
Naya menghela nafas, ia melihat Reyhan masih asik dengan sebatang rokok di tangannya. Naya lalu mendatangi balkon, kemudian ia duduk sambil menatap lurus dengan tatapan kosong.
Hampir 10 menit lamanya Naya lakukan itu, ia berkata kepada Reyhan. "Rey, bisa tidak kita tinggal dirumah ini selama satu minggu saja?".
Reyhan melihatnya, ia seperti bertanya alasan apa yang membuat mereka harus tinggal dirumah ini selama satu minggu lamanya.
"Aku takut Rey! Aku takut kalau.... Kalau orang jahat itu kembali menghantui ku".
"Apa? Apa yang membuat mu takut kepada mereka? Apa kamu baru saja melakukan kesalahan?" seketika Reyhan teringat dengan perkataan Paris kemarin kalau Naya bisa saja melakukan hal jahat untuk kesenangan dirinya sendiri. Ia ingat kalau Yolanda meninggal dunia akibat dari kecelakaan yang sangat menggenaskan. "Jawab Naya, kesalahan apa yang sudah kamu lakukan sehingga mereka mencari mu?".
Reyhan terdengar membentaknya. Naya lalu di buat keheranan ada apa dengan pria itu. Kenapa ia terlihat sangat marah sekali? Apa mungkin Reyhan benar-benar khawatir atau yang lainnya.
"Rey, aku tidak memiliki kesalahan dengan mereka. Aku tidak tau apa yang membuat mereka meneror ku" jawab Naya.
Reyhan kemudian mendekat, ia menatap kedua manik mata Naya dengan tajam.
"Jangan bilang kalau kamu baru saja melakukan pembunuhan".
DDUUAARRRR....
Naya membulatkan kedua mata. Ia tidak habis pikir dengan pria yang berada di hadapannya itu. Bagaimana mungkin suaminya sendiri menebak kalau ia baru saja melakukan pembunuhan sehingga mereka mencari keberadaannya dan mengancamnya.
"Aku tidak mungkin melakukan hal sebejat itu Rey. Aku tidak pernah melakukan hal itu. Aku berani bersumpah demi Tuhan dan demi kedua mendiang orang tua ku kalau aku tidak pernah melakukan hal kotor seperti itu".
Kedua mata Naya berkaca-kaca.
Lalu Reyhan tersenyum menyeringai, "Tidak usah berlagak polos seperti itu. Kamu pikir aku tidak tau permainan wanita seperti kamu ini haahhh?".
"Rey, tolong jangan berkata seperti ini kepada ku. Aku sudah katakan kepada mu kalau aku tidak pernah melakukan hal sebejat itu kepada siapa pun. Kenapa kamu tidak bisa mempercayai ku Rey? Kenapa kamu selalu menuduh ku yang tidak-tidak? Apa segitu bencinya kamu kepada ku Rey... ?".
Reyhan mengepal tangan.
__ADS_1
"Awas saja kalau kamu ketahuan melakukan pembunuhan hingga mereka mencari mu. Maka aku sendiri yang akan membunuh mu tanpa peduli kamu siapa".
Deng!
Air mata itu tak mampu Naya bendung lagi, tatapan dan suara kasar Itu membuat ia merasa kalau Reyhan benar-benar tidak pernah perduli kepadanya dan tidak pernah mengharapkan dirinya.
"Rey! Apa yang membuat mu begitu sangat membenci ku? Kenapa kamu terlihat begitu sangat membenciku Rey? Apa karna aku menerima perjodohan ini? Apa itu yang membuat mu sampai kamu tega melakukan hal ini semua kepada ku Rey? Ayo katakan Rey. Katakan agar aku tau semuanya".
Reyhan tersenyum menyeringai kembali.
"Benar, aku membenci wanita seperti kamu. Aku membenci wanita munafik seperti kamu. Aku membenci wanita yang sudah merebut kebahagiaan saudaranya sendiri. Dan kamu tau, aku tidak ingin melihat mu berada di sekitar ku. Bahkan aku tidak tau siapa sebenarnya yang membuat istri ku meninggal dunia dan membuat aku seperti ini".
"Ma-maksud kamu Rey?".
"Benar, asal kamu tau. Cepat atau lambat, orang yang sebenarnya membunuh istri ku akan segera aku tau siapa orang itu sebenarnya".
"Ya Tuhan, apa kamu sedang menuduh aku Rey membunuh Yolanda adik aku sendiri?".
"Kalau bukan kamu siapa lagi hhhmm?".
"Aku tidak menyangka kalau kamu tega menuduh aku Rey sebagai pembunuh mendiang istri kamu hiks.. hiks.. Aku tidak menyangka kalau kamu sejahat ini kepada ku".
Reyhan terdiam, ia mengangkat wajahnya keatas langit sambil menutup mata.
"Jika memang harus seperti ini. Lebih baik kamu ceraikan aku Rey. Lebih baik aku berpisah dengan mu dari pada aku harus tinggal bersama dengan pria yang menganggap aku sebagai pembunuh mendiang istrinya".
Mendengar itu Reyhan langsung melihat kepadanya dengan mata sinis.
"Tidak, aku tidak akan menceraikan kamu sebelum semuanya terungkap. Atau kamu mau melarikan diri dari ku?".
Naya mengusap air mata, ia bangkit berdiri lalu pergi meninggalkan Reyhan tanpa menjawab pertanyaannya itu lagi. ia benar-benar sudah tidak tahan lagi mendengar perkataan Reyhan. Pria itu sangat jahat, ia menuduh Naya sebagai pembunuh mendiang istrinya tanpa ada bukti yang akurat.
__ADS_1
"Lihat saja, aku sangat yakin kalau wanita itu yang telah membunuh Yolanda ku. Secepat mungkin aku akan mengetahuinya" batin Reyhan.
_
_
1 minggu berlalu.
Setelah kejadian itu Rian dan Naya telah bertemu. Rian memperingati Naya supaya berhati-hati untuk tidak pernah pergi kemana-mana kecuali rumah dan kantor.
Sedangkan Reyhan yang sudah mengetahui nomor yang pernah menghubungi Naya, ia terlihat berpikir keras mendengar jawaban Paris kalau nomor yang telah meneror Naya adalah nomor pembunuhan bayaran. Lalu Reyhan bertanya kepada Paris bagaimana caranya ia bisa bertemu dengan mereka.
Namun Paris malah melarang Reyhan kalau sebaiknya ia tidak usah bertemu dengan mereka. Karna ia sangat yakin, kalau sampai Reyhan bertemu dengan mereka. Itu akan menimbulkan sesuatu yang tidak baik.
"Tidak Paris, aku harus bertemu dengan mereka. Ada hal penting yang ingin aku tanyakan mengenai apa alasan mereka meneror Naya. Apa menurut mu ini tidak aneh Paris?".
"Benar, jika di pikir-pikir ini sangat aneh sekali tuan. Bagaimana bisa nona Naya berurusan dengan mereka atau nona Naya memiliki musuh sehingga orang tersebut menyuruh mereka untuk membunuhnya?".
Seperti masuk diakal, Reyhan terdiam memikirkan perkataan yang baru saja Paris lontarkan. Namun hanya saja, sejak kapan Naya memiliki musuh jika itu benar karna ia tau kalau selama ini Naya hanya dirumah saja seperti yang istrinya dulu pernah ceritakan.
"Tuan! Tuan!" panggil Paris.
"Mmmm, kamu boleh pergi" ucap Reyhan.
"Apa tuan sudah berubah pikiran?".
"Aku tidak tau Paris. Nanti aku pikirkan lagi".
Paris lalu pergi meninggalkan ruangannya, dan sekarang tinggallah Reyhan seorang diri masih memikirkan hal tersebut apa yang sebenarnya. Dengan rasa penasaran, ia kemudian keluar mendatangi ruangan Rian yang berada di ujung sana.
"Reyhan!" panggil Naya. Ia melihat pria itu berjalan kepadanya. "Ada yang bisa aku bantu Rey? Rian sedang tidak diruang nya".
__ADS_1
"Kamu ikut aku" ucap Reyhan langsung memasuki ruangan Rian yang katakan pria itu tidak ada disana. "Mendekat lah".
Naya semakin mendekat, ia melihat pria itu dengan wajah tanya ada apa dengan Reyhan mengajaknya bicara seperti ini dan tidak seperti biasanya.