
Naya keluar dari dalam kamar mandi dengan pakaian yang Paris berikan kepadanya. Setelah itu ia kembali ke meja kerjanya, ia melihat di lantai tersebut tak satu pun karyawan berada disana membuat ia heran.
"Loh, kemana mereka semua? Kenapa tempat ini begitu sangat sepi sekali?" Naya penasaran, ia mengetuk pintu ruangan Rian tidak ada jawaban dari dalam. Dengan rasa semakin penasaran, Naya pun mendorong pintu tersebut hingga terbuka langsung mencari keberadaan Rian dengan memanggilnya berulang kali.
"Rian! Rian! Kamu dimana?".
Lagi-lagi tidak ada jawaban.
"Aneh! Kenapa tak satu orang pun ada di lantai ruangan ini?".
Merasa semakin penasaran kembali, Naya keluar dari dalam ruangan Rian menuju ruangan Reyhan. Disana ia melihat sekretaris wanita Reyhan, ia lalu bertanya apakah Reyhan ada di dalam ruangannya atau tidak langsung di jawab sekretaris Reyhan kalau ia ada di dalam. Namun sebelum itu, ia bertanya ada keperluan apa Naya menemui Reyhan.
Naya menjawab ada hal penting yang ingin ia bicarakan dengan Presdir perusahaan tersebut.
"Baiklah, kalau begitu saya akan mengulangi beliau dul...
"Ekh jangan. Kalau kamu menghubungi dia, aku yakin dia tidak akan mengizinkan aku masuk ke dalam ruangannya".
Sekretaris Reyhan melihatnya dengan bingung sembari bertanya dalam hati ada apa dengan wanita yang berada di hadapannya itu.
"Aneh!".
"Hahahaha" Naya tertawa. Ia yakin kalau sekretaris Reyhan menganggap dia aneh. "Maaf, aku bukan bermaksud menertawai kamu, tapi ini mengenai masalah penting".
"Maaf mbak, saya tidak bisa sembarang memasukkan orang ke dalam ruangan tuan Reyhan sebelum beliau itu sendiri yang mengizinkan tamu itu masuk ke dalam. Saya rasa mbak juga sekretaris di perusahaan ini".
"Iya, saya sekretarisnya pak Rian".
"Mmmmm, tapi saya bilang maaf sekali lagi, saya tidak bisa memasukkan sembarangan orang tanpa seizin beliau".
"Baiklah kalau begitu. Tolong kamu jangan beritahu beliau kalian saya kemari".
Naya lalu pergi dari sana, ia kembali ke meja kerjanya masih melihat tempat itu tidak ada satu orang pun ia temukan. Kemudian ia menghubungi nomor Rian, tetapi nomornya malah berada di luar jangkauan.
"Ck, kemana sih dia pergi? Kenapa dia tidak memberitahu ku?".
Naya mendudukkan diri, ia menyalakan komputer itu kembali masih melihat pantai yang tadi ia buka di layar monitor.
"Rasanya aku ingin kesana" Naya tersenyum tipis. "Tapi kapan waktu yang tepat aku kesana? Bagaimana kalau weekend ini?".
__ADS_1
.
Sore harinya Naya kembali pulang tanpa mendapatkan tumpangan dari Rian yang sampai sekarang ia tidak tau dimana keberadaan pria itu.
Ia kemudian berjalan ke halte bus, namun saat ia hendak mendudukkan diri. Tiba-tiba ia melihat beberapa pria berjas hitam yang tidak ia kenal terlihat sedang memantau dirinya. Merasa ada yang tidak beres, Naya mengeluarkan ponselnya dari dalam tas hendak menghubungi Rian. Tetapi bus yang akan membawanya pulang telah berhenti di hadapannya, ia pun langsung masuk ke dalam.
"Ya Tuhan. Kenapa jadi seperti ini?" batin Naya.
Dan selama perjalanan ia hanya menutup mata, rasa takut yang ia rasakan saat ini seperti sedang menghantuinya. Apalagi ia mengingat kemarahan yang kemarin ia lihat di wajah sang paman dan Loiner..
"Akh, ck".
Hingga kini ia telah tiba, ia melihat pria yang tadi Naya lihat tidak berada disana lagi. Melihat itu, ia pun langsung berlari menuju Mension Reyhan. Setelah itu ia mendudukkan diri di sofa sambil menghela nafas legah.
"Hhhmmss..." kemudian Naya mengeluarkan ponselnya, ia kembali menghubungi nomor ponsel Rian. Tetapi masih sama, ponsel Rian masih berada diluar jangkauan. "Ada apa Rian? Kenapa ponsel mu tidak aktif sih? Kamu membuat ku khawatir. Apa sesuatu terjadi kepada mu?".
Lama memikirkan itu, Naya pun semakin merasa kalau sesuatu terjadi kepadanya membuat ia semakin khawatir kalau sampai Rian tertangkap oleh orang suruhan Loiner.
"Pah.. Mah.. Aku mohon, tolong lindungi Rian bersama dengan pengacara Okta. Aku tidak mau sesuatu terjadi kepada mereka. Kalau sampai itu terjadi, lalu bagaimana dengan ku? Apa yang akan terjadi kepada ku Pah?".
Naya meneteskan air mata. Ia melihat samping kiri kanannya bagaimana jika salah satu orang suruhan Loiner berada disana? Ia sangat ketakutan.
DDDRREETTTT.... DDDRREETTTT....
Naya mendengar ponselnya berdering, ia lalu mengangkat ponselnya melihat orang yang baru saja menghubungi ia bukanlah Rian, melainkan nomor baru yang tidak ia kenal.
"Astaga! Siapa orang ini sekarang? Kenapa tangan ku jadi bergetar? Apa mungkin ini pengacara Okta?" dengan rasa penasaran, akhirnya Naya menggeser tombol hijau menempelkan di pipi kanannya. "Siapa?".
Suara tawa yang menakutkan terdengar di telinganya. "Hahahaha.. Naya Tarian. Dimana kamu sekarang?".
BBBRRRAAKKK....
Tanpa menjawab, Naya melemparkan ponselnya diatas lantai dengan tubuh bergetar tanpa ia sadari dari kejauhan sana Reyhan melihatnya dengan kening mengerut.
"Aaarrrkkkhh... Aaarrrkkkhh... Aaarrrkkkhh... Jangan menganggu ku! Apapun yang terjadi, kalian tidak akan bisa.....
DDDDRRRTTT.... DDDDRRRTTT....
Ponselnya kembali berdering membuat ia lagi-lagi semakin ketakutan.
__ADS_1
Reyhan lalu berjalan mendekat, ia melihat wanita itu menunduk ketakutan.
"Apa yang sedang kamu lakukan?".
Mendengar suara itu, Naya mengangkat wajahnya. "Reyhan?" ia lalu berlari ke dalam pelukan Reyhan.
"Aku sangat takut Rey. Aku sangat sangat takut hiks.. hiks...".
Reyhan lalu melepaskan pelukan Naya, ia melihat wanita itu bercucuran air mata.
"A-aku sangat takut Rey. Aku sangat takut".
"Ada apa?" tanyanya.
Suara Reyhan terdengar sedikit lembut.
"I-itu Rey. Mereka menghubungi aku, dia tertawa sambil menyebut nama ku aaarrrkkkhh hiks.. hiks.. Aku sangat takut Rey...
DDDRREETTTT... DDDRREETTTT...
"Aaarrrkkkhh...!!" Naya kembali menjerit ketakutan saat ponsel itu berdering lagi. Dengan rasa penasaran, Reyhan mengambil ponsel tersebut menggeser tombol hijau.
"Kamu siapa?" tanya Reyhan. Namun tidak ada jawaban, setelah itu ponsel Naya mati. Kemudian Reyhan melihat Naya mengigit jemarinya, ia melihat wanita itu benar-benar sangat ketakutan sekali.
"Bagaimana?" tanya Naya.
"Tidak ada apa-apa. Kamu baik-baik saja?".
"Tidak, aku tidak baik-baik saja Rey. Aku sangat ketakutan sekali. Pria yang baru saja berbicara itu, ia menakut-nakuti aku Rey. Atau mungkin, dia mau membunuh ku Rey? Aarrkkhhh.. hiks.. hiks.. Pah.. Tolong aku".
Reyhan lalu menarik nafas panjang, ia mendudukkan diri melihat Naya masih berdiri di hadapannya dengan air mata itu.
"Duduklah dulu, katakan apa yang terjadi".
Naya mendudukkan diri, ia melihat Reyhan menunggu jawaban dari pertanyaannya.
"A-aku tidak tau siapa mereka Rey. Aku benar-benar tidak tau. Itu semua terjadi saat aku keluar dari kantor, aku melihat beberapa pria berjas hitam berada disekitar ku dan sepertinya mereka sedang mengawasi ku".
"Terus, apa hubungannya mereka mengawasi mu?".
__ADS_1
Terdiam.