Aku Mencintaimu, Tuan Malhotra

Aku Mencintaimu, Tuan Malhotra
tak kalah sibuk


__ADS_3

Raina begitu fokus dalam bekerja, bahkan saat ada yang salah dia langsung menandai dan membenarkan.


Begitupun dengan semua dokumen yang harus di kerjakan oleh Rohan dan Samar.


Melihat keseriusan dari Raina, membuat Samar memutuskan untuk memesankan minuman.


"Nona mau minum apa? teh jahe, susu jahe, kopi atau teh susu?" tanya Samar yang merasa kasihan pada Raina.


"Tidak perlu, ah ini saja, tolong pesankan air mineral saja itu cukup," kata Raina yang langsung mengikuti keinginan dari istri bosnya itu.


Sedang di ruangan Raj, pria itu melihat CCTV yang mengawasi ruangan sekertaris.


"Ku kira kamu tak akan bertahan, tapi ternyata kamu tangguh juga ya gadis kecil," kata Raj melihat Raina yang begitu serius bekerja hingga selesai.


Tanpa terasa hingga waktu makan siang datang, tanpa di duga Oma mengirimkan masakan rumah pada tak dan Raina.


Paman Raju ini bisa masuk ke perusahaan dengan mudah karena seluruh karyawan tau siapa pria itu.


"Permisi nona, asisten Samar dan Rohan, saya datang membawa makanan untuk nona dan tuan," kata paman Raju.


"Terima kasih paman, tapi aku sedang ingin makan ayam goreng crispy, karena itu bisa membantu mengembalikan semangat ku," kata Raina dengan sedikit sedih.


"Oh ayam goreng yang tadi di simpan di lemari es ya nona, kebetulan tadi saya hangatkan terus saya bawa," kata paman Raju menunjukkan bungkusan kertas.


"Akhirnya, tapi sambal pedasnya goma dong, ada yang bisa belikan cabai," katanya memohon.


"Biar aku belikan sebentar ya, kebetulan di depan perusahaan ada penjual gorengan paling enak di Mumbai," kata Samar.


"Terserah deh,nona masuk lah dulu, karena tuan tak bisa makan telat, kalau dia punya masalah lambung," kata Rohan.


"Baiklah, paman Raju silahkan masuk dulu, aku mau merapikan semua ini dulu," kata Raina yang sudah mulai merapikan mejanya agar terlihat rapi.


Setelah itu dia memilih ke toilet dulu, tapi saat di toilet dia malah mendengar sesuatu yang cukup menyakitkan hati.


"Kalian lihat wanita yang tadi datang bersama bos, sepertinya dia istri dari Rohan deh," kata seseorang.


"Kenapa begitu, yang aku tau itu, bos yang batu menikah, mungkin dia istrinya," saut yang lain.


"Kamu gila, bagaimana bos bisa menikah, aku tau bos punya banyak wanita, tapi aku yakin dia tak akan menikah, kamu tau kenapa, karena tak akan ada yang bisa menggantikan sosok pacar pertamanya," kata wanita yang pertama.

__ADS_1


"Tapi bagaimana kamu tau? tak mungkin dong bos menceritakan ini pada mu, atau jangan-jangan kalian ini... uh.. ternyata kamu itu wanita milik bos ya," saut yang lain.


Deg.


Jantung Raina seakan berhenti, apa benar suaminya seperti itu, itulah kenapa Raj tak menuntutnya di malam pertama.


Bahkan cenderung cuek padamu, ternyata ada wanita lain di hatinya, "tapi aku penasaran, wanita itu katanya sangat pintar, tapi aku.akui selera fashionnya bagus sih, tapi untuk wanita yang sudah menikah, tapi tetap saja dia bukankah lebih baik di dapur," kata yang lain


Raina pun keluar dari kamar mandi dan melihat tiga wanita yang sedang membicarakannya.


Mereka pikir Raina tak bisa mengerti bahasa mereka, tapi mereka yang salah.


"Dasar kampungan, sialan, beraninya membicarakan di belakang, cih... jadi wanita simpanan kok bangga," hina Raina dengan bahasa Indonesia.


"Permisi, kamu bilang sesuatu," tanya salah satu wanita yang berpenampilan cukup menor.


"Ah tidak ada, aku sedang mendoakan mu dalam bahasa negara ku, semoga muka kalian memar di sengat lebah," kata Raina yang langsung pergi dari toilet.


Tapi sayangnya dia di tahan oleh wanita berjas hitam yang penampilannya sangat tak pantas.


"Hei kamu berani menghinaku, kamu tak tau aku ini siapa, aku ini adalah manager senior di perusahaan ini," kata wanita bernama Tina itu.


"Kalau begitu selamat orang tua, tapi


Raina berjalan dengan percaya diri, sering menjadi bahan ejekan Rena sudah membuatnya kebal jadi hinaan dan kehaluan para wanita tadi tak ada bandingannya.


Raina masuk kedalam ruang Raj, dan mereka belum ada yang makan, hanya demi menunggu Raina.


"Kenapa ke toilet lama sekali, apa kamu menelurkan emas?" tanya Raj pada istrinya itu.


"Jika aku menelurkan emas tuan,aku tak harus duduk di perusahaan ini menjadi asisten mu, ya sedikit ada gangguan dari pegawai mu yang mengaku kekasih mu, siapa tadi namanya Tina Sharma, dia manager senior di perusahaan ini, dan pakaiannya sangat wow," kata Raina yang menyiapkan makanan suaminya.


"Wanita itu lagi, aku sudah menyuruhmu untuk membuatnya diam dan tak mengatakan hal aneh bukan Rohan," kata Raj kesal.


"Sudah jangan kesal, cepat makan tuan atau asam lambung mu naik, tapi ada satu kenyataan yang aku tau itu benar darinya," kata Raina yang membuat keempat pria itu menoleh dan melihatnya.


"Apa?"


"Bahwa suamiku ini suka bergonta-ganti banyak wanita, benar bukan?" tanya Raina tertawa.

__ADS_1


"Tak lucu,", saut Raj yang mulai makan.


Raina pun kehilangan senyumnya, bagaimana bisa dia bilang jika dia bersaing dengan mantan kekasih Raj yang sudah tiada.


Bahkan dia saja tak tau apa kesukaan Raj dan apa yang dia benci.


Raina mengambil ayam dan mulai makan dengan gorengan cabai, mrligat hal itu Rohan dan Samar terkejut.


"Apa itu tidak pedas nona?"


"Tidak, cabai Indonesia lebih menantang, tapi ini cukup," jawab Raina.


"Kamu tak makan roti? atau nasi ini?" tanya Raj yang menikmati makanannya.


"Tidak usah, aku sudah cukup kenyang dengan makan ini," jawab Raina


Tanpa di duga Raj mengulurkan tangannya yang sudah ada isi makanan pada Raina.


"Makanlah, jika kamu sakit nenek akan mengomel dan memarahiku," kata Raj.


Raina pun menerima suapan dari suaminya itu, dan Raina merasa jika ada harapan.


Dia tak boleh menyerah meski harapan itu seperti mencari jarum di tumpukan jerami.


Setelah semua makan, paman Raju pamit pulang, sedang Raina sedang memeriksa beberapa perjanjian yang baru di kirim oleh klien asal Paris.


Membaca perjanjian itu membuat Raina tak suka, "ada yang aneh dengan perjanjian ini, karena jika ada kesalahan atau kebocoran data, maka perusahan kita yang harus bertanggung jawab, itu sama saja mereka lepas tangan saat ada masalah, hanya mau enaknya saja," kata Raina.


"Bagaimana kamu tau hal itu," tanya Raj yang baru selesai dari kamar mandi.


"Lihat di nomor tujuh poin a dan b ini salah tuan," kata Raina yang tanpa sengaja memanggil Raj.


"Cukup panggil aku Raj, jangan panggil tuan," kata Raj tak suka hal seperti itu.


"Tapi tak sopan memanggil nama suami," jawab Raina.


"Kalau begitu panggil suamiku, tidak ada bantahan," kata Raj yang fokus melihat poin yang di maksud oleh Raina.


"Ah...ya kamu benar, mereka ingin membuatku hancur, maka akan aku hancurkan mereka," kata Raj yang langsung mengambil ponselnya.

__ADS_1


Raina pun merasa malu dan deg-degan setelah berdekatan dengan Raj.


"Dasar wanita bodoh, berhenti memikirkan hal yang tidak-tidak," kata Raina.


__ADS_2