Aku Mewarisi Taman Peri

Aku Mewarisi Taman Peri
bab 2


__ADS_3

Matt bergegas kembali ke kampus. Ketika melewati persimpangan, dia melihat


lampu hijau berpendar pada lampu lalu lintas, maka dia mempercepat langkahnya.


Pada saat itu, sebuah Ferrari melaju kencang dari ujung jalan menuju ke arahnya.


"Ya Tuhan!" Matt berjalan terlalu cepat hingga tidak bisa mundur lagi. Dia seketika membeku. Kini, sudah terlambat baginya untuk berbalik!


Brak! Ckit!


Mobil itu menabrak Matt dengan keras.


Tempat itu tiba-tiba menjadi kacau dan


semakin banyak orang berkumpul mengelilinginya.


"Hubungi 112 sekarang!" Sebuah suara terdengar dari kerumunan. Sontak, beberapa


orang tersadar kembali dan segera mengeluarkan ponsel mereka untuk menelepon 112.


Sang pengemudi Ferrari juga keluar dengan tergesa-gesa. Dia adalah seorang wanita


muda yang tampaknya seumuran dengan Matt. Namun, dilihat dari pakaiannya,


wanita itu sepertinya datang dari latar belakang yang berpengaruh.


"Hei! Hei! Bangun! Bangun! Apa kamu sudah mati?" Wanita itu berjongkok di


sebelah Matt dan menepuk-nepuk wajah Matt dengan panik. Dia tampak


menyedihkan dengan mata yang sudah berlinang.


Beberapa menit kemudian, sebuah ambulans datang bersama polisi. Paramedis


menggotong Matt ke dalam ambulans dan segera membawanya ke rumah sakit


untuk dirawat. Pengemudi Ferrari itu mengeluarkan ponselnya dan menelepon


seseorang. Kemudian, dia mengikuti ambulans yang membawa Matt ke rumah


sakit.


Sementara itu, para polisi yang berada di lokasi kecelakaan menerima telepon dari


atasan, mereka diperintahkan untuk segera kembali ke kantor polisi. Para petinggi


akan mengirim orang lain untuk menangani masalah ini. Hal ini merupakan sebuah


isyarat yang jelas bahwa masalah ini dianggap sudah selesai dan tidak perlu


penyelidikan lebih jauh.

__ADS_1


Para petugas polisi berpura-pura mengambil beberapa gambar tempat kejadian dan


segera pergi.


Pada saat yang sama, Matt sampai di rumah sakit dan telah ditempatkan di ruang


operasi. Lampu di ruang operasi tersebut menyala terang.


Entah sudah berapa lama waktu berlalu, pintu ruang operasi itu akhirnya terbuka.


Seorang dokter yang bersimbah peluh keluar dan bertanya, "Siapa keluarga pasien


ini?"


Wanita muda yang duduk di kursi tunggu dengan cepat berdiri dan menjawab,


"Saya, Dok. Bagaimana keadaan pasien sekarang?"


"Pasien sudah melewati masa kritisnya, tetapi dia belum menunjukkan tanda-tanda


akan siuman. Kamu harus bersiap untuk kemungkinan terburuk," jelas dokter itu.


"Apa maksud Anda?" Wanita itu menatap dokter dengan gugup.


Dokter itu menatapnya dan menjelaskan dengan perlahan, "Benturan di kepala


pasien menyebabkan akumulasi darah. Gumpalan darah ini menyumbat beberapa


titik tertentu di sekitar saraf, jadi kita tidak bisa melakukan operasi. Kita hanya bisa


dapat diserap, pasien kemungkinan tidak akan pernah bangun lagi.


Sekarang, dia akan dipindahkan ke bangsal umum." Setelah penjelasan panjangnya, sang dokter itu pergi dan memindahkan Matt ke


bangsal umum.


Wanita muda itu begitu terpukul, dia membalut mulutnya dengan telapak


tangannya. Tetesan air mata membasahi pipinya, lalu ambruk ke lantai dikuti rasa


bersalah mendalam yang menggerogoti hatinya.


Namun, pada kenyataannya, wanita muda itu tidak tahu apa yang sedang terjadi


pada Matt. Sebetulnya, pada saat itu, Matt sedang berada dalam situasi yang hanya


bisa ditemukan di dalam novel. Matt sedang melakukan perjalanan jiwa!


Setelah dia mengalami kecelakaan dan jatuh pingsan, Matt merasa jiwanya


meninggalkan tubuhnya, semuanya terasa seolah-olah melayang.

__ADS_1


Pemandangan yang dilihatnya kini juga berubah. Matt seakan-akan berada di dalam


mimpi. Dia tiba di selbuah tempat yang begitu indah dan dipenuhi semerbak wangi


alam. Matt menyaksikan dataran yang begitu luas, di tengahnya terdapat danau


seperti pada umumnya.


Namun, air di danau itu begitu jernibh dan transparan, seolah-olah tidak ada noda


sama sekali. Dataran tersebut juga terlihat begitu ajaib, sekelilingnya dipenuhi


dengan rumput berwarma hijau zamrud, bunga-bunga yang bermekaran, dan


pepohonan yang rindang.


Tempat ini terasa tidak nyata. Matt yang terkagum-kagum reflex bertanya, "Di mana


aku?"


"Hoahm .. " Sebuah suara yang terdengar seperti seseorang sedang menguap


bergema di ruang itu.


"Hah? Ada orang di sini? Apa ada orang di sini?" Matt berteriak begitu mendengar


suara tersebut. 'Ah, sepertinya aku salah dengar. Aku ingat dengan jelas barusan


aku tertabrak mobil. Apa aku sedang bermimpi saat ini?' tanyanya pada diri sendiri.


Matt perlahan-lahan tenang, pikirannya pun menjadi jauh lebih jernih.


"Ini bukan mimpi. Tentu saja, jika kamu tidak memenuhi syarat untuk menjadi


master Taman Peri, kamu akan menganggap ini hanya mimpi." Suara itu terdengar


lagi, bahkan kali ini terasa semakin dekat.


Matt Luham, selamat datang di kebun


Taman Peri!" Pada saat Matt masih linglung, seorang pria tua muncul di hadapannya.


Matt tidak bereaksi ketika melihat pria tua yang tampak biasa saja di depannya itu.


Tiba-tiba, dia teringat bahwa pria tua itu baru saja memanggil namanya.


Namun, Matt sama sekali tidak mengenal pria tua itu. "Siapa Anda, Tuan? Apa Anda mengena saya? Initempat apa?" tanya Matt


berkali-kali sambil mengerutkan keningnya.


"Haha! Jangan khawatir. Aku adalah roh Taman Peri. Kamu bisa memanggilku Jin.

__ADS_1


Tempat ini adalah kebun Taman Peri! Aku mengenalmu karena kamu adalah master


kebun Taman Peri," ujar roh itu sekaligus menjawab semua pertanyaan Matt.


__ADS_2