kerumah sakit sekarang juga yah. Mama tidak mau mendengar penolakan dari mu. Cepat jalankan mobil mu lagi. Mama tidak mau tau, kita kerumah sakit sekarang juga".
"Hhhmmss".
"Terus bagaimana dengan mereka? Kenapa mereka gagal menjalankan misi ya? Apa yang sebenarnya mereka lakukan?".
"Aku juga tidak tau ma" Loiner mengeram dalam hati.
"Lalu bagaimana seterusnya?".
__ADS_1
"Aku sudah menyewa orang lain mah. Kita lihat saja malam ini apakah mereka juga sama seperti mereka".
"Terus, apa kamu sudah membayarnya?".
"Aku masih memberikan uang sogokan saja mah. Kalau mereka berhasil, aku akan memberikan uang lebih".
"Benar, kalau sampai mereka gagal juga. Akan tamat semuanya Loiner. Naya akan segara membongkar semuanya di hadapan publik bersama dengan pengacara sialan itu. Lalu bagaimana dengannya? Apa kamu juga belum berhasil menangkap pengacara Okta?".
"Mmmm".
"Ais ck.. Sialan. Sebenarnya mereka itu kerja apa sih sehingga hanya mencari satu orang saja mereka tidak ada yang beres? Dan semuanya tidak ada yang becus?".
"Aku juga tidak tau harus mengatakan apa mah. Pengacara itu benar-benar bersembunyi sangat jauh, bahkan melihat bayangan saja kami tidak bisa".
"Aaarrrkkkhh... Pokoknya mama enggak mau tau. Secepatnya kalian harus bisa menemukan pengacara sialan itu. Kalau tidak, tamat semuanya. Kedua orang itu tidak bisa bertemu, jangan terlalu santai Loiner".
"Aku tau mah. Aku juga tidak bisa tenang hanya untuk memikirkannya saja. Tolong berikan aku waktu, secepatnya aku pasti bisa menemukan dia".
"Mmmm, sekarang ayo kita kerumah sakit".
Loiner pun kembali menjalankan mobilnya.
.
Malam ini Reyhan kembali menjaga Naya. Sedangkan Lidia harus kembali pulang, karna ia sudah di jemput oleh sang suami tercinta yaitu Lukman Dirgantoro. Kemudian Kedua tersenyum, ia beberapa kali mengusap tangan kanan Naya dengan lembut sambil berkata.
"Mama pulang ya sayang. Mama harap besok pagi keadaan kamu sudah semakin membaik. Besok mama akan kemari lagi menemani mu mmmmm. Ayo pah kita pulang".
"Iya mah" angguk Lukman melihat Reyhan berdiri disebelahnya bersama dengan Paris. "Reyhan, tolong jaga menantu papa yah dengan baik. Jangan lagi terjadi kejadian yang baru saja menimpa mama kamu".
"Iya pah, aku akan menjaganya dengan baik".
"Terima kasih, kami pulang dulu".
"Iya pah".
"Selamat malam tuan" sambung Paris.
"Mmmm, kamu juga Paris tolong jaga menantu kami dengan baik".
__ADS_1
"Siap tuan".
Tidak lama setelah keduanya pergi, Reyhan menarik nafas panjang sembari melepaskan jas yang melekat dalam tubuhnya.