
"Jawab mama Nay. Kenapa kamu tidak mau membuka mata lagi sayang hiks..? Tolong jawab mama Nay aaarrrkkkhh".
Nessa menarik Lidia dari sana, ia membawa ibunya duduk di kursi dengan nafas sesak sambil berkata. "Apa yang akan terjadi kepada adik ipar kamu sayang?".
Ceklek!
Sang dokter masuk ke dalam, ia melihat Lidia menangis histeris begitu juga dengan yang lainnya ikutan sedih.
"Keluarga sudah disini?" tanyanya melihat Lukman.
"Belum dok, bibi dan pamannya sedang menuju kemari. Lalu bagaimana keadaan menantu kami dok? Apa yang terjadi kepadanya?".
Sang dokter manarik nafas, ia melihat Reyhan hanya bisa diam saja tanpa mengeluarkan sepatah dua kata.
"Apa tidak sebaiknya kita menunggu paman dan bibi pasien? Saya rasa jauh lebih baik seperti itu tuan".
Ceklek!
"Kami disini dok" jawabnya istri Bagus membuka pintu langsung menangis histeris berlari kepada Naya. "Aarrkkhhh... Naya hiks.. hiks.. Apa yang terjadi sayang hiks.. hiks.. Kenapa jadi seperti ini sayang? Kemarin kami mendengar dari dokter kalau kamu sudah baik-baik saja dan akan segera siuman. Tapi apa yang terjadi? Keadaan kamu malah semakin tambah parah sayang aarrkkhhh".
Sang dokter lalu berkata kepada suster untuk menenangkan istri Bagus karna ia harus segera memberitahu informasi tersebut kepada semua anggota keluarga. Setelah itu mereka semua melihat kepadanya, ia pun segera memberitahu kalau keadaan Naya sekarang ini tidak sedang baik-baik saja.
"Maksud dokter?" tanya Bagus pura-pura begitu sangat marah mendengar apa yang baru saja dokter ucapkan.
"Maafkan kami tuan, pasien mengalami otak lumpuh sampai selamanya".
"Apa?" mereka yang berada diruang sana terkejut kecuali Bagus dan istrinya yang pura-pura. "Dokter! Maksud dokter keponakan saya mengalami otak lumpuh sampai selama-lamanya?".
"Iya, pasien mengalami otak lumpuh sampai selamanya. Dan keadaan pasien semakin kritis".
__ADS_1
"Astaga ya Tuhan!" istri Bagus menjatuhkan tubuhnya di bawah lantai. "Ya Tuhan! Sekarang apa yang akan kita lakukan kepada keponakan kita pah? Papa dengar kan kalau keponakan kita sudah lumpuh sampai selama-lamanya?".
"Iya mah papa dengar. Tapi apa yang harus kita lakukan? Tidak ada yang bisa kita lakukan Mah. Tidak ada yang bisa kita lakukan disaat seperti ini selain mendoakan keadaan keponakan kita baik-baik saja".
Tetapi Lidia yang tidak terima kalau Naya lumpuh sampai selamanya, ia lalu bangkit berdiri bertanya kepada sang dokter. "Dokter, saya yakin masih ada harapan kan untuk menantu saya sembuh? Kalau kami membawanya pergi mencari tempat perobatan yang lebih bagus, menantu kami tidak akan mengalami otak lumpuh lagi kan dok?".
Sang dokter hanya bisa diam.
"Ayo dok jawab saya dokter. Saya mohon katakan iya kalau menantu kami masih bisa sembuh kembali seperti semula. Ayolah dok, kasihan menantu kami hiks.. hiks..".
"Maafkan kami nyonya. Kami tidak bisa mengatakan itu kecuali mukjizat Tuhan yang bekerja. Kalau begitu kami permisi dulu".
"Ya Tuhan" Lidia dan istri Bagus kembali menjerit menangis saling berpelukan. "Jeng, sekarang apa yang harus kita lakukan?" tanya Lidia. "Apa yang harus kita lakukan jeng? Kata dokter Naya sudah lumpuh total. Tapi aku yakin dokter itu pasti berbohong. Iya kan jeng, dokter itu pasti berbohong?".
Istri Bagus mengangguk, "Iya jeng, aku juga berpikir seperti jeng Lidia. Dokter itu pasti berbohong. Tidak mungkin Naya lumpuh total tanpa ada sebabnya".
"Iya jeng".
"Aku tidak bisa menyalakan kamu Paris. Ini semua salah ku. Jadi berhenti meminta maaf seperti itu kepada ku. Sekarang aku mau bertanya, apa kamu masih mengingat wajah mereka?".
"Mereka menutupi wajah tuan, tapi aku masih bisa mengenali wajah mereka berdua".
"Bagus. Sekarang cari tahu dimana keberadaan mereka. Apapun yang terjadi kamu harus bisa menemukan mereka. Lakukan segala cara".
"Baik tuan, aku akan segera menemukan mereka berdua. Sekarang aku pergi dulu tuan".
"Mmmm" angguk Reyhan.
Lalu ia mendengar ponselnya berdering, dan panggilan itu berasal dari Rian langsung di jawab olehnya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi Reyhan? Kenapa pesan mu berkata kalau keadaan Naya semakin buruk bahkan Naya mengalami otak lumpuh total? Kamu tidak sedang bercanda kan Reyhan? Kamu tidak sedang bercanda?".
"Mmmm, aku tidak sedang bercanda. Aku mengatakan yang sebenarnya".
"Apa? Jadi kamu benar-benar.....
"Aku sudah mengatakan kepada mu ini yang sebenarnya".
"Baji*Ngan!" umpat Rian dalam hati. Setelah itu ia bergegas berangkat menuju rumah sakit sampai ia tiba disana. Dan di depan loby, ia lalu melihat Reyhan menunggu, dengan sangat marah tanpa aba-aba ia pun melayangkan beberapa pukulan tepat di wajah Reyhan sehingga pengunjung yang lain melihat mereka dibuat heran.
"Sshhiiieettt.. Katakan kepada ku Rey. Ini semua tidak benar kan? Ini semua tidak benar?".
Kemudian dari kejauhan sana Loiner melihat keduanya, ia melihat kemarahan yang begitu sangat besar di wajah Rian. Tetapi ia tidak dapat mendengar apa yang keduanya sedang bicarakan. Ia hanya bisa melihat Rian melayangkan beberapa pukulan di wajah Reyhan.
"Apa kamu pikir dengan cara kamu memukul ku seperti ini Naya akan baik-baik saja?" ucap Reyhan menahan tangan Rian. "Kamu pikir kamu siapa berani menyentuh wajah ku haahhh?" Reyhan pun membalas apa yang Rian lakukan kepadanya. "Lalu bagaimana dengan mu? Apa kamu sudah benar-benar menjalankan tugas mu? Apa kamu sudah benar menjalankan tugas mu?".
Rian terdiam, ia menundukkan kepala mengusap wajahnya sampai berulang kali membuat ia merasa hancur.
"Aarrkkhhh... Sekarang apa yang harus aku lakukan? Semuanya sudah hancur. Semuanya sudah hancur" Rian menjatuhkan tubuhnya diatas lantai langsung didatangi oleh si penjaga keamanan sambil bertanya apa yang sedang Rian lakukan disana dengan cara terbaring. "Hahahaha... Kalian tidak tau apa yang sedang aku lakukan? Apa kalian sudah buta? Kalian tidak melihat ku... Aarrkkhhh" Reyhan menarik Rian sampai ia terbangun dari atas lantai sana.
Tetapi saat itu juga Reyhan melihat Loiner berdiri di hadapannya membuat kedua orang itu menghentikan langkah kaki mereka.
"Hahahaha... Akhirnya kamu menunjukkan dirimu juga baji*Ngan" Rian hampir saja ingin melayangkan pukulan di wajah Loiner. Hanya saja Reyhan menahan dan membawanya pergi begitu saja meninggalkan Loiner membuat ia tersenyum menyeringai.
"Dasar manusia gila" ucapnya dalam hati.
Dan sekarang keduanya berada di taman, Reyhan menatap tajam Rian yang sama sekali tidak di gubris oleh Rian.
"Semua sudah tamat" Rian tertawa. "Tidak ada gunanya lagi aku tinggal di Indonesia. Lebih baik aku kembali ke Amerika".
__ADS_1
"Kamu yakin akan pergi meninggalkan semuanya begitu saja?".
"Benar!".