Aku Istri Pengganti Yang Tidak Dianggap

Aku Istri Pengganti Yang Tidak Dianggap
Bab 51


__ADS_3

DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT...


Lidia mendengar ponselnya berdering, ia lalu menyuruh Lukman untuk segera mengangkatnya. Dan begitu Lukman mengangkat ponsel tersebut, ia langsung terbelanga melihat Lidia yang sedang merias diri.


"Ada apa pah? Kenapa papa melihat mama seperti itu?".


"Mah, kita kerumah sakit sekarang juga. Menantu kita kembali kritis".


"Apa?" tidak melanjutkan makeup ya lagi, Lidia berjalan mendekati Lukman. "Pah, maksud papa apa keadaan Naya kritis lagi? Apa iya pah?".


"Papa tidak tau mah. Reyhan hanya berkata seperti itu kalau keadaan menantu kita kembali kritis".


Kemudian Lidia terdiam, ia lalu menarik pergelangan tangan Lukman agar mereka segera pergi sekarang ini juga kerumah sakit.


Hingga kini dalam perjalanan, Lidia meneteskan air mata, ia selalu berkata agar suaminya itu semakin mempercepat laju kecepatan mobil mereka.


"Ayo pah buruan".


"Iya mah sabar. Ini juga jalan sedikit macet".


"Mama enggak mau tau pah. Cepat lewati mereka semua" Lidia semakin meneteskan air mata. "Ayo buruan pah hiks.. hiks.. Mama tidak bisa tenang sebelum....


DDDDRREEETTTTT...


Akibat Lidia yang selalu memaksakan Lukman, mereka hampir saja menabrak mobil yang berada di depan sana.


"Mama baik-baik saja?" Lukman terlihat sangat khawatir.


Lidia manarik nafas, ia menyentuh dadanya yang hampir saja mengalami serangan jantung. "Maafkan mama pah. Karna mama kita hampir saja tabrakan".


Lukman mengusap air mata Lidia yang masih tersisa, "Tidak apa-apa mah. Papa mengerti apa yang sekarang mama pikirkan. Mama tunggu sebentar yah" Lukman keluar dari dalam mobil, ia lalu melihat si pengendara di depan keluar dengan kepala terbentur. "Permisi!" Lukman kaget, ternyata mereka malah menabrak.

__ADS_1


Si pengendara tersebut langsung menatap Lukman dengan tajam. "Ais, apa kamu tidak tau mengendara sehingga kamu menabrak mobil saja haaahhhh?" ia membentak Lukman.


"Saya minta maaf. Saya tidak tau kalau anda ini tiba-tiba berhenti di hadapan saya".


"Apa? Kamu tidak melihat mobil saya berhenti di depan sini begitu besarnya? Kamu sudah buta? Kamu tidak melihat ada lampu merah di ujung saja?".


"Tolong maafkan saya. Berapa pun biaya perbaikan mobil anda, saya akan membayarnya" Lukman memberikan kartu namanya. Namun langsung dibuang oleh si pengendara mobil tersebut di hadapan Lukman.


"Kamu kaya? Hhmmm.. Kamu kaya sehingga kamu berani berkata berapa pun biaya servis mobil saya kamu sanggup membayarnya?".


"Saya akan membayarnya".


Mendengar jawaban Lukman, si pria itu langsung tertawa mengejek kepadanya.


"Wah, jadi begini yah hidup orang kaya. Sudah menabrak mobil orang tapi malah berkata saya siap membayar biaya servis ya. Wah.. wah..." ia bertepuk tangan. "Kamu pikir kamu siapa haahhh?" si pria itu terlihat ingin memukul Lukman. "Kamu pikir kamu siapa haaahhh... Baj*ingan?".


Lidia kemudian keluar dari dalam mobilnya, ia lalu berkata kepada pria itu. "Jika tidak cukup dengan kata maaf dan biaya servis mobil anda. Sekarang katakan apa mu?" Lidia menatapnya tajam.


"Saya tidak butuh maaf dan juga uang kalian. Saya mau ini diselesaikan secara hukum karna kalian hampir saja membunuh ku dengan cara menabrak mobil saya".


"Hahahaha... Tidak semudah itu. Kalian pikir kalian ini siapa dengan semudah itu saya mau menerima maaf kalian tanpa kalian pikirkan apa yang terjadi kepada ku? Lihat ini" ia menunjukkan keningnya yang memerah akibat benturan setir mobil. "Kalian tidak melihat ini?".


DDDDRRRTTT.... DDDDRRRTTT...


Ponsel Lidia berdering kembali, dan orang yang menghubunginya adalah Nessa. Tanpa menunggu lama, Lidia pun langsung menjawabnya.


"Mah, mama dimana sekarang? Cepatlah kerumah sakit".


"Iya sayang, ini mama dalam perjalanan sama papa kamu. Kamu tunggu saja, kami akan segera tiba".


"Iya mah".

__ADS_1


Lidia mematikan ponselnya, ia lalu melihat pria itu dengan wajah datar. "Katakan siapa nama anda? Jika pada akhirnya anda meminta kami membawa ini ke jalur hukum. Biar pengacara kami yang menyelesaikan masalah ini. Ayo pah, kita tidak punya waktu melayani orang seperti dia".


"Apa?" si pria tersebut semakin marah saat Lidia berkata demikian. "Yah.. Kalian mau kemana.. Yah....!" ia berteriak histeris hendak mau menahan mobil Lukman, namun pada akhirnya ia tidak berhasil. "Aaiiss, lihat saja aku akan melaporkan kalian" ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi kantor polisi terdekat.


.


Sesampainya dirumah sakit, Lukman dan Lidia masuk ke dalam rumah sakit dan langsung menuju ruang rawatan Naya yang berada di lantai atas.


Ceklek!


Lidia melihat Reyhan hanya duduk terdiam dengan wajah kesedihan begitu juga dengan Paris yang baru saja membuka mata dan juga Nessa yang sudah tiba disana.


"Mah!" Nessa menangis memeluk Lidia. "Mah, Naya mah hiks.. hiks... Naya mah".


Lidia melepaskan pelukan Nessa, lalu berjalan mendekati Reyhan. "Jawab mama Rey. Apa yang terjadi Rey?".


Reyhan menutup mata sembari mengusap wajahnya kasar.


"Jawab mama Rey. Kenapa kamu hanya diam saja. Jawab mama Rey".


Reyhan masih diam, ia tidak tau harus menjawab apa kepada Lidia yang menangis mendesak dirinya.


"Aarrkkhhh mah.. Sudah mah hiks.. hiks.. Jangan seperti itu kepada Reyhan mah" Nessa menarik Lidia dengan suara tangis histeris. "Sudah mah, jangan membuat Reyhan semakin terpuruk mah".


"Tidak Ness. Mama perlu tau dari Reyhan ada apa dengan Naya. Kemarin kata dokter keadaan adik ipar kamu sudah semakin membaik. Bahkan, secepatnya dia akan membuka mata. Tapi kenapa pagi ini mama harus mendengar keadaan adik ipar kamu kritis? Jadi mama perlu tau apa yang terjadi Nessa. Mama mau tau Aarrkkhhh".


Lukman menarik Lidia kedalam pelukan. Jika seperti ini, ia tidak tau harus menyalahkan siapa baik itu Reyhan atau dokter yang bertugas merawat keadaan Naya.


"Mama tenang, Mama tarik nafas dulu dengan pelan-pelan, setelah itu mari kita tanyakan apa penyebab menantu kita bisa kembali kritis".


Sedangkan Nessa tidak tau harus mau bagaimana lagi jika Lidia tau kalau Naya sudah lumpuh sampai selama-lamanya. Dan keadaannya sekarang kritis.

__ADS_1


Tidak lama setelah itu, Lidia menarik nafas panjang. Ia melihat kearah Naya, alat-alat yang kemarin sudah di copot satu persatu, sekarang terpasang kembali dan itu membuat Lidia merasa sesak hanya melihat selang-selang tersebut.


"Ya Tuhan! Kenapa keadaan kamu harus seperti ini lagi sayang? Apa yang membuat begitu sangat tidak ingin sekali membuka mata? Apa kamu tidak sayang lagi kepada kami Nay? Apa kamu begitu sangat membenci kami sehingga kamu enggan membuka mata?".


__ADS_2