
Raina benar-benar bersemangat, karena dia sudah menguasai beberapa masakan India.
tak hanya itu dia juga membuat camilan yang akan di sajikan saat tamu datang.
tentu saja dia membuat beberapa camilan yang menurutnya akan cocok untuk semua orang.
"nyonya, ini sudah sangat banyak, apa kita perlu membuat yang lain lagi?" tanya bibi Ami.
"sepertinya cukup, nanti kalau memang kurang bibi bisa hangatkan masakan yang aku simpan di kulkas, karena aku juga tak tau berapa tamu yang akan datang," kata Raina.
"beres nyonya, selama ada kami pasti semua akan beres," jawab mereka semua.
Kinjal sampai di sebuah sekolah yang akan menjadi tempatnya melakukan bakti sosial.
di sekolah itu, memang sudah berstandar internasional, itulah kenapa murid harus bisa berbahasa Inggris dengan baik.
tak sengaja Salwa menabrak Kinjal, "maaf saya tak mrligat anda," kata Salwa.
"tak masalah, lain kali lebih berhati-hati," kata Kinjal yang mengenali wanita itu.
dia pun nampak tak suka melihat Salwa, tapi wanita itu tak ambil pusing dia langsung masuk kelas.
tiba-tiba semua murid mulai berteriak senang, ternyata hari itu adalah hasil pengumuman ulangan.
"kenapa murid di kelas itu begitu berisik?" tanya Kinjal
"itu biasa, Miss Salwa yang mengajar mereka dengan semangat, bahkan guru-guru di sini juga mulai mengikuti cara mengajar Miss Salwa, karena terbukti itu meningkatkan kemampuan anak untuk memahami materi yang di ajarkan," kata kepala sekolah
"apa dia sepintar itu?" ejek Kinjal yang merasa tak suka karena melihat kedekatan antara wanita itu dengan Rohan.
"tentu, dia menguasai empat bahasa, itu sangat bagus dan lagi dia lulusan sarjana bisnis internasional, itu membantu sekolah makin maju juga," kata kepala sekolah.
Kinjal tak menyangka wanita itu begitu pintar dalam akademis, bahkan dia tak ada seujung kuku di bandingkan salwa.
pasalnya bahasa Inggris Kinjal tidak cukup baik, tapi itu tak masalah toh dia juga jarang ke luar negeri.
Kinjal mendapatkan pesan dari kakak iparnya Rania, yang meminta gadis itu agar tak pulang telat.
Kinjal hanya mengiyakan saja, kini mereka melanjutkan ke area kantin sekolah dan beberapa ruang ekstrakulikuler.
saat di kantin dia melihat kue yang seperti di jual di Indonesia, "ini puding kelapa bukan, kenapa bisa ada di sekolah? memang boleh menjualnya?"
"tentu saja, puding ini kesukaan anak-anak, dan nilai gizi sangat baik jadi tak masalah," jawab kepala sekolah
setelah puas berkeliling, mereka semua kembali ke ruang guru, "jadi bagi yang ingin melakukan kegiatan sosial di sini, harus menguasai bahasa Inggris dengan benar, jika tidak maaf kami tak bisa menerima," kata pria itu.
Kinjal mundur saja dan memilih tugas lain, akhir pukul tiga sore dia pulang.
Tania pun langsung menarik gadis itu untuk bersih-bersih, "ku kira kamu tak akan pulang, sudah ayo mafuk dan bersiap, karena waktu kita tak banyak,"
"hei tunggu dulu, ini sebenarnya mau ada apa, kenapa aku di tarik seperti ini," kata Kinjal yang berontak.
"sudah ih, sebelum kakak ipar yang datang dan kamu bisa lebih habis dari pada sekarang," bisik Tania.
mendengar itu, Kinjal langsung diam dan menuruti Tania, pasalnya Raina ini memang terlihat kalem tapi tatapan mata wanita itu tak kalah menyeramkan daripada Raj.
__ADS_1
"tapi ngomong-ngomong dimana kakak ipar?" tanya Kinjal.
"sepertinya dia tadi keluar untuk membeli barang," jawab Tania.
ya saat ini Raina sedang membeli beberapa manisan bersama bibi Anu, dan juga membeli bunga.
tapi saat akan masuk kedalam mobil mereka, dia melihat seorang wanita yang tengah di incar oleh beberapa orang.
"bibi masuk dulu, aku ada urusan sebentar," kata Raina yang turun dan berpura-pura bertanya tentang buah di pinggir jalan.
benar saja, tas wanita itu di jambret, dan Rania mengambil balok kayu untuk menghadang penjabret itu.
kemudian dia mengambil tas yang tergeletak di jalan, sedang pria itu menjadi bulan-bulanan masa.
"ibu ini tas anda," kata Raina memberikan tas itu
"terima kasih, aku tak sangka kamu begitu berani padahal kamu perempuan," kata wanita itu.
"hanya kebetulan saja, apa perlu tumpangan?" tawar Raina.
"tidak usah, saya sedang menunggu suami saya," jawab wanita itu.
benar saja tak lama sebuah mobil mewah melintas dan wanita itu pamit pergi.
Raina juga membeli beberapa buah, setelah itu kembali ke mobil miliknya dan bergegas pulang
saat sampai di rumah, ternyata Raj pulang lebih awal bersama Rohan dan Samar.
mereka kaget melihat rumah sudah sangat indah dengan berbagai bunga yang menghias.
"siapa yang mau menikah, ini hanya makan malam," kata Raj kaget
"tapi dia di mana, kenapa tidak menyambut suaminya pulang," kata Raj.
"maaf aku masih membeli bunga untuk kamar kita, aku merindukan mu," kata Raina memeluk Raj.
"kami mau bersiap dulu, daripada di sini menyaksikan sejoli ini bermesraan," kata Rohan yang pergi bersama Samar.
"baiklah sayang kamu ke atas dulu, aku mau melihat Kinjal dan Tania, setelah itu aku akan naik juga," kata Raina
"jangan lama-lama,"
"tentu sayang, sudah sana pergi," kata Raina tersenyum.
Oma pun sangat puas melihat semua persiapan, bahkan dari buah saya banyak berbagai jenis.
setelah menentukan baju yang harus di kenakan, dia pun naik ke lantai atas untuk bersiap juga.
tapi tentu tak semudah itu, karena Raj malah menahannya di kamar mandi dan mereka pun menyempatkan diri untuk bermesraan.
rombongan keluarga Rathore datang, Rohan, Raman, Oma Lela dan Tania yang menyambut mereka.
"selamat datang, mari silahkan masuk," kata Oma Lela.
"iya nyonya, tapi aku tak melihat Raj dan istrinya," tanya nyonya Rathore.
__ADS_1
"mereka masih bersiap, maaf karena Raj sering menganggu istrinya, jadi butuh waktu lebih lama," Kata Oma Lela.
dari lantai dua turun Raj dan Raina,wanita itu kaget melihat gadis yang menolongnya adalah menantu keluarga Malhotra.
"loh ibu yang tadi," kata Raina yang menyapa dengan sopan.
"aku tak sangka ternyata kamu istri Raj, ya Dewa, ternyata dunia ini sempit ya," kata wanita itu.
"maksudnya Bu?"
"papa ingat tadi aku bilang jika aku hampir kejambretan, dan gadis ini yang menolongku dan tak ku sangka dia istri Raj, beruntung sekali kamu nak," kata nyonya besar Rathore.
"sayang..."
Raina melihat Raj tersenyum manja, "maaf itu reflek tau," kata Raina memohon.
"sudahlah kamu memang begitu, tolong panggilkan Kinjal," kata Raj.
Kinjal keluar bersama Raina dan Tania, saat melihat Rahul dan keluarganya, Kinjal pun langsung menyapa dan meminta berkat.
bahkan Kinjal dan nyonya besar Keluarga Rathore sangat dekat, itulah kenapa mereka langsung menyetujui saat lamaran itu datang.
"jadi apa lamaran kami di terima," tanya tuan besar Rathore.
Kinjal kaget, sekarang dia mengerti kenapa dia di minta merias diri seperti ini
"sebelum di jawab, boleh aku bertanya sesuatu dulu, aku ingin ngobrol berdua," kata Kinjal pada orang tua.
"silahkan Kinjal," jawab nyonya besar Rathore.
tapi saat Kinjal berdiri, tiba-tiba Rohan membisikkan sesuatu pada gadis itu.
dan setelah mendengar perkataan pria itu Kinjal tak bisa mundur lagi karena ini menyangkut keluarga besarnya.
Kinjal mengajak Rahul berbincang di dekat kolam renang, sedang nyonya besar Rathore memberikan hadiah karena belum pernah hadir saat acara pernikahan dari Raj dan Raina.
"apa kakak Rahul yakin ingin menjadikan ku istriku, karena aku tak suka saat pria yang ku miliki itu dekat dengan wanita asing," kata Kinjal tegas.
"tentu saja, aku akan menjadikan ku satu-satunya wanita ku," jawab Rahul.
"apa setelah menikah aku masih bisa kuliah? setidaknya hingga lulus magister ku," tanya Kinjal lagi.
"tentu saja boleh, tapi sepertinya itu akan sulit jika kamu tetap mengambilnya di sini, karena setelah menikah aku akan mengajak mu ke Singapura, bagaimana pun semua usahaku disana," kata Rahul.
"itu tak masalah untuk ku, aku bisa pindah tempat kuliah," jawab Kinjal yang tak bisa mengatakan
semua isi hatinya.
"sekarang giliran kakak, apa ada syarat tertentu?" tanya Kinjal.
"tentu saja tidak, cukup jadi istri yang mencintai suami dan hanya fokus padaku," kata Rahul.
"baiklah," jawab Kinjal.
mereka berdua kembali dan Kinjal mengangguk menyetujui lamaran ini, mereka semua langsung berpelukan erat.
__ADS_1
sedang Raina menyadari sesuatu, yaitu raut wajah yang aneh pada adik iparnya itu.
tapi mereka tak bisa mengatakan apapun lagi, karena pendeta langsung di panggil untuk menentukan tanggal pernikahan.