
pagi ini Salwa sudah membuat kue untuk di bagikan pada semua muridnya, karena dia tak tau ada berapa anak, jadi dia membuat lima puluh kue.
dan nanti Rohan akan mengantarnya ke sekolah itu karena bawaan mereka akan sangat banyak, terlebih Rohan garis memastikan sesuatu.
Salwa pun sandang bersemangat, hingga tanpa sadar jika Rohan berdiri di belakangnya.
karena melihat istrinya itu yang begitu bahagia, Rohan memeluk istrinya itu sari belakang.
"apa yang membuatmu begitu sibuk sayang, dan berhenti jangan terus bergerak," bisiknya.
"selesai, kue untuk anak-anak dan sarapan untuk suamiku juga sudah matang, kita hati ini sarapan lasagna, dan untuk bekal ke kantor aku buat kental tumbuk, daging tumis sayur, dan buah," kata Salwa.
"kamu tau sayang, semenjak jadi suami mu, berat badanku naik cukup banyak, tapi bukan hal buruk karena semua jadi otot jadi itu sangat baik," jawab Rohan.
"karena aku menghitung setiap kalori yang masuk dengan kegiatan mu seharian, jadi semuanya terpakai dan bukan malah menumpuk lemak," jawab Salwa.
Rohan benar-benar bersyukur memiliki istri seperti Salwa, kini Rohan mengemaskan semua barang ke mobil.
sedang Salwa bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah yang akan menerima bantuan agar bisa menambah ruang kelas baru.
setelah siap semuanya, Rohan akan berangkat, saat melihat Salwa ada yang kurang.
"tunggu sebentar," katanya masuk kedalam rumah.
padahal salwanerasa jika semuanya sudah siap, tenyata Rohan mengambil manisan dan juga Sindur untuk istrinya.
setelah memakaikan sindur, Salwa menyentuh kaki Rohan dan kemudian dia mendapatkan suara manisan.
"semoga apa yang di impikan oleh mu tercapai ya sayang," kata Rohan
mereka pun berangkat dan saat mobil sampai di depan sekolah itu, semua murid bingung karena jarang sekali ada orang yang mengunjungi mereka.
tapi saat Salwa turun semua murid pun senang menyambutnya, dan Rohan mengeluarkan semua buku yang di bawanya.
"salam Bu Priya, saya bawa buku untuk anak-anak,dan kalau boleh tau sekolah ini berdiri di tanah milik siapa ya?" tanya Salwa.
"ini tanah bukan milik keluarga ku, tapi sebenarnya ini sudah di beli oleh keluarga Dilwara, dan sekarang aku sedang mencari pewaris tanah ini untuk memintanya memberikan harga agar bisa kami membangun kelas dengan layak," jawab wanita itu.
"tak usah mencarinya, dia ada di depan mu, Salwa adalah pemilik tanah ini yang aku hadiahkan sebagai hadiah pernikahan, jadi terserah Salwa," kata Rohan yang mengejutkan dua wanita itu.
"jadi kamu putra terkecil keluarga Dilwara yang selamat?"
__ADS_1
"iya, tapi sekarang aku mengunakan nama Malhotra karena aku besar di keluarga itu, jadi kita akan bangun sekolah ini untuk semua anak yang kurang mampu, pemilik yayasan Salwa Dilwar Malhotra dan anda bisa jadi kepala sekolahnya, dan lusa pembangunan bisa di lakukan karena semua surat-surat sudah resmi dan lengkap," kata Rohan yang memberikan hadiah terbaik untuk istrinya.
"hei siapa kamu berani datang dan mengatakan omong kosong," kata seorang pria berbadan besar yang di yakini adalah preman daerah situ.
Rohan memutari mobilnya dan pria itu langsung mundur mrligat tatapan mata dan wajah Rohan.
"aku yang mengatakannya, apa kamu keberatan?" tanya Rohan yang berdiri dan berlari mengejar pria yang ketakutan itu.
"tolong!!! setan dari Arjun Dilwara datang!!!" teriak pria itu yang kemudian kepalanya di pukul oleh Rohan dengan satu tangan hingga tersungkur pingsan.
"bilang pada Yuswan, putra musuhnya telah datang aku menunggunya di sini, karena dia berani mengusik warisan dari keluargaku," kata Rohan dengan berani.
"hei...kau bocah tengil yang melarikan diri itu," kata seorang pria dengan luka di matanya.
Rohan tersenyum, dia ingat dengan pria yang matanya dia tusuk dengan garpu saat ingin melukainya.
"kamu masih picek, wah... itu sangat tak asik bukan," kata Rohan.
"bocah sialan, bunuh dia," kata pria itu.
tanpa di duga sebuah cambuk mengikat leher salah satu orang yang ingin menyerang Rohan dari belakang.
pria itu tertarik dan terlempar ke sebuah pembuat pisau masuk kedalam api.
"aku mencintai mu," kata Rohan yang langsung menghajar semua preman itu
tapi seseorang ingin menyentuh Salwa, saat melihat itu Rohan melempar batu bata dan mengenai pria itu hingga kesakitan.
Salwa yang kesal langsung menendang bagian intim pria itu dengan keras.
semua pria itu tersungkur, tinggal pria yang buta sebelah itu, Salwa mengambil stik golf yang ada di mobil.
dia kemudian melemparkannya ke arah suaminya, dan Rohan memainkan stik itu.
"bagaimana dulu kamu membunuh orang tuaku, seperti ini bukan, aku kembalikan sialan!!" makinya yang langsung menghantam kepala pria itu dengan syok hingga mati seketika itu juga.
Salwa tak terkejut karena dia bukan pertama kali ini melihat Rohan membunuh orang.
semua orang melihat kedua orang itu, bagaimana bisa mereka berani melawan kelompok preman itu.
polisi datang dan sempat terperangah melihat semua orang yang terdiam di sana.
__ADS_1
bahkan mayat pria itu di biarkan begitu saja, "kenapa datang, kamu membuatku marah..." kata Rohan memukul kepalanya.
polisi itu langsung duduk di samping pria itu, "aku bilang padamu untuk melukainya saja, bukan membunuhnya, jika seperti ini aku yang repot, dasar bodoh," kesal polisi itu
"aku marah, terutama si picek ini membuat ku teringat hari buruk itu, jadi aku bereskan," kata Rohan santai.
"halo nyonya," kata polisi yang menerima kue dari salwa.
"halo juga, tolong bereskan ya, aku tak suka ada darah, dan tolong besok minta polisi untuk mengawasi pembangun sekolah kamu, jika ada preman bilang saja, aku akan membuat mereka tak bisa mengunakan adik mereka itu," kata Salwa.
"baik nyonya," jawab kepala polisi itu.
Rohan minum teh dengan santai saat para mayat itu di bereskan, "istrimu tak kalah seram,"
"kamu tau kami mengalami hal sama, aku membunuh Patil, demi menyelamatkannya, jadi secara Tidak langsung dia sekarang bisa melindungi apapun yang menjadi miliknya," kata Rohan
"wah pasangan yang mengerikan, hei bereskan dengan benar, karena nyonya tak suka ada darah," kata kepala polisi itu.
Salwa langsung tersenyum memberikan contoh sekolah yang akan di bangun.
papu dan anak-anak merasa senang karena ternyata pemilik tanah adalah guru mereka.
dan itu membuat mereka akan tenang saat melakukan kegiatan belajar mengajar.
setelah kegiatan selesai, para tukang datang untuk mulai pembangunan mendadak itu, bahkan dengan pemujaan sederhana, merekapun mulai pembangunan sekolah Dilwara itu.
dan itu menjadi kebahagiaan para warga desa yang sekarang tak perlu lagi pergi jauh untuk bisa menuntut ilmu.
terlebih semua di fasilitasi oleh Rohan dan istrinya,dan Raj mengirimkan bantuan juga melalui Salwa
dan saat Raj mendapatkan kabar jika sekarang Rohan berhasil mengusir para preman.
dia bangga karena adiknya itu sudah sangat kuat, dan bisa balas dendam pada orang yang berusaha menghabisi keluarganya.
Raina merasa heran melihat suaminya yang tersenyum sendiri sambil melihat ponselnya.
"kamu sedang menertawakan apa? kenapa kamu seperti itu," tanya Raina penasaran.
"aku baru tau jika di desa terpencil pun Rohan bisa berguna, bantu saat anak-anak sudah lebih besar, kita bisa main ke sana ya," kata Raj.
"siap sayang, aku mencintaimu," kata Raina.
__ADS_1
"aku tau itu," jawab Raj tertawa.