Aku Mewarisi Taman Peri

Aku Mewarisi Taman Peri
bab 1


__ADS_3

Matt Luham, seorang mahasiswa Generasi Z berusia 20 tahun di abad ke-21, saat ini


sedang menempuh pendidikan di Universitas Jayakota sebagai mahasiswa tahun


kedua jurusan pertanian dengan nilai yang sangat baik. Kedua orang tuanya masih


hidup dan sehat.


Omong-omong, dia juga masih lajang.


Universitas Jayakota adalah universitas terkenal diKota Zarkara. Orang-orang yang


bisa menempuh pendidikan di sini adalah orang-orang kaya atau memang memiliki


bakat. Meskipun Matt tidak kaya, kepintarannya cukup untuk membuatnya


bersekolah di sana.


"Duh, sisa uangku tinggal sedikit lagi untuk bulan ini, padahal baru tanggal 15.


Masih ada setengah bulan lagi sampai akhir bulan. Apa yang harus aku lakukan?"


Matt menghela napas berat.


Dia pun melangkah keluar dari sebuah restoran bernama "Restoran Herra" yang


merupakan tempatnya bekerja, sambil mengeluh tentang situasinya saat ini.


Dia berasal dari sebuah keluarga petani miskin yang biasa saja, meski begitu


keluarganya sangat menjunjung tinggi kejujuran. Satu-satunya alasan Matt bisa


kuliah di universitas bagus adalah karena dia mendapatkan beasiswa dan dia hanya


perlu memenuhi biaya untuk kebutuhan sehari-harinya.


Jika tidak, dia tidak akan bisa bersekolah di sana meskipun menjual beberapa tanah


milik keluarganya atau meminjam uang sekalipun. Untungnya, kebijakan


pendidikan di kampusnya cukup baik sehingga dia bisa menempuh pendidikan di


Sana.


Berhubung dia telah menghabiskan sebagian besar waktunya bulan ini dengan


belajar untuk ujian mendatang, Matt telah mengajukan cuti dari pekerjaan paruh


waktunya di restoran setidaknya selama setengah bulan.


Bosnya pun paham tentang kesulitan yang dihadapi Matt untuk berkuliah di


universitas ternama itu. Oleh sebab itu, sang Bos pun memberikan cuti. Semua


permintaan Matt disetujuinya, bahkan gaji Matt juga dibayar setengah bulan.


Namun, setengah bulan telah berlalu dan Matt hampir kehabisan uang. Sekarang,


dia mencemaskan biaya hidupnya.


"Sungguh sial! Sungguh luar biasa jika sekantong besar uang jatuh dari langit! Jika


aku punya banyak uang, keluargaku tidak perlu bekerja terlalu keras. Dengan


demikian, aku juga bisa berkonsentrasi penuh pada pendidikanku," desah Matt

__ADS_1


pasrah. Kedua tangannya terselip di saku celananya saat memikirkan masalah yang


dia hadapi.


Meskipun Matt adalah pemuda yang tampan, alih-alih menjual penampilannya


kepada para wanita kaya, pada akhirnya, Matt tetap menggunakan kemampuannya


sendiri untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.


Faktanya, ini adalah topik yang cukup menarik untuk dibahas karena Universitas


Jayakota hanya nenerima siswa berbakat atau kaya. Tentu saja, seseorang dari


keluarga kaya bisa membiayai uang kuliah mereka.


Matt tidak tahu apa ada yang salah dengan kombinasi gen kedua orang tuanya


sehingga dua petani yang tampak biasa saja bisa melahirkan seorang putra yang


begitu tampan seperti dia.


Oleh karena itu, wajahnya yang memesona selalu membawa malapetaka dalam


hidupnya. Saat SMP, di saat semua orang sudah mulai memiliki cinta monyet, dia


sudah menerima surat cinta yang tak terhitung jumlahnya. Begitu memasuki


jenjang SMA, yang dia pikir para gadis akan lebih dewasa malah semakin


memburuk.


Saat Matt pertama kali memasuki universitas di tahun pertamanya, dia sudah


beberapa dari mereka ingin menjadikannya sebagai berondong manis.


Meskipun Matt terlahir dari keluarga petani, dia adalah orang terpelajar yang


menyadari bahwa kemiskinan bukanlah alasan baginya untuk menyerah pada


hidup. Kemiskinan tidak akan membuatnya tunduk dan kekayaan tidak akan


membuatnya serakah.


Dia tidak akan pernah merendahkan harga dirinya hanya untuk menggantungkan


hidup pada wanita!


Meski uang memang cukup menggoda, Matt tetap bergeming. Seiring berjalannya


waktu, banyak orang yang iri, cemburu, dan benci pada Matt.


Hal ini memungkinkan berita negatif tentang dirinya juga semakin banyak bertebaran.


Beberapa orang menyebarkan rumor bahwa Matt tidak menyukai wanita dan malah


menyukai pria. Beberapa orang lainnya mengatakan bahwa Matt selalu bersikap


arogan. Namun, Matt tetap tidak terpengaruh. Dia juga tidak begitu suka membuat


keributan selama tahun pertamanya. Terlebih lagi, dia tidak punya pilihan lain.


Selama ini, Matt telah bekerja paruh waktu sambil kuliah.


Hal itu membuat reputasinya semakin tinggi dan bahkan gelar yang didapatkannya sebagai pangeran

__ADS_1


kampus sejak awal, masih melekat erat pada dirinya. Namun, Matt merasa bahwa


apa pun yang dia lakukan seolah-olah selalu salah.


Berhubung Matt sudah kelaparan, dia keluar dari Restoran Herra dan mengakhiri


pekerjaannya untuk hari ini. Dia sedang memikirkan bagaimana cara


mengalokasikan sisa uangnya untuk bertahan sampai akhir bulan ini.Dia benar-benar tidak tega meminta uang kepada keluarganya.


Jangankan menghubungi orang tuanya demi uang, dia selalu merasa iba setiap kali memikirkannya:


kedua orang tuanya yang harus bekerja di bawah cuaca yang sangat terik di ladang


mereka.


Pada akhirnya, Matt melangkahkan kakinya ke sebualh restoran terdekat dan


memesan sepiring pasta. Sambil melahap makanannya, dia akhirnya memutuskan


untuk mengambil tindakan sekaligus. Jika uangnya benar-benar tidak cukup, dia


bisa meminta gaji lebih awal kepada bosnya atau bahkan meminjam uang.


Dua dari tiga teman sekamar Matt di asrama berasal dari keluarga kaya. Sementara


yang satunya, meskipun tidak sekaya yang lainnya, hidupnya masih lebih baik


daripada Matt dan tidak harus bekerja sepanjang waktu.


Mereka berempat memiliki hubungan yang baik selama ini. Mereka tidak


membeda-bedakan atau memandang rendah satu sama lain hanya karena


perbedaan latar belakang keluarga. Sebaliknya, hubungan mereka sangat dekat


seperti saudara kandung. Hal ini juga yang menjadi alasan mengapa Matt bisa cepa


berbaur dengan mereka tanpa merasa direndahkan.


Sementara itu, Matt yang merasa sangat lapar mengabiskan sepiring pastanya


hingga menjilat bersih piring itu tanpa sisa. Seorang pelayan yang datang untuk


mengambil piring kotor menatapnya dengan tatapan merendahkan.


Tentu saja Matt menyadari hal ini, tetapi dia tidak mengatakan apa pun dan hanya


mengumpat dalam hati. Untuk apa kamu merendahkanku? Kamu juga bekerja


untuk orang lain, sama sepertiku. Kamu tidak lebuh unggul dariku."


Setelah membayar, Matt keluar dari restoran dan hendak kembali ke kampus.


Berhubung hari masih panjang, dia ingin pergi ke perpustakaan untuk belajar


sebentar. Dia pun bergegas dan berjalan dengan cepat menuju perpustakaan


kampus.


Kecelakaan itu bermula dari sini. Akan tetapi, kecelakaan itu justru membuat Mati


mengalami perubahan yang luar biasa dalam hidupnya, sesuatu yang tidak pernah


bisa dia bayangkan selama ini.

__ADS_1


__ADS_2