Aku Istri Pengganti Yang Tidak Dianggap

Aku Istri Pengganti Yang Tidak Dianggap
Bab 48


__ADS_3

"Wah!" Rian kesal. "Yah! Kenapa kalian malah mengusir ku? Bukankah sudah aku katakan kalau aku ini mau bertemu dengan bos kalian".


"Kami juga sudah katakan kepada anda ini. Sebelum anda membuat perjanjian dengan bos kami. Anda tidak boleh bertemu dengannya".


"Benarkah? Bagaimana jika aku sudah membuat perjanjian dengannya dengan uang yang dia inginkan?".


Mereka terdiam.


Rian lalu tertawa, "Ais, kenapa kalian berdua jadi diam seperti ini? Cepat bawa aku sekarang juga kepada bos kalian itu. Aku tidak punya banyak waktu berlama-lama disini".


"Kalau begitu kamu ikut aku" salah satunya langsung membawa Rian masuk ke dalam. Dan saat itu juga ia melihat sang bos dan anak buahnya yang lain tertawa gembira sambil mengangkat cek yang baru saja Loiner berikan kepadanya.


"Bos" si anak buah pun menghentikannya.


Kemudian sang bos pembunuh melihat kepada Rian dengan kening mengerut.


"Dia siapa?".


Rian tertawa, ia mendudukkan diri disalah satu kursi yang berada di hadapan mereka tanpa disuruh duduk oleh si bos pembunuh. Dan dengan sombongnya, Rian mengangkat salah satu kakinya berbentuk tanda x.


"Kalian terlihat begitu sangat bahagia sekali. Ada apa itu?".


Si bos pembunuh tidak menjawabnya, ia malah menatap Rian dengan tajam dan bertanya lagi siapa dia yang sudah berani masuk ke dalam ruangannya.


"Duduklah dulu, mari kita bicarakan ini dengan baik".


Si bos pembunuh tidak mendengar, ia malah terus menerus berkata sebaiknya Rian pergi dari sana karna si bos pembunuh merasa kalau Rian adalah mata-mata.


"Ck, apa kamu tidak mendengar ku?" setelah itu Rian tertawa kembali. "Hey..! Ayolah duduk dulu. Kita akan bicara dengan baik-baik. Silahkan".


Dan pada akhirnya si bos pembunuh duduk dan menatap Rian dengan sorot mata tajam.


"Berhenti melihat ku seperti itu. Disini aku ingin meminta pertolongan mu. Kamu mau uang?".


"Apa?" mereka semua kaget mendengar pertanyaan Rian. "Maksud kamu sekarang apa?".

__ADS_1


"Aku ingin kamu bekerja sama dengan ku. Bagaimana? Jika kamu mau, aku akan memberikan jumlah uang yang sangat banyak. Kamu suka uang kan? Dan juga kalian suka uang kan? Kalau kamu mau, aku akan memberikan kepada mu sejumlah uang yang kamu inginkan".


Seketika mereka tertarik dan merasa kalau Rian sepertinya tidak lah mata-mata polisi.


"Kamu siapa? Sebelum kita bekerja sama saya ingin tau kamu itu siapa? Bukankah begitu?" tanyanya kepada rekannya yang lain.


"Benar bos, kita perlu tau siapa dia ini dan apa tujuannya".


"Tujuan ku, aku ingin kalian bekerja sama dengan ku. Bagaimana?".


"Baiklah kalau itu mau mu. Kamu datang kemari berarti kamu sudah tau siapa kami yang sebenarnya tanpa harus memberitahu mu. Buka begitu?".


"Yap, benar sekali".


"Sekarang kami akan memberitahu mu jumlah uang yang kami inginkan dari mu agar kami mau bekerja sama dengan mu. Bagaimana dengan jumlah uang sebanyak 1 milyar?".


"Ais, itu jumlah uang yang sangat sedikit. Tapi baiklah, aku akan memberikan uang sebanyak 1 milyar kepada mu. Besok aku akan menemanimu lagi dan memberikan uang sebanyak itu kepada mu".


Mereka tersenyum senang, "Tapi ingat, jika kamu berani mencoba untuk menipu kami. Maka jangan salahkan kami, sampai ke ujung dunia pun kami akan mencari mu. Camkan itu!!".


Rian lalu pergi meninggalkan tempat tersebut dan langsung memberitahu Reyhan kalau ia berhasil membuat hubungan kerja sama dengan si bos pembunuh yang sudah Rian sewa.


*******************


Keluarga itu lalu duduk di sofa, sedangkan Bagus sedari tadi asik melihat terus kepada Naya yang entah apa sekarang ini Bagus pikirkan, yang pastinya seperti tebakan Reyhan kalau Bagus sedang merencanakan sesuatu.


"Mah, sebaiknya papa pulang duluan yah. Sepertinya papa harus ke kantor dulu sebentar. Nanti papa akan kemari menjemput mama".


"Iya pah, papa hati-hati di jalan yah".


"Iya ma" Bagus pun mengucapkan ia pergi dulu kepada Reyhan, Lidia dan juga Nessa langsung di anggukan oleh mereka.


.


Dan sekarang Bagus sudah berada di dalam ruangan Loiner, ia sedang duduk di sofa sembari menatap Loiner dengan tajam.

__ADS_1


"Lalu bagaimana? Papa mau malam ini juga mereka membuat Naya koma sampai selamanya".


"Aku sudah mengatakan seperti itu kepadanya pah. Dan dia juga meminta uang tambahan".


"Berapa yang dia minta?".


"1 milyar pah".


Bagus tertawa, "1 milyar? Hahahaha... Tawaran yang menarik juga dia berani meminta 1 milyar".


"Iya pah, tapi aku tidak memberinya langsung. Aku membuat kesepakatan dengannya dulu, jika ia berjanji melakukan seperti yang aku minta, maka aku akan memberikan uang satu milyar itu kepadanya".


"Terus, kamu akan memberikan uang satu milyar itu kepadanya? Kamu sangat bodoh! Kamu sangat bodoh sekali Loiner" dengan sangat marah Bagus melemparkan gelas kopi yang berada di hadapannya tepat di kepala Loiner sampai kepalanya mengeluarkan darah segar.


"Ais, kamu tau Loiner? Rasa sakit itu belum seberapa perjuangan ku memperjuangkan perusahaan ini. Tapi lihatlah apa yang kamu lakukan? Dengan bodohnya kamu malah dibodohi oleh mereka".


"Maafkan aku ayah" Loiner bersujud di bawah kaki Bagus. "Tolong percayakan ini semua kepada ku. Aku akan melakukan semuanya seperti yang ayah perintahkan. Tolong maafkan aku ayah dan berikan aku satu kesempatan lagi".


"Suatu saat nanti perusahaan ini akan turun ke tangan mu. Tapi kalau sampai sekarang kamu tidak berhasil membereskan anak itu juga, maka kamu akan kehilangan semuanya, kamu akan kehilangan semua harta yang selama ini sudah kamu bangun. Kamu mau perusahaan ini kembali ke tangan Naya?".


Loiner menatapnya, "Tidak pah, aku tidak mau perusahaan ini jatuh ke tangannya. Apapun akan aku lakukan untuk menyingkirkan wanita sialan itu".


"Benar! Lakukan segala cara untuk menyingkirkan dia dari muka bumi ini".


Kemudian Loiner merasakan darah mengalir dari keningnya, lalu Bagus bertanya apakah rasanya sakit di jawab langsung oleh Loiner rasanya tidak sakit.


Bagus tertawa, "Pergi sekarang juga, obati luka mu".


"Iya pah".


"Tunggu sebentar" Bagus menatapnya kembali. "Aku sudah katakan kepada mu jangan mau di bodohi sama orang seperti mereka. Aku mau kamu mencari orang lain yang dapat mengerjakan pekerjaan ini dengan becus karena malam ini juga aku harus mendengar kabar kalau keadaan Naya sedang dalam kritis. Urusan kantor sekarang serahkan kepada ku. Kamu mengerti?".


"Iya pah aku mengerti. Terima kasih".


"Mmmm, pergilah".

__ADS_1


Loiner pergi meninggalkan ruangan tersebut, dan sekarang ia berada di toilet pria. Ia menatap pantulan wajahnya dengan sangat marah.


__ADS_2