Aku Mencintaimu, Tuan Malhotra

Aku Mencintaimu, Tuan Malhotra
aku istrinya


__ADS_3

Rohan mengandeng Salwa dengan bangga, begitu pula dengan Raina yang mengandeng suaminya Raj.


"bukankah mereka sudah tua, kenapa Tania memberikan pesta semeriah ini, apa dia mengunakan uang Raman," tanya Raina yang penasaran karena yang dia tau jika orang tua Tania itu cuma seorang pedagang sayur.


"biarkan saja, asal Raman tak mengunakan uang kantor, itu belum jadi masalah," kata Raj.


Tania menghampiri keluarga suaminya itu, dan mengajaknya untuk menemui orang tuanya.


Salwa dan Raina kompak menahan tawa saat melihat ibu dari Tania yang mengenakan perhiasan satu toko emas.


bagaimana tidak, tubuh wanita itu sudah penuh dengan perhiasan, "ya Dewa,apa itu tidak berat," kata Oma Lela yang berhasil membuat Salwa tak tahan lagi.


"sayang tolong kendalikan dirimu," bisik Rohan yang ikut tersenyum.


"maaf, habis Oma terlalu jujur," jawab Salwa.


"selamat datang besan, terima kasih loh sudah datang ke pesta ulang tahun pernikahan kami," kata Wanita itu.


"iya, ini ada hadiah untuk kalian, maaf jika hadiah ini sedikit sederhana," kata Oma yang memang membelikan sarre dan parfum yang harganya pun tidak murah.


"terima kasih," kata wanita itu sedikit terlihat kecewa


"owh ini hadiah dari ku dan suami," kata Raina yang memberikan kotak besar itu


"apa ini, sepertinya ringan ya," kata ibu Tania


"ibu tolong..." lirih Tania yang tak ingin malu di depan keluarga suaminya itu.


Rohan juga memberikan hadiah untuk mertua kakaknya itu, bagaimana pun Raman juga saudaranya.


akhirnya pesta pun di mulai, semua tamu duduk bersama, saat kedua orang itu memotong kue.


terlihat Raman sibuk dengan putranya yang memang sudah bisa berlarian.


"ya yang saya dengar jika mbak Raina pandai menari, boleh saya meminta untuk menghibur kami malam ini,"kata wanita itu yang langsung membuat Raj bangkit.


Tania kaget mendengar ibunya itu, "ibu apa yang kamu katakan," panik Tania yang melihat raut wajah Raj.


"kenapa? bukankah dia menari di pesta tuan Sharma, kita keluarganya juga, penari itu bukankah memang tugasnya untuk menari," kata ibu Tania tanpa tau malu.


"tidak seperti itu Bu, kakak ipar itu pengusaha bukan penari," panik Tania.


"cukup, menghadiri pesta ini memang salah untuk ku dan keluarga, permisi kami harus pergi Karena saya tak suka dengan pesta yang menghina tamu seperti ini," kata Raj marah

__ADS_1


Semuanya bangkit dan bergegas meninggalkan pesta, "tolong jangan pergi, kita semua keluarga, ibuku cuma bercanda," mohon Tania.


"hal seperti itu bukan candaan," kata Raina yang membuka mulut sekarang.


"jadi aku kecewa dengan sikap sombong ibu mu Tania, kamu memang menantu di ruang ku, tapi ingatlah kedudukan Raina tetap di atas mu," kata Oma Lela yang mengajak semua orang pergi.


para tamu yang melihat Raj pergi juga ikut pergi, karena mereka datang ke sana hanya untuk sekedar bertemu Raj.


Raman yang kecewa pun memilih mengajak anaknya keluar, "kamu juga ingin pergi sayang," panggil Tania melihat suaminya itu.


"sudah ku katakan, jangan mempermalukan diriku, sekarang aku bahkan tak punya muka lagi bertemu kakak ipar ku, karena ulah ibu mu," kata Raman yang terlanjur kecewa juga.


"ibu puas, sekarang aku harus bagaimana menghadapi keluarga suamiku," marah Tania


"kenapa, itu tak salah bukan, aku hanya ingin membantu mu jika aku menunjukkan jika dirimu itu lebih berpendidikan dari pada penari itu," kata ibu Tania.


"ibu salah, kakak ipar lulusan S2 ilmu bisnis manajemen, sedang aku kuliah saja tak lulus, dia bukan penari, tapi pengusaha asal Indonesia, dan dialah yang berhasil mengambil perusahaan Pandey dari tangan pemiliknya, ibu tau itu..." tangis Tania.


"apa..."


"selamat ibu, ibu baru saja membuat ku mungkin di tendang dari rumah Malhotra," kata Tania.


"itu tak mungkin, karena kamu yang melahirkan pewaris untuk keluarga itu," kata ayah Tania.


"ayah salah lagi, kak Raina sedang hamil bayi laki-laki,jadi anakku tak akan jadi pewaris utama, karena dia anak suamiku bukan anak kakak ipar ku yang memiliki segalanya," kata Tania.


mereka kira posisi Tania tak serendah dan selemah itu di keluarga Malhotra, itulah kenapa mereka ingin mempermalukan menantu pertama keluarga itu yang mereka tau adalah seorang guru tari.


ternyata mereka salah, karena wanita itu juga bukan orang sembarangan persis seperti Raj.


keluarga Malhotra sampai di rumah, Salwa langsung membuatkan teh jahe untuk semua orang.


bahkan dia meminta untuk para pelayan membawakan makanan ringan yang tadi dia bawa.


"Oma minum dulu," kata gadis itu yang tau jika Oma Lela pasti sangat kecewa.


tak hanya itu, dia juga memberikan susu hangat untuk Raina, "minum susu mu kak, jangan biarkan perut mu kosong,"


"kamu tau aku sudah baik lima kilo, Lima kilo lagi aku akan seperti gajah, kamu mau melihatku seperti itu hah, dasar adik ipar ku yang cantik..." kata Raina tersenyum


"aku kecewa dengan keluarga besan, kenapa mereka dengan bodoh ingin menghina menantu tertua keluarga ini, apa hanya karna Tania bisa melahirkan seorang anak laki-laki jadi kerja bisa sombong, cih..."


"tenang Oma, sebentar lagi oma akan banyak memiliki cucu dari kakak ipar, dia akan setiap tahun hamil," kata Salwa yang memijat kaki Oma Lela.

__ADS_1


"kamu juga harus punya banyak anak, karena Rohan juga bagian dari keluarga ini," kata Oma Lela.


"aku akan punya dua orang anak saja, itu akan merepotkan jika seperti ayahnya," kata Salwa yang mencoba untuk mencairkan suasana.


"apa, hei istriku, aku ingin punya lima anak laki-laki dan dua anak perempuan, jadi aku bisa bermain bersama mereka nanti, karena aku tak mau melihat rumah kita sepi nantinya," kata Rohan.


"hei tuan, jangan asal bikin saja, ingat jika kamu harus menyiapkan semua uang untuk pendidikan mereka, kamu kira sekolah terbaik itu gratis," kesal Salwa.


"tenang saja, aku sudah menyisihkan biaya sekolah anak kita yang sepuluh orang itu cukup hingga mereka lulus pasca sarjana," kata Rohan.


"ayolah mereka belum punya anak dan sudah membicarakan pendidikan, memang kamu kira hamil itu mudah, ini sangat sulit, jika tidak percaya kamu mau mencobanya," kesal Raina mendengar percakapan itu.


"apa yang sulit?" tanya Raj.


"hei dasar pria ini, jika kamu ingin merasakan, coba ikat bola boling di perut mu dan bergerak membawanya kemana pun, sanggup berapa lama anda," kata Raina yang kesal


"sudah ona jadi tak sabar ingin melihat rumah ini ramai dengan tawa anak kalian semua," kata Oma Lela.


"kalau begitu Oma harus sehat," kata Salwa.


malam itu mereka pun memilih menghabiskan waktu dengan berbincang dan tertawa bersama.


bahkan Rino mengajak mereka semua memainkan sebuah game kekompakan.


sedang di rumah Tania, Raman melihat tatapan kekecewaan dari kakaknya itu.


padahal dulu Raj tak akan menatap dirinya seperti itu. tapi kini semua berubah karena ulah dari keluarga istrinya.


Tania mendekati Raman, tapi pria itu memilih mengambil handuk dan mandi.


dia tak ingin mengatakan apapun, Jia tidak pasti dia sudah hilang kendali melihat istrinya.


"apa kamu marah," tanya Tania yang melihat taman duduk di ranjang.


Raman pun mengambil bantal dan selimut miliknya untuk tidur di kursi panjang yang ada di kamar itu.


kemudian dia mematikan lampu kamar begitu saja, Tania pun tau jika sekarang tak akan ada gunanya untuk mengajak bicara suaminya.


Tania memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan ternyata orang tuanya itu sudah tidur begitu saja


bagaimana bisa mereka begitu cuek seperti ini, padahal di sini Raman masih marah karena ulah mereka berdua.


akhirnya malam itu Tania keluar dan melihat bintang malam, tanpa terasa air matanya menetes karena semua yang terjadi.

__ADS_1


tiba-tiba sebuah pesan masuk, itu adalah Salwa, "tidak usah sedih, mereka semua mengerti jika ini bukan salah mu, cukup minta maaf saja itu akan membereskan semuanya," isi pesan itu.


"semoga ya..." lirih Tania


__ADS_2