
Matt Luham, seorang mahasiswa Generasi Z berusia 20 tahun di abad ke-21, saat ini
sedang menempuh pendidikan di Universitas Jayakota sebagai mahasiswa tahun
kedua jurusan pertanian dengan nilai yang sangat baik. Kedua orang tuanya masih
hidup dan sehat.
Omong-omong, dia juga masih lajang.
Universitas Jayakota adalah universitas terkenal diKota Zarkara. Orang-orang yang
bisa menempuh pendidikan di sini adalah orang-orang kaya atau memang memiliki
bakat. Meskipun Matt tidak kaya, kepintarannya cukup untuk membuatnya
bersekolah di sana.
"Duh, sisa uangku tinggal sedikit lagi untuk bulan ini, padahal baru tanggal 15.
Masih ada setengah bulan lagi sampai akhir bulan. Apa yang harus aku lakukan?"
Matt menghela napas berat.
Dia pun melangkah keluar dari sebuah restoran bernama "Restoran Herra" yang
merupakan tempatnya bekerja, sambil mengeluh tentang situasinya saat ini.
Dia berasal dari sebuah keluarga petani miskin yang biasa saja, meski begitu
keluarganya sangat menjunjung tinggi kejujuran. Satu-satunya alasan Matt bisa
kuliah di universitas bagus adalah karena dia mendapatkan beasiswa dan dia hanya
perlu memenuhi biaya untuk kebutuhan sehari-harinya.
Jika tidak, dia tidak akan bisa bersekolah di sana meskipun menjual beberapa tanah
milik keluarganya atau meminjam uang sekalipun. Untungnya, kebijakan
pendidikan di kampusnya cukup baik sehingga dia bisa menempuh pendidikan di
Sana.
Berhubung dia telah menghabiskan sebagian besar waktunya bulan ini dengan
belajar untuk ujian mendatang, Matt telah mengajukan cuti dari pekerjaan paruh
waktunya di restoran setidaknya selama setengah bulan.
Bosnya pun paham tentang kesulitan yang dihadapi Matt untuk berkuliah di
universitas ternama itu. Oleh sebab itu, sang Bos pun memberikan cuti. Semua
permintaan Matt disetujuinya, bahkan gaji Matt juga dibayar setengah bulan.
Namun, setengah bulan telah berlalu dan Matt hampir kehabisan uang. Sekarang,
dia mencemaskan biaya hidupnya.
"Sungguh sial! Sungguh luar biasa jika sekantong besar uang jatuh dari langit! Jika
aku punya banyak uang, keluargaku tidak perlu bekerja terlalu keras. Dengan
demikian, aku juga bisa berkonsentrasi penuh pada pendidikanku," desah Matt
__ADS_1
pasrah. Kedua tangannya terselip di saku celananya saat memikirkan masalah yang
dia hadapi.
Meskipun Matt adalah pemuda yang tampan, alih-alih menjual penampilannya
kepada para wanita kaya, pada akhirnya, Matt tetap menggunakan kemampuannya
sendiri untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
Faktanya, ini adalah topik yang cukup menarik untuk dibahas karena Universitas
Jayakota hanya nenerima siswa berbakat atau kaya. Tentu saja, seseorang dari
keluarga kaya bisa membiayai uang kuliah mereka.
Matt tidak tahu apa ada yang salah dengan kombinasi gen kedua orang tuanya
sehingga dua petani yang tampak biasa saja bisa melahirkan seorang putra yang
begitu tampan seperti dia.
Oleh karena itu, wajahnya yang memesona selalu membawa malapetaka dalam
hidupnya. Saat SMP, di saat semua orang sudah mulai memiliki cinta monyet, dia
sudah menerima surat cinta yang tak terhitung jumlahnya. Begitu memasuki
jenjang SMA, yang dia pikir para gadis akan lebih dewasa malah semakin
memburuk.
Saat Matt pertama kali memasuki universitas di tahun pertamanya, dia sudah
beberapa dari mereka ingin menjadikannya sebagai berondong manis.
Meskipun Matt terlahir dari keluarga petani, dia adalah orang terpelajar yang
menyadari bahwa kemiskinan bukanlah alasan baginya untuk menyerah pada
hidup. Kemiskinan tidak akan membuatnya tunduk dan kekayaan tidak akan
membuatnya serakah.
Dia tidak akan pernah merendahkan harga dirinya hanya untuk menggantungkan
hidup pada wanita!
Meski uang memang cukup menggoda, Matt tetap bergeming. Seiring berjalannya
waktu, banyak orang yang iri, cemburu, dan benci pada Matt.
Hal ini memungkinkan berita negatif tentang dirinya juga semakin banyak bertebaran.
Beberapa orang menyebarkan rumor bahwa Matt tidak menyukai wanita dan malah
menyukai pria. Beberapa orang lainnya mengatakan bahwa Matt selalu bersikap
arogan. Namun, Matt tetap tidak terpengaruh. Dia juga tidak begitu suka membuat
keributan selama tahun pertamanya. Terlebih lagi, dia tidak punya pilihan lain.
Selama ini, Matt telah bekerja paruh waktu sambil kuliah.
Hal itu membuat reputasinya semakin tinggi dan bahkan gelar yang didapatkannya sebagai pangeran
__ADS_1
kampus sejak awal, masih melekat erat pada dirinya. Namun, Matt merasa bahwa
apa pun yang dia lakukan seolah-olah selalu salah.
Berhubung Matt sudah kelaparan, dia keluar dari Restoran Herra dan mengakhiri
pekerjaannya untuk hari ini. Dia sedang memikirkan bagaimana cara
mengalokasikan sisa uangnya untuk bertahan sampai akhir bulan ini.Dia benar-benar tidak tega meminta uang kepada keluarganya.
Jangankan menghubungi orang tuanya demi uang, dia selalu merasa iba setiap kali memikirkannya:
kedua orang tuanya yang harus bekerja di bawah cuaca yang sangat terik di ladang
mereka.
Pada akhirnya, Matt melangkahkan kakinya ke sebualh restoran terdekat dan
memesan sepiring pasta. Sambil melahap makanannya, dia akhirnya memutuskan
untuk mengambil tindakan sekaligus. Jika uangnya benar-benar tidak cukup, dia
bisa meminta gaji lebih awal kepada bosnya atau bahkan meminjam uang.
Dua dari tiga teman sekamar Matt di asrama berasal dari keluarga kaya. Sementara
yang satunya, meskipun tidak sekaya yang lainnya, hidupnya masih lebih baik
daripada Matt dan tidak harus bekerja sepanjang waktu.
Mereka berempat memiliki hubungan yang baik selama ini. Mereka tidak
membeda-bedakan atau memandang rendah satu sama lain hanya karena
perbedaan latar belakang keluarga. Sebaliknya, hubungan mereka sangat dekat
seperti saudara kandung. Hal ini juga yang menjadi alasan mengapa Matt bisa cepa
berbaur dengan mereka tanpa merasa direndahkan.
Sementara itu, Matt yang merasa sangat lapar mengabiskan sepiring pastanya
hingga menjilat bersih piring itu tanpa sisa. Seorang pelayan yang datang untuk
mengambil piring kotor menatapnya dengan tatapan merendahkan.
Tentu saja Matt menyadari hal ini, tetapi dia tidak mengatakan apa pun dan hanya
mengumpat dalam hati. Untuk apa kamu merendahkanku? Kamu juga bekerja
untuk orang lain, sama sepertiku. Kamu tidak lebuh unggul dariku."
Setelah membayar, Matt keluar dari restoran dan hendak kembali ke kampus.
Berhubung hari masih panjang, dia ingin pergi ke perpustakaan untuk belajar
sebentar. Dia pun bergegas dan berjalan dengan cepat menuju perpustakaan
kampus.
Kecelakaan itu bermula dari sini. Akan tetapi, kecelakaan itu justru membuat Mati
mengalami perubahan yang luar biasa dalam hidupnya, sesuatu yang tidak pernah
bisa dia bayangkan selama ini.
__ADS_1