
Rian menggeleng, lalu menjawab kalau ia hanya heran saja kepadanya yang sedari tadi menepuk-nepuk kedua pipinya seperti sedang banyak masalah.
"Kamu baik-baik saja? Akh iya, semalam kamu menghubungi ku. Ada apa? Apa Reyhan bertingkah sesuatu?".
"Ck" Naya berdecak kesal melihat kepadanya. "Kalian berdua semalam habis minum ya? Kenapa? Kenapa harus sampai separah itu? Kamu tidak takut kalau sesuatu terjadi kepada mu pada saat sedang mengemudi?".
Melihat kekhawatiran di raut wajah Naya, Rian yang mendengarnya tersenyum senang berkata kalau ia tidak usah khawatir. Karna itu sudah biasa ia lakukan, dan juga ia tau kalau saat sedang mengemudi ia tidak pernah ugal-ugalan membawa kendaraannya.
"Yah...!! Apa kamu tidak mendengar ku?".
Suara Naya meninggi dan itu membuat Rian semakin melebarkan senyuman di wajahnya.
"Rian! Kamu benar-benar ingin mati?".
"Hahahaha... Kalau aku mati ditangan mu aku rasa itu tidak apa-apa Nay" jawab Rian membuat Naya semakin kesal mendengar jawabannya yang tidak masuk di akal.
"Ais, kamu benar-benar sangat menyebalkan sekali Rian. Sudah sana pergi, aku tidak ingin melihat mu disitu berlama-lama. Aku ingin kembali bekerja, tolong jangan menganggu ku".
"Tapi aku ingin mengajak mu minum kopi Nay. Kamu mau ikut?".
"Tidak, kamu pergi saja sendiri" Naya fokus dengan layar monitor komputer ya. "Pergilah, jangan hanya berdiri disitu saja pak Rian yang terhormat. Tolong tinggalkan ak...
"Ooo.. Reyhan".
Mendengar nama tersebut, Naya langsung menghentikan pekerjaannya membuat Rian tertawa mengejek melihat wajah Naya yang terlihat begitu sangat serius, "Hahahhaha... Yah! ternyata kamu sangat...
"Aiss.. Hentikan! Sebaiknya kamu pergi saja. Sudah berapa kali aku katakan kepada mu?".
Naya mencoba untuk melemparkan alat tulis yang berada diatas mejanya kepada Rian, namun saat ia hendak melakukan hal tersebut, orang yang tadi Rian sebutkan benar-benar muncul di ujung sana membuat Naya menghentikan niatnya sambil berkata dalam hati.
"Astaga! Bagaimana bisa dia benar-benar datang kemari? OMG! Aku sangat malu sekali. Apakah dia melihat kami tadi?".
Sedangkan Rian yang ikutan melihat Reyhan berada disana, ia kembali tertawa memberitahu kalau Naya mencarinya. Mendengar itu, Naya langsung meneriaki nama Rian dengan wajah marah.
"Hahahaha.. Kenapa Nay? Aku mengatakan yang sebenarnya kan? Hahahhaha".
Reyhan lalu melihat Naya, dan Naya yang sedang di lihat seperti itu, ia merasa kalau Reyhan sedang marah kepadanya dan ia tidak tau alasannya apa.
"Hahahhaha.. Ada apa Rey?" Naya mencoba untuk bertanya yang masih di tatap Reyhan dengan raut wajah kesal. "Akh, sepertinya kalian berdua ingin membicarakan sesuatu yang penting. Apa aku perlu membuatkan kopi?".
__ADS_1
"Tidak tau, ada apa Reyhan?" tanya Rian.
Reyhan kemudian melihat kepada Rian, "Aku ingin bicara dengan mu".
"Sepertinya sangat penting sekali. Ayo" Rian membawanya masuk ke dalam ruangannya.
Lalu Naya menghela nafas legah, ia tiba-tiba merasa sedang terselamatkan dari ancaman harimau liar.
"Oh, jadi ini dia wanita yang sudah berani merebut semua waktu pak Rian hingga pak Rian tidak pernah lagi bermain dengan kita?" Mela datang menghampiri Naya bersama dengan temannya melihat kepadanya dengan sinis. "Wah, beruntung sekali kamu yah?".
"Kenapa? Apa kalian tidak punya pekerjaan lagi sehingga kalian datang kemari hanya untuk menganggu waktu ku? Pergilah, aku sangat sibu... Aaakkhhh".
Naya menjerit kesakitan, kedua wanita itu mendorong tubuhnya di balik tembok.
"Apa yang kalian lakukan?" Naya tidak terima.
Namun mereka malah tertawa, "Menurut mu apa yang kami lakukan hhhmmm?".
"Lepaskan!".
"Tidak! Kami tidak akan melepaskan mu sebelum kamu berjanji kepada kami kalau kamu tidak akan kegatalan lagi dekat-dekat dengan pak Rian".
"Tidak akan sebelum kamu berjanji kepada kami berdua".
"Aku bilang lepaskan! Kalau tidak aku akan memberitahu kepada pak Rian kalau kalian sudah berani perbuat seperti ini kepada ku".
"Haaahh... Hahahaha... Dan kami tidak perduli. Kamu pikir pak Rian akan mempercayai mu? Tidak! pak Rian tidak akan mempercayai mu. Dasar wanita gatel".
Mereka berdua melepaskan Naya, kemudian tertawa kembali pergi meninggalkan Naya yang masih kesakitan sambil memperbaiki pakaiannya.
"Dasar wanita aneh! Bagaimana bisa mereka berkata seperti itu kepada ku? Apa? Melarang ku dekat-dekat dengan pak Rian? Mereka pikir mereka siapa?".
Tidak lama setelah itu Reyhan keluar dari dalam ruangan Rian. Ia lalu melihat Naya seperti sedang kesakitan mencoba untuk tersenyum kepadanya.
"Hehehehe.. Rey! Kamu sudah keluar?".
"Ada apa?".
"Hhhmmm? Akh hehehehe... Tidak ada apa-apa Rey. Kamu mau pergi? Maaf, tadi aku tidak jadi membawa kopinya ke dalam".
__ADS_1
Reyhan semakin mendekat, ia melihat kedua lengan Naya menahan sakit di bagian sana. Lalu ia memegangnya, dan saat itu juga Naya menjerit kesakitan agar Reyhan melepaskannya.
"Ada apa dengan lengan mu?".
"Tidak apa-apa Rey. Tadi aku hanya terbentur saja saat memasuki kamar mandi".
Mendengarkan jawaban Naya. Reyhan merasakan kalau Naya sedang berbohong kepadanya dan itu sangat jelas ia tau.
"Jangan berbohong kepada ku".
"Hey... Aku mengatakan yang sebenarnya Rey! Untuk apa juga aku harus berbohong kepada mu? Sebaiknya kamu pergi saja, aku rasa pekerjaan mu juga sedang banyak".
Ceklek!
Rian melihat keduanya, "Ada apa? Kenapa kamu belum pergi Rey? Kamu bilang 15 menit lagi kamu ada meeting".
Tanpa menjawab Rian, "Kamu ikut aku" ucapnya membawa Naya membuat Rian heran ada apa dengan keduanya. Tetapi ia tidak bertanya lagi, ia pun membiarkan mereka pergi.
Hingga sekarang Reyhan dan Naya berada di dalam ruangannya. Ia lalu mengeluarkan P3K dari dalam lemari penyimpanan menyuruh Naya duduk diatas sofa.
"Apa yang sedang kamu lakukan Rey?".
Naya melihat Reyhan membawa sebuah kotak, dan kotak itu berisikan obat-obatan di dalamnya.
"Lepaskan pakaian mu!".
"Apa?" Naya kaget segera menutupi tubuhnya dengan tangan. "A-apa yang mau kamu lakukan Rey? Kita sedang di kantor. Tolong jangan lukakan itu Rey. Aku mohon tolong jangan lakukan di kant... Aaakkhhh".
Dengan kesal Reyhan langsung menyentil kening Naya membuat ia kembali kesekian.
"Otak kamu jangan terlalu sering berpikir kotor!".
Naya membuka mata, ia melihat Reyhan mendengus kesal kepadanya.
"Benarkah? Aku pikir kamu akan melakukannya disini. Terus, kenapa kamu menyuruh ku membuka pakaian ku? Bagaimana jika seseorang melihatnya? Mereka pasti... Aaakkhhh".
Reyhan kembali menyentil kening Naya, tapi kali ini dengan wajah datar.
"Rey, itu sangat sakit! Kamu kasar sekali kepada ku" dengan wajah sedih Naya mengusapnya lagi. "Maaf, aku hanya tidak ingin orang lain melihat ku dengan tubuh telanjang".
__ADS_1
"Wanita bodoh!" ucap Reyhan dalam hati.