Aku Mencintaimu, Tuan Malhotra

Aku Mencintaimu, Tuan Malhotra
bisa ternyata


__ADS_3

akhirnya malam itu mereka berdua memutuskan untuk menginap di hotel, karena mereka tak mau ambil pusing masalah yang menunggu di rumah.


"apa ini takkan jadi masalah kak?" tanya Kinjal yang merasa tak enak dengan mertuanya.


"tak usah pedulikan mama, yang penting kita menjauh dari dua dulu, sudah nikmati saja malam ini," kata Rahul


akhirnya masakan itu pun terbuang, dan nyonya besar Rathore kesal karena dua orang itu tak pulang dan tak bisa di hubungi.


"ada apa sih ma, kenapa gelisah begitu, sudah tenang mereka ini juga sudah pada dewasa, kenapa mama begitu posesif," kata tuan Rathore.


"papa ini tak tau ya, mama itu ingin membuat mereka agar memiliki anak dari bantuan ibu pengganti, tapi apa keduanya malah pergi begitu saja,"


"karena yang kamu sebutkan ibu pengganti itu, melakukan hubungan secara langsung, kamu tau bagaimana Rahul jika sudah menginginkan sesuatu, tapi ya mau bagaimana lagi dia itu sama keras kepalanya dengan mu jadi tak usah terkejut," kata tuan Rathore.


akhirnya wanita itu pun pasrah, dan menunggu saja sekarang, ternyata Rahul memberitahu semua pada ayahnya.


dan rencana mereka juga di dukung sepenuhnya, akhirnya setelah dua hari menginap di hotel.


mereka pun memutuskan untuk pulang, Rahul juga sudah minum obat yang diresepkan oleh dokter.


dan mereka berdoa agar semua bisa di lakukan dengan benar dan Dewa memberikan apa yang mereka inginkan.


nyonya besar Rathore ingin memarahi mereka, tapi suaminya menahan istrinya itu agar tetap tenang dan tak melakukan sesuatu yang membuatnya makin malu.


"kalian sarapan dulu," panggil tuan Rathore


"tidak usah pa, kami harus segera mengurus visa izin tinggal," kata Rahul.


"kalian memangnya mau kemana? kenapa mengurus begituan?" tanya nyonya besar Rathore.


"kami akan menetap di Amerika beberapa bulan ma, karena aku ada urusan dan Kinjal akan ikut demi mengurus semua kebutuhan ku di sana," kata Rahul.


"tapi kenapa!"


"baiklah, kalian bisa pergi dan ingat Rahul jaga istrimu, dan untuk mu ma, mereka sudah dewasa jadi tak usah terlalu berlebihan seperti ini," kata tuan Rathore.


"tapi pa, mereka itu akan pergi dari kita, kenapa papa begitu santai,"kesal wanita itu.


"ma, hanya ke Amerika beberapa bulan, sudahlah," tegur tuan Rathore.

__ADS_1


Rahul dan Kinjal pun bergegas berangkat menuju ke tempat mengurus semua dokumen imigrasi, ya mereka memang Tan tau akan tinggal berapa lama.


sedang di rumah Salwa, pagi ini sangat ramai terlebih dua bayi kembar itu sangat aktif.


meski baru bisa duduk, tapi kelucuan mereka sangat terlihat, belum lagi anak Raman yang sudah bisa berlarian.


"ah senangnya Oma jika memiliki cicit seperti ini banyaknya, nanti kalau kumpul pasti tak sepi," kata wanita sepuh itu.


"iya Oma, pasti tak sepi, Tania kenapa tak hamil lagi, bukankah itu akan sangat menyenangkan nantinya," terang Raina.


"ah tidak dulu, selama Deva belum bisa mandiri, aku akan memikirkannya seribu kali, karena ayahnya selalu sibuk dengan game setelah pulang kerja," adu Tania.


"he-he-he itu tak benar, ya sekali-kali gak papa dong sayang, ya habis aku tak bisa terus bekerja tanpa ada istirahat bukan," kata pria itu.


"huh.... itulah yang membuatku malas punya anak lagi," kata Tania.


"sudah-sudah, dari Raj ada dua, Raman punya satu itu cukup, Rohan juga satu, dan Kinjal..." lirih Oma Lela yang nampak sedih.


karena wanita itu mengetahui apa yang sedang di hadapi oleh cucunya itu, sudah tinggal paling jauh.


dan sekarang dia juga baru tau jika ada masalah serius ini, "doakan saja oma,untuk usaha mereka berdua berhasil ya," kata Raj.


"aku pernah dengar di sini ada sebuah kuil yang bisa mengabulkan permohonan jika kini menginginkan seorang anak, aku bisa mengantarkan ona kesana untuk mendoakan Kinjal dan Rahul," kata Rohan.


"baiklah, kita kesana untuk berdoa, semoga nanti doa Oma di kabulkan ya," kata wanita itu sangat berharap


akhirnya keesokan harinya, setelah semuanya selesai sarapan, mereka berangkat ke kuil yang di maksud oleh Rohan.


ternyata kuil itu tak terlalu tinggi untuk tangga, dan mereka pun bersama-sama naik ke atas.


Salwa membagikan makanan dan yang pada orang-orang yang duduk untuk meminta belas kasihan.


setelah itu mereka berdoa bersama di dalam kuil. "sayang ayo," panggil Rohan pada istrinya itu.


seekor sapi menghampiri Salwa, dia pun memberikan roti dan setelah itu dia naik ke atas.


dia pun bergabung dengan yang lain, seorang anak kecil datang mengusap perut besar Salwa.


"halo ganteng, ke sini sama siapa?" tanya Salwa.

__ADS_1


bocah itu tersenyum dan langsung lari meninggalkan mereka semua. setelah berdoa mereka ingin pulang.


tapi tidak dengan Salwa yang ingin duduk di pinggir sungai di belakang kuil itu karna terlihat cukup tenang.


jadi dia dan Rohan duduk di sana beberapa waktu dan mobil di bawa Raj pulang bersama yang lain.


"kamu rindu orang tua mu sayang?"


"iya, bagaimana pun aku ingin mereka tau jika aku masih hidup, tapi buktinya Rino bilang keluarga aku bahkan tak peduli jika aku hidup atau tidak, apa itu tidak keterlaluan?" tanya gadis itu sedih.


"maafkan aku yang tak bisa melakukan apapun, terlebih kamu sudah hamil besar seperti ini, nanti kita pikirkan caranya agar bisa pulang ya, meski kamu mungkin hanya bisa melihat dari jauh saja," kata Rohan.


"baiklah sayang, maaf kita jadi sedih begini, bagaimana kalau kita cari makanan, ah aku ingin makan camilan," kata Salwa.


"baiklah nyonya, mari kita cari.." kata Rohan.


mereka pun mulai berkeliling, selain mencari jajanan yang menurut mereka enak, mereka juga belanja sayuran dan buah.


tak lupa sebelum pulang ke rumah mereka juga membeli gorengan dulu, dan bagi salwa itu wajib membeli gorengan cabe.


karena itu yang bisa membuatnya sangat senang, dan itu cukup, saat mereka sampai di rumah.


ternyata semua sedang istirahat, memang sedikit aneh tapi semalam mereka memang begadang karena main monopoli.


"baiklah kalau begitu aku masak dulu, kakak mau di buatkan apa?"


"tolong buatkan aku nasi biryani ya, aku sedang ingin makan itu," kata Rohan memohon.


"baiklah sayang, apa sih yang enggak buat mu," kata Salwa.


dia langsung ke dapur dan mulai masak, karena sekarang sudah ada bumbu nasi biryani instan, jadi semuanya mudah dan cepat.


Salwa juga membuat beberapa lauk pendamping seperti telur dadar dan lainnya, ya meski ona tak makan telur.


wanita itu bisa mencampur sayur yang di buat oleh Salwa, seperti pare dan okra.


pukul satu siang, semuanya bangun dan kaget saat melihat Salwa sudah selesai memasak.


"seharusnya kamu membangunkan ku, jangan masak sendiri nanti kamu capek," kata Tania.

__ADS_1


"aku malah capek jika harus terus diam tak bergerak." jawab Salwa


__ADS_2