
Loiner terdiam, ia mencoba untuk melihat siapa orang yang baru saja memberikan uang sebanyak itu untuknya. Dengan rasa penasaran, Loiner berjalan namun langsung dihalangi oleh si bos pembunuh.
"Sebaiknya kamu tambahi saja uangnya. Saya akan memerintahkan anak buah saya yang paling profesional untuk membunuh wanita itu. Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja".
Loiner tersenyum menyeringai, "Baiklah kalau itu yang kamu mau. Aku mau kamu menjalankan tugas mu malam ini juga bagaimana? Begitu kamu selesai mengerjakan tugas mu, detik itu juga akan mentransfer ke nomor rekening mu".
"Mmmm, baiklah. Saya akan melaksanakan perintah mu".
"Bagus" setelah mengatakan itu, Loiner pergi begitu saja tanpa berniat melihat kepada pria yang duduk di salah satu kursi si pembunuh bayaran. Kemudian Loiner melihat anak buah si pembunuh menunduk kepadanya, "Jika kali ini bos kalian itu tidak berhasil menjalankan tugasnya. Maka jangan salahkan saya jika saya yang akan membunuh kalian semua dan membakar tempat ini".
Lalu salah satu dari rekan si bos pembunuh bertanya, "Dia sangat menakutkan sekali".
"Lebih menakutkan dari bos kita".
"Terus, apa mereka tidak berhasil?".
"Tidak tau, mungkin mereka tidak berhasil sehingga ia datang kemari menemui bos kita".
"Sepertinya".
.
Reyhan, begitu ia mendapatkan informasi dari Nessa kalau keadaan Naya sekarang ini sudah mulai membaik. Ia pun segera berlari masuk ke dalam ruangan Naya melihat anak dan ibu itu tersenyum sambil berpelukan.
"Rey! Kamu sudah datang sayang?" Lidia menggenggam jemari tangannya.
"Apa yang terjadi mah?".
"Naya sayang, keadaan Naya sudah mulai membaik. Mama sangat bahagia sekali, mama sangat bahagia sekali sayang".
"Syukurlah" Reyhan berjalan mendekati bed tempat tidur Naya. Ia melihat satu persatu selang alat medis yang menempel di tubuh Naya sudah mulai lepas.
Tidak lama setelah itu, paman dan juga bibi Naya tiba disana. Lidia langsung menyambut kedatangan mereka dengan tawa bahagia.
"Jeng, aku sangat bahagia sekali. Akhirnya Naya akan segera pulih".
__ADS_1
"Iya jeng, aku sangat bahagia sekali mendengar kabar ini kalau anak kita sudah mulai membaik. Iya kan pah?".
"Iya ma. Syukur kepada Tuhan".
Sedangkan Reyhan yang melihat sepasang suami istri itu hanya bisa memberikan senyuman tipis telah jauh-jauh datang kesana untuk melihat keadaan Naya yang sudah mulai membaik. Tapi ia harus tetap berhati-hati, ia tidak boleh lalai kepada sepasang suami istri itu karna ia yakin kapan pun mereka mau mereka bisa saja menyakiti Naya.
Kemudian bibi Naya menggenggam jemari tangannya, ia lalu mengeluarkan air mata dan tak henti-hentinya mengusap tangan Naya dengan lembut.
"Terima kasih sayang, bibi sangat berterima kasih sekali kepada Tuhan akhirnya kamu akan segera pulih. Dan bibi juga tidak akan berhenti mengatakan terima kasih kepada mu karna sudah berjuang melawan ini semua. Terima kasih sayang".
"Iya jeng, kata dokter juga kita harus sering menghiburnya agar Naya semakin cepat pulih".
"Apa? Sial!" umpat istri Bagus dalam hati. "Tidak, Naya tidak boleh siuman. Aku sangat yakin kalau anak sialan ini membuka mata, bisa-bisanya dia akan membongkar semuanya kepada publik kalau dialah pewaris Pelita group dan semuanya akan kembali kepadanya. Tidak, aku tidak mau itu semua terjadi, aku tidak mau kehilangan apa yang sudah selama ini kami bangun. Apapun yang terjadi kamu tidak boleh membuka mata Naya, kamu tidak boleh membuka Mata. Dan jika pada akhirnya kamu bersikeras, bibi mu ini sendiri yang akan membunuhmu Naya Tarian".
"Mah, sudah mah. Jangan sedih seperti itu lagi di hadapan Naya. Mama tidak dengar apa kata besan kita tadi? Naya itu harus di beri penghiburan agar keponakan kita segera membuka mata".
"Iya pah. Mama tau, tapi mama sedih seperti ini karna mama merasa sangat bahagia sekali akhirnya keponakan kita akan segera pulih. Menurut papa, siapa sih yang enggak menangis seperti mama? Bukankah begitu jeng Lidia?".
"Iya jeng, aku juga melakukan apa yang baru saja jeng lakukan" jawab Lidia membuat mereka tertawa gembira.
.
Sekarang Reyhan hanya fokus menjaga Naya di dalam sana meskipun Lidia berkata kalau biar dia saja yang menjaga Naya dan ia berangkat saja ke kantor. Tetapi Reyhan tidak mau, ia memilih tetap disana saja menjaga Naya bersama dengannya.
DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT....
Rian menghubungi ponselnya, "Iya! Bagaimana?".
Rian tersenyum puas, "Aku sudah melakukan seperti yang kemarin kamu perintahkan kepada ku".
Flashback!
Saat Loiner datang berkunjung ke rumah sakit, Rian juga berada disana dan ia merasa curiga kalau Loiner kapan saja bisa menyakiti Naya. Tidak lama setelah itu, Loiner keluar. Lalu Rian mengikuti dari belakang tanpa sepengetahuannya hingga mobil sport milik Loiner berhenti disebuah gedung ruko.
Dengan rasa penasaran, Rian pun ikutan menghentikan mobilnya dan melihat Loiner masuk ke dalam sana yang tidak ia tau sedang apa anak itu berada disana.
__ADS_1
Namun Rian tidak keluar dari dalam mobil, ia masih berada di dalam mobil menunggu Loiner keluar dari dalam ruko tersebut.
Dan sambil menunggu, Rian mengambil gambar ruko dan mengirimnya kepada Reyhan dengan caption, "Kamu tau tempat ini?".
Ting!
Reyhan langsung membukanya, ia melihat ruko tersebut terlihat sedikit familiar dan pastinya ia seperti baru kemarin melewati tempat itu membuat ia langsung bertanya kepada Paris apakah dia juga tau tempat itu.
"Siapa yang mengirimnya tuan?".
"Rian, dia baru saja mengirim gambar ini kepada ku".
Paris terdiam sejenak, "Mmmm, kalau tidak salah tempat ini... Tempat ini" Paris membulatkan mata.
"Ada apa Paris? Kamu tau sesuatu?".
"Tempat ini adalah tempat pembunuhan bayaran yang sampai selama ini tidak di ketahui polisi dan hanya mereka saja... Dan hanya".
"Jadi mereka pembunuh bayaran yang akan Loiner sewa untuk membunuh Naya?".
"Bisa saja tuan seperti itu".
Reyhan mengeram dalam hati mengepal kedua tangannya, lalu mengirim pesan kembali kepada Rian.
"Masuklah ke dalam, lakukan apa yang seperti Loiner lakukan".
Rian yang membacanya sedikit merasa bingung, namun pada akhirnya ia mengerti maksud dan tujuan pesan tersebut.
"Baiklah, mari kita mulai Loiner".
Tidak lama setelah itu Loiner keluar, Rian pun segera bersembunyi di dalam mobil. Lalu melihat mobil Loiner menjauh pergi membuat Rian segera keluar dari mobil masuk ke dalam. Tetapi anak buah si bos pembunuh malah menghalangi jalan Rian dan bertanya siapa dia? Dan apa yang mau Rian lakukan.
"Saya ingin menemui bos kalian? Aku rasa kalian ini adalah anak buahnya".
Keduanya langsung saling tatap-tatapan, "Kami tidak tau siapa anda ini. Sebaiknya anda ini pergi saja tinggalkan tempat kami".
__ADS_1