
Rohan sedang menikmati suasana malam dari teras rumah, tanpa di duga Salwa datang membawa semua makanan.
"apa ini, kenapa bawa begitu banyak?" tanya Rohan yang melihatnya
"tidak banyak, hanya secukupnya, lagi pula tak salah dong dengan semua ini?" kata Salwa yang memang tau tadi pria itu tak makan.
Salwa menyajikan semua jenis makanan yang dia bawa, "masih sedih?" tanya Salwa.
"kenapa sedih, aku senang akhirnya Kinjal menikah dengan pria yang sepadan badan baik untuknya," kata Rohan.
Salwa menatap Rohan dengan penuh tanda tanya besar, "kamu membohonginya bukan, kamu bilang akan menikah dengan ku, dan bilang jika Raj pernah punya hutang Budi yang harus di bayar, itulah kenapa gadis itu mau menikah, karna jamu tau dia itu-"
"ya aku memang tau apa yang dia rasakan, tapi sayangnya tak mungkin aku harus membuang perasaan itu, karena kamu tau bahwa mereka sangat baik padaku, lagi pula aku hanya menganggapnya sebagai seorang adik saja," kata Rohan.
"tapi ini salah Rohan, kamu membuat seorang gadis menikah begitu saja," kata Salwa
"kamu sendiri bagaimana perasaan mu padaku, apa tak ada yang kamu rasakan?" tanya Rohan.
"aku... aku tak tau," jawab Salwa pelan
tiba-tiba Hujan turun, keduanya masih diam dalam sunyi, Salwa tiba-tiba bangkit.
dan berjalan di tengah hujan, dia menutup matanya sejenak dan menikmati setiap tetesan air Hujan itu.
"siapa yang aku cintai, ya dewa tolong tunjukkan siapa dia..." lirihnya dalam hati.
"aku mencintaimu..." suara Rohan terdengar lirih.
Salwa membuka matanya, dan dia mencari sosok Rohan di sekitarnya, tapi dia melihat Rohan masih santai di teras rumah.
bahkan baju pria itu kering, Salwa terus menatap Rohan dari jauh, karena tatapan mata Salwa yang menurutnya aneh.
Rohan bangkit dan langsung bergegas menghampiri gadis itu, "kamu kenapa salwa, Salwa hei..."
dia mengguncang tubuh wanita itu agar sadar, "Salwa," panggil Rohan lagi.
tiba-tiba wanita itu terkejut dan mulai menangis, Rohan yang bingung pun memeluk wanita itu.
"tenang salwa, aku disini apa kamu mimpi buruk lagi?" tanya Rohan.
Salwa tak menjawab tapi hanya terus memeluk tubuh pria itu erat, Rohan pun juga memberikan pelukan hangat untuk Salwa.
di rumah Rahul, semua persiapan juga sudah siap untuk acara besok, yaitu acara pengenalan pengantin wanita.
Rahul mengajak Kinjal ke dalam kamarnya, dan di sana Kinjal melihat banyak piala dan penghargaan.
"kamu bisa ganti baju dan istirahat, maaf aku harus menyelesaikan sedikit urusan ya," kata Rahul mengambil laptop miliknya.
__ADS_1
Kinjal menuju ke kamar mandi, dan di sana sangat mewah setelah berganti baju, dia langsung keluar dan melihat ada makanan di meja.
"kak Rahul sudah makan, lebih baik duduk di sini makan dulu," kata Kinjal
"aku belum bisa, karena masih ada beberapa pekerjaan," jawab pria itu.
Kinjal bangkit dan membawa piring itu ke samping Rahul. tanpa di duga Kinjal langsung mengulurkan makanan yang berada di tangannya.
"jangan telat makan atau kak Rahul bisa sakit," kata Kinjal.
Rahul tak menyangka jika Kinjal bisa sebaik ini, bahkan dia tak menyangka jika Kinjal bisa dengan sangat baik mau menyuapi dirinya.
Kinjal belajar ini dari Raina, karena wanita itu memberikan beberapa wejangan saat sebelum acara pernikahan.
jika sekarang hidup Kinjal bukan berarti orang tua atau kakaknya lagi, tapi hidupnya kini adalah Rahul dan orang tuanya.
itulah kenapa Kinjal harus bersikap baik, setelah makan malam Kinjal membuka beberapa pesan dari Raj yang mengatakan jika besok Oma Lela, Raina dan Tania akan datang menghadiri acara perayaannya.
malam ini semua orang mendapatkan kebahagiannya, bagaimana tidak, Salwa mengetahui siapa pria yang dia cintai.
Raina dan Raj tak sabar menantikan bayi mereka yang kini sedang tumbuh sehat di tubuh Raina.
dan Kinjal yang harus berusahalah mencintai suaminya sepenuh hati, karena sekarang dia sudah jadi istri Rahul.
keesokan harinya, semua tamu sudah datang dan akan mengikuti acara.
karena Rahul anak tunggal, jadi Raina dan Tania yang membantu adik ipar mereka turun.
dan kini para tamu melihat wajah pengantin baru dan memberikan hadiah.
karena mendapat telpon penting, Raina pun memilih mencari tempat aman untuk menerima panggilan telpon.
"iya, kenapa menelpon ku, sudah ku katakan berkali-kali untuk tidak menghubungiku," kesal Raina yang memang masih dalam suasana acara yang begitu meriah..
"maaf nyonya, tapi nanti tuan bilang jika anda di suruh ke kantor, dan Samar yang akan menjemput anda,"
"baiklah naku mengerti," jawab Raina.
saat dia akan kembali ke tempat acara, tanpa sengaja dia melihat seorang pelayan di rumah keluarga Rathore sedang melakukan sesuatu.
wanita itu tampak memasukkan sesuatu ke dalam minuman yang akan di sajikan.
tapi anehnya minuman itu berwarna sedikit lebih gelap di banding yang lain.
Raina kembali ke tempat acara, Oma Lela melihat cucu menantunya itu, "dari mana sayang, kamu hilang barusan?"
"ada sedikit masalah ona, tapi Semuanya beres," jawab Raina.
__ADS_1
para pelayan datang membawa minuman, dan Raina bisa menemukan minuman yang sengaja di sarukan.
pelayan itu terus melirik ke arah Kinjal yang sedang duduk di samping ini dari Rahul.
Raina mengambil gelas yang menurutnya memang sedikit berbeda.
benar saja reaksi dari pelayan itu seperti orang kaget tapi tak bisa melakukan apapun.
semua orang menerima minuman yang di bagikan, dan mulai meminumnya.
begitupun Kinjal yang terlihat minum sedikit karena dia masih sedikit merasa tegang karena tamu yang banyak.
"Raina kenapa tidak minum?" tanya nyonya Rathore
"saya tak suka karena aromanya sangat asam, meski saya sedang hamil tapi tak baik bukan jika minum, minuman asam seperti ini?"
"itu tidak asam nyonya, hanya segar saja, karena kami membuatnya dari jeruk pilihan," jawab wanita yang tadi di lihat oleh Raina.
"kalau begitu minumlah, tak baik kan membuang minuman yang sudah di buat, tenang saja aku belum meminumnya, jago masih bersih," kata Raina mengulurkan gelas itu.
"saya tidak suka jeruk nyonya," panik pelayan itu.
kebetulan Rahul turun dari lantai atas, "Rahul, bisa menolongku sesuatu, aku tak suka minuman ini, tapi aku tak mau membuangnya jadi bisa tolong minum," kata Raina.
"tentu kakak ipar dengan senang hati adik ipar mu ini membantu," kata Rahul yang berjalan dan mengambil gelas yang berada di tangan Raina.
pelayan wanita muda itu nampak gugup, dia terlihat panik, "tidak tuan, itu anda nanti perut tuan bisa bermasalah,"
"tidak apa-apa Sira, ini cuma minuman dingin lagi pula aku menyukai rasa sedikit asam," jawab Rahul yang mulai mengguncang jus itu
dan saat akan meminumnya, tangan pelayan wanita itu menampik gelas itu hingga jatuh dan pecah.
"kamu kenapa tak sopan Sira!" bentak nyonya Rathore.
"maafkan saya nyonya, tapi saya tak ingin tuan muda sakit," kata pelayan wanita itu.
"tentu saja kamu tak mau Rahul sakit, karena tujuan utama mu adalah Kinjal, entah racun apa yang kamu masukkan ke dalam minuman itu, untunglah aku melihat mu di dapur saat menjawab telpon tadi, jadi apa hubungan mu hingga baru satu hari Kinjal di rumah ini, tapi kamu sudah ingin membunuhnya, tentu saja bukan hubungan biasa seperti itu kan, apa benar tebakan ku mantan tunangan Rahul," kata Raina yang mengejutkan semua orang.
"kakak ipar apa maksud mu," kata Rahul yang bingung.
tanpa di duga, Raina menarik topeng sintetis yang di gunakan wanita itu, dan saat melihat wajahnya semua orang kaget.
ternyata itu adalah seorang wanita asing, Raina benar-benar jeli karena dia melihat setiap gerak dan perilaku seseorang.
Rahul kaget, "kenapa kamu datang kesini, setelah aku membatalkan pertunangan kita, apa masih belum puas kamu melukaiku dengan penghianatan besar mu," marah Rahul.
"karena aku mencintaimu..."
__ADS_1
"bulshit.."